ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
394


__ADS_3

Yang mereka bicarakan akhirnya datang menyambut dengan suaranya yang lumayan memekikkan telinga.


"RITAAAAA SUDAH LAMA SEKALI YA!" Serunya langsung memeluk erat.


Rita membalas pelukannya sambil tertawa keras, Anabel kebiasaannya adalah berteriak tapi bukan nyablak. Ney yang melihatnya merasa risih karena suaranya yang berisik dan menatapnya dengan pandangan "Apaan sih,".


"Eh, Prita kamu kenal dengan perempuan ini? Super berisik sekali ya," kata Ney berbisik pada adiknya Rita. Sebal dengan komentarnya, dia jawab dengan seadanya.


"Kenal. Meski berisik orangnya baik tidak pernah menjudge kakak saya seperti Anda apalagi tidak suka Drama," kata Prita yang meninggalkan Ney bete sendiri.


Anabel sangat cantik dengan gaun Princess beserta mahkota bulan. Aril datang membawakan minuman sirup untuk Anabel yang langsung disambutnya dan langsung dihabiskan.


"Selamat yaaa ada yang mau menikah nih," kata Rita mendorong pelan pinggang Anabel.


"Ihh kamu memberi tahu ya. Ya rencananya sih hehehe terima kasih. Terus ini siapa? Perasaan di SMA tidak ada deh orang ini," kata Anabel menunjuk Ney.


"Iyalah kamu tidak akan kenal. Dia ini..." kata Rita terpotong.


"Kenalkan ya aku Ney Grizelle, temannya Rita," kata Ney menyodorkan tangannya pada Anabel.


Anabel tersenyum kecut memandangnya tapi dia balas salaman juga. "Teman kamu? Pas dimana?" Tanya Anabel pada Rita tanda tanya.


"Waktu SMP," kata Rita.


"Ooh pantas saja kalau begitu. Tapi bukannya teman kamu itu yang 5 orang anak pejabat? Dia bukan salah satu dari mereka kan?" Tanya Anabel yang langsung menohok Ney.


Ney yang mendengarnya langsung kesal apalagi Anabel menurutnya mirip dengan Rita yang bermuka polos. Tapi ini lebih kebangetan lagi, membuat semua orang melongo dan terdiam.


"Macam-macamlah, kamu juga kan tahu kalau aku berteman dengan siapa saja. Baru satu ini kamu tahu, masih banyak yang lain," kata Rita mencairkan suasana tak enak itu.


Anabel menganggukkan kepala saat berpikir. "Benar juga kamu orangnya memang begitu, sama siapa saja mau tapi hati-hati kadang yang baik itu belum tentu hatinya putih. Ada juga kan teman yang katanya sahabat tapi kalau temannya kesulitan, dia kabur. Kamu harus hati-hati orang seperti itu picik," kata Anabel dengan polosnya.


Rita dan Sadam hanya tertawa mendengarnya, sedangkan Anabel diberitahukan oleh Aril untuk tidak berkata seperti itu takutnya orang yang dia sebutkan, ada diantara mereka. Ney yang merasa tersindir tampak mau meledak tapi dia tahan meski kedua tangannya mengepal. Karena toh Anabel tidak kenal dia jadi hanya bilang saja.


"Terus kamu siapa? Suaranya berisik sekali ya," kata Ney dengan angkuh.


"Aku Anabel teman sekelasnya Rita meski tidak dekat, tapi kadang mengobrol biasa. Kamu temannya dari pengantin yang mana?" Tanya Anabel memandangi Ney.


"Arnila. Aku ini sahabatnya yang paling dekat. Kamu sendiri? Aku kok tidak pernah lihat ya Arnila berteman dengan kamu. Jangan-jangan kamu orang yang tidak diundang," kata Ney seenaknya.


Aril yang mendengarnya langsung ingin menjawab tapi dihadang oleh kekasihnya. "Ooh kak Arnila, tapi yang aku tahu sahabatnya tidak ada yang bernama Ney deh. Kok aneh ya? Rita tahu?" Tanya Anabel dengan begitu polosnya.


