ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(250)


__ADS_3

"Oooh mbak Diana nih aku kira ada yang berani bully Rita," kata Linda melega. Tamada juga menghela nafas tapi dia tidak lepas dari sorotannya ke arah Ney dan berpikir soal apa yang Diana katakan. 'Apa memang iya jelema ieu ngabully Rita? Kenapa sih dia tuh selalu mencari masalah sama Rita? Memang orangnya tidak baik dari tadi juga yang dibicarakan soal Rita terus. Terobsesi gitu ya?' 😂😂😂 Pikir Tamada.


"Rita kan hatinya lembut ya kalau sampai ada yang bully dia secara sengaja efeknya akan parah banget buat dia dan buat pelakunya," kata Tamada yang melirik juga ke arah Ney. Menurutnya Ney pasti sengaja membully Rita dengan alasan yang tidak masuk akal. Linda dan Diana tidak memperhatikannya tapi mereka memang tidak nyaman dengan kehadiran Ney, mereka juga merasa aneh biasanya baru bertemu orang tidak dikenal ya biasa saja. Tapi kalau Ney, mereka bahkan enggan duduk berdekatan.


"Tidak terbayangkan kalau memang ada yang bully dia. Pastinya sih karena salah paham saja mungkin kalau sampai kejadian pasti menangisinya dalam banget soalnya Rita jarang terlihat suka menangis," kata Linda yang belum pernah melihat Rita menangis.


"Waktu kita nonton bioskop yang paling sedih itu dia nangis tuh, justru gampang banget keluar air mata. Setiap nonton film yang sedih melebar itu wajahnya," kata Diana.


"Oalaaaa hahahaha! Rita kalau punya masalah pasti sering cerita ya sama kamu, mbak," kata Tamada.


"Sering banget," kata Diana tersenyum. Mereka berdua paling tahu kalau Diana yang paling lama dekat lalu muncul Komariah yang kedua dan akhirnya hanya mereka berdua yang memang paling dekat. Sisanya teman dekat yang juga selalu ada tapi tidak seintens Diana dan Komariah.


Mendengar obrolan mereka bertiga memang sudah dipastikan tidak ada celah membuat mereka berbalik menjadi musuh Rita apalagi mereka berjilbab lebih panjang dari Rita.


"Hmmm memangnya kalian mau bagaimana kalau ada yang bully Rita?" Tanya Ney dengan pelan - pelan, dia ingin tahu apakah benar mereka setulus hati atau hanya seperti dirinya yang hanya ada saat Rita senang saja.


Mereka semua berhenti berbicara dan menatap Ney dengan mengangkat alis mereka. "Paling kita balik bully sih dan nanya alasan dia apa mau pelakunya laki - laki atau perempuan," kata Tamada tertawa menatap Ney tajam.


"Kalau memang ada, tampaknya Rita dipandang dibawah dia banget kan yang seperti itu agak perlu diratakan dengan tanah sih," kata Linda sambil duduk dengan bersila. Tentu saja Diana dan Tamada memakai celana jeans, Rita Komariah dan Linda memakai rok.


Ney terdiam, tampak sedikit menelan ludah. 'Wah, mereka galak ternyata sepertinya aku harus mencari strategi lain.' Tampak Diana juga sudah mulai sebal dan tidak nyaman, tidak ingin berlama - lama duduk dekatnya. Setelah itu, mereka mengobrol seru lagi meninggalkan Ney sendiri tanpa pertanyaan atau sekedar berbicara sekenanya. Sekali diajak, nadanya tinggi banget jadi mereka malas. Akhirnya sih Ney hanya mendengar saja seperti nyamuk diam di pojokan buka - buka ponsel dan bernafas bosan. Kalau Author sih lebih baik pulang atau kemana sendiri deh!


Demi apa pula dia bertahan seperti itu kan. Lalu Annisa dan Siti datang berbarengan, suasana pun semakin seru. Ney kaget ternyata masih ada yang datang ternyata benar kalau Rita mau belajar kelompok. Mereka berdua juga berjilbab panjang, Annisa sepanjang dengan milik Rita dan Komariah juga Diana sedangkan Siti panjang sepinggang sama dengan Linda, dan Tamada. Ney tampak salah tingkah melihatnya dan tampilan bajunya pun tidak kalah modis dan sederhana. Wajah mereka pun memakai polesan lembut dan cantik, benar - benar layaknya bidadari dan Ney merasa dirinya pun sama seperti mereka. Hmmm ya ya ya...


