ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(168)


__ADS_3

Ney merasa tinggi saat mendengar komentar mereka, sebagian perempuan yang satu kelas dengannya selalu meremehkan dirinya saat dia kuliah dulu. Sekarang melihat dia memakai barang bermerk, mereka mulai merasa iri. Sebagian ya sisanya sih menganggap gaya pamernya kelewat norak.


"Dia sayang gue banget. Kalian tidak pernah kan dibelikan barang semewah gue nih," Ney memperlihatkan perhiasan gelangnya dan cincin permatanya. Memang sih kalau dipakainya sama remaja terkesan norak beda lagi kalau sudah jadi emak - emak apalagi nenek - nenek. Hihihi...


"Yakin itu dari pacar kamu? Tampak seperti lelaki hidung belang ya," ini celetukan dari teman perempuannya yang sinis lantaran bukan iri sih hanya memang mereka terkesan aneh banget.


"Sirik tanda tidak mampu!" Kata Ney mengejek kembali. Semuanya tertawa.


"Soalnya kalian juga tahu kan seperti apa dia semasa kuliah. Paling juga pacarnya setipe juga levelnya sama dia, yang sekarang? Gue curiga saja. Agak lumayan aneh Imron saja yang tajirnya sama sekali tidak suka sama lu. Yang jadi pacar lu pasti om - om," kata perempuan itu secara dengan suara yang keras.


Teman lelaki langsung berpikir dan mengiyakan. Mereka sangat kenal dengan perilaku Ney sewaktu kuliah, mereka memandangi Ney dengan tatapan 'Masa iya?'


"Sudah sudah itu urusannya Ney ngapain juga lu yang repot mikirin? Ney saja sama sekali tidak masalah mau itu omnya atau om siapa kek, kita doakan saja itu orang baik dan benar punya hati tulus menerima Ney. Ya tidak?" Ketua menengahi mereka semua. Mereka langsung berdamai dengan keadaan.


"Ya aku sih hanya mau kasih saran saja sama lu, Ney. Lu jadi perempuan jangan terlalu gampangan, di jaman abad ini lelaki baik itu sudah mulai punah," kata B sambil memegang garpu karena sedang makan spaghetti.


"Wah, kita baik kok," jawab lelaki yang duduk di pinggiran jendela.


"Baik juga suka morotin perempuan lu mah," langsung diteriaki dan dilempar gulungan tisu ke beberapa lelaki. Tertawa pun membahana didalam cafe itu, Ney ikut tertawa tapi tawa yang pahit. Yang menjelekkannya pun tadi ikut tertawa keras.


"Padahal masih ada Dins lho. Dia baik banget ya tapi sepertinya kamu putusin hanya demi lelaki yang tidak kamu kenal sama sekali. Dan buat dapetin barang mevvah juga," lirik anak perempuan yang memang tidak suka sama Ney.


Komentar orang itu membuat Ney sama sekali tidak peduli meskipun sedikitnya ada rasa kecewa pada diri sendiri. Dirinya lebih memilih orang lain yang bisa melengkapi kebutuhan keduniawian nya daripada orang yang sudah benar - benar mengenalnya. Dan ada juga yang asal menebak tapi tertebak juga masalah om - om itu. Jantungnya seakan - akan berhenti saat mendengar celotehan dari orang yang tidak menyukainya. Tapi untungnya ketua kelas langsung menghentikan nenek lampir itu. Ney dengan gerakan cepat memasukkan semua barangnya yang dia tunjukkan di atas meja.

__ADS_1


Berkumpul dengan teman - teman kuliahnya tidak ada seorangpun yang mempertanyakan barang mewahnya lagi, mereka sibuk membicarakan topik yang terbaru. Meskipun sekali - kali dia berusaha mengalihkan topik ke barangnya, sebagian dari mereka beranjak pergi dan memilih bergabung dengan kelompok lain. Yang ada duduk bersama Ney sebagian kecil yang masih bisa menerima kehadirannya meskipun lagi - lagi mereka membicarakan politik dan kejadian yang sedang hot. Dan Ney pun ikut memberikan pendapat yang berakhir dengan perseteruan. Pendapatnya sering berbeda dan sama sekali tidak mau mengalah dengan obrolan orang lain. Ney kebanyakan lebih diam daripada ikut berpendapat, karena pendapatnya selalu jauh dari bahasan topik. Alias tidak nyambung sama sekali.


"Arnila, aku bosan nih. Datang ke tempat alumni tapi tidak ada yang mau ajak aku ngobrol," ketik Ney di WAnya. Tapi tidak ada balasannya dari Arnila, Ney mendengus kesal. Dia berpikir dan menuliskan lagi ke Rita, beberapa menit tidak ada balasan.


"Ya kamu datang kan pasti cuma mau pamer barang. Orang datang ke reuni itu buat kumpul mengobrol kan sesuatu yang seru, kekonyolan kejadian sewaktu kuliah. Lah kamu mah beda sendiri, buat apa datang kalau cuma mau ajak berantem orang terus pamer? Hidup kamu cari masalah mulu ya." Balas Rita yang setelahnya dia tidak membalas lagi.


Ney terkejut kenapa Rita tahu kalau dirinya datang karena niat mau pamer? Ya lah itu mah kelihatan banget soalnya dari semenjak duduk di SMP saja, dia rajin banget pamer barang ke Rita. Awalnya Rita memaklumi tapi lama - lama semakin sering, Rita juga jarang memperhatikannya. Akhirnya Ney mengobrol ke grup sosialitanya dan mereka membalas dengan banyak chat. Ney juga memamerkan barang - barang yang dia dapatkan dari "pacar" ilusinya dan mereka berencana untuk bertemu.