Ney, Rita, Sadam dan Aril yang mendengarnya hanya membeku di tempat apalagi Ney sih ya. Wajahnya merah padam, lagian suruh siapa juga kalau berkomentar atau menanggapi dengan kalimat yang bisa membuatnya dibalas.


"Aku kan kenal Arnila pendek, Bel. Ney yang paling tahu soal dia kan," kata Rita yang memang hanya tahu sebatas itu.


Ney bersikap seakan memang dia yang tahu segalanya mengenai Arnila, tidak ada orang lain. Ney pun kaget Rita mengakui bahwa dirinya yang paling banyak tahu soal Arnila.


"Bukan. Bukan orang ini yang paling tahu segalanya soal kak Arnila, Rita. Ada selain kedua orang tuanya, ada satu orang yang selalu hadir saat keluarga kak Arnila terpuruk. Tapi sepertinya kamu tidak tahu itu siapa ya, jadi biarkan sajalah," kata Anabel bergelayutan di tangannya Rita.


Ney memandang Anabel sangat kesal melihat dia manja sekali pada Rita, dan Rita sama sekali tidak keberatan meski suaranya juga berisik. Dirinya saja tidak pernah melakukan itu pada Rita, ya padahal wajar saja karena Ney terlalu banyak perbandingan.

__ADS_1


"Kamu ini siapa sih? Kok seenaknya sekali ya mengatai orang. Tahu tidak sih kalimat kamu itu membuat orang lain sakit," kata Ney dengan ketus.


"Oh ya? Aduh, aku tidak tahu tuh tapi Rita dan yang lainnya biasa saja kok. Kamu Baperan ya, kamu merasa tersindir? Padahal aku bilang begitu umum kok. Ya kan, Ri?" Tanya Anabel.


"Ho oh kamu itu yang banyak pikiran Anabel bilang begitu kan untuk semua orang bukan kamu saja. Kamu pikir ada berapa macam manusia yang hidup?" Tanya Rita nyengir pada Ney.


"Aku ini saudara dekatnya suami kak Arnila jadi bukan orang yang tidak diundang," kata Anabel membuat Ney diam.


"Aku tidak tahu kalau kamu saudaranya. Dunia itu ternyata sempit ya," kata Rita bengong.


"Hehehehe," kata Anabel tertawa.


"Aku bukan orang yang baper kok. Rita tuh yang baper!" Kata Ney cemberut.


"Rita? Baper? HAHAHAHAHA MANA MUNGKIN LURUS BEGITU JUGA," Teriak Anabel dengan suara keras. Rita dan yang lainnya menutup sebagian telinga mereka.


Ney juga akhirnya menutup kedua kupingnya lalu melepaskan dirasa sudah aman. "Memangnya Rita bukannya baperan?" Tanya Ney bengong.


"Rita mah lebih ke cuek, orang bilang jelek soal dia ya lurus saja. Buat apa dipikirin, ya kan? Aku tahulah waktu SMA juga ada yang berusaha rundung dia, tidak digubris. Bagaimana sih ceritanya?" Tanya Anabel.


Ney kaget lalu memandangi Rita ternyata Rita juga menghadapi masa sulit saat sekolah. "Serius tuh?" Tanya Ney.


"Yaa memang mau dirundung. Aku disuruh datang ke gudang pulang sekolah, masih ingat karena besoknya mereka kena hukuman sih," kata Rita tertawa.


"Kok bisa?" Tanya Ney penasaran.


"Bisalah. Aku bilang saja ke guru BP dan Kepala Sekolah kalau ada yang mau merundung murid lain. Aku beritahu tempatnya, nah mereka datang tuh. Aku ya pulang saja. Dengar kabar sih waktu Kepsek dan guru itu datang, itu geng Bully sudah bawa tongkat ya mereka ditangkap," kata Rita sambil tertawa.


Masalahnya adalah pada Alex dan Ney, tentunya Ney karena punya masalah dalam psikis dan hatinya. Sedangkan Alex yang orang luar bermasalah karena terlalu merasa paling superior. Berhadapan dengan Rita membuatnya "Tertangkap" oleh tangan Allah lalu diadili. Adil kan.


Ney sudah lama merasa iri hati dan dengki pada Rita yang tidak pernah melakukan apapun kepadanya. Merasa dunia tidak adil kepadanya, berpikir Rita selalu senang hidupnya, maka Ney selalu mencari keonaran agar Rita bisa merasakan seperti apa kesakitan yang dia selalu rasakan. Tapi ternyata Rita juga sama penuh perjuangan dalam hidupnya. Ney merasa sudah salah terlalu dalam, apalagi bahkan ibunya dan kakaknya mengatakan kalau dia tidak akan ada dalam hidup Rita.


Ney terlalu percaya pada keegoisannya sendiri yang membuat kedua mata dan hati nuraninya mati. Jelas-jelas Rita tidak pernah berpikir negatif ke arahnya tapi dia selalu saja merasa Rita sedang membicarakan hal buruk mengenainya. Mendoakannya untuk dapat musibah, heloooo manusia macam apa yang repit-repot memikirkan hidup orang?


Setelah itu pun Ney terus mengikuti Rita terkadang Sadam mengajaknya mengobrol lalu pergi, karena dirasa pembicaraannya tidak seru. Prita juga ikut sesekali mengajak Rita untuk mengantri makanan. Sesekali Ney ikut mengobrol tapi berakhir dengan dipojokkan oleh Anabel. Rita hanya menahan tawa, debat pun tidak terelakkan tapi karena Anabel memang sangat polos, Ney akhirnya pergi dengan marah.


"Kok kamu mau sih berteman sama yang begituan?" Tanya Anabel puas membuat Ney pergi.


"Kenapa memangnya? Memang sih tabiatnya jelek," kata Rita memakan puding durian.


"Bukan hanya jelek, aku sih tidak mau. Pokoknya tidak banget deh. Kamu tidak merasakan auranya aneh? Tidak akan cocok dengan siapapun kecuali orang yang tabiatnya sama dengan dia," kata Anabel.


Meskipun dia memang lemot dan super polos, Anabel bisa membaca aura seseorang dengan tepat. Dia bisa tahu mana orang palsu dan orang yang asli maksudnya dari sifat dan ketulusan ya.


"Jangan bicara yang seram dong nanti malam aku tidak bisa tidur laah," kata Rita memohon. Anabel tertawa karena dia tidak takut hal yang menyeramkan.


"Iya iya tapi memang bukan tipe teman yang bagus sih kalau kamu dekat sama dia, energi kamu akan dia serap," kata Anabel yang membuat Rita sedari dulu tidak mengerti.


"Setelah diserap apa ada perubahan ke positif?" Tanya Rita.


"Kalau ada juga dia sudah berubah kan dari jaman SMP. Tidak diserap lalu dia ubah menjadi negatif, kamu harus punya suami yang energi positifnya full 100% kalau sama kaya dia, kelar hidup kamu," jelas Anabel.

__ADS_1


"Dia itu tidak suka aku. Benar?" Tanya Rita.


"Iya. Karena karena kamu penuh dengan energi positif orang-orang sekitar kamu tidak ada yang negatif. Dia iri itu juga, lalu soal kehidupan kamu, fisik yah kamu tahulah. Penampilan, kalau menurut aku sih asalkan dia rajin melakukan perawatan saja pasti sama seperti kamu," jelas Anabel lagi.


"Intinya dia tidak suka orang yang punya energi positif?" Tanya Rita lagi.


"Yupz karena bagi dia juga hidupnya negatif terus makanya mau sampai kapan pun tidak akan bisa seperti kamu. Kamu pasti merasa kan semenjak tadi, apapun kelakuan kamu dia ikuti mulai dari makan, cara kamu berbicara. Apapun, dia sedang menduplikasikan dirinya untuk bisa seperti kamu. Tapi..." kata Anabel.


"Tetap saja orang lain tidak akan nyaman kan karena dari perilaku, kebiasaan dan cara mengobrol pun masih tetap bisa dibedakan," tebak Rita.


Anabel menjentikkan kedua jarinya dan tertawa. "Orang yang seperti dia itu sudah banyak merugikan dirinya sendiri sejak sebelum kenal kamu. Padahal orangnya penuh percaya diri kan ya, itu sudah bagus tapi jadi membuatnya over sehingga tidak lagi bisa mempedulikan harga seorang teman. Menurutku lebih baik kamu jauhi dia," kata Anabel yang kemudian mengambil es serbet dari sebelah.


