ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(130)


__ADS_3

Besoknya Rita bersekolah dan saat istirahat lebih banyak teman yang ikut berkumpul dan Rita membuka bawaannya dan disambut seru oleh semuanya.


"Yang kedua nih?" Tanya Arya sang Ketua Kelas.


"Iya dong. Tapi tidak tahu bagaimana rasanya," kata Rita ragu - ragu mengeluarkannya.


"Yang dibuat dengan setulus hati pasti enak!" Kata Shinta mengambil beberapa kentang milik Rita.


"Masih renyah, ya kamu masak ini jam berapa?" Tanya Ara penasaran.


"Jam 5 pagi hehehe," jawab Rita malu - malu.


Semuanya terpana melihat kegigihan Rita yang ingin kentangnya renyah. Kelima teman dekatnya mengacungi nya jempol begitu juga dengan yang lainnya.


Ney datang dan menghampiri mereka. "Kok kamu tidak menawari aku sih?" Tanyanya sambil marah.


Semua melihat ke arahnya dengan wajah yang sebal termasuk Rita.


"Kamu kemarin bilang malas dengar aku menawari kamu cemilan buatanku terus. Jadi buat apa aku tawari?" Tanya Rita yang disusul dengan gelak tawa teman - teman lainnya.


"Makanya kalau bicara itu dipikir dulu. Tidak mau kan kamu sampai rugi? Padahal enak ya meski baru pertama kali coba kamu asah kemampuannya. Nanti kalau sudah pintar, kita bisa kasih kamu resep yang lumayan susah," kata Popy mengedipkan sebelah matanya.


"Wah, sekalian saja kalian adakan pesta setiap istirahat. Kita mau kok jadi sukarelawan nya," kata Badru cengengesan.


Ney hanya memandang kesal ke arah lain namun karena merasa suasananya semakin tidak enak, Sina yang berada paling dekat dengan Ney langsung mengambil bekal punya Rita.


"Kalau kamu mau, ya ambil saja nih. Mau yang lain juga ambil saja ya," kata Sina.


Ney lalu mengambil beberapa kentang yang banyak dengan saus kejunya dan memakannya sambil berdiri. Dengan tergesa - gesa juga sambil memandangi ke arah lain. Beberapa teman sekelas berbisik - bisik lalu tertawa melihat kelakuan Ney.


"Ah, kentang ini mah biasa saja kenapa sih kalian sampai seribut ini?" Tanya Ney sambil memandangi kentang biasa yang dimasak Rita.


Mereka semua mendengus mendengarnya. "Kamu tahu tidak sih arti Menghargai? Menghormati? Salah satu teman kita sudah berusaha payah ya dengan belajar masak atau buat snack. Kalau kamu mau bagiannya, coba kamu harus belajar cara menghargai apa yang teman kamu buat," kata Anata berkacak pinggang.

__ADS_1


"Sepertinya kamu jarang ya makan makanan seperti ini,"


"Tidak bisa memasak seringnya beli GoFood,"


Rita tidak habis pikir kalau memang rasanya biasa kenapa dia marah tidak ditawari? Kenapa dia malah datang kesini? Rita menghela nafas dengan mengambil beberapa makanan buatan Sina. Kelima temannya memang jago masak. Wuih masakan mereka juga tidak main - main untungnya tidak ada yang bentrok dengan masakan Rita. Sina membuat Lasagna dan jelly lemon, Ara membuat Pancake dan Macaroni Schotel Beef, Popy membuat Chicken Cordon Bleu dan jus Mangga, Rei membuat Tuna Sandwich dan beberapa potong cokelat dan Anata membuat Tacos dan Sushi gulung. Tentunya dengan ukuran kotak makan siang ya, guys.


Siapa sih yang tidak tergiur dengan bekal yang mereka semua bawa dan acara istirahat pun sangat meriah.


"Ada kentang goreng saus keju! Aku suka tuh. Boleh minta?" Tanya murid lelaki yang baru datang ke kelas Rita.


"Boleh. Ambil saja," kata Rita.


"Enak lho! Mana pakai saus keju lumer. Wah asik nih! Boleh dong kalau ada acara makan seperti ini kelas sebelah ikutan?" Tanya lelaki kelas sebelah. Sontak semua orang meng-HUUU dia.


"Cuma kelas kita saja ya. Kelas lain buat sendiri sana!" Beberapa murid keberatan memangnya kelas mereka itu restoran.


Tanpa rasa malu, Ney mengambil semua makanan yang dibuat mereka berlima masing - masing satu lalu tidak lupa mengambil kentang goreng milik Rita. Dengan sebal melihat perilakunya Rita menyindir dengan keras.


"Kemarin sepertinya ada yang bilang deh kalau rasa kentang gorengku pasti asin rasanya. Eh dia nyomot lagi ketagihan," kata Rita sambil minum airnya.


"Itu orang sepertinya sok tahu banget ya. Kentang buatan kamu pas kok rasanya ya kalau ada yang merasa kurang atau lebih bisa dipadukan dengan makanan buatan kita." Kata Sina yang makan kentangnya lebih banyak. Memang penggemar kentang juga sama dengan Rita.


"Ada deh orangnya! Enak kan? Kalau keasinan berarti indera perasa ku sudah error kalian juga pasti langsung buang semuanya kan," kata Rita sambil memeriksa teman - temannya.