Hanya kurangnya tidak berjilbab, Ney duduk dengan penuh percaya diri membuat Diana, Linda dan Tamada enek melihatnya. Yang baru datang sama sekali keheranan ada apa ya suasananya agak hambar. Lalu mereka berdua yang baru datang melirik makhluk yang belum pernah mereka lihat.


"Assalamualaikum," kata mereka berdua dan disambut cipika cipiki juga. Melihat Ney mereka hanya tersenyum menundukkan kepala dan berkenalan, meski Ney enggan berjabat tangan dengan Siti.


"Ini siapa?" Tanya Annisa bertanya pada ketiga temannya yang sudah ada disana.


"Oh, ini Ney teman Rita waktu masih di SMP," kata Diana dengan nada kesal.


"Hai, aku Annisa, yang ini Siti," Icha memperkenalkan Siti.

__ADS_1


Ney mengangguk tersenyum, lalu kembali dengan wajah menyinyir. Annisa melihatnya dengan tatapan aneh dan tidak suka, jelas sekali kalau Ney malas menatap Siti dan dirinya. Lalu Annisa duduk dekat Tama, hanya Siti duduk dekat Ney yang Ney agak menggeser sedikit dari Siti.


"Sombong banget orangnya," bisik Annisa ke mereka. Semuanya mengangguk mengiyakan. Ney bersikap tidak peduli dengan mereka semua. "Rita mana? Komariah belum datang?" Tanyanya lagi menghitung jumlah mereka.


"Rita ke toilet, Komariah menyusul kesana," kata Diana dengan datar. Siti agak sama seperti Rita polos dan kurang peka tapi dalam soal hafalan paling jago dan Rita iri banget! Tapi orangnya baik dan bisa diajak bekerjasama.


"Oalaaa!" Kata Siti tertawa.


"Tumben Rita lama di toilet yakin dia tidak pingsan?" Tanya Linda penasaran. Dari mereka datang, Rita belum menampakkan dirinya dari toilet.


"Hahaha tunggu sajalah mana ada dia pingsan," kata Diana yang mulai mengobrol dengan yang lainnya termasuk Siti yang sedang mengatur nafasnya. Meskipun Ney menempel pada Diana tapi Diana malah mengobrol dengan yang lainnya dan membuat Ney bengong sendirian.


Di ruangan toilet, Komariah datang dan ternyata Rita sudah selesai dan sedang membetulkan riasannya. "Lama amat!" Kata Komariah.


"Sebagai. Bagaimana?" Tanya Rita yang memoleskan lipstik.


"Sebel banget ih! Serius, jauhi dia deh, Rita bisa merusak kesehatan!" Kata Komariah lalu dia menceritakan semuanya tahu - tahu Annisa datang bersama Linda dengan wajah yang sama dengan Komariah.


"Kunaon sih? Siga ningalian jurig ( Kenapa sih? Seperti melihat hantu )," kata Rita keluar bahasa Sundanya lalu tertawa.


"Itu teman kamu? Seriuslah? Mungut dimana ey? Kalakuan goreng adat! Teu sopan pisan ka urang karek ge panggihan ( Kelakuan jelek sekali! Tidak sopan banget ke aku baru juga bertemu )!" Annisa lalu bercerita juga, Linda mengomel panjang. Rita dan Komariah hanya menggelengkan kepalanya, ini sudah keterlaluan. Terlebih lagi hati Rita sakit sekali sampai hati Ney menceritakan itu semua pada teman - temannya yang baru dia temui.


"Nu baleg atuhlah boga sobat teh. Geus jeung urang - urang weh tong ka si eta ( Yang benar dong punya teman itu. Sudah saja dengan kita - kita jangan sama dia ). Kovlok! ( Plesetan kata kasar yang pasti kalian tahu kata aslinya ) Serius," kata Linda ke Rita yang di balas anggukan dua temannya.


Rita hanya tersenyum menanggapinya. "Ya siapa juga yang mau terus menerus sama dia, cha? Dia nya saja yang terus mengekor, kenapa bukannya menolak ya kalau aku ajak kan gampang,"


"Ya makanya kita juga aneh mikirnya, tuh anak ampun deh! Lebih baguslah jaga jarak sejauh mungkin kalau mengobrol juga mulai dijaga deh. Parah asli jangan sampai dia tahu kelemahan kamu, Rita. Orangnya tidak bisa dipercaya, kalau kamu punya rahasia pasti dijamin bakalan disebar," kata Annisa yang melenggang ke dalam toilet.


Rita teringat dia menyebarkan aib yang sama sekali Rita tidak ingin buka. Dengan mudahnya dia katakan di grup didepan Arnila alhasil dia pun menjelaskannya dan akhirnya juga membalas serangannya Ney.


