ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(169)


__ADS_3

Beberapa jam Alex menghilang Rita menyangka mungkin dia sedang berpikir. Rita kemudian sambil menunggu balasan dari Alex mengerjakan pekerjaan rumahnya dan membuat soal untuk mengajar nanti.


"Hey, I'm back! Ney dalam bahaya besar. Aku akan ceritakan saja, jadi pamanku itu terobsesi ingin memiliki seorang putri. Dia sudah punya anak 4 dan mereka semua tinggal di negara yang berbeda," balas Alex membuat Rita kaget membacanya.


"HAH!?!? 4 ANAK?? Usianya berapa saat dia menikah? Tampak wajahnya usia 35 tahun deh," bayang Rita yang waktu itu pertama kalinya bertemu dengan pamannya Alex.


"Pamanku awet muda hahaha tapi usianya sudah jaih sekitar 45 tahun. Dia memang baik tapi..." potong Alex berharap Rita bisa menebaknya.


"Jangan - jangan...dia mau dekati Ney itu dan diberi banyak barang mewah..." malah Rita juga memotong chatnya tidak mau menebak takutnya benar.


"Dia akan meminta Ney menjadi anaknya dan obsesinya itu parah sekali! Istrinya saja sampai kewalahan. Well, mereka berhubungan intim sampai atur gaya tapi karena terlalu over, istrinya divonis rahimnya tidak bisa melahirkan lagi alias rusak," kata Alex dengan nada yang sedih.


Rita menganga sampai seperti begitunya pamannya ingin mendapatkan anak perempuan. Kalau begitu sih, Ney saja yang berpikiran kalau pamannya Alex naksir sama dia, kira - kira dia curiga tidak ya? "WHOOOT!!"


"Tapi tenang, pamanku juga orangnya setia hanya saja yah, semenjak mendengar istrinya tidak bisa memenuhi masalah anak lagi, dia masih tetap setia kok menemani istrinya. Kalau kamu bisa berkesempatan melihat istrinya kamu akan terkejut, kamu akan paham kenapa dia terobsesi dengan anak perempuan," kata Alex yang sengaja meninggalkan petunjuk agar Rita sendiri yang melihat.


Memang sih membuat Rita penasaran. Ada apa ya? "Kenapa sih? Jelaskan saja sekarang," kata Rita mencoba membujuk Alex.


"Nanti saja. Istrinya di Bandung kok, coba saja kamu datangi ke rumahnya pasti ada di sana. Lalu soal Ney, kamu katakan saja dia harus mulai ekstra hati - hati kalau barang - barangnya sudah totalnya 10 juta. Pamanku akan meminta dia menandatangi sesuatu,"


Jadi merinding juga meski bukan Rita yang mengalami. "Surat kontrak?"


"Yah, pasti tertebak ya. Dan kalaupun Ney memang suka kemewahan, akan ada efek yang lainnya. Sudah banyak puluhan anak perempuan yang dia adopsi akhirnya berakhir mereka kabur," kata Alex.


"Posesif?" Tebak Rita karena Alex juga begitu.


"Lebih parah super duper parah banget! Banyak juga anak - anaknya yang membantu mereka kabur dari rumah impian paman. Aku tidak mau kamu berakhir seperti itu makanya aku memperingatimu. Salah satu anaknya pasti kamu sudah bertemu dengan dia," jelas Alex. Rita kemudian berpikir dan teringat seseorang yang dengan suara keras waktu itu.


"EH!? Jangan - jangan bule pirang itu ya?" Tanya Rita.


"Itu karena di cat saja rambutnya. Anak - anaknya semua ganteng sama seperti aku. Hmmm... ada informasi lain?" Tanya Alex yang lebih berharap Rita banyak cerita.


"Ney diberi nomor tapi saat aku lihat, nomor yang kamu kasih ke aku berbeda dengan pamanmu yang dia beri ke Ney. Dia punya dua nomor?" Tanya Rita sambil screenshot nomor itu.


