ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(335)


__ADS_3

Tanpa ada yang bertanya atau melapor, semuanya Rita kerjakan mau butuh bantuan atau tidak, semuanya saling bekerjasama. Setiap hari adalah hari neraka bagi Ney karena selalu terkena amarah bos dan Apollo yang galaknya melebihi Alex. Dengan badannya yang kekar bagaimana tidak membuat Ney juga lebih baik menghindarinya. Kalau dirinya tidak punya niat ingin bersaing Rita dimanapun, mana mau dia bertahan di tempat itu dengan orang yang super mengerikan.


"Bos, bagaimana kalau posisi Rita digantikan saja dengan Ney. Lebih baik dia di depan daripada di belakang terus. Mengolah data saja banyak yang salah apa benar dia bisa menjadi sekretaris yang handal? Sekalian melatih dia meski di sini hanya 3 bulan, piring ini saja masih terlihat kotor," saran Apollo kepada Bosnya di kantor.


"Hmmm boleh juga sih tapi Rita bukan bidangnya juga soal menghitung data dia hanya bisa menghitung yang mudah. Sudahlah kamu juga latih dia saja, dia menggantikan Rita selama seminggu. Rita juga bekerja dengan kita sisa 4 bulan sebelum dia praktek mengajar kan," kata Bosnya. Apollo menghela nafas lalu keluar ruangan.


Dalam dapur tempat pencucian piring, Ney menangis karena ini lebih dari yang dijanjikan. Dia bekerja karena posisinya menjadi Asisten Cafe bukan yang sekarang dia jalani kalau seperti ini kenapa juga tidak dijelaskan sebelumnya, apa Rita sengaja? Ada segenggam kekesalan pada Rita tapi dia sendiri pun tidak tahu harus bertanya apa padanya lagipula salahnya juga yang tidak menanyakan soal apapun dari sini. Kenapa juga dia tidak berselancar dulu di internet untuk mencari tahu tentang persyaratannya.


Pegawai lain datang untuk mengambil beberapa piring serta sendok lalu selintas melihat Ney menangis. "Kalau masih bisa menangis itu artinya kamu masih kuat. Rita awal kerja saja tidak pernah mengeluh namanya juga Cafe sudah pasti pekerjaannya menumpuk. Meskipun kamu diterima disini sebagai Asisten ada kemungkinan posisi kamu akan diganti. Untuk melihat apakah kamu bisa diterima lebih lama lagi atau tidak. Rita paling minim dimarahi karena dia selalu bergerak sendiri,"


"Kamu tampaknya tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah ya seperti menyapu atau mencuci piring?" Tanya B yang juga menilai cara kerja Ney.


"Suka kok sudah biasa pekerjaan itu di rumah," kata Ney yang menyembunyikan wajahnya dengan sibuk mencuci.


"Ohh ya mungkin karena terlalu banyak saja sih kalau disini," kata Pegawai lain meski agak sangsi.


Lalu masuklah pegawai lain yang tadi keluar untuk mengantarkan pesanan. Ney masih menangis pelan saat mencuci peralatan makan dengan lebih hati - hati.


"Aduh, mbak buat apa menangis segala? Payah!" Kata yang lain meninggalkan Ney sendirian.


Ney kesal sekali tidak ada yang membantunya dia berpikir apa Rita juga begitu? "Makanya Mbak daripada sibuk bicara ini itu soal temannya lebih baik belajar mengerjakan pekerjaan rumah deh apalagi disini kita bekerjanya bergantian posisi. Nanti juga saya yakin Mbak dapat posisi yang sama dengan kita," kata Boni menyimpang piring kotor yang lebih banyak.


Sudah 3 jam Ney bekerja sebagai pencuci piring lalu dipindahkan menjadi pengangkut barang bahan makanan ke gudang. Benar - benar kerja rodi untungnya barang yang diangkat semuanya mudah dan ringan. Jadi lumayan bisa lebih santai bekerjanya. Tapi semua energinya benar - benar terkuras tidak ada yang bersantai semuanya bergerak dengan cepat. "Kalau tahu begini sih lebih baik gue keluar! Sudah tidak tahan lagi,"

__ADS_1


Akhirnya jam 3 sore datang, bagaikan sudah terjadwal dengan baik para pelanggan pun kemudian bergegas keluar dari Cafe. Para pegawai pun akhirnya bisa rebahan di markas bawah, setiap hari begitu kegiatannya pantas juga sih Rita kelelahan. Ruangan yang dia sarankan tentu saja masih sama dengan yang dia lihat tapi karena saking lelahnya dia tidak peduli dan berbaring sebentar lalu mengambil makan sore dan juga minuman yang dia bawa dari rumah. Kemudian dia memilih tempat yang cukup jauh dan terpisah dari semuanya.


Aura datang untuk bergabung dan melihat Ney yang makan sendirian. "Ney, sini gabung dengan kita. Lebih enak makan bersama daripada sendirian."


Akhirnya Ney menurut dan datang lalu makan dengan semuanya tentu saja saking lelah dan sakit badannya dia hanya mendengarkan bila yang lain mengobrol. Semenjak tidak ada Rita Ney sering sekali mengeluh kalau dirinya tidak tahan kalau harus bekerja depan meja. Beberapa pegawai malas sekali mendengar ocehannya dan memilih bergantian kerja di gudang. Tapi beberapa terus menyemangatinya karena hanya seminggu untuk selanjutnya in sha allah Rita akan masuk seperti biasanya. Dirinya terus bertahan selama seminggu itu dia sibuk memperbaiki cara bekerjanya agar Apollo bisa berhenti mengomel.


