
Arfa : "Kamu melukai orang yang dekat dengan
Penciptanya. Ini fatal lho, aku kaget saat
lihat semua kartu dan ini yang muncul,"
Ney hanya menganga yang kesekian kalinya.
Ney : "Yang aku dengar dia memang sering
banyak doa tapi masa sedekat itu? Dekat
bagaimana?"
Arfa : "Jiaah, kalau kamu sudah tahu dia banyak
berdoa seharusnya, kamu bisa mengerem.
Aku saja ya setiap klien berharap tidak
menemui kasus macam kamu. Ya salah
dia itu lawan yang tidak bisa kamu remeh.
Sangat dekat, apa teman kamu ini tidak
takut ya?"
Ney : "Ap... teru...s,"
Arfa : "Begini ya kamu pasti malas kan kalau aku
banyak peringatan dalam grup supaya kita
semua terhindar dengan orang yang seperti
ini. Bahaya? Iya, untuk orang yang punya
niatan jahat atau tujuan lain. Aku selalu
bilang oke kita semua tukang nyablak,
berani bicara tanpa memikirkan hati lawan.
Itu dalam grup, setidaknya kalian semua
bisa jaga mulut kalian bila berada dalam
lingkungan masing-masing,"
Ney tampak enggan memikirkan apapun, dia banyak mengalami kejadian di luar nalar. Kadang berpikir apakah itu semua ada hubungannya dengan Rita?
Suaminya pun seringkali memperingati untuk berhati-hati mengutarakan pendapat. Bahkan orang tuanya sendiri namun dia menggampangkan bahwa merekalah yang harus maklum dengan dirinya.
Arfa : "Kita, tidak tahu apakah ucapan yang kita
keluarkan bisa membuatnya mengerti.
Apalagi beberapa dari kita ada juga yang
parah ucapannya. Termasuk kamu, Ney.
Saat mereka kecewa, saat meraka terluka
apa kita bisa tahu apa yang mereka adukan
ke Tuhannya?"
Ney : "Aku bisa tahu kok,"
Arfa : "Apa? Coba katakan apa yang teman kamu
ini doa untuk kamu,"
Ney: "Ya pastinya yang jelek-jelek kan. Sudah
pasti itu,"
Arfa : "Saat seseorang meminta penghakiman
atau keadilan, saat itu Tuhannya akan
mengabulkan. Tanpa halangan, seharusnya
kamu tahu. Beda kalau kita menjaga tutur
kata dan perilaku dan membuat tidak
terlalu banyak orang luka,"
Ney : "Apa... bisa disembuhkan lukanya?"
Disini suara Ney terdengar gemetar karena dia tidak tahu apa yang didoakan Rita masa itu. Karena 'sesuatu' yang dia kirim nyatanya memantul jauh.
Arfa : "Itulah kenapa aku bertanya sama kamu.
Kamu merundung dia tidak sampai mem
buatnya luka kan? Karena tanggungannya
sangat berat,"
Ney mengatupkan kedua tangannya dan terlihat cemas. Yeee baru sekarang...
Arfa menepuk keningnya ternyata dalam diam dan kalimat Ney, secara otomatis Ney baru tahu kalau Rita sangat terluka. Dia hanya bisa diam dan agak melamun.
Arfa : "Iya kamu membuatnya sangat terluka
seperti dalam kartu ini. Kamu pernah tidak
memikirkan rasanya? Aku tahu kamu juga
pernah mengalami hal ini tapi tidak pantas
agar dia merasakan juga, kamu sengaja
melukainya,"
Ney menyeka air mata yang memang jujur dia menangis dan baru tahu. Dia pikir Rita dulu menangis dan terluka itu karena terlalu sensitif dan baper, ternyata... lebih dari goresan luka.
Arfa : "Melihat temannya sendiri bayangkan deh
membela orang lain. Kasus kamu sama dia
berbeda, dia sangat tulus dan pure semua
teman yang dia punya selalu dijaga. Kamu?
Hancurkan begitu saja, kamu tumpahkan
apa yang kamu sudah lakukan sendiri ke
dia, sama dengan satunya lagi,"
Ney mendengarkan, meski terisak sedikit. Wajahnya masih sulit menerima kenyataan.
Arfa : "Lalu sekarang kamu minta maaf dengan
mudah lalu memaksa dia jadi teman kamu?