"Astaga! Yang paman kasih itu, itu nomor paman yang asli. Aku beri nomor ke kamu itu punya anaknya. Bersyukurlah aku beri kamu nomor anaknya bukan nomor paman langsung, itu lebih berbahaya!" Alex bernafas lega.


"Kenapa berbahaya sih?" Rita tidak begitu mengerti.


"Ya Allah, kamu tidak mengerti kenapa aku beri nomor punya anaknya daripada punya paman? Masa aku harus jelaskan?" Tanya Alex.

__ADS_1


"Iya. Coba jelaskan," pinta Rita.


"πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ™„πŸ™„πŸ™„," Alex membalasnya dengan emoji.


"Apa?" Tanya Rita.


"Aslinya... aku cemburu kalau kamu sampai kontak sama pamanku," kata Alex dengan wajah yang merona merah.


"..........." balas Rita.


"Apa laa kenapa tidak ada tulisan?" Tanya Alex.


"Kamu bilang begitu pasti mukanya merah," tebak Rita menebak.


"Menurut kamu?" Tanya Alex. Masa iya jugaaa nih anak tidak tahu? Pikir Alex.


"HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!!!!" Balas Rita. Alex pun malah semakin memerah tapi berwajah datar membacanya. Rita asli ketawa terbahak - bahak dalam kamarnya. "Jadi secara otomatis kamu menyelamatkan aku ya padahal sebenarnya kamu cemburu. Cieee jelly,"


"Tahu begini aku tidak jelaskan! Aku lebih suka Pannacota," katanya.


"Siapa?" Tanya Rita sambil cekikikan.


"Yang nanya? HAHAHAHAHAHAHAHAHA!!!" Rita kembali tertawa terbahak - bahak sampai terbatuk - batuk lalu minum.


"Menyebalkan!" 😀😀kata Alex dan Rita terus saja tertawa. "Aku tidak mau kamu kenapa - kenapa, untungnya saja anaknya tidak ada yang seperti itu," kata Alex yang mengalihkan topik.


"Paman kamu kenapa tidak dimasukkan ke psikiater saja?" Tanya Rita yang berusaha menghentikan tawanya karena sebelahnya adalah ruang keluarga. Sambil menunggu Alex membalas, Rita membaca komik.


"Sudah berjuta kali tapi sulit kan. Hitung saja ada berapa anak perempuan di dunia?" Tanya Alex.


"Malas menghitungnya. Anak kecil juga termasuk?" Tanya Rita.


"Hmmm nah itu yang aneh. Paman mencari remaja usia 20+ yang menurutnya pas saja apalagi paman juga menggunakan wajah gantengnya untuk menarik anak perempuan. Jadi memang bahaya kan seperti aku HAHAHA!" Alex bangga sekaligus sangat bodoh!


"Dia memang paman kamu?" Rita tidak mempedulikan omongan Alex.


Alex terkejut apa jangan - jangan Rita merasa tidak mirip ya? "Dia memang pamanku. Kenapa laa kamu tidak percaya?" Alex sudah cemas - cemas, dia tahu bila Rita marah jantungnya pasti akan terkena efeknya. Lebay toh!


"Mirip sih," kata Rita yang memang merasa ada kesamaan dari sudut wajahnya.

__ADS_1


Alex mengehela nafas dengan lega. Dilihatnya 'pamannya' itu sedang mengawasi setiap sudut rumahnya Alex.


"Aku tidak segila pamanku laa kalau pamanku berakhir fatal. Aku ada buktinya satu orang," Alex lalu mengirimkan foto seorang anak yang kondisinya mengenaskan. Ada banyak luka lebam di wajahnya, usianya sekitar 22 tahun, wajahnya rusak dengan kedua tangan yang diperban, lalu ada sayatan lebar di perutnya dan kakinya pun bengkok.


"Astagfirullah! Dia kenapa?" Tanya Rita sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Ini hasil dari obsesi dan super posesifnya pamanku. Anak itu akhirnya mau diadopsi lalu hidupnya mulai terancam. Remaja pastinya masih suka pergi dengan teman dan pacar kan. Keluarga anak itu jadi sasaran kebrutalan pamanku, sampai kolega ayahku juga turun tangan. Pamanku memergokinya keluar malam - malam dan sebelum sempat keluar, dia ditampar habis - habisan. Kasihan sekali dia sangat menyesal sudah menandatangi kontrak itu," kata Alex.