Dalam hatinya pun dia berjanji tidak akan lagi mempersoalkan mengenai tahun lalu meskipun dia selalu gatal untuk terus membahasnya karena ada kesalahpahaman di dalamnya. Apalagi dia sudah kena hardikan kakaknya Rita yang super galak, Alex juga harus merasakannya karena semuanya awal berasal dari kelakuannya. Tapi tampaknya sekarang pun Alex semakin jauh dari Rita pasti ada sebabnya. Dalam lubuk hatinya dia iri juga terhadap perhatian kakaknya Rita meskipun tahu juga kalau mereka suka bentrok tapi selalu akrab. Mana ada juga adik dan kakak kandung tidak akrab kan? Berbeda dengan keluarga Ney.


"Aku sudah tidak kuat!" Katanya ke beberapa pegawai, energinya setiap hari habis sampai dia pulang ke rumah. Dia tepar di depan meja dapur.


"Yah, Mbak segitu saja mah kecil tuh Apollo menangani semua urusan Cafe," kata pelayan depan.


"Rita bagaimana sih waktu kerja disini sebelum aku datang?" Tanya Ney penasaran. Selama ini dia hanya melihat Rita ya sempurna tampaknya juga tidak pernah bekerja keras. Tapi yang dia lihat di lain hari sangat berbeda dengan yang dia pikirkan.


"Baik - baik saja. Kenapa memangnya?" Tanya Yen yang bergabung dengannya di teras depan.


"Hmmm Rita jarang terlihat mengeluh sih kalau lelah juga dia berhenti lalu minum terus kerja lagi. Kamu pernah lihat dia mengeluh?" Tanya Yen ke teman pekerjanya.


"Tidak pernah paling hanya menghela nafas ya biasa lagi," jawab pelayan itu.


"Hanya begitu?" Tanya Ney tidak masuk di akal hanya menghela nafas lalu lanjut. Sekarang malah dia sakit apa dia suka memendam rasa sakit ya?


"Iya hanya itu saja soalnya hanya beberapa hari saja dia langsung tahu begitu harus bekerja seperi bagaimana lalu orangnya kreatif juga mungkin karena dia mau jadi seorang guru Taman Kanak - Kanak kali ya," kata Yen. Dia menunjukkan hiasan yang tergantung di langit, terbuat dari plastik orang melihatnya tidak akan tahu kalau sebenarnya Rita yang membuatnya.

__ADS_1


"Oh iya hiasan salju itu kan Rita yang buat katanya dia disuruh membuat hiasan untuk kelas saat praktek nanti. Apollo bilang bisa dia kerjakan di sini lalu hasilnya bisa dia coba menggantungkannya semuanya di langit Cafe. Hasilnya bagus banget kan," kata Pegawai lain yang memandang ke atas.


Ney kaget Rita bisa membuat hiasan salju sebanyak itu? Dan lagi bukan menggunakan kertas lipat tapi dari potongan plastik dan kaca tentu saja dibantu oleh beberapa pegawai lainnya. Langit Cafe tampak seperti langit di luar apalagi setelahnya bos mereka menambahkan beberapa lampu. Ney pun terpesona sekali.


"Rita tidak pernah menunggu perintah Bos justru saat Bos mau bilang, Rita sudah mengerjakannya duluan. Makanya oleh kak Apollo pun minim dimarahi itu yang paling utama di sini. Menangis pastilah dia juga dimarahi oleh kak Apollo, semuanya juga menangis pertama bekerja disini," jelas Sona yang datang tiba - tiba.


"Eh, kak Sona. Datang tiba - tiba aku kaget!" Kata Ney memegang dadanya.


Sona hanya melihat Ney dengan tatapan agak sinis entah kenapa. "Aku tadi dengar sedikit soal kamu tanya soal Rita. Kenapa sih ingin tahu?"


"Ya bertanya saja kita kan disini hampir semuanya menangis karena Apollo," kata Yen.


"Oh iya betul juga ya semua orang benci tapi sekaligus suka lama kelamaan sih," kata Sona memandangi Ney dengan tatapan yang aneh. Hanya Yen yang tahu kenapa dia menepuk bahunya dan memberi kode untuk tidak macam - macam.


"Kenapa?" Tanya yang lain.


"Tidak ada apa - apa," kata Yen yang memegang pundak Sona. Akhir - akhir ini Sona sepertinya agak pemarah atau hanya perasaan mereka saja?


"Serius dia jarang menangis? Orangnya sensitif banget terus baper," kata Ney yang tidak percaya masa iya dia jarang menangis.


"Baper? Hmmm sepertinya tidak deh ya. Dia jarang menangis kalau dimarahin Apollo juga dia langsung bilang iya sih lalu besoknya mengerjakan apa yang baru dikatakan Apollo. Bukan tipe baper deh soalnya ada yang tidak suka dia, ya cuek saja orangnya," kata Sona yang agak aneh dengan penilaian Ney.


"Mungkin dia seperti itu kalau diluar dari pekerjaannya. Kadang kita juga memang seperti itu kan kalau bekerja memang tidak mungkin sambil main - main kan. Jadi itu normal kalau kamu berpikir Rita disini berbeda dengan yang kamu lihat biasanya," kata Sona lagi.

__ADS_1


"Dia kalau lelah paling minta ijin untuk wudhu lalu tentu saja diperbolehkan sudahnya ya seperti biasa lagi," kata yang lainnya.


BERSAMBUNG ...


__ADS_2