
"Kamu kebiasaan ya kalau tidak suka mendengarkan sesuatu pasti memalingkan muka. Hadapi dong mau kamu kesel mendengarnya, pasang telinga. Jangan maunya kamu saja yang didengarkan! Dengar tidak?!" Kata Rita yang langsung emosi. Dia sudah tidak bisa mentolerir perilaku Ney yang seenaknya.
"Tuh dengar apa kata Rita. Kamu seperti itu sama saja artinya tidak bisa menerima saran dan kritik. Aku minta maaf ya Rita, tahun lalu bilang ke Alex kalau kamu orangnya tidak bisa menerima saran dan kritik dari kita. Aku juga heran kenapa aku bisa berkata begitu. Sepertinya memang karena ulah seseorang yang ingin memanipulasi aku agar bisa nyepet kamu," kata Arnila sambil memegang kedua tangan Rita. Arnila benar - benar sangat menyesali perbuatannya tahun lalu, menurutnya ternyata Rita bukan orang seperti itu dan entah kenapa dia malah menurut saja dengan perkataan Ney.
"Iya aku bingung sama kamu, kok malah ikut mojokkin aku padahal selama ini kamu sudah tahu aku seperti apa. Sedih iya kecewa iya apalagi sama orang yang ternyata ya punya dendam terpendam dan melimpahkan itu semua dengan adanya kehadiran Alex. Asli aku kecewa berat sama dia! Tidak apa - apa, Nil. Aku senang kok sekarang kamu sudah waras," kata Rita sambil tertawa.
Rita menghadapi ujian yang paling berat dalam hidupnya. Dia harus rela ikhlas saat tahu kalau teman yang selalu dia bela yang selalu dia temani ternyata menganggapnya musuh atau saingan. Rasa kecewa itu berubah menjadi sebuah keputusan besar dalam hidupnya. Dan Rita menggambarkan petasan yang mengulur setia, ketulusan dan kepercayaan. Kalau untuk Arnila, petasan itu tidak naik tidak turun alias hanya terdiam di tengah - tengah. Akankah bisa naik ataukah ternyata turun, Rita tidak mau banyak komentar.
Kalau soal Ney sudah pasti mulai menurun. Apalagi saat Rita dia bully habis - habisan, lalu memberitahu Alex mengenai sifat negatif atau apapun itu langsung drastis menurun. Rita sampai menangis selama 3 hari karena berat sekali menurunkan rasa percaya pada Ney lagi. Dia juga sangat kecewa dengan Alex, Arnila. Dan ternyata biang kerok dari ini semua adalah Alex dan wakilnya Ney yang memendam dendam. Selama berteman lama dengan Ney, Rita sangat terkejut akan perilaku kepadanya karena dia sama sekali tidak pernah seperti itu sebelumnya. Dia sangat kaget sekali dan langsung Down mengenai Ney, sekarang Rita hanya mampu tertawa dan berbicara tanpa hati. Jadi karena rasa kepercayaannya ternyata sangat mengecewakan dari Ney, itulah yang membuatnya trauma percaya pada Ney.
Rita masih belum bisa percaya lagi kepada Ney. Rita selalu berdoa dalam hati agar Allah SWT memberikannya atau mempertemukannya dengan orang yang bisa membantunya. Dalam hal ruqyah dan dalam hal pertemanan yang dia punya, dia sangat bingung dengan yang dia alami. Begitu tiba - tiba dan sangat menyakitkan. Memang cerita dengan Allah SWT paling bisa diandalkan tapi dia merasa kurang, kurang seseorang yang bisa menjelaskan permasalahannya dengan Ney ataupun Rita juga Alex. Dan semoga Allah SWT mengabulkan permintaanya ini.
Arnila yang mendengarnya hanya sedih dan dia tahu orang dimaksud siapa, dia menyesal sekali kenapa kok bisa - bisanya waktu itu sampai tidak berpikir jernih. Kenapa dia semudah itu bisa langsung percaya dengan orang yang tidak tahu banget soal Rita. Padahal Arnila tahu persis tidak mungkin Rita seperti apa yang dikatakan oleh Ney.
"Biarlah, Nil. Allah SWT kan tidak pernah tidur. Aku hanya berdoa Allah SWT memberikan pengadilan yang seadilnya untuk orang yang seenaknya memanipulasi kamu dan yang sudah jahat sama aku," kata Rita menenangkan Arnila.
"Iya, Ri. Aku yakin teman kamu yang lain tidak ada yang seperti satu orang itu kan. Mereka lebih mengerti kamu dan mereka juga tidak akan pernah membuat kamu jatuh," kata Arnila tersenyum.
