ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
2


__ADS_3

Arfa : "Kamu melukai orang yang dekat dengan


Penciptanya. Ini fatal lho, aku kaget saat


lihat semua kartu dan ini yang muncul,"


Ney hanya menganga yang kesekian kalinya.


Ney : "Yang aku dengar dia memang sering


banyak doa tapi masa sedekat itu? Dekat


bagaimana?"


Arfa : "Jiaah, kalau kamu sudah tahu dia banyak


berdoa seharusnya, kamu bisa mengerem.


Aku saja ya setiap klien berharap tidak


menemui kasus macam kamu. Ya salah


dia itu lawan yang tidak bisa kamu remeh.


Sangat dekat, apa teman kamu ini tidak


takut ya?"


Ney : "Ap... teru...s,"


Arfa : "Begini ya kamu pasti malas kan kalau aku


banyak peringatan dalam grup supaya kita


semua terhindar dengan orang yang seperti


ini. Bahaya? Iya, untuk orang yang punya


niatan jahat atau tujuan lain. Aku selalu


bilang oke kita semua tukang nyablak,


berani bicara tanpa memikirkan hati lawan.


Itu dalam grup, setidaknya kalian semua


bisa jaga mulut kalian bila berada dalam


lingkungan masing-masing,"


Ney tampak enggan memikirkan apapun, dia banyak mengalami kejadian di luar nalar. Kadang berpikir apakah itu semua ada hubungannya dengan Rita?


Suaminya pun seringkali memperingati untuk berhati-hati mengutarakan pendapat. Bahkan orang tuanya sendiri namun dia menggampangkan bahwa merekalah yang harus maklum dengan dirinya.


Arfa : "Kita, tidak tahu apakah ucapan yang kita


keluarkan bisa membuatnya mengerti.


Apalagi beberapa dari kita ada juga yang


parah ucapannya. Termasuk kamu, Ney.


Saat mereka kecewa, saat meraka terluka


apa kita bisa tahu apa yang mereka adukan


ke Tuhannya?"


Ney : "Aku bisa tahu kok,"


Arfa : "Apa? Coba katakan apa yang teman kamu


ini doa untuk kamu,"


Ney: "Ya pastinya yang jelek-jelek kan. Sudah


pasti itu,"


Arfa : "Saat seseorang meminta penghakiman


atau keadilan, saat itu Tuhannya akan


mengabulkan. Tanpa halangan, seharusnya


kamu tahu. Beda kalau kita menjaga tutur


kata dan perilaku dan membuat tidak


terlalu banyak orang luka,"


Ney : "Apa... bisa disembuhkan lukanya?"


Disini suara Ney terdengar gemetar karena dia tidak tahu apa yang didoakan Rita masa itu. Karena 'sesuatu' yang dia kirim nyatanya memantul jauh.


Arfa : "Itulah kenapa aku bertanya sama kamu.


Kamu merundung dia tidak sampai mem


buatnya luka kan? Karena tanggungannya


sangat berat,"


Ney mengatupkan kedua tangannya dan terlihat cemas. Yeee baru sekarang...


Arfa menepuk keningnya ternyata dalam diam dan kalimat Ney, secara otomatis Ney baru tahu kalau Rita sangat terluka. Dia hanya bisa diam dan agak melamun.


Arfa : "Iya kamu membuatnya sangat terluka


seperti dalam kartu ini. Kamu pernah tidak


memikirkan rasanya? Aku tahu kamu juga


pernah mengalami hal ini tapi tidak pantas


agar dia merasakan juga, kamu sengaja


melukainya,"


Ney menyeka air mata yang memang jujur dia menangis dan baru tahu. Dia pikir Rita dulu menangis dan terluka itu karena terlalu sensitif dan baper, ternyata... lebih dari goresan luka.


Arfa : "Melihat temannya sendiri bayangkan deh


membela orang lain. Kasus kamu sama dia


berbeda, dia sangat tulus dan pure semua


teman yang dia punya selalu dijaga. Kamu?


Hancurkan begitu saja, kamu tumpahkan


apa yang kamu sudah lakukan sendiri ke


dia, sama dengan satunya lagi,"


Ney mendengarkan, meski terisak sedikit. Wajahnya masih sulit menerima kenyataan.


Arfa : "Lalu sekarang kamu minta maaf dengan


mudah lalu memaksa dia jadi teman kamu?


You freak. Pikir ya Ney, sadari kalau kamu


memang merasa sudah menyakiti dia,


datang bilang maaf sepenuh hati dan


sudah jangan tanya 'Kamu mau tidak jadi


teman aku lagi?' Serius! Kamu itu tidak


punya rasa malu ya,"


Perkataan Arfa tentu terdengar keras untuknya. Dia memalingkan wajahnya tidak mampu berkata apapun.


Arfa : "Kamu sering ya memojokkan dia, bekerja


sama dengan orang lain yang perilakunya


saja kamu belum tahu. Kamu batu kenal


laki-laki itu 3 hari!! Sedangkan kamu kenal


orang ini sudah lebih dari 5 tahun!! Tega


memang ya kamu ini! Jahat tahu tidak?"


Ney : "Aku hanya ingin..." ( menyeka air mata )


Arfa : "Kalau kamu mau bilang kebaikan dia, itu


sama sekali tidak ada. Yang aku lihat kamu


ada niat menjatuhkan dia kalau kamu


sering mempermalukannya di depan


banyak orang. Kamu inging dia hidup


bahagia? Bukan begitu caranya, kamu sama


sekali tidak mengerti. Kamu tidak punya


ilmu,"


Ney menundukkan kepala, dan memandangi patung kucing di pinggirnya.


Arfa : "Kamu dukung orangnya mau yang dia


kenal baik atau buruk tetap kamu dukung


dia bukannya dukung orang lain. Iyalah itu


membuat dia sangat sakit. Beri saran baik


ke dia, bukan membeberkan masa lalu


kenalannya. Bela dia bila laki-laki itu


berbuat ulah, bukan sebaliknya kamu

__ADS_1


serang perempuan itu! Ahhh aku harus


menahan rasa kesal sama kamu,"


Arfa menghentakkan kakinya dengan sangat kesal dan ditenangkan oleh Asisten.


"Ci, mau aku gantikan saja?" Tanya Asistennya.


Arfa menolak dia harus selesaikan ini semua sampai ke akarnya. Dia menenangkan dirinya dan masih banyak yang harus dikatakan sampai Ney mengerti.


Ney : "Bukan aku kok yang pertamanya, justru


laki-laki itu yang mengajak kami merundung


dia,"


Arfa : "Dia bukan mengajak merundung hanya


mengajak kalian untuk memperlihatkan


padanya keaslian perilaku kalian


berdua bagaimana selama ini. Kata aku


juga memang kamu yang bermasalah, cara


pikir kamu itu yang paling error. Dan kamu


sangat senang sebagai kesempatan untuk


membalas karena orang ini tidak mau


menuruti apa kata kamu. Benar tidak?"


Ney : " ........ "


Arfa : "Anak ini tuh tidak perlu sampai sebegitu


nya kamu marahi, setiap orang memiliki


tingkat kepekaan masing-masing. Pernah


merundung kamu karena kebiasaan jelek


dan tidak pernah datang tepat waktu?


Tidak ada kan, yang ada juga dia langsung


meninggalkan kamu,"


Ney : "........"


Arfa : "Kamu harus sabar sekali sama dia kalau


mau jadi temannya. Sabar itu tingkatan


yang paling tinggi sayang kamu tidak akan


bisa melakukannya. Kamu lebih


mengedepankan ego,"


Ney terus menundukkan kepalanya. Entah berkata apa raut wajahnya mungkin menyesal? Ya tapi sudah terlambat.


Ney : "Yaaa aku hanya... ingin bantu dia. Dia


sudah lama jomblo, Fa. Aku ingin dia


bahagia seperti aku dan Arnila,"


Arfa : "Doakan dia kalau kamu sadar ucapan


mulut kamu bisa lebih membuatnya luka.


Iya dia sensitif, orang lain lebih banyak


mendoakannya. Tidak bisa? Tidak perlu sok


mengurusi hidupnya. Dia jomblo juga


bahagia kok,"


Ney : "Aku tidak tahu,"


Arfa : "Kamu itu sok tahu, Ney. Masalah Syifa,


teman lain, grup lain. Semuaaa itu kamu


sok tahu. Dalam otak kamu coba di


setting jangan berburuk sangka terus.


Di akhir, kamu yang rugi,"


Ney : "Aku tahu kok masalah semua orang tapi


kenapa saat alu katakan yang sebenarnya,


buat mereka jadi marah?"


Arfa tidak mau lagi mendengarkan penjelasan Ney karena percuma. Sudah berapa lama dirinya masuk grup, seperti inilah Ney. Selalu.


Arfa : "Niat kamu baik. Dia juga sudah tahu tapi


itu,"


Ney : "Lalu apa?"