You freak. Pikir ya Ney, sadari kalau kamu
memang merasa sudah menyakiti dia,
datang bilang maaf sepenuh hati dan
sudah jangan tanya 'Kamu mau tidak jadi
teman aku lagi?' Serius! Kamu itu tidak
punya rasa malu ya,"
Perkataan Arfa tentu terdengar keras untuknya. Dia memalingkan wajahnya tidak mampu berkata apapun.
Arfa : "Kamu sering ya memojokkan dia, bekerja
sama dengan orang lain yang perilakunya
saja kamu belum tahu. Kamu batu kenal
laki-laki itu 3 hari!! Sedangkan kamu kenal
orang ini sudah lebih dari 5 tahun!! Tega
memang ya kamu ini! Jahat tahu tidak?"
Ney : "Aku hanya ingin..." ( menyeka air mata )
Arfa : "Kalau kamu mau bilang kebaikan dia, itu
sama sekali tidak ada. Yang aku lihat kamu
ada niat menjatuhkan dia kalau kamu
sering mempermalukannya di depan
banyak orang. Kamu inging dia hidup
bahagia? Bukan begitu caranya, kamu sama
sekali tidak mengerti. Kamu tidak punya
ilmu,"
Ney menundukkan kepala, dan memandangi patung kucing di pinggirnya.
Arfa : "Kamu dukung orangnya mau yang dia
kenal baik atau buruk tetap kamu dukung
dia bukannya dukung orang lain. Iyalah itu
membuat dia sangat sakit. Beri saran baik
ke dia, bukan membeberkan masa lalu
kenalannya. Bela dia bila laki-laki itu
berbuat ulah, bukan sebaliknya kamu
__ADS_1
serang perempuan itu! Ahhh aku harus
menahan rasa kesal sama kamu,"
Arfa menghentakkan kakinya dengan sangat kesal dan ditenangkan oleh Asisten.
"Ci, mau aku gantikan saja?" Tanya Asistennya.
Arfa menolak dia harus selesaikan ini semua sampai ke akarnya. Dia menenangkan dirinya dan masih banyak yang harus dikatakan sampai Ney mengerti.
Ney : "Bukan aku kok yang pertamanya, justru
laki-laki itu yang mengajak kami merundung
dia,"
Arfa : "Dia bukan mengajak merundung hanya
mengajak kalian untuk memperlihatkan
padanya keaslian perilaku kalian
berdua bagaimana selama ini. Kata aku
juga memang kamu yang bermasalah, cara
pikir kamu itu yang paling error. Dan kamu
sangat senang sebagai kesempatan untuk
membalas karena orang ini tidak mau
menuruti apa kata kamu. Benar tidak?"
Ney : " ........ "
Arfa : "Anak ini tuh tidak perlu sampai sebegitu
nya kamu marahi, setiap orang memiliki
tingkat kepekaan masing-masing. Pernah
merundung kamu karena kebiasaan jelek
dan tidak pernah datang tepat waktu?
Tidak ada kan, yang ada juga dia langsung
meninggalkan kamu,"
Ney : "........"
Arfa : "Kamu harus sabar sekali sama dia kalau
mau jadi temannya. Sabar itu tingkatan
yang paling tinggi sayang kamu tidak akan
bisa melakukannya. Kamu lebih
mengedepankan ego,"
Ney terus menundukkan kepalanya. Entah berkata apa raut wajahnya mungkin menyesal? Ya tapi sudah terlambat.
Ney : "Yaaa aku hanya... ingin bantu dia. Dia
sudah lama jomblo, Fa. Aku ingin dia
bahagia seperti aku dan Arnila,"
Arfa : "Doakan dia kalau kamu sadar ucapan
mulut kamu bisa lebih membuatnya luka.
Iya dia sensitif, orang lain lebih banyak
mendoakannya. Tidak bisa? Tidak perlu sok
mengurusi hidupnya. Dia jomblo juga
bahagia kok,"
Ney : "Aku tidak tahu,"
Arfa : "Kamu itu sok tahu, Ney. Masalah Syifa,
teman lain, grup lain. Semuaaa itu kamu
sok tahu. Dalam otak kamu coba di
setting jangan berburuk sangka terus.
Di akhir, kamu yang rugi,"
Ney : "Aku tahu kok masalah semua orang tapi
kenapa saat alu katakan yang sebenarnya,
buat mereka jadi marah?"
Arfa tidak mau lagi mendengarkan penjelasan Ney karena percuma. Sudah berapa lama dirinya masuk grup, seperti inilah Ney. Selalu.
Arfa : "Niat kamu baik. Dia juga sudah tahu tapi
itu,"
Ney : "Lalu apa?"
