ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(49)


__ADS_3

"Arnila bagaimana?" Tanya Rita.


"Arnila juga perempuan khodamnya, tingkatannya dia atas Daeng. Kamu bisa merasakan dia ya tapi tidak bisa melihatnya juga? Sebutannya Raden. Kamu tidak merasakan Daeng kepunyaan Ney?" Tanya Alex yang merasa aneh.


"Kalau punya Arnila bisa sama seperti Tengku tapi kalau Daeng tidak. Mungkin aku hanya bisa merasakan khodam yang levelnya tinggi saja meski tidak punya. Daeng karena dia rendah kali ya," Alex banyak berpikir mengenai keanehan pada Rita. Tidak punya khodam tapi bisa berkomunikasi tapi tidak bisa melihat, itu adalah hal yang aneh.


"Kamu memang aneh sepertinya kemampuan kamu keturunan entah berasal dari kakek atau nenek, kalau dari kakek juga tipis sih yang aku lihat. Kakek kamu punya khodam juga tapi bukan dari keturunan ada seseorang yang memberikannya. Kalau kamu bisa merasakan kehadiran Tengku atau Raden, itu sudah termasuk tidak biasa. Daeng memang dibawah Raden lalu kamu akan menamai mereka sesuai sebutannya?" Tanya Alex.


"Iya soalnya tidak ada nama yang lain sih. Nanti aku ceritakan di grup deh, supaya merata,"


"Begitu lebih baik. Jadi sekarang mau apa?" Tanya Alex. Mereka mulai membicarakan persoalan yang lain karena Alex keberatan kalau Rita membicarakan soal Tengku terus.


"Besok aku mau pergi ada janji dengan teman,"


"Mau kemana? Pasti lama. Kamu beli kuota kan?" Cemas sekali tampaknya Rita pergi kemana.


"Tidak ada. Besok bebas sehari ya. Aku juga perlu me time," jelas Rita.


"Oh, baiklah. Tapi jangan sampai malam ya. Memangnya ada apa?"


"Aku butuh buku psikologi anak dan yang ada di Unpad itu lengkap. Jadi aku berjanji mau bertemu dengan dia besok," kata Rita menjelaskan.


"Perempuan?" Tanyanya.


"Laki - laki. Jangan berpikiran macam - macam ya kamu suka begitu," kata Rita sambil senyum.


"Iya iya aku tidak akan berpikir macam - macam. Teman sejak kapan?" Rita yakin meski Alex bilang begitu tapi tetap saja pasti lagi manyun.


"SMA. Dia selalu bantu aku mengerjakan tugas mau kelompok atau personal. Kita terus berteman sampai sekarang,"


"Ney tahu?"


"Tidaklah. Dia tidak peduli soal aku, dia hanya peduli tentang dirinya dan pacar - pacarnya. Jadi aku tidak pernah banyak cerita,"


"Oh. Ya sudah kalau besok sudah selesai jangan lupa chat aku. Sekarang aku harus melakukan terapi dan minum obat," kemudian Rita pindah ke grupnya.


Grup sebelah sedang ramai karena Ney meneriakkan namanya di dalamnya. Ada apa lagi coba?


"Ritaaaaa dimana kamu? Tumben belum on,"


"Dia lagi chat sama Alex biasanya jam segini," kata Arnila.

__ADS_1


"Benar - benar tidak ada batas waktu ya kalau dengan Alex. Ke aku Alex tidak begitu," kata Ney manyun dan pastinya berpikir tidak adil lagi.


"Kamu bukan orang yang dia sukai sih,"


"Iya iya aku datang nih. Sorry baru selesai chat sama Alex," kata Rita yang langsung membaca semuanya dari atas.


"Tuh kan benar. Kata aku juga apa, kalau jam segini Rita belum masuk, pasti sibuk mengurus Alex," kata Arnila menambahkan emoji mengedipkan mata sebelah. Tampaknya Ney sebal karena nyatanya Alex lebih banyak bicara dengan Rita daripada dengan Ney.


"Mau ngomongin apa tumben kamu cari aku, Ney,"


"Waktu kita pisahan kayanya kamu sama Arnila masih mengobrol ya. Soal apa?" Tanya Ney yang kepo.