"Orang yang senang memanipulasi, menipu dirinya sendiri itu artinya dia sebenarnya kesepian, Nil. Dia tidak punya siapa - siapa mungkin dia takut kamu dekatnya malah sama aku bukan dia. Makanya kesempatan banget menghina, menjelekan aku bahkan dia sok banget bilang kalau kepribadianku ganda dan jelek buat Alex. Lupa mungkin ya kalau dia lebih jelek dari aku. Hiii! Lupa diri," balas Rita sambil tertawa ngakak. Tanpa hati dan perasaan tentunya.
"Iya ya kalau yang punya banyak teman sih mana mungkin begitu. Yah kita biarkan sajalah orang seperti itu nanti juga ada hukumannya. Ngomong - ngomong kita menyimpang lagi nih," kata Arnila yang berpikir.
"Hahhh... melipir sebentar tidak apalah. Lalu Ney kamu mau bagaimana soal Syakieb?" Tanya Rita pada Ney yang menundukkan kepalanya saat menyimak mereka berdua mengobrol.
"Ya mau bagaimana lagi. Istrinya itu menyebalkan banget cantik - cantik tapi jelek sifatnya," kata Ney membalas dengan wajah yang...sedih? Entahlah Rita sudah tidak perduli dengan ekspresinya.
"Hmmm lebih baik cantik tapi jelek sifat daripada memang sudah jelek wajahnya eh sifatnya juga sama dengan wajahnya ya," kata Rita sambil mengambil cemilan miliknya.
"Buset dah," kata Arnila melirik perkataan Rita.
"Maksud kamu apa? Aku maksudnya?" Tanya Ney yang tersinggung.
"Memangnya aku sebutin kamu? Aku kan cuma bilang," jawab Rita yang kemudian makan keripik.
__ADS_1
"Tapi kok aku merasa itu buat aku ya?" Tanya Ney menatap Rita dengan marah.
"Oh, tersungging ya? Kalau kamu merasa begitu berarti memang kamu merasa itu diri kamu. Manusia yang tinggal di dunia kan bukan kita saja. Memang aku sebutin soal Ney, Nil?" Tanya Rita dengan wajah datar.
"Tidak. Aku tidak dengar kamu sebut nama Ney. Sepertinya kamu terlalu sensitif ya tapi kok tidak peka ya sama kelakuan sendiri," balas Arnila menatap Ney.
"Orang yang mudah berkhianat juga kan banyak. Awal nampak dengan muka manis dan kesannya baik tapi begitu ada kesempatan, langsung nusuk! Apalagi kalau sudah kenal lelaki ganteng, kamu kan suka lupa diri. Tahu - tahu nyelepet orang bilang itu bilang ini padahal kamu sendiri sama sekali tidak kenal dalam luarnya," kata Rita yang kemudian menchat Alex. Tanpa melihat ekspresi Ney saat itu. Dia tampak getir terhadap Rita terlihat marah sekali tapi memang tidak bisa membalas apapun.
"Memangnya kamu merasa wajah kamu jelek ya?" Tanya Arnila.
"Lebih baik wajah jelek tapi hati baik. Santun berkata bukan nyerocos sampai nyablak apalagi kalau ada kesempatan buat menipu orang lain," Rita tertawa. Membuat Ney sebal ke arah Rita.
"Makanya tidak heran kan orang itu benci sama kamu, Ri. Memang kamu sombong," kata Ney dengan seenaknya.
"Hah?? Sombong karena pahalanya paling besar ya alhamdulillah daripada orang yang senang bully orang terus bicaranya nyakitin. Yakin sih pahalanya lebih rendah," balas Rita dengan jutek.
Ney menghela nafas dia benar - benar lelah banget kalau sudah harus debat dengan Rita. Dulu apapun yang Ney debatkan, Rita jarang membalas. Sekarang Rita berubah banget! Ney selalu sebal dan dia sudah tidak mau mendengar ucapan Rita terutama Arnila juga sama mulai berani melawannya.
"Ada kabar?" Tanya Alex dalam inboxnya.
Arnila kaget, selama ini berarti si Ney menganggap Arnila itu...
"Kamu anggap Arnila juga sama ya seperti aku? Budak," kata Rita membuat kaget Arnila lalu memandang Ney yang salah tingkah.
"Kamu anggap aku begitu selama ini? Memangnya aku salah apa sih sama kamu?" Tanya Arnila yang wajahnya mulai memerah.
"Kita sedang debat nih. Aku langsung bertanya maksud dia menganggap aku sama Arnila tuh seperti apa," kata Rita ke Alex.
"Eh? What did she answer?" Tanya Alex yang jadi penasaran juga.
"Kamu kan bisa datang ke sini," kata Rita.
"I am working. I'm stealing time to always be able to chat with you
__ADS_1
( Aku sedang bekerja. Aku sedang mencuri waktu untuk selalu bisa chat sama kamu )," kata Alex sambil tersenyum tapi diam - diam karena dia sedang mengawasi para pegawainya bekerja.
