ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
9


__ADS_3

"Kamu tidak marah? Alex punya pacar lagi? Kenapa tidak ada beritanya di Pacebuk ya?" Tanya Ney merasa aneh.


"Nah kan benar saja kamu masih Kepo sama urusan orang lain kan. Buat apa sih? Supaya kamu bisa pamer ke orang-orang termasuk grup kamu? Memangnya harus ya dia buat pengumuman? Lebih baik kamu sibuk urus anak deh, aku yakin anak kamu sendiri saja banyak ditelantarkan," balas Rita.


Ney serba salah jadinya mau dihapus juga tidak bisa karena dalam aplikasi email itu, sesuatu yang sudah tertulis tidak akan bisa diambil alih.


"Ya bukan begitu kehidupan dia itu ya sangat menarik untuk dilihat lho," balas Ney.


"Ahhh tidak penting. Itu mah memang pada dasarnya kamu senang ikut campur urusan orang. Intinya kamu tidak bisa datang ya kalau pasangan aku bukan orang kaya," kata Rita dibaca oleh semua guru juga.


Ney agak gelisah karena tepat sasaran. "Eeeh bukan begitu, Rita. Aku pasti datang kok ke pernikahan kamu tapi masalahnya aku harus lihat jadwal dulu takutnya, aku disuruh kerja,"


"Iyaa itu alasan kamu beda ya kalau kamu diundang ke pernikahan besar dan mewah. Aku mengerti kok kamu itu seperti apa orangnya, dari awal kamu beri jawaban lama juga, aku sudah sadar. Tidak perlu pura-pura lagi deh capek aku tuh sama kamu!" Balas Rita.


Tentu bukan harapan Ney bila nanti Rita menikah dengan siapapun. Mau datang atau tidak, ya bagaimana nanti saja.


"Loh kok kamu jadi senewen sih? Mau aku bisa datang atau tidak kan bukan kewajiban," kata Ney.


"Ya sama kalau begitu bukan kewajiban juga kan kalau aku menikah harus undang kamu," balas Rita geram.


"Sudah Bu, sudahi saja Bu Rita. Orangnya memang ada maunya. Bagaimana Bu Rina, kalau semakin lama begini, bisa-bisa malah berantem yang ada," kata Bu Dian.


"Sedikit lagi saja Bu setelah itu kita mulai tebar jala," jawab Bu Rina dengan yakin.


Rita menghela nafas beginilah kalau bicara dengan si Ney Toxic. Selalu berantem makanya Rita lebih memilih menjauh dengan tidak berkomunikasi lagi.


"Ya. Yaa memang hak kamu dan tidak wajib mengundang aku. Hanya saja kan aku satu-satunya teman kamu sejak SMP. Bukannya harus mengundang teman yang sedang bahagia," kata Ney.


"Cuih!!" Kata Rita yang ditenangkan oleh teman-teman gurunya.


"Iya iya sudah Bu sabar saja. Orang kaya dia memang mikirnya dia orang berharga yang harus dapat undangan. Kalau nanti Bu Rita menikah, terserah Ibu mau undang dia atau tidak," kata Asmi.


"Ya aku kan sudah jadi seorang istri dan ibu rumah tangga juga, banyak pekerjaan rumah yang harus aku lakukan. Jadi aku merasa tidak wajib sekali ya datang ke pernikahan kamu tapi aku akan usahakan datang kok," kata Ney.


"Halah! Urusan rumah tangga? Memangnya kamu bisa, aku yakin sekarang saja bayi kamu diasuh sama pembantu. Rumah rapi dan bersih juga karena pembantu bukan kamu, kamu kan sejak SMP juga bersih kamar tidak bisa," kata Rita skak mati dia.


Membaca itu Ney tidak peduli apa yang di ketik oleh Rita memang nyatanya bukan dia yang membereskan rumah tapi pembantunya. Anaknya pun sudah tidak ada dirumah melainkan di rumah mertuanya.


Ney hanya mendelik dan menatap sebal, dia juga sudah malas kalau harus bersitegang dengan Rita. Tentu dia membaca kembali percakapannya dan menyadari bahwa Rita tahu kalau dia niatnya memang jelek.


"Sekarang Bu Rita keluarkan opsi lainnya," kata Bu Rina.


Rita mengangguk mengerti. "Kalau aku sama Alex nikahnya, kamu mau datang?" Tanyanya.


Ney membaca yang tadinya lesu, sekarang jadi semangat. Dia yakin Rita tadi hanya mengujinya namun, semuanya sudah terjadi.


"Ya pasti aku datang kok, aku akan batalkan semua janji kalau kamu menikah sama dia," jawab Ney berusaha memperbaiki.


"Tidak akan lihat jadwal dulu? Kali kamu ada pekerjaan gitu," kata Rita mendelik malas.

__ADS_1


"Benar-benar memandang orang itu hanya yang punya uang banyak ya," kata guru lain.


Ney senang sekali hatinya, benar saja dugaannya kalau Rita hanya menguji saja. "Ah, gampang kok kan aku bisa pindahin jadwalnya ke hari lain,"


"Mau bawa anak? Kan berisik," kata Rita membalikkan lagi apa kata Ney tadi.


Ney membuat banyak alasan dan kini dia sejujur-jujurnya yah, masuk perangkap juga sih. "Ada pembantu ini kok tenang saja sekalian aku bawa juga dooong,"


"Oh, memang Fake ya kamu itu. Yah, aku tidak berharap banyak sih. Mau kamu datang atau tidak juga bukan urusan aku," balas Rita membuat Ney hanya diam.


"Kamu kok jajat sih Rita? Aku terus di tes sama kamu seperti ini. Aku ini salah apa lagi sih sama kamu?" Tanya Ney marah.


"Tidak perlu marah-marah deh wajarlah untuk orang seperti kamu. Manis di mulut, beda dalamnya," kata Rita.


"Terus kamu jadi kan sama Alex? Kok kamu jarang cerita lagi sih? Jadi ini infonya yang mana yang betul? Kamu sama orang lain atau sama Alex?" Tanya Ney mencari celah.


"Bilang saja Bu, lagi ta'aruf. Kan perkenalan dan pertemanan itu sebetulnya bagian dari Ta'aruf," kata Bu Dian, semuanya setuju.


"Aku sedang ta'aruf sama Alex," kata Rita.


Ney yang membacanya kaget bukan main. Ta'aruf? "Lho, katanya kamu, si Alex pacaran sama orang lain. Jadi yang benarnya bagaimana sih?" Tanyanya bingung.


"Iya orang lainnya itu aku. Aku sudah kenalan dengan keluarganya juga mereka semua baik sekali. Kesan orang kaya yang jutek atau sombong, tidak ada," kata Rita membayangkan dirinya makan malam bersama bulan lalu.


"HAH!? Serius!?" Ney asli kagetnya bukan main, dia tidak menyangka kalau pertemuan itu membuat hubungan mereka semakin penting. Dia lesu menyandarkan punggungnya ke sofa, tidak ada keluar sepatah katapun.


Senang? Ya memang senang tapi dia memikirkan sesuatu yang rumit.


"Tuuh kaan kenapa sih kamu ini? Aku kan kaget banget Rita. Mana mungkin juga kan ya hahaha aku sampai tidak diundang kalau kamu nikah kan," kata Ney tertawa lega.


"Kan hak aku itu mau undang kamu atau tidak. Kamu menikah saja mana ada pikiran aku teman kamu satu-satunya di SMP kan. Aku yakin memang kamu tidak pernah mau undang aku," kata Rita membuat Ney tidak membalas ada sekitar 15 menit.


Rita dan guru lain tertawa mereka juga bersimpati pada Rita karena hal itu. Lalu dirasa Ney mungkin Rita sudah melupakan apa kata dia, dia kembali dengan lamunannya.


"Iyalah mana mungkin kamu sama orang lain kan, kamu cocoknya sama Alex. Dari awal juga kan aku mendukung kamu sama Alex. Terus terus kapan tanggal pernikahannya? Selama 3 tahun ini ternyata kamu mau beri aku kejutan ya. Aku senang lhooo. Tuuuh kaaan benar kata aku, perilaku kamu itu harus diubah supaya mereka bisa menerima kamu kaaan. Aku ini berjasa besar lho tapi kamu tidak mau mengakui saja," kata Ney tertawa riang.


Rita tidak membalas sama sekali, dia mendelik dan membaca semuanya dengan nada yang jutek. Para guru tertawa dan menepuk bahunya untuk tetap tenang.


"Bukan aku yang salah ya tapi kamu yang orangnya baperan hahaha. Jadi kamu itu sengaja ya buat aku minta maaf karena merasa aku yang salah? Ih, gila ya tidak nyangka deh aku sama kamu Rita. Kamu deh yang Fake sebenarnya bukan aku. Tapi tidak apa-apa kok aku maafkan kamu asalkan kamu undang aku ke pernikahan. Kalau tidak, jangan salahkan aku ya," kata Ney di akhir kalimatnya.


"Widih! Mengancam dia itu Bu?" Tanya guru lain.


"Ya memang begitu orangnya kalau sudah mengancam, dia pikir aku akan takut. Kalau teman seperti dia, aku milih sendiri deh daripada punya teman picik," jawab Rita merinding.


"Lalu cerita doong kan biasanya juga kamu suka cerita soal Alex kok sekarang jarang sih?" Tanya Ney yang sedati tadi koar-koar.


"Duuh, maaf ya tidak sesuai dugaan kamu tuh. Keluarga Alex sangat senang dengan kepribadianku berbeda ya sama orang macam kamu. Kamu siapa? Kakak bukan, adik mana mungkin. Teman dekat juga bukan hmmm lalu siapa dong? Sahabat? Sepertinya kamu terlalu berhalu deh," balas Rita senyum puas.


Ney membacanya dia sama sekali tidak membalas apapun.

__ADS_1


"Duuhh merasa diri kamu banyak pengorbanan? Siapa yang minta? Ckckck sadar diri saja ya Ney, kamu terlalu berlebihan ilusi. Aku kan sudah bilang tidak masalah bila keluarga Alex tidak menyukai pribadiku. Ah yaa kamu takut yaa aku tidak bisa dekat dengan Alex? Kenapa? Tidak bisa pamer? Hmmm," balas Rita.


"Jadi... kamu selama ini tidak mengubah pribadi kamu, seperti yang aku selalu bilang? Mereka semuanya menerima kamu? Kok bisa? Rita, aku ini peduli sama kamu. Kamu pasti tahu kan?" Tanya Ney yang langsung gugup berusaha mengubah penilaian.


"Aku tidak tahu. Yang aku tahu, kamu memang senang mengatur orang seenak pikiran kamu. Kalau tidak sesuai kamu akan hina mereka, bukan aku saja yang kamu injak-injak. Karena itulah kamu selalu sendiri," kata Rita.


Ney melemparkan ponselnya begitu saja, dia sangat marah dan kesal. Semua yang Rita katakan tepat sasaran. Ney mulai bicara sendiri dan mengutuk segalanya, lalu beberapa menit dia ambil kembali ponselnya.


"Menurut pendapat aku saja kok kenapa aku lebih melihat kamu sebaiknya diubah, Rita," ketik Ney.


"Tidak ada yang salah dengan diriku. Sikap yang harus diubah itu kamu sendiri, setelah mengobrol panjang ya mulai dari awal sama kamu. Aku kok merasa kamu agak kurang suka dengan orang yang pribadinya ramah, baik pada sesama. Seakan kamu ingin mengubah mereka jadi buruk," kata Rita menduga.


"Dasar sok tahu kamu! Tidak perlu deh membuat aku jadi jahat! Apa sih mau kamu!?" Gertak Ney dengan marah.


Rita lalu mengirimkan beberapa percakapan yang berisikan Ney memaksa agar Rita mengubah sikap, sifat serta kepribadiannya. Ney tentu membaca dan dia hanya terdiam..


Lalu Rita kirimkan lagi saat dirinya melawan Ney, Ney mengirimkan chat berisi ancaman. "Aku sudah berikan ini pada Alex dan keluarga,"


Ney kaget bukan main. "K-kamu! Kenapa sih yang begini dilaporkan!?" Tanyanya panik.


"Meski aku tidak beritahu mereka, cepat atau lambat mereka akan tahu juga. Sama halnya Alex hack semua akun media sosial aku," balas Rita membuat Ney tidak bisa berkutik.


Ney panik dan berusaha tenang, semua semua ini kesalahan total!!! Seharusnya bukan begini yang terjadi dalam pemikirannya.


"Bagus deh Rita kalau mereka benar-benar bisa menerima kamu yang biasa seperti ini. Aku hanya takut saja kebanyakan orang kaya kan pastinya menyukai perempuan yang berkelas juga, ya contohnya aku," kata Ney.


"Kamu berkelas? Yakin? Berkelas itu kan yang tidak senang main serong ya. Lalu bukan orang yang suka Playing Victim, apalagi tukang bully. Menurutku kamu di bawah wanita berkelas deh yah sesuai kelas pergaulan kamu seperti apa," kata Rita.


"Dengar ya soal pergaulan aku, itu bukan urusan kamu! Urus saja urusan kamu, jangan kepo ya sama hidup gue!!" Kata Ney mulai kesal.


"Kepo sama hidup kamu? Please deh, situ siapa? Kamu ingin berteman lagi sama aku, karena aku semakin dekat dengan Alex kan. Karena kalau memang bisa, kamu akan mulai membual dalam grup sosialita. Sesumbar omongan kamu, sudahlah apa sih pentingnya hidup palsu?" Tanya Rita.


"Kamu tidak tahu apa-apa! Mereka merendahkan aku, sekarang mereka yang tunduk sama aku dong. Aku punya segalanya!" Kata Ney.


"Kalau direndahkan bukan dibalas dengan meninggikan diri. Biarkan saja orang mau merendahkan kamu, toh pahala mereka kamu yg terima. Kalau kamu memang peduli sama aku, waktu aku ada masalah dulu kamu tidak akan lari, Ney. Tidak akan menertawakan," kata Rita.


Ney hanya diam tapi dia membacanya. Dalam hati dia menyesali semua perilakunya, hanya berniat mengajarkan Rita untuk mandiri namun salah.


"Sudah terlambat sekali kalau baru sekarang kamu mengakui dan sadar bahwa aku satu-satunya teman yang bisa bertahan sama kamu. Sebelum Alex ada, keberadaan aku sama sekali tidak kamu anggap ada. Sakit, Ney!" Kata Rita agak sedih.


Ney masih terdiam, dia tidak bisa berkata apapun tapi masih membaca. Dia tertawa berkata bahwa Rita memang terlalu sensitif namun ada sisi hatinya yang menangis, melihat akan kehilangan Rita.


Dia merasa jaraknya dan Rita akan semakin jauh karena perbuatannya yang tidak terhapus dari ingatan Rita. Mungkin memang Rita terlalu baper, sensitif namun hatinya terlalu sakit, rasa peduli yang Rita tunjukkan untuknya sama sekali tidak berbalas. 15 tahun!


"Kamu pasti tidak tahu kan kalau aku sangat peduli dan ingin kamu bahagia, Rita," kata Ney.


"Iya aku tahu, tapi... bahagianya kamu berbeda dengan bahagianya aku. Aku lebih suka yang biasa, sederhana bukan berkelas. Sedangkan kamu memaksakan kehendak, keinginan kamu karena tidak bisa terpenuhi dengan suami atau tipe kamu. Aku tidak suka diatur oleh orang yang tidak pernah mengenal diri aku," jawab Rita membuat Ney menangis.


"Oke. Aku hanya ingin... supaya kamu tidak dipermainkan saja oleh Alex," kata Ney dengan jujur.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2