Ney tidak terlalu menunggu jawaban dari Arfa, mereka berdua saling menghindari satu sama lain. Toh Ney juga bertahan mendengar ocehan Arfa.
Arfa : "Kamu parah sama sekali minus kesadaran
sama orang lain. Bisa-bisanya ke orang
bicara sok tahu semua. Sendirinya juga
sama saja!"
Ney : ".... Aku hanya ingin bantu supaya dia
diterima di keluarga laki-laki itu, Fa,"
Arfa : "Membantu dia niat ikhlas atau kamu
memikirkan keuntungannya juga?"
Arfa menatap Ney, yah sudah tentu gosip Ney matre semuanya sudah tahu. Memasuki kelompok yang bukan alirannya dengan memaksa juga mereka tahu.
Nah ini soal Rita, Arfa tidak yakin dia mau membantunya karena ikhlas pasti paaasti ada maunya.
Ney : "Keuntungan?"
Arfa : "Alaaah jangan pura-pura deh. Kalau dia
diterima di keluarga laki-laki, kamu akan
memanfaatkan kebaikannya lagi alias
membuat dia berhutang budi. Iya kan?
Semua orang sudah tahu kamu itu
orangnya selalu memikirkan keuntungan.
Jadi mana ada membantu tanpa pamrih,"
Ney memegangi tasnya agak gemetaran, dia jadi salah tingkah dan posisi duduknya berganti.
Ney : "Tidak kok. Aku memang ikhlas,"
Arfa : "Tapi nada kamu terpaksa. Dia itu orangnya
baik sekali tapi kebaikan dia, kamu
manfaatkan sama dengan yang satunya.
Kamu tidak perlu sampai mencemaskan dia
Ney, karena takdir dia pasti akan berubah,"
Arfa memperlihatkan sesuatu pada Ney. Sebuah kompas yang antik dan kompas itu berputar mengarah ke arah lain secara perlahan. Saat Arfa menuliskan nama Rita, membuat Ney kaget.
Dia belum sempat memberitahukan siapa nama yang dimaksud.
Ney : "Maksud kompas ini apa?"
"Kompas itu sangat antik namun biasanya tidak dapat bergerak. Namun kata pemilik terdahulu, kompas ini akan bergerak bila tertarik dengan sesuatu. Kalau kompas itu diletakkan di atas nama seseorang, kita bisa lihat apakah takdirnya maju atau mundur," kata Asisten memberikan penjelasan.
Arfa mencoba ke atas nama Ney, dan kompas itu bergerak mundur. Ney melongo.
Arfa : "Aku tidak pakai semacam sihir atau mantra
ya. Artinya kamu sedang mengalami
sesuatu yang membuat kemunduran,"
"Kalau maju tandanya seseorang itu sedang berproses menuju takdirnya," kata Asisten lagi.
Ney : "Tapi masa aku harus ke sini untuk melihat
kompas nya? Kamu bisa kan bawa nanti
kalau kita semua ada pertemuan,"
Arfa : "Buat apa? Semua manusia pasti akan
bergerak menuju takdirnya sendiri.
Perempuan itu tidak akan jomblo lagi,"
Ney : "Benar? Meskipun aku tidak membuatnya
seperti itu?"
Arfa : "Benar kan? Memang kamu merundung
dia. Setiap kamu di dekatnya dan
berbohong, saat itu juga kamu akan
__ADS_1
mengatakan hal yang sebenarnya. Waktu
yang seharusnya sudah mulai bergerak,"
Ney terdiam, secara refleks dia mengatakan bahwa memang benar dia merundung nya. Dengan Rita entah kenapa dia selalu berkata jujur, soal penyakitnya juga.
Bisa membohonginya namun setelah itu dia berkata jujur. Atau tiba-tiba Rita membuktikan bahwa perkataannya penuh kebohongan. Dengan menunjukkan chat dengan seseorang yang membuatnya hanya terdiam dan mengutuk.
Ney : "Menurut kamu, aku bisa menyembuhkan
lukanya tidak? Yah, aku yang melukainya
tapi aku juga bisa menyembuhkannya. Jadi
kami bisa kembali seperti masa dulu,"
Arfa menggelengkan kepala, membuat Ney kecewa.
Arfa : "Coba kamu ambil gelas dalam imajinasi
kamu ya, lalu pecahkan. Menurut kamu bisa
kembalikan seperti semula?"
Ney : "Bisa dooong. Kan ada Super Glue atau lem
kuat lainnya,"
Arfa : "Terus kamu bisa pakai gelas itu untuk
minum? Ada bau tidak dari lem itu?"
Ney : ".... Ya kan bisa pakai gelas lain kenapa juga
harus gelas yang pecah itu sih?"
Arfa : "Nah sama kasusnya dengan Rita dan
Arnila. Kamu sudah hancurkan begitu saja,
mau kamu usaha buat lem hati mereka,
baunya akan tetap ada. Terus kamu mau
apa? Berharap mereka senyum lihat usaha
kamu?"
Ney : ".... Ya kali kan harusnya begitu,"
Arfa : "Kamu sendiri dulu di begitu kan apa ada
kembali sama teman yang dulu? Kamu
pergi kan, cari yang lain. Orang-orang yang
sudah kamu lukai itulah yang mereka
lakukan. Lari dari kamu,"
Ney : "......."
Arfa : "Tidak akan semudah itu Ney. Hati itu yang
paling sulit diobati apalagi karena adanya
pengkhianatan. Menurut kamu baik tidak
teman sendiri merundung temannya hanya
karena pribadinya baik, lemot, tidak peka?
Mereka selalu ada buat kamu di saat kamu
sedih, susah, senang atau tertimpa
musibah. Bagus tidak menurut kamu
membalasnya dengan merundung?"
Ney menunduk.
Arfa : "Kalau kamu sudah tahu tidak baik, kenapa
masih melakukan? Kamu itu egonya luar
biasa parah! Hati dua orang itu berbeda
jelas kamu tahu tapi masih saja lakukan.
Hati mereka apa harus ditempel pakai lem?
Lem seperti apa yang bisa membuat
menjadi normal? Bisa jawab tidak?"
Ney : "....."
Arfa : "Satu hal ya yang harus kamu tahu. Kamu
dibenci sekali sama dia karena kamu satu-
satunya yang berbuat jahat seperti itu ke
dia. Jadi tidak mungkin kamu bisa
menyembuhkan lukanya, karena kamu
orang yang tidak memiliki kemampuan
Penyembuhan. Kata-kata kamu itulah yang
menyebabkan dia terluka sangat dalam,
Ney,"
Ney : "Aku pertama? ( wajahnya terkejut sekali )
Memangnya teman-teman dia yang lain
tidak ada?"
Arfa : "Ada,"
Ney : "Tuuuh kaaan berarti seharusnya aku aman
kan,"
Arfa : "Tapi tidak separah yang kamu lakukan.
Ada yang beracun, sifat mirip sama kamu
tukang iri. Tapi dia masih berteman karena
selalu memberikan saran yang baik.
Dewasa orangnya, sekarang dia menyadari
kesalahannya. Orang itu menerima kok,
karena temannya itu tidak pernah
menyerang kepribadiannya,"
Ney menggigiti jari telunjuknya sudah senang ternyata malah membuatnya kecewa. Tapi kemudian dia teringat email yang dia kirimkan pada Rita 3 bulan yang lalu.
Ney : "Tapi dia sudah memaafkan aku kok. Aku
sudah kirim permintaan maaf lewat email
jadi aku memang sudah aman. Yah sayang
ya ramalan kamu yang ini sepertinya
meleset deh hahaha. Kecuali Arnila dan
Alex, mana mungkin mereka aman,"
Arfa : "Dia memang memaafkan kamu tapi
Tuhannya lah yang masih marah kepadamu
beserta keluarganya. Kamu kirim email kan
hanya kepada Rita bukan keluarga. Jadi
bagaimana bisa kamu tahu kalau keluarga
dia sudah memaafkan?"
Ney : "Hah? Aku harus kirim email juga ke
keluarganya?"
Arfa : "Yang aku lihat ya dari kartu, dia
memaafkan kamu hanya sebatas email
bukan dari dalam hatinya,"
Ney : "Hah!? Ya habis kalau aku hubungi ke
nomornya juga dia tidak akan balas.
Nomorku kan dia blok,"
Arfa : "Karena memang masih ada rasa benci
sama kamu. Kalau aku ya supaya tidak
dibenci, ya berubah. Aku tunjukkan sama
dia kalau aku sudah bukan yang dulu lagi.
Itu lebih membuatnya lega daripada kamu
hubungi lagi lewat email atau menelepon,"
Ney : "Lalu bagaimana coba? Satu-satunya cara hanya kirim email,"
__ADS_1
Arfa : "Yah kalau dia sudah jawab ya bagus tapi ya itu jangan senang dulu karena hatinya masih terluka, dia masih membenci kamu bahkan menolak keberadaan kamu,"
Bersambung ...