Dari cafe tersebut, Ney yang keluar dari acara pun tidak ada yang memperhatikannya atau yah yang menghalangi untuk tidak pergi. Isi grup sosialitanya beranggotakan 8 orang entah selain Feb dan satu temannya terdapat 5 orang lagi, yang ternyata temannya sewaktu di Jakarta. Kelima anggota tersebut ternyata anak - anak orang kaya setara dengan kelompok Emas hanya berbeda genrenya. Kalau mereka benar - benar tukang pamer, apapun barangnya dan Ney ingin sekali lebih tinggi dari mereka. Tentunya Ney diperlihatkan semua yang dia punya, mereka sangat bangga dengan pencapaian yang Ney miliki.


Sip! Kita pindah ke tempat Rita ya. Karena Rita merasa curiga dengan pamannya Alex, dia pun kemudian mempertanyakan kepadanya.


"Alex, paman kamu termasuk ke kategori om - om nakal, ya?" Ketik Rita di inbox PB.


"Ney sekarang putus dengan Dins lalu dia malah memilih dekat dengan paman kamu. Soal kamu tidak mau aku dekat dengan paman kamu itu sepertinya bukan perihal mengenai wajah juga ya?" Tebak Rita.


"WHAT!? Ney putus dengan Dins demi pamanku? She's crazy! Yah, memang hanya bukan soal kegantengannya tapi obsesinya," jawab Alex yang saat itu memandangi AJUDANnya yang sedang berbincang dengan beberapa rekan ayahnya.


Ternyata oh ternyata Syakieb adalah salah satu Ajudan Alex yang memang memiliki istri dari Indonesia. Ajudan Alex ada sekitar 20 orang dan mereka memang berparas ganteng, banyak juga yang jadi idola apalagi kalau mereka sudah memakai baju tugas. Beuh! Ngiler pasti kalian semua. 😂😂😂


"Hah!? Paman kamu terobsesi soal apa? Apa itu berbahaya?" Tanya Rita yang harus was - was untuk kebaikan dia juga.


"Aku mau dengar cerita soal Ney dulu," kata Alex yang memang tidak tahu kalau Ney sampai melakukan hal itu. Rencananya bukanlah seperti itu, ini adalah hal yang tidak terduga dengan permainannya.

__ADS_1


"Setelah putus, Ney mulai banyak chat dengan paman kamu dan sekarang kamarnya penuh dengan barang - barang mewah dan tampaknya Ney menganggapnya seperti pacar dia," kata Rita yang menjelaskannya secara singkat dan garis besarnya saja.


"Ya Allah! Dia menerima begitu saja barang mewah dari pamanku!? Bagaimana bisa dia tidak berpikir waspada? Mereka kan baru kenal," Alex tidak habis pikir. Rencananya agak menyimpang ternyata daripada Rita, Ney lebih tertarik dengan ajudannya. Alex memanggilnya dan menceritakan apa yang baru saja Rita ceritakan.


Ajudannya hanya bengong. "Sir. I think we have to stop this. Do not Play their heart, you will get some karma," itu saran ajudannya. Alex hanya mendengarkannya dan mempertimbangkan kemungkinan terburuknya. Lalu Alex membaca pesan dari Rita.


"Alex, ini bukan permainan yang kamu rencanakan lagi pada kami, kan?" Tebak Rita yang merasa agak aneh.


Alex bengong dan ajudan membacanya. Dia menjentikkan jarinya kepada majikannya. "We gonna have problem now,"


"Bagaimana kalau iya?" Tanya Alex sambil menantang Rita dengan senyum tampannya yang menyeringai. Ajudannya hanya memukul kepalanya melihat perilaku majikannya yang agak nakal itu.


"If someday we meet, I'm sure gonna KILL YOU! And you know I will do that. Right?" balas Rita dengan mengeluarkan aura api yang membara.


Alex menelan ludah membacanya dan menatap ajudannya dengan matanya yang seperti anjing kecil yang berkaca - kaca. Tampak Jasmine yang memperhatikan adiknya hanya menggelengkan kepala. "Pasti diancam sama Rita. Dasar bodoh tidak pernah kapok!"


"Menurut saya, Anda harus secepatnya membersihkan jejak Anda. Kalau tidak, saya tidak bisa menjamin keselamatan Anda. Dia perempuan tipe galak seperti istri saya." Ajudannya menepuk bahu Alex yang kemudian berdiri di sisinya. Alex menatap lagi jawaban dari Rita tadi. Dia memang tahu pasti kalau tekad Rita sudah membulad, tidak akan ada rintangan untuk membunuhnya kelak. Akhirnya dia memutuskan untuk secepatnya membersihkan permainannya sebelum Rita menyadari skenarionya.


"Kamu bisa tanyakan pada paman kamu. Dia ada disitu kan? Disebelah kamu," kata Rita menggunakan instingnya, dia yakin pamannya ada disebelah Alex.


Mereka berdua membaca lagi dan kaget. "Hooo.. teman Anda instingnya tajam sekali mumpung sekarang masih aman, lebih baik dihentikan,"


"She 's really scared me," Alex menjadi lebih waspada dengan Rita. Menurutnya Rita memang memiliki banyak kemampuan yang dia tidak ketahui. Salah satunya adalah instingnya yang selalu tepat membuat dirinya tampak ketakutan. "Iya ada. Kebetulan dia datang ke rumah untuk berkunjung juga. Tunggu sebentar ya aku coba bertanya padanya. Pokoknya dia sangat berbahaya tapi bukan om nakal."

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2