"Apa dia berhasil keluar?" Tanya Rita yang terus memandangi fotonya.


"Tidak. Dia diseret masuk kamar. Lalu besoknya paman membelikan banyak cokelat untuknya dan yah, kamu pasti banyak menonton film kan soal kekerasan macam itu. Sampai akhirnya anak itu dibantu oleh pacarnya keluar dari kediaman paman," Alex teringat masa kelam 'paman'nya itu.


"Berhasil dong," kata Rita.


"Tidak. Pacarnya juga babak belur, paman kalau sudah marah lebih gawat dari aku," kata Alex.


"Lalu bagaimana?" Tanya Rita penasaran dengan akhir cerita anak itu.


"Pacarnya segera dilarikan ke rumah sakit. Anak itu benar - benar sudah lebam di wajahnya. Akhirnya bisa dikeluarkan saat dirinya sudah cukup parah dan ketahuan oleh istrinya segala perlakuan kasarnya ke anak itu. Dengan berderai air mata istrinya meminta maaf ke keluarga anaknya lalu meminta paman untuk menyudahi obsesinya. Tenang saja, anak perempuan itu masih hidup kok. Ini foto setelahnya," Alex mengirim foto seorang perempuan yang sudah berkeluarga namun masih cantik.


Anak perempuan itu membagikan kisahnya agar harus selalu berhati - hati kepada seseorang yang mudah memberikan barang mewah. Menurutnya barang mewah lebih baik didapatkan dengan usaha sendiri bukan dengan menjual harga dirinya hanya agar mendapatkannya secara instan.


"Tidak ada gunanya memberitahu Ney," kata Rita yang malas menangkap apa maksud Alex.


"Terus saja beritahukan tidak akan buat kamu rugi kan. Kamu dapat pahala lho kalau memberitahukan hal yang baik ke orang soal dia mau menerima atau tidak ya bukan urusan kamu. Kalau dia masih tidak percaya, kirimkan saja foto ini ke dia. Bilang saja ini bukti nyata dan kalau dia mau lebih tahu ada nama alamat Pacebuknya juga," kata Alex meski tahu kalau Ney dan Rita bukan teman dekat atau sahabat.


Rita berpikir menimbang - nimbang apa yang Alex katakan. "Nanti deh ketimbang omongan aku yang tidak akan dia percaya, aku akan mencari jalan lain. Aku mau tahu selanjutnya akan seperti apa kalau memang sudah keterlaluan baru aku beritahu,"


"Oke deh terserah kamu saja," kata Alex. Lalu mereka berchat lagi mengenai keseharian mereka masing - masing. Saat itu ada pesta di rumahnya dan banyak orang tapi Alex duduk di area yang sedikit orangnya. Tapi Alex tidak menduga kalau gerak geriknya selalu diperhatikan oleh ibu dan kakaknya.


"Alex seemss to be busy with his cell phone ( Dari tadi Alex seperti sibuk dengan ponselnya )," kata ibunya sambil memegang segelas minuman buah.


"He's making a scenario to the girl he has a crush on ( Dia sedang membuat skenario ke perempuan yang ditaksirnya )," kata Jasmine yang tertawa pelan ke arah ibunya.


Ibunya menggelengkan kepala, anaknya itu memang sangat jahil tapi sekalinya ketahuan pasti nanti dia akan menyuruh ibunya yang menghadapi Rita. "Siap saja kalau ketahuan nanti, dia pasti menyuruh mom yang hadapi Rita. Dasar Alex!"


"Sabar ya, mom hihihihi," jawab kakaknya. Mereka memperhatikan Alex dari wajahnya yang seperti anak kecil kadang memerah kadang juga seperti memegang jantungnya sendiri.


"Adik kamu lebay banget kalau Rita marah - marah padahal hanya chat saja," kata ibunya yang tertawa.

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2