
Semua irang yang di sana otomatis melihat ke arah mereka bertiga, karena Ney sengaja menaikkan volume suaranya. Rita malu sekali menyadari mereka memperhatikan. Sedangkan Ney bersikap seolah dia tengah dirundung dan pura-pura menangis.
"Wah ada perundungan. Untuk apa juga di mall sih?" Tanya pengunjung yang lain.
Ney merasa dirinya sedang dibela oleh beberapa orang sehingga ada juga yang menarik dirinya.
"Neng, jangan berteman sama mereka berdua," kata ibu yang membawa tas hitam.
Ney terisak-isak mendengarnya dan selintas Rita melihat senyuman di bibirnya. Lalu melanjutkan menangis bohongan. Diana tahu Ney memang sengaja terlihat seperti korban makanya dia semakin kesal.
"Rita, kapan-kapan lagi kalau ada dia tidak usah di sapa. Dia sengaja bicara begitu supaya semua orang mengira kita yang merundung dia. Dasar picik," kata Diana geram sekali.
"Kalian ini jahat sekali sih bilang aku macam-macam. Memangnya aku salah apa?" Kata Ney tersedu-sedu dengan suara tangisan yang palsu.
"Anak-anak jaman sekarang ya pergaulannya semakin bahaya," kata sebagian orang.
Rita memegang tas Diana yang berada di depannya. "Sudah yu, biarkan sajalah memang dia begitu orangnya. Mereka semua menyangka kita yang salah, Diana. Yuk pergi kita kan sudah janjian sama yang lainnya untuk kerja kelompok," tarik Rita.
Rita juga menaikkan volumenya dan membuat beberapa orang sadar kalau mereka sedang menghabiskan waktu. Kemudian mereka pergi beberapa ibu-ibu terlihat menenangkan Ney dan memberi nasehat pada Rita dan Diana.
"Bu, jangan sok tahu deh. Kalau tidak tahu masalahnya, tidak usah ikut campur sampai menganggap yang sudah salah malah dibenarkan," kata Diana kesal.
Ibu tersebut lalu kaget memang dia hanya lihat malau salah satu dari mereka sepertinya sedang bermasalah, apalagi melihat Ney sendirian dalam visinya dia diserang oleh 2 orang.
"Lho kan kalian yang menyerang dia kan kasihan tuh sampai menangis. Jangan begitu, sudah kamu jangan temenan lagi sama mereka berdua kan masih banyak teman lainnya. Yuk," ajak ibu itu menarik Ney.
Tentu saja Ney yang mendengarnya menolak diajak pergi sampai ibu itu terheran-heran. "Saya tidak apa-apa kok, Bu. Terima kasih sudah membela saya dari mereka. Mereka memang sering merundung saya selana ini," kata Ney menambahkan yang membuat mereka berdua kaget.
Beberapa orang yang sudah mendengar mereka juga ikut terkejut. Karena mereka melihat sendiri siapa yang salah sebenarnya.
"Wah, kapan lagi nih ada yang bisa akting main drama," kata penjual makanan dengan suara keras.
"Dasar Drama Queen," kata Rita yang kesal juga.
Ney bermuka dua dia tertawa puas melihat Rita dan Diana, tapi dia tidak sadar ada ibu lain yang sudah memperhatikan mereka bertiga dan terpaksa menghampiri untuk membuat masalahnya jelas.
"Eh eh dek ini di mall lho kalau mau berantem di luar saja. Biar saya yang jadi wasitnya. Lagipula kok bisa-bisanya ya dedek ini membuat mereka berdua sebagai penyerang, ibu dari tadi melihat kok siapa yang merundung duluan," kata ibu itu dengan logat Batak.
Ibu disamping Ney lalu membela Ney juga yang membuat ibu Batak ini menenangkan ibu itu lalu.. "Anda ini apa-apaan sih? Sudah jelas-jelas anak-anak ini merundung yang ini," kata ibu itu. Ney terlihat bangga sekali diperhatikan.
"Bu, apa ibu tahu masalah mereka?" Tanya Ibu Batak.
"Ya mana saya tahu, yang jelas saya yakin dia ini dirundung. Suaranya dibesarkan karena dia sedang minta tolong," katanya sambil masih memegang Ney.
"Bisa juga untuk menarik perhatian lho. Ibu datang membela dia tanpa tahu masalahnya, harusnya Ibu bertanya dulu. Ibu juga sama jadinya menyerang lalu merundung mereka kecuali kalau memang benar mereka merundung, kenapa harus di tempat publik?" Tanya Ibu Batak itu.
"Rita, merasa tidak kalah ibu yang membela Ney agak mirip dia? Sifatnya?" Bisik Diana memperhatikan.
__ADS_1
"Iya aku juga merasa begitu," jawab Rita membalas bisikan nya. Ibu penjual minuman sebelah mereka tentu saja mendengarkan juga dan berpendapat sama.
"Mungkin itu ibunya?" Tanya pedagang itu.
"Bukan, saya kan sering main ke rumahnya," kata Rita menjawab.
"Kok Neng mau sih? Main ke rumah dia lalu sekarang malah dituduh sebagai perunding. Anak saya perempuan paling ditakuti di sekolahnya tapi Alhamdulillah bukan perundung," kata pedagang itu.
"Baguslah Bu, jangan sampai anak ibu seperti dia. Diana pergi yuk, masalah Ney biarkan sajalah. Dia senang sekali membuat drama supaya kita minta maaf sama dia," kata Rita. Diana menurut kali ini.
Kedua ibu-ibu itu tengah mempersoalkan dan Ney berhenti menangis dan membuka ponselnya menunggu mereka berhenti. Kemudian menangis lagi membuat beberapa orang menggelengkan kepalanya. Orang-orang melihat kelakuan Ney yang kemudian mereka berpendapat sama dengan Ibu Batak itu, kalau Ney memang pembuat drama.
"Sudah sekarang begini saja ibu bawa deh Neng ini keluar supaya masalahnya tidak panjang," kata ibu Batak itu menyilakan nya pergi.
Ney yang sadar akan dibawa pergi langsung panik berusaha menolaknya. "Tidak apa-apa saya sudah biasa kok Bu. Saya baik-baik saja nanti juga mereka minta maaf," kata Ney dengan suara yang bingung dan panik.
"Sudah ayo ikut sama Ibu saja jangan mau lagi kamu berteman dengan mereka. Dunia ini luas, Nak. Ayo," kata ibunya yang kemudian menarik Ney.
"Sudah Neng, lebih baik tinggalkan saja dia," kata ibu Batak itu membelai bahu Diana.
"Bu, bukan kita yang salah," kata Diana yang hampir menangis.
"Tenang Teh, kita semua tahu kok yang sebenarnya. Memang lebih baik menjauh deh dari anak itu. Ih, saya merinding lihatnya dia langsung senyum saat ibu itu membelanya," kata penjual Takoyaki memegang bahunya sendiri.
"Iya terus cengengesan. Lihat tidak? Kok ada ya orang seperti itu? Seram," kata yang lain.
"Yuk," ajak Rita kemudian mereka berdua menuju lift ke arah bawah.
"Terima kasih Bu, semuanya," kata Diana menyeka air matanya. Ibu Batak itu memberikan tisu lalu menatap Rita dengan kedua matanya yang ramah.
"Kakak jangan terlalu pendiam, galak sedikit supaya yang tadi tidak macam-macam. Dia akan selalu mencari celah untuk menjatuhkan kakak, melihat kakak selalu memaafkan perilakunya. Nanti dia akan berbuat yang lebih jahat lagi," saran ibu itu.
"Tuh kan, kata aku juga apa. Kalau kamu dikatai sama dia, balas. Dihajar kalau perlu. Aku tuh kesal sama tuh anak seenaknya sekali sama kamu!" Seru Diana yang sedih tidak menerima sahabatnya diperlakukan begitu.
"Iya iya nanti aku akan jadi galak deh sesuai saran Ibu ini. Aku bisa skak mati dia kok Bu, tenang saja," kata Rita senyum.
"Senyuman orang yang sabar itu lebih mengerikan daripada senyum orang pemarah. Apalagi kakak ini sebenarnya...." kata ibu itu melihat Rita selintas yang sedang mengeluarkan cemilan untuk Diana.
"Kamu tahu saja untuk membuat aku kembali ceria. Makasih ya," kata Diana tertawa.
Ibu itu bisa melihat sesuatu dan energi Rita yang berpindar berganti warna dari abu-abu sekarang menjadi terang dan berwarna warni. Dan itu saat dia melihat sahabatnya tertawa, membuat energinya kini terang. Ibu itu lalu menjangkau dan membelai bahu Rita.
"Yang sabar ya Kak," kata ibunya lalu memberikan minuman Yoghurt kepada Rita dan Diana.
"Iya Bu," kata Rita tersenyum kemudian penasaran dengan wajah ibu itu yang semacam teka teki.
Mereka berdua lalu pergi ke arah yang berbeda, Ney yang panik melihat kebelakang. Rita dan Diana mengobrol ceria sambil meminum yoghurt, dia kesal tidak berhasil membuat mereka menunduk. Dia ingin sekali menyusul mereka berdua karena ibu tersebut meninggalkannya di lantai bawah setelah memberitahukannya saran.
__ADS_1
Ney tidak mendengarkannya dan segera ke atas untuk menyusul meskipun diteriaki banyak orang, dia tidak peduli. Saat dia lihat Rita dan Diana sedang menunggu lift, Ney tertawa sombong tapi sebelum sempat sampai, ibu Batak itu memblokir jalannya.
"Eh, kok datang lagi? Pulang saja, ini buat kamu. Pasti lelah kan menghadapi mereka berdua," kata ibu Batak itu menggenggam tangan Ney dan menyuruhnya menjauh.
"Tapi..." kata Ney yang berusaha melepaskan namun genggaman tangan itu sangat kuat.
