
"Kamu masih suka bertengkar sama Rita?" Tanya Cyphrine yang ikut Gym.
"Ya begitu deh," jawab Alex sambil berlari.
"Kalian tidak bosan? Sebentar-sebentar kamu pundungan, lalu Rita blokir kemudian sehati sudah dibuka. Kamu kendalikan dong jangan sengaja emosian," kata kakaknya.
"Siapa juga emosian itu Rita saja yang tidak pernah mengerti maksud kata-kata aku," kata Alex.
"Kamu sih pakai koding segala. Sudah tahu otak kode itu hanya kamu yang bisa. Mom mau ke Bandung, kamu ikut?" Tanya kakaknya sudah ganti latihan.
"Aku kerja," jawab Alex.
"Jadi hanya Rita saja ya yang menemani Mom," kata kakaknya sengaja.
Alex terdiam. "APA!? Bukannya Rita mau ke Tasik?" Tanyanya menatap kakaknya.
"Tidak jadi Mom minta Rita menemani jadi ya oke," kata kakaknya melirik adiknya.
Alex membeku dan dengan rusuh menuju keluar ruang latihan dan membaca isi chat saat dia sedang Gym.
"Yah, Tante pikir bisa Rita ikut menemani," kata Ibunya dalam chat.
"Oh, boleh boleh. Ke Tasik kan bisa nanti," kata Rita yang ternyata mereka baru chat. Alex memandangi kakaknya yang tertawa.
"Aku ikut!!" Kata Alex ikutan.
"Kamu kerja kan," kata ibunya tertawa.
"Iya kenapa sih ngekor mulu?" Tanya Rita. Sayang sekali kelihatannya Alex tahu Rita ingin menanyakan sesuatu.
"Kerja bisa nanti. Pokoknya ikut!" Kata Alex geram.
"Kalau begitu, aku ke Tasik saja kan ada Alex," kata Rita tertawa jahil.
"Kenapaaaa kok begitu sih? Kamu tidak mau ketemu aku kenapaaa?" Tanya Alex agak kecewa.
"Kamu kan katanya susah kalau diajak kemana-mana. Ya sudah pilih saja kerja atau datang ke Bandung?" Tanya Rita.
"Ya tapi kan tidak begitu jugaaaa," kata Alex.
"Ya sudah, Rita tetap jadi kok. Terserah kamu saja mau ikut atau tidak. Mom mau ke Bandung 3 hari lagi, kamu siap-siap," kata ibunya.
"3 hari lagi!?!?" Tanya Alex. Dengan cepat setelah Gym dia membereskan pekerjaannya.
Dia gembira akan bisa jalan-jalan dengan Rita yah diluar rencana dia juga sih. Setelah itu hari demi hari berlalu dan tibalah hari dimana Ibunya dan Alex sudah berada di bandara.
Tentu Alex tidak sabar dia terus tersenyum. Ibunya menggelengkan kepala.
"Ingat, jangan membuat masalah," kata ibunya.
"Tidaklaaah. Nanti mau jalan-jalan kemana saja?" Tanya Alex.
Banyak tempat namanya juga jalan-jalan terutama pergi ke kota kembang dan pasar baru. Sesampainya sudah tentu Rita juga bersiap untuk menuju rumah dimana ibunya Alex berada. Setelah diberikan alamatnya, Rita menaiki angkot tentu dia hapal rute jalan.
Kemudian mereka bertemu dan Alex sudah langsung ajak Rita jalan-jalan yang tentu saja di jewer oleh ibunya. Setiap jalan, Alex selalu ingin berada di samping Rita dan berusaha membuat ibunya menjauh.
"Menurut kamu warna yang mana yang bagus?" Tanya Ibunya ke Rita.
"Semuanya bagus, Mom," jawab Alex.
"Mom tanya ke Rita bukan kamu! Suka yang mana?" Tanya ibunya melanjutkan.
Rita memilih warna merah daripada biru. Setelah itu Alex mengobrol dengan Rita. Kadang juga Alex bertingkah aneh yang membuat ibunya menggelengkan kepala dan Rita yang tertawa keras.