Teman - temannya mengangguk dan berpikir siapa tuh orang yang bilang tanpa hati.


"Itu sih orangnya punya rasa iri saja ke kamu, Ri. Mungkin dia pikir baru pertama bisa masak, sudah enak bisa jadi dia juga pernah membuatnya tapi ternyata rasanya hambar," Winda menambahkan.


"Jangan didengarkan deh, Ri. Justru orang yang seperti itu senang banget kalau kamu sampai merasa cemas atau benar - benar membuat rasa percaya diri kamu goyah. Cemilan buatan kamu enak, nanti bawa yang lain ya hehehe," kata ketua kelas yang langsung disoraki semua anak.


Rei dan Popy sepertinya tahu siapa pelakunya dan mereka hany senyum simpul mendengar semua komentar satu kelas terhadap makanannya Rita. Ney hanya terdiam dan terus memakan makanan yang dia ambil dari kejauhan. Entah apa yang ada di benak Ney saat mendengar hal itu, ekspresi wajahnya tidak menampakkan penyesalan atau kesedihan.


"Sepertinya kita tahu deh pelakunya siapa," kata Sina tiba - tiba sambil membereskan kotak bekalnya yang sudah kosong.

__ADS_1


"Iya kita juga," jawab murid - murid yang lain sambil memandangi kebelakang ke arah Ney yang berjalan menjauhi mereka keluar kelas.


"Parah banget! Bukannya menghargai usaha kamu dia malah bilang begitu, Ri? Kalau kata aku sih, sudah jangan terlalu dekat dengan Ney," kata Linda yang masih mengunyah makanannya.


"Memangnya itu Ney? Pasti tuh?" Semua orang memandangi Rita dengan mata yang setengah terbuka.


"Kali kamu salah menduga. Orang lain mungkin,"


"Selain kita, Rita juga agak dekat ya dengan Ney. Memangnya ada orang lain selain dia? Di kelas kita siapa orang yang kelakuannya paling aneh?" Tanya Anata.


"Iya memang Ney. Kok kalian bisa tahu sih?" Tanya Rita. Beberapa teman sekelasnya terkejut tidak menyangka kalau Ney bisa mengatakan hal seperti itu. Tapi memang ada kemungkinan begitu karena Ney anak Jakarta dan pergaulan anak Jakarta berbeda dengan anak Bandung. Apalagi soal ucapan.


"Seriuslah. Dari yang kamu bilang saja, kita sudah sadar itu adalah Ney. Dia aneh ya, bilang begitu mungkin baginya kamu terlihat sedang pamer." Jawab Arya yang ikut nimbrung lagi. Dia masih mencari makanan yang masih ada dan punya Popy dan Rei masih tersisa banyak.


"Tapi ini serius ya, Rita tidak bohong. Kentangnya enak banget apalagi ada saus keju lumer yang sudah tersiram di atasnya. Ciaaaamik banget!" Kata Siti yang langsung joget dangdut didepan kelas. Semuanya ikut menyoraki dan sebagian membuat alat musik dari tempat pensil, meja, kursi bahkan buku pelajaran.


Rita dan yang lain tertawa dan ikut berjoget juga tapi hanya beberapa menit karena beberapa guru datang menggebrak pintu. Membuat yang lainnya langsung lari terbirit - birit.


"Ini kelas bukan panggung hiburan. Nanti kalau ada yang menikah, ibu panggil kalian semua untuk joget," yang langsung dijawab anak - anak.


"SIAP, BU LIAM!"


"Kamu ketua kelas kasih tahu dong itu satu warga yang keterlaluan banget!" Kata Sina.


"Wah, itu bukan area gue. Memang seperti itu orangnya aku lihat. Pertama masuk saja kalian tahu kan seperti apa dia?" Tanya Arya.


"Orang Jakarta memang begitu, Rya. Belagu, tapi baik sih kadang tapi kalau kasus Ney mungkin berbeda ya karena pergaulan atau lingkungan keluarga dan teman disana juga. Berbeda dengan kita anak - anak Bandung yang kalem, lembut tapi aslinya preman," jawab Shinta sambil tertawa keras.


"Lah itu mah lu!" Balas Arya sambil menggetokinya dengan buku seni rupa. Lalu Shinta pun membalas dan Arya berlari menghindari.


"Coba kamu tanya saja ke ibunya, Ri kali dapat solusi bagaimana menghadapi tuh anak," saran Ara yang duduk tenang di kursi. Dia tahu Rita pasti tidak enak kalau harus meninggalkan Ney begitu saja.


Mereka berlima tahu, Rita terlalu baik hati terhadap orang sampai tidak tahu kalau mereka punya niat jelek termasuk Ney. Saran mereka selalu Rita ingat sampai kapanpun, tapi kesempatan untuk mengobrol dengan ibunya seakan - akan tidak ada dan sepertinya Ney seakan tahu soal itu, dia selalu saja membuat alasan agar Rita tidak sampai berduaan dengan ibunya. Sampai akhirnya mungkin suatu hari nanti Rita akan diberi kesempatan yang bagus bertemu dan mengobrol dengan ibunya.

__ADS_1


BERSAMBUNG ....


__ADS_2