"Menurut aku ya, dia ingin sekali menjadikan kamu orang jahat. Parah! Berusaha adu domba kita semua menjauhi kamu," kata Linda. Rita menghela nafas dan menyandarkan dirinya di wastafel.


"Aku baru ini mengalami hal seperti ini. Tenang saja aku sudah punya rencana untuk masa depan aku kok. Dia tidak akan pernah ada lagi, Lin," kata Rita sambil memandangi pintu toilet yang tertutup. Dengan segala kisah dari teman - temannya tekad Rita untuk menutup lembarannya bersama Ney semakin kuat, dia juga sudah cukup lelah bersama Ney ada seperti mood malas, tidak ingin bertemu lagi. Seperti mulai ada perbatasan tak terlihat yang menyuruhnya menyudahi penderitaan yang selama ini Rita selalu rasakan.

__ADS_1


"Dengar Mbak Diana ada yang bully - bully siapa sih maksudnya?" Tanya Annisa penasaran ke Komariah.


"Tidak tahu. Itu mah kalau ada, cha," Kata Linda yang juga memoles bibirnya dengan lipstik.


Komariah terdiam lalu mengatakan yang sebenarnya pada mereka. "Yeuh ( Nih )," tunjuk ke Rita.


"Saya," jawab Rita menunjuk ke dirinya. Mereka berdua kaget banget ternyata serius ada.


"HAH!? PENYEBABNYA!?" Tanya mereka bersamaan. Untungnya toilet agak jauh dengan tempat Diana berada.


"Aneh banget alasannya. Hanya karena Rita dapat teman ganteng terus dibully katanya sifatnya Rita jelek jadi di bully supaya bisa diubah. Gelo pan ( gila kan )!" Kata Komariah dengan kesal.


"HUWHAAAAAT!? KOVLOK!!!" Teriak Annisa tanpa ada perantara.


"Nyanyahoan pisan sifat jelema nu goreng ey. Ai manehna teu sadar leuwih goreng? Geus tinggalkeun! Geus parah eta mah! ( Sok tahu banget sifat jelek orang. Ai dia tidak sadar kalau dia sendiri lebih jelek? Sudah tinggalkan! Sudah parah itu! ) Ai kamu kenapa sih bisa mungut orang gila?" Kata Linda dengan Sunda kasarnya juga yang memang sudah kesal segunung.


Rita lalu menceritakan asal muasalnya pada mereka berdua, mereka melongo dan menyimak. Annisa sudah selesai lalu keluar dari toilet. Bahkan saat mengeluarkan hajat pun Annisa masih juga mendengar omongannya Rita. 😂😂😂😂


"Itu dulu kan sekarang sudah berbeda kamu sudah punya banyak teman kan dari SMP di semester kedua sampai sekarang kan, ya sudah cut saja jeng sama yang ini. Cepat keluar kasihan mbak Diana ditempelan ku Jin hahaha!" Kata Linda.


Rita dan Komariah tertawa kemudian kembali dan benar saja sih Diana sudah bete berat tapi terhibur dengan kehadiran Tamada dan Siti. Saat Rita sampai Diana berdiri dan bergegas ke toilet tanpa peringatan. Ney juga mau ikut ke toilet tapi langsung diserobot oleh Tamada, akhirnya dia duduk lagi dengan nafas kesal.


"Kenapa sih kamu tampaknya kesal? Bosan ya?" Tanya Rita yang lalu duduk di dekatnya.


Ney tidak menjawab pertanyaan Rita dan dengan malas membuka ponselnya seakan - akan menganggap Rita tidak ada. Siti yang melihatnya pun sama sekali kaget dengan perilakunya. "Assalamualaikum, Rita, Komariah!"


"Walaikumsalam! Wah Teh Siti datang!" Sambut Rita dan Komariah, seperti biasa acaranya sun kanan kiri.


"Oh iya dong. Sekalian lah mengerjakan tugas juga kan?" Tanyanya yang siap mengeluarkan kertas kelompoknya.


"Eh, ini tempat duduknya Diana lebih baik kamu cari tempat lain deh!" Kata Ney dengan suara yang judes ke arah Rita. Otomatis Komariah yang mendengarnya keki banget.


"Ih kamu kok begitu sih sama teman sendiri? Kalau bosan pulang saja deh! Kenapa ya Rita bisa punya teman macam kamu," kata Komariah yang bersiap bertarung.

__ADS_1


"Terpaksa kali," jawab Tamada yang membuka tasnya lalu mengeluarkan kertas tugasnya.


BERSAMBUNG ...


__ADS_2