"Mom mau beli sayuran dan daging. Kalian bagaimana?" Tanya Ibunya melirik.
"Oh, saya..." kata Rita dipotong.
"Jalan-jalan!" Kata Alex memaksa dan memberi kode kalau ibunya jangan ikut.
"Asalkan kamu tidak bertingkah aneh-aneh!" Kata Ibunya pergi dengan beberapa tante lainnya.
Rita dan Alex mengobrol sambil melihat-lihat isi toko. Banyak sekali perempuan yang menggoda dan meliriknya, bukannya Rita merasa panas atau marah, dia justru meninggalkan Alex yang kelamaan.
"Tunggguuu!! Kamu masa tinggalkan aku?" Tanya Alex sebal.
"Ya habis kamu senang kan dipuji banyak perempuan. Ya sudah disana saja terus tuh mereka mengikuti. Lagian siapa kamu juga sih," kata Rita tidak peduli.
"Yaa tadinya tapi kamu tinggalkan aku! Eh mau kemana?" Tanya Alex melihat Rita berbelok.
"Supermarket mau beli sesuatu. Ikut tidak?" Tanya Rita.
Beberapa ibu muda, janda sampai remaja memang mengikuti Alex. Yah karena parasnya tidak ada di Indonesia tentu mereka keheranan apalagi tingginya itu.
__ADS_1
Banyak yang bertanya pada Rita apa hubungannya dengan Alex, dengan membeku membuat Rita bingung dan menyuruh mereka memikirkannya sendiri.
Begitu juga dengan Alex namun saat mereka melihat Alex selalu mengikuti Rita, mereka kecewa apalagi melihat Rita dihampiri beberapa lelaki.
Alex langsung menghadang meskipun mereka hanya bertanya soal tanggal kadaluarsa barang. Mereka memasuki supermarket lagi-lagi Alex dikerubungi dan Rita sama sekali tidak perduli.
Sekalinya Alex bangga banyak yang menyukainya tapi kelabakan sendiri saat melihat beberapa laki-laki mendekati Rita. Apalagi saat Rita bertanya pada pegawai toko yang mirip artis Korea, Alex langsung berlari dan menerobos.
"Kamu lagi apa sih? Kenapa banyak dikerubuti laki-laki? Aku tahu kamu mau buat aku cemburu jeeee," kata Alex tersenyum jahil.
Rita dan pegawai itu memandanginya dengan aneh. "Biarkan saja Mas, memang orangnya kurang waras. Jadi saya bisa dapat ini di mana?" Tanya Rita.
"Oooh! Mari Mbak, saya antar," kata Mas B itu menatap Alex dengan aneh.
Alex yang merasa bangga dengan fisiknya tidak sadar kalau ditinggalkan. "Heyyyy!!" Teriaknya berlari lagi.
"Kamu cari apa sih? Kan bisa tanya ke aku," kata Alex ngos-ngosan.
"Malas kamu lagi keenakan kan dikerubuti sama perempuan. Sana! Ngapain ganggu orang?" Tanya Rita berkacak pinggang.
Alex terdiam, manyun dan pundung. Dia tidak mau Rita bertanya pada siapapun tapi dia juga salahnya membuat Rita cemburu.
"Ini, mbak," kata pegawai itu lalu pergi.
"Terima kasih," kata Rita tersenyum dan mengambil beberapa kue dan cokelat kesukaannya.
Pegawai itu lalu kembali lagi dimana Alex masih memperhatikannya. "Mas, makanya jangan suka sok kegantengan. Nanti Mbaknya saya ambil, mas pasti nangis kan," kata Pegawai itu lalu pergi sambil tertawa.
Alex kesaaal wajahnya dan menatap Rita yang masih memilih rasa pada kuenya. Sejak itu juga Alex tidak lagi menggoda atau memanasi Rita, baginya Rita sudah cukup lelah menghadapi peringai nya.