"Cieee ada yang mengintip toh kenapa tidak gabung lagi saja daripada mengintip?" Goda Rita sambil membayangkan Ney yang mencuri dengar.


"Iya Rita waktu kita pisah itu, ternyata Ney ada di belokan jalan sedang sendirian. Waktu aku lewat sana, dicegat sama dia. Aku bilang ada perlu sama kamu, dia mau tahu saja," cerita Arnila.


"Hahahaha makanya kalau orang lagi ngomong itu dengarkan. Apa hak kamu ingin tahu apa yang Arnila katakan? Jadinya supaya teman kamu tidak bicara empat mata dengan orang lain. Ini makanya kenapa kamu butuh banyak teman tidak hanya satu,"


"Mulai deh ceramah!" Kata Ney yang tidak suka membacanya.


"Karena kamu tidak suka mendengarkan ceramah orang, tidak perlu kepo kan Arnila bicara apa sama aku?" Tanya Rita membuat Ney tidak berkutik.


"Lagipula buat apa kamu mau tahu, Ney? Apa kamu bisa memberi solusi seperti Rita?" Tanya Arnila yang sepertinya tepat sasaran.


"Ya aku takut mengganggu kalian tampaknya Arnila serius membicarakan sesuatu," kata Ney.


"Alasan kamu tuh! Biasanya juga suka mengganggu kan. Jangan pura - pura," kata Rita.


"Sudah deh..kalian bicarakan soal apa sih? Sampai aku tidak boleh tahu?!"


"Bukannya tidak boleh tahu tapi balik lagi, kamu tidak akan mendengarkan jadi buat apa susah - susah kamu ada juga? Kamu pulang saja tanpa bicara apa - apa langsung pergi siapa yang bisa memaklumi? Makanya jangan pundungan jadi orang! Kalau diberi nasehat itu dengarkan, bilang ke Alex seenaknya kalau aku tidak pernah dengar. Lah situ sendiri bagaimana? Katanya kamu punya Seventh Sense, sok coba tebak Arnila cerita soal apa?" Tantang Rita.


"Oh, kamu tahu ya kalau aku punya Seventh Sense? Iya aku memang punya kemampuan Seventh Sense tentu saja aku tahu dong apa yang kalian bicarakan," kata Ney dengan bangganya.


Rita dapat WA lain dari Arnila, "Kamu mau cerita soal yang aku bicarakan?"


"Aku penasaran sama inderanya dia. Kita lihat saja benar tidak dia bisa menebak. Kalau dia bisa tebak semua, kamu harus hati - hati," balas Rita.


"Ok." Kembali ke grup bersama.


"Ya sudah kamu tidak perlu bertanya lagi kan kamu sudah tahu," kata Arnila yang mungkin ya was - was dan ingin tahu juga apa benar dia bisa tahu semua.

__ADS_1


"Betul! Jadi menurut kamu Arnila bicara soal apa?" Tanya Rita.


Tidak ada jawaban dari Ney kemudian... "Ya soal Seventh Sense," kata Ney yang membuat Rita tertawa parah.


"Itu kan Rita yang beri tahu. Kamu serius tahu apa tidak sih?" Tanya Arnila.


"Sudah hanya itu saja yang kamu tangkap?" Tanya Rita yang diam melihat apa jawaban Ney. "Soal itu sudah aku beritahukan pada Alex,"


"Lalu apa kata Alex?" Tanya Arnila.


"Kalian lalu membicarakan soal penjaga ya?" Oke itu benar ya. Lalu?


"Iya sekitar itu," kata Rita menunggu lagi.


"Tuuh aku benar kan," kata Ney.


"Tidak ada lagi yang lain menurut kamu?" Tanya Arnila yang ikut memastikan.


"Hmm tidak ada tuh yang aku tangkap hanya itu. Memangnya ada lagi?" Tanya Ney. Ternyata tidak semua informasi yang bisa dia dapatkan kemampuan Seventh Sensenya menurut Rita mungkin sebenarnya tidak sempurna. Hanya setengah saja dia bisa tepat menebaknya dan Arnila juga tidak berkata apa - apa.


"Tidak. Hanya itu saja yang dibicarakan oleh Arnila. Dia menguji aku, dia beritahu kalