ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
446


__ADS_3

"Oh... kecilkan volumenya kalau begitu. Kenapa?" Tanya Ua sambil menatap Rita.


"Tadi panas sekali tapi sewaktu dipegang ternyata tidak ada apa-apa. Kok bisa?" Tanya Rita merasa aneh. Dia memeriksa kembali dan tidak mengerti rasa panas yang tadi dia rasakan apakah itu?


Mereka semua tertawa meskipun begitu mengagumi kekuatan yang Rita miliki. Bagi orang biasa itu memerlukan pelatihan khusus dan berat agar bisa melihat warna energi seseorang.


"Itu namanya Qi atau bisa dikenal sebagai Energi. Yang bisa merasakan hanya tubuh seperti Teteh. Ini Qi Teteh ditutup makanya tidak bisa merasakan energi lain. Jahat sekali dia itu ternyata tapi sekarang sudah terbuka," kata Ua Mori menghembuskan nafasnya. Beliau menggunakan energi.


Saat itu juga merasakan energi yang besar terpancar dari Ua Mori, membuat para khodam yang mereka miliki keluar untuk berjaga.


"Oh... tenaga dalam bukan? Ibu juga punya," kata Rita membuat yang lainnya bengong.


Ibunya Ryan menutup mata. "Ah, iya ibu Teteh memang punya tapi, Teteh lebih besar. Kenapa bisa tahu?" Tanyanya.


"Ada yang terlintas di benak saja," jawab Rita sesuai yang dia lihat.


"Wah, ini memang beda," kata ibunya Ryan. Wajahnya agak sendu menatap Rita.


"Iya semua tubuh manusia memiliki tenaga dalam tapi banyak kan yang memakainya untuk kejahatan atau keuntungan diri sendiri. Tenaga dalam ini kalau diterapkan bagus untuk kesehatan seperti penyembuhan pada orang-orang. Energi ini sebenarnya bersumber dari tubuh kita sendiri, Teh. Kalau yang sudah tahu, pasti diolah menjadi hal yang baik," jelas Koko dari arah sampingnya.


"Oh begitu," kata Rita meskipun sama sekali tidak mengerti. Dipikirnya energi itu kan datangnya dari makanan.


"Contohnya si Akang, dia kalau energinya berkurang bisa ambil dari Teteh lho," kata Koko menyadari energi Rita hilang 10% namun setiap Rita makan sekedar kue atau teh, energinya menjadi full.


"Hah!? Serius!? Harusnya aku pasang tarif," kata Rita memikirkan taktik menghasilkan uang. Tapi ini bercanda ya..

__ADS_1


"Hahaha memang keterlaluan sih orangnya tidak tanggung-tanggung seenaknya sekali. Tapi dia sadar setiap diambil banyak, Teteh pasti jatuh sakit," kata Ua mori.


Setelah itu Ua Mori mengusap-usap punggung dan tangan, tangannya bergetar dan mengeluarkan keringat.


Rita melihat aura merah dalam telapak tangan Ua dan terkesan. Paman dan Bibi yang lain memandangi kedua mata Rita ke arah tangan Ua Mori, begitu juga dengan ibunya Ryan serta suaminya.


Tyas, Wean dan yang lainnya hanya memandangi dari samping. Karena warna itu keluar lagi, Rita yang penasaran meletakkan jari telunjuknya di bawah telapak tangan Ua.


Ua Mori menghentikannya, agak kaget melihat jari Rita yang sedang men-scan telapak tangan Ua.


"Kenapa Teh? Ada apa di telapak tangan Ua?" Kata Ua kebingungan.


"Wah, dia tidak perlu belajar dong," celetuk pamannya.


"Ah, tidak warnanya bagus sih jadi penasaran ingin coba dipegang saja. Mirip laser," kata Rita tenang.


"Teh, bisa lihat ya?" Tanya Koko juga agak tegang. Dia terlihat sangat iri pada Rita, dirinya harus berlatih bertahun-tahun tapi Rita hanya 1 detik.


"Rejeki dan kekuatan orang berbeda, Ko. Jangan iri," kata suami ibunya Ryan menepuk bahunya.


"Astagfirullah. Terima kasih, Pak sudah mengingatkan. Saya jadi malu padahal Rita nya sendiri menolak keberadaan itu," kata Koko agak malu.


"Apanya?" Tanya Rita heran.


"Ya itu yang warnanya merah," kata ibunya Ryan menepuk dahinya. Rita memang agak lemot situasi.

__ADS_1


Ua Mori duduk di sebelah Rita sambil membuka telapak tangannya. "Kamu lihat ada yang berwarna merah di sini?" Tanya Ua agak waspada.


Rita mengangguk. "Seluruh telapak Ua mengeluarkan cahaya merah makanya saya agak... penasaran. Maaf Ua. Itu apa ya?" Tanya Rita ingin tahu.


"Wahahahaha secara tidak langsung memberitahukan kamu ini seperti apa orangnya," kata saudaranya yang lain.


Ua hanya sedikit cemberut dan kagum pada kemampuan Rita meski orangnya sama sekali tidak tahu.


"Teh, itu artinya Teteh bisa melihat aura orang," kata Koko tidak percaya.


Beberapa paman dan bibi menganggukkan kepalanya, agak menghela nafas.


"Hah!? Itu aura atau energi sih?" Tanya Rita kebingungan.


Mereka tertawa lagi karena melihat aura Rita yang berubah warna menjadi kocak. Warna yang belum pernah mereka lihat.


"Kalau Teteh kebingungan, warna auranya jadi agak langka," kata Tyas memberitahukan.


"Kamu bisa lihat juga?" Tanya Rita.


"Tidak bisa tapi kalau menerka orang lewat foto bisa," kata Tyas nyengir.


"Aura itu energi, Teh. Medan energi elektromagnetik yang mengelilingi manusia. Tapi setiap manusia memiliki frekuensi uniknya sendiri dan saling terkait satu sama lain tapi tentunya itu kalau ada kecocokan misal Teteh dengan Akang itu," kata Koko lagi yang tengah duduk.


"Aura itu mempengaruhi perasaan, emosi, pola pikir, perilaku dan kesehatan seperti Teteh yang energinya diambil sebagian sama Akang membuat Teteh tumbang," jelas Tyas menggantikan Koko.

__ADS_1


"Tapi kalau Rita bisa semudah itu melihat aura Ua. Itu sih..." kata Koko tidak melanjutkan.


Bersambung ....


__ADS_2