Ney tidak terlalu menunggu jawaban dari Arfa, mereka berdua saling menghindari satu sama lain. Toh Ney juga bertahan mendengar ocehan Arfa.


Arfa : "Kamu parah sama sekali minus kesadaran


sama orang lain. Bisa-bisanya ke orang


bicara sok tahu semua. Sendirinya juga


sama saja!"


Ney : ".... Aku hanya ingin bantu supaya dia


diterima di keluarga laki-laki itu, Fa,"


Arfa : "Membantu dia niat ikhlas atau kamu


memikirkan keuntungannya juga?"


Arfa menatap Ney, yah sudah tentu gosip Ney matre semuanya sudah tahu. Memasuki kelompok yang bukan alirannya dengan memaksa juga mereka tahu.


Nah ini soal Rita, Arfa tidak yakin dia mau membantunya karena ikhlas pasti paaasti ada maunya.


Ney : "Keuntungan?"


Arfa : "Alaaah jangan pura-pura deh. Kalau dia


diterima di keluarga laki-laki, kamu akan


memanfaatkan kebaikannya lagi alias


membuat dia berhutang budi. Iya kan?


Semua orang sudah tahu kamu itu


orangnya selalu memikirkan keuntungan.


Jadi mana ada membantu tanpa pamrih,"


Ney memegangi tasnya agak gemetaran, dia jadi salah tingkah dan posisi duduknya berganti.


Ney : "Tidak kok. Aku memang ikhlas,"


Arfa : "Tapi nada kamu terpaksa. Dia itu orangnya


baik sekali tapi kebaikan dia, kamu


manfaatkan sama dengan yang satunya.


Kamu tidak perlu sampai mencemaskan dia


Ney, karena takdir dia pasti akan berubah,"


Arfa memperlihatkan sesuatu pada Ney. Sebuah kompas yang antik dan kompas itu berputar mengarah ke arah lain secara perlahan. Saat Arfa menuliskan nama Rita, membuat Ney kaget.


Dia belum sempat memberitahukan siapa nama yang dimaksud.


Ney : "Maksud kompas ini apa?"


"Kompas itu sangat antik namun biasanya tidak dapat bergerak. Namun kata pemilik terdahulu, kompas ini akan bergerak bila tertarik dengan sesuatu. Kalau kompas itu diletakkan di atas nama seseorang, kita bisa lihat apakah takdirnya maju atau mundur," kata Asisten memberikan penjelasan.


Arfa mencoba ke atas nama Ney, dan kompas itu bergerak mundur. Ney melongo.


Arfa : "Aku tidak pakai semacam sihir atau mantra


ya. Artinya kamu sedang mengalami


sesuatu yang membuat kemunduran,"


"Kalau maju tandanya seseorang itu sedang berproses menuju takdirnya," kata Asisten lagi.


Ney : "Tapi masa aku harus ke sini untuk melihat


kompas nya? Kamu bisa kan bawa nanti


kalau kita semua ada pertemuan,"


Arfa : "Buat apa? Semua manusia pasti akan


bergerak menuju takdirnya sendiri.


Perempuan itu tidak akan jomblo lagi,"


Ney : "Benar? Meskipun aku tidak membuatnya


seperti itu?"


Arfa : "Benar kan? Memang kamu merundung


dia. Setiap kamu di dekatnya dan


berbohong, saat itu juga kamu akan

__ADS_1


mengatakan hal yang sebenarnya. Waktu


yang seharusnya sudah mulai bergerak,"


Ney terdiam, secara refleks dia mengatakan bahwa memang benar dia merundung nya. Dengan Rita entah kenapa dia selalu berkata jujur, soal penyakitnya juga.


Bisa membohonginya namun setelah itu dia berkata jujur. Atau tiba-tiba Rita membuktikan bahwa perkataannya penuh kebohongan. Dengan menunjukkan chat dengan seseorang yang membuatnya hanya terdiam dan mengutuk.


Ney : "Menurut kamu, aku bisa menyembuhkan


lukanya tidak? Yah, aku yang melukainya


tapi aku juga bisa menyembuhkannya. Jadi


kami bisa kembali seperti masa dulu,"


Arfa menggelengkan kepala, membuat Ney kecewa.


Arfa : "Coba kamu ambil gelas dalam imajinasi


kamu ya, lalu pecahkan. Menurut kamu bisa


kembalikan seperti semula?"


Ney : "Bisa dooong. Kan ada Super Glue atau lem


kuat lainnya,"


Arfa : "Terus kamu bisa pakai gelas itu untuk


minum? Ada bau tidak dari lem itu?"