Perempuan yang meminta nomor, dia tolak mentah-mentah. Rita terus cuek sama sekali tidak peduli sekelilingnya menatapnya dengan tajam.
"Tunggu sebentar ya," kata Alex suatu ketika.
"Oke," kata Rita menunggu sambil duduk.
"Mbak, Mbak. Kenalin dong sama laki-laki yang tadi. Keren sekali," kata beberapa perempuan.
"Kenal saja sendiri," jawab Rita judes. Mereka semua menatap Rita kesal dan menunggu Alex keluar.
Beberapa menit, Alex keluar memegang kotak yang warnanya manis serta sendok dan es krim. Mereka semua terkejut karena Alex keluar dari toko kue ternama.
"Nih, kamu suka cheesecake kan? Aku tahu warna kesukaan kamu lalu es krimnya kamu suka rasa matcha. Nih," kata Alex memberikan keduanya.
"Iyaaaa," jawab Alex sudah cukup senang melihat Rita antusias.
Alhasil kelompok perempuan itu seketika bubar.
"Eh, mereka mau kenalan sama kamu tuh!" Kata Rita dengan suara keras.
Sekelompok perempuan tadi menolak dan tersenyum.
"Tidak mau! Cukup satu saja yang ribet! Kalau banyak, nanti uang aku habis," kata Alex membalas.
Yang lain lalu melongo dan pergi begitu saja sedangkan Rita tertawa keras. Sebagian masih bertahan ingin tahu. Mereka beranggapan Rita sangat egois karena kue dan es krim hanya dia yang makan.
Alex senang melihat Rita membuka kotak kue tersebut dan... cake itu lumayan besar juga. Rita potong meskipun agak miring dan tidak sama rata.
Rita sobek beberapa lembar dus dan memotongnya jadi kotak. Memang ukurannya agak lumayan besar, dia tidak bisa menghabiskannya mengingat punya penyakit.
"Kamu mau aku makan?" Tanya Alex senang.
"Aku kan ada diabetes. Kamu sengaja supaya kambuh ya?" Tanya Rita menghela nafas.
"Ya ampun! Aku lupa," kata Alex tidak sengaja.
"Tidak apa-apa. Nih, makanya aku bagi supaya tidak kambuh sendirian hehehe," kata Rita membuka kotak itu.
Beberapa pegawai memberikan 2 garpu dan kembali ke dalam.
"Jadi perempuan itu punya diabetes? Wah! Ada kesempatan dong," kata A berteriak senang.
Yang lain juga sama dan mereka masih menunggu. Alex memakan lahap kue itu dengan hati yang senang. Lalu ibunya datang.
"Wah wah ada yang lagi makan cake ya," kata ibunya.
"Eh, Tante sudah selesai?" Tanya Rita lalu bergeser tempat duduknya dan ibunya dengan senang duduk.
"Sudah! Lelahnya. Siapa yang beli cake dan es krim?" Tanya ibunya memandangi.
"Alex belikan ini buat aku katanya hehehe. Mau Tante? Sudah dipotong meski yahhh tidak lurus," kata Rita sangat malu karena memang miring.
"Hahaha boleh nih? Jadi kemarin kamu kerja tidak bisa diganggu karena sedang kumpulkan uang? Hmmm manis yaa ke ibunya tidak pernah! Tante makan ya," kata Ibunya menatap tajam Alex.
__ADS_1
"Silakan Tante. Yang lainnya boleh," kata Rita.
"Jangaaaan!" Teriak Alex lalu terdiam. "Jangan banyak-banyak," katanya pelan.
Mereka semua akhirnya makan bersama. Para pengagum Alex terkejut karena Rita sudah sangat mengenal.
"Abang jangan lupa minum obatnya," kata ibunya mengingatkan.
Alex agak malu mengeluarkan obatnya karena ada Rita. Dia selalu berusaha menyembunyikannya. Tante yang lain mengambilkan dan Alex hanya tertunduk.
"Banyak banget," kata Rita menatap obat-obatnya.