"Baiklah baiklah lalu auranya kamu lihat warna dia apa?" Tanya Rita penasaran.


Ney terlihat sedang makan Zupa ditemani beberapa teman-temannya yang baru datang. Rita kenal mereka dan punya firasat harus waspada. Karena beberapa dari mereka menatap Rita yang ada jauh di depan mereka, lalu mereka mengangguk.


"Aura itu kan warna bermacam-macam ya, Rita. Bisa semuanya biru, kuning, putih nah kalau dia tidak begitu makanya aku bilang kan ke kamu, kok mau sih berteman sama orang seperti dia. Karena warna auranya hitam tidak ada warna lain. Dan dia tidak cocok masuk ke grup manapun apalagi kalau isinya grup Introvert dan Ekstrovert. Dia memang Ekstrovert tapi bukan si Ekstrovert sejati, jadi masuk manapun adalah ancaman buat mereka," jelas Anabel.


Rita menganggukkan kepalanya. Rumit juga. "Kasihan ya. Aku berteman sama dia karena waktu SMP tidak ada yang mau berteman sih. Ya aku juga sama mengalami itu tapi masih punya teman dari kelas lain," kata Rita.


"Iya memang kasihan aura itu kan bergantung pada diri mereka sendiri. Aku juga heran sih kok bisa sehitam itu? Sepertinya ada hubungannya dengan kelakuan orang tuanya, Rita," kata Anabel yang juga merasa aneh. Dirinya merinding melihatnya apalagi ada banyak jin yang mengikutinya. Tapi Anabel tidak menceritakannya tahu Rita nenang takut hal mistis.


"Aku bagaimana?" Tanya Rita.


Anabel memandangi Rita dengan sendu tapi masih senyum. "Kamu terus berusaha ruqyah ya? Nanti juga kamu akan bertemu orang yang bisa melepaskan jin kamfret itu. Kasihan nanti yang mau mendekati, akan terus dihalangi," kata Anabel.


"Aku tidak ada auranya?" Tanya Rita yang ingin menangis.


"Aduuuh ada dooong. Banyak yang suka dan senang sama kamu membuat orang itu semakin dengki. Itu tandanya aura kamu sangat terang, kamu juga pendengar yang baik banyak orang yang akan menghargai kamu. Yang ini biarkan saja tidak layak dipertahankan," kata Anabel menepuk bahunya Rita.


"Iya benar juga aku hampir lupa soal ruqyah terima masih ya sudah mengingatkanku," kata Rita yang senang lagi.


"Dia itu tidak bisa dekat dengan siapapun, jadi apapun yang dia katakan tidak perlu kamu balas. Orangnya menyulitkan sendiri, bagiku kamu sangat baik hati," kata Anabel yang kemudian pergi mencari makanan lain dengan Aril. Sadam juga pergi untuk menelepon.


Rita melihat-lihat dekorasi lalu dirasa Rita sudah sendirian, Ney dan gengnya menghampiri Rita dengan jalan mereka yang sok. Beberapa orang mulai berbisik karena tahu akan ada yang mereka rundung dan tahu siapa targetnya.


"Beritahu adiknya Arnila kalau teman kampusnya ada yang mau merundung. Cepat!" Bisik salah tahu tamu.


Di sisi lain, Prita yang sedang makan enak mendapati beberapa teman Ney bergerombolan berjalan menuju kakaknya. Dirasa ada sesuatu yang tidak beres, Prita dan dua temannya ikut pindah menuju tempat Rita.


"Mereka ngapain?" Tanya temannya.


"Kakak aku mau mereka bully," kata Prita membuat kedua temannya kaget.


"Di tempat begini?" Tanya mereka.


"Kalian pikir tukang rundung pernah memikirkan tempat lain? Apalagi kakakku itu tidak suka pindah tempat kalau sudah nyaman, ya diem disitu," jelas Prita.


"Ayolah, kita bantu lawan!" Jawab yang satunya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2