Ney : ".... Ya kan bisa pakai gelas lain kenapa juga


harus gelas yang pecah itu sih?"


Arfa : "Nah sama kasusnya dengan Rita dan


Arnila. Kamu sudah hancurkan begitu saja,


mau kamu usaha buat lem hati mereka,


baunya akan tetap ada. Terus kamu mau


apa? Berharap mereka senyum lihat usaha


kamu?"


Ney : ".... Ya kali kan harusnya begitu,"


Arfa : "Kamu sendiri dulu di begitu kan apa ada


kembali sama teman yang dulu? Kamu


pergi kan, cari yang lain. Orang-orang yang


sudah kamu lukai itulah yang mereka


lakukan. Lari dari kamu,"


Ney : "......."


Arfa : "Tidak akan semudah itu Ney. Hati itu yang


paling sulit diobati apalagi karena adanya


pengkhianatan. Menurut kamu baik tidak


teman sendiri merundung temannya hanya


karena pribadinya baik, lemot, tidak peka?


Mereka selalu ada buat kamu di saat kamu


sedih, susah, senang atau tertimpa


musibah. Bagus tidak menurut kamu


membalasnya dengan merundung?"


Ney menunduk.


Arfa : "Kalau kamu sudah tahu tidak baik, kenapa


masih melakukan? Kamu itu egonya luar


biasa parah! Hati dua orang itu berbeda


jelas kamu tahu tapi masih saja lakukan.


Hati mereka apa harus ditempel pakai lem?


Lem seperti apa yang bisa membuat


menjadi normal? Bisa jawab tidak?"


Ney : "....."


Arfa : "Satu hal ya yang harus kamu tahu. Kamu


dibenci sekali sama dia karena kamu satu-


satunya yang berbuat jahat seperti itu ke


dia. Jadi tidak mungkin kamu bisa


menyembuhkan lukanya, karena kamu


orang yang tidak memiliki kemampuan


Penyembuhan. Kata-kata kamu itulah yang


menyebabkan dia terluka sangat dalam,


Ney,"


Ney : "Aku pertama? ( wajahnya terkejut sekali )


Memangnya teman-teman dia yang lain


tidak ada?"


Arfa : "Ada,"


Ney : "Tuuuh kaaan berarti seharusnya aku aman


kan,"


Arfa : "Tapi tidak separah yang kamu lakukan.


Ada yang beracun, sifat mirip sama kamu


tukang iri. Tapi dia masih berteman karena


selalu memberikan saran yang baik.


Dewasa orangnya, sekarang dia menyadari


kesalahannya. Orang itu menerima kok,


karena temannya itu tidak pernah


menyerang kepribadiannya,"


Ney menggigiti jari telunjuknya sudah senang ternyata malah membuatnya kecewa. Tapi kemudian dia teringat email yang dia kirimkan pada Rita 3 bulan yang lalu.


Ney : "Tapi dia sudah memaafkan aku kok. Aku


sudah kirim permintaan maaf lewat email


jadi aku memang sudah aman. Yah sayang


ya ramalan kamu yang ini sepertinya


meleset deh hahaha. Kecuali Arnila dan


Alex, mana mungkin mereka aman,"


Arfa : "Dia memang memaafkan kamu tapi


Tuhannya lah yang masih marah kepadamu


beserta keluarganya. Kamu kirim email kan


hanya kepada Rita bukan keluarga. Jadi


bagaimana bisa kamu tahu kalau keluarga


dia sudah memaafkan?"


Ney : "Hah? Aku harus kirim email juga ke


keluarganya?"


Arfa : "Yang aku lihat ya dari kartu, dia


memaafkan kamu hanya sebatas email


bukan dari dalam hatinya,"


Ney : "Hah!? Ya habis kalau aku hubungi ke


nomornya juga dia tidak akan balas.


Nomorku kan dia blok,"


Arfa : "Karena memang masih ada rasa benci


sama kamu. Kalau aku ya supaya tidak


dibenci, ya berubah. Aku tunjukkan sama


dia kalau aku sudah bukan yang dulu lagi.


Itu lebih membuatnya lega daripada kamu


hubungi lagi lewat email atau menelepon,"


Ney : "Lalu bagaimana coba? Satu-satunya cara hanya kirim email,"

__ADS_1


Arfa : "Yah kalau dia sudah jawab ya bagus tapi ya itu jangan senang dulu karena hatinya masih terluka, dia masih membenci kamu bahkan menolak keberadaan kamu,"


Bersambung ...


__ADS_2