"Ya kamu kan selalu ada disekitar aku, kemanapun aku pergi kamu mengekor aku dari belakang. Padahal aku tidak minta kamu buat berbuat begitu, jadi ya aku tidak menganggap kamu apa - apa kok," kata Ney tanpa melihat Arnila.
"Jahat kamu asli! Sabar, Arnila. Kamu kan masih punya teman yang selalu ada kan. Jangan sedih untuk orang seperti dia. Akhirnya keluar juga ya aslinya kamu," kata Rita yang mendengarnya. Arnila sudah meneteskan air matanya setelah mendengar apa yang Ney ucapkan.
"Oke. Kalau begitu maunya kamu, aku ceritakan ya apa yang kamu katakan ke aku soal kita bully kamu, Ri. Memang Alex mengajak kita untuk bully kamu dan Ney langsung menyetujui. Aku pernah nanya ke dia kenapa malah setuju bully kamu, dia bilang kalau selama ini dia kesal ke kamu. Dan dia bilang kamu bukan teman dia, jadi buat apa juga punya hubungan teman dekat karena bagi dia, tadi awal berteman sama kamu, dia juga terpaksa melihat kamu tidak punya teman," kata Arnila dengan pancaran kedua mata yang memang jujur.
"Arnila, kamu!" Kata Ney yang terkejut dia menceritakan semuanya kepada Rita. Kedua tangannya gemetaran saat Rita lihat.
"HAHAHAHA Sudah sudah, Arnila. Aku dari awal tahu kok kalau memang aku tidak pernah dianggap ada dan sekarang aku bisa membalikkan apa yang dia lakukan ke aku hahahaha!!" Rita tertawa dengan perasaan sedih.
"Kenapa kamu ketawa?" Tanya Arnila keheranan, dipikirnya Rita akan marah.
"Yah karena ya sama saja sih, Nila. Aku mau berteman sama dia karena kasihan juga. Rasa iba gitu lho SMP memang aku tidak punya teman yang sekelas ya. Sampai aku bertemu dengan kelima sahabat yang sampai sekarang aku masih erat. Waktu mereka belum ada, aku punya kok teman tapi beda kelas. Aku lihat Ney dia selalu dijauhi oleh semuanya terhubung dengan kondisi kulit kamu juga sih," kata Rita sambil nunjuk ke kulitnya.
Ney kaget dan memegang lengan satunya sambil terus mendengarkan apa kata Rita. Dia juga ingin tahu perasaan aslinya Rita seperti apa. Ada sedikit rasa sedihnya di wajah tapi dia mungkin terlalu gengsi untuk mengeluarkannya.
"Jadi kamu dekati Ney karena iba saja?" Tanya Arnila.
"Kebanyakan begitu. Kamu?" Tanya Rita.
"Ya sama sih tapi aku memang punya teman juga dan mereka tidak menyukai Ney sama sekali. Ney termasuk temanku juga tapi ya begitu dia senang berbuat ulah entah dengan tujuan apa. Aku pernah memasukkan dia ke dalam grupku, kamu tahu dia berbuat ulah dengan mendebat semua temanku. Akhirnya ya kita semua bubar sampai mereka bilang kalau aku masih berteman dengan Ney, jangan berpikir mereka akan kembali menerima aku. Ternyata aku juga sepertinya salah berteman," kata Arnila yang menghapus air matanya. Rita memberikan tisu kepadanya.
Ney terdiam sambil memakan makanannya yang belum habis setengah. Dia sama sekali tidak perduli tapi kedua matanya memerah karena menangis juga.
"Ikhlaskan saja, Nila. Nanti kamu akan diberikan penggantinya. Dia begitu karena tidak butuh teman dalam hidupnya, biarlah toh kamu kan sudah punya grup yang cocok sama kepribadian kamu kan. Sebentar Alex ajak chat, sudah nih minum," kata Rita lalu membalas chat Alex.
"Lama sekali," katanya.
"Jawabannya dia bilang memang dari awal Arnila dan aku tidak dianggap ada, Al. Itu jujur atau bohong?" Tanya Rita.
"Yahhh meskipun aku juga kaget mendengar jawabannya seperti itu dan tidak menyangka. Tapi itu benar adanya dan dia sedang tidak berbohong. Lalu kamu akan bagaimana menghadapinya? Dia sudah memberikan keterangan jujur kepada kalian," kata Alex. Yang membuat Rita bertambah sakit, yah Ney jujur. Lalu Rita perlihatkan chat itu kepada Arnila dan dia membacanya.
__ADS_1
Arnila tidak tahu harus berkata apa. Ney melihat dan penasaran tanpa harus bertanya, Rita kirimkan screenshot kepada Ney dan dia membacanya. Ney kaget dan membeku saat itu juga, Alex bisa tahu kalau memang itu keluar secara jujur dari kedalamannya Ney.
BERSAMBUNG ...