Anak lelaki dan perempuan ibu Batak itu keluar dan mengejar ibunya. "Ada apa, Bun?" Tanya mereka berdua.
Ney melihatnya terbengong karena anak lelakinya sangat tampan sekali. Dan ibunya menggelengkan kepala dan menghela nafas. "Neng, lebih baik jangan mulai berbuat onar. Pulanglah, karena mami tidak mungkin bisa dekat dengan teman kamu itu," katanya.
"Jangan mulai lagi deh, Bun," kata anak lelakinya yang menghela nafas.
Tapi Ney juga ingin bisa berjalan dengan Diana dan Rita, dia sadar dirinya tidak bisa melampaui kedekatan mereka berdua. "Mereka itu teman saya," kata Ney dengan panik saat melihat mereka berdua memasuki lift dan melambaikan tangan lalu berpose ke arah Ney.
Rita membuat gaya yang menarik kelopak matanya satu lalu dilebarkan ke bawah, lalu menjuntai kan lidahnya dan Diana tertawa. Pintu lift tertutup membuat Ney lemas dan akhirnya terduduk. Ibu Batak itu tahu kalau kata-katanya tidak akan didengarkan tapi harus tetap dia sampaikan.
"Mereka berdua bukan tipe pembuat onar atau drama seperti kamu. Kamu lebih baik cari teman yang lain saja, kamu hobinya suka mancing emosi orang ya. Itu jelek sekali," kata ibu itu.
Kedua anaknya hanya menghela nafas, anak perempuan masuk ke toko untuk berjaga sedangkan yang lelaki memperhatikan ibunya.
"Yang mana Bu?" Tanya anak lelakinya.
"Tadi sudah naik ke lift. Kamu ketinggalan, energinya hebat sekali lho. Nih," kata ibu Batak itu menjulurkan tangannya. "Semoga kakak itu tidak muntah, sedikit Bunda ambil hihihi," katanya dengan jail.
"Ya ampun!" Kata anak lelakinya panik.
"Tenaang bunda beri dia minuman yang paling dia sukai. Energinya full lagi dong, hebat sekali tapi kita tidak akan bisa bertemu lagi. Paling nanti kita bisa lihatnya dalam Televisi," kata ibunya melihat Ney yang lemas.
"Dalam TV? Dia akan terkenal? Bunda!" Kata anak lelakinya yang kebingungan. Tangan kanannya masih mengepal dan melihat Ney. "Kak, menurut saya kakak lebih baik jangan mencari masalah lagi," katanya.
Ney kemudian membetulkan rambutnya dan mengeluarkan ponselnya. "Kenapa?" Tanya Ney dengan nada suara yang ramah.
"Kakak tidak cocok sama dia lebih baik cari yang sama chemistry-nya. Mau berusaha dekat dengan cara apapun, tidak akan bisa daripada menjadi orang jahat nantinya lebih baik dari sekarang kamu mulai menjaga jarak," kata anak lelaki itu menatap tegas ke kedua matanya.
"Masa iya sih dia akan meninggalkan aku? Aku itu sama dia sudah kenal lebih lama dari temannya itu," kata Ney menjelaskan.
"Kalau begitu kenapa kelakuan kakak membuat dia seperti orang jahat? Pura-pura menangis lalu tertawa, saya lihat sendiri lho. Apa kakak tidak malu itu sama saja kakak sengaja merendahkannya di depan banyak orang. Sahabat bukan seperti itu kak," jelasnya.
Ney terdiam mendengarnya, dia kaget dan kedua matanya kembali mengeluarkan air mata berharap lelaki itu meminta maaf tapi tidak. Sama sekali tidak bergeming kemudian bermaksud kembali ke dalam tokonya. Ney sebal cara itu tidak berlaku kepadanya.
"Apa alasannya aku harus menjauh dari dia? Memang dia akan kenapa ke aku? Lebih jahat? Lebih sombong?" Tanya Ney mencari cara agar bisa lebih lama dengannya.
Anak lelaki itu berhenti melangkah, dia juga terlihat sebal dengan tingkah Ney. "Dia tidak akan menjadi seseorang seperti yang kakak pikirkan, dia akan menjadi dirinya sendiri. Kakaklah yang akan menjadi semakin jahat kalau ada di dekatnya dan tingkatnya akan sangat jauh sekali dengan kakak. Kalau kakak tidak bisa menjadi teman yang baik lebih baik jauhi dia, toh masa depannya pun tidak ada kakak di dalamnya." Kata anak lelaki itu lalu kembali ke toko.
Ney salah tingkah lalu dia bermaksud bertanya nomor ponselnya namun anak lelaki itu kemudian meninggalkan dengan sejuta tanda tanya. Dia berpikir sambil meninggalkan tempat itu, memasukkan yoghurtnya ke dalam tas.
"Maksudnya apa? Aku tidak akan ada dalam masa depan Rita? Lalu Diana? Aku tidak percaya, dia pasti mengada-ada. Besok aku pasti datang lagi kesini siapa tahu bisa kenalan." Pikirnya dan berjalan menaiki lift.
__ADS_1
Bersambung...