"Iya Teh, Alex tidak bisa berhenti minun obat. Kalau berhenti biasanya rebahan dia di Rumah Sakit," jelas ibunya menatap Alex.
"Warna warni lagi," kata Rita menatap obatnya.
Beberapa perempuan yang tadi semua terkejut mengetahui Alex sejak kecil memiliki penyakit jantung. Pelan-pelan mereka memutuskan untuk pergi karena malu.
"Maaf ya Teh kalau Alex banyak membuat Teteh sedih dan menangis. Karena kondisinya yang rentan ini, membuat dia marah dan kesal pada dirinya sendiri. Maklum pasti dalam hatinya dia ingin bisa melindungi orang yang disukainya," jelas ibunya dengan wajah sedih.
"Yah Tante tenang saja. Kalau orangnya masih bisa temper, masih bisa buat perempuan menangis tandanya usianya masih panjang," kata Rita.
Ibunya tertawa. "Kamu! Awas ya kalau sampai membuat Rita menangis lagi! Tidak mau kan sampai kamu kehilangan orang yang berharga? Jaga dan jangan buat dia menangis. Kamu tahu kamu lemah, makanya jangan banyak buat masalah!" Kata ibunya dengan galak.
Alex hanya tertunduk. Es krim pun Rita bagi dua, jadi Alex bisa ikut menikmati. Ibunya membeli sendiri dan menatap Rita dan Alex penuh makna. Alex berjanji dalam hatinya tidak akan lagi membuat Rita bersedih akan perkataannya.
Dia hanya takut dan tidak yakin bisa hidup lama dengan Rita tapi saat memandangi Rita, dia merasa seakan ada secercah cahaya memasuki jantungnya dan membuatnya yakin, bahwa Rita adalah yang dia butuhkan.
Rita jarang meminta apapun pada Alex, ibunya pun melihat itu. Tertangkap juga saat ibunya melihat Rita memberikan kotak besar pada Alex. Ternyata kado dan kue-kue yang pasti Alex suka meskipun harganya tidak mahal.
Mereka jalan-jalan sampai malam dan Rita pulang dengan diantar oleh Alex tentunya tidak berdua, dengan beberapa saudaranya juga.
~πΈ ~πΈ ~ πΈ ~πΈ ~πΈ ~πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
...Balik Panggung ...
...I know this is hard to you for stay with me ...
...But......
...At least Stay Strong ...
...If you find it very suffocating with me,...
...You are free to go...
...( By Kulex ) ...
"Then I choose to leave," kata Rita.
"ππππ," balas Alex.
"Lah kan situ buat puisi tuh di atas," kata Rita.
"Itu kan kata-kata sajaaa memangnya kamu mau kemanaaa," kata Alex.
"Cari yang lain," kata Rita ketawa.
"πππ," balas Alex.
"Apa Kulex! Hahahaha!" Kata Rita mengejek.
"Apa sih Kulex Kulex. Nama aku Alex!" Kata Alex makin bete.
"Kulex Bear HAHAHAHA!!" Kata Rita lari secepat kilat.
"HEYYYY!!" Kata Alex mengejar. "Betulkan duluuuu,"
"Author itu yang bikin. Kita terima sajalah," kata Rita bersandar pada bahu Alex.
"Ada kelanjutannya tidak sih cerita kita?" Tanya Alex.
"Entahlah. Mungkin tidak ada. Author fokus di novel fantasi soalnya," kata Rita yang mencuci wajahnya membersihkan make up.
"Jadi kita rehat dulu nih? Bagus deh sudah ini aku mau pedicure medicure," kata Alex.
...END ...
NB:
Semua kisah yang ada dalam novel ini adalah fiktif ya jadi para pembaca diharapkan tidak terlalu lebay. Boleh sih tenggelam dalam tokoh-tokoh yang ada dalam novel ini. Tapi sekali lagi ini hanyalah cerita berdasarkan sudut pandang saya sebagai penulis.
See you next on Season 2 Eternal Enemy dengan keseruan petualangan Rita lainnya!! π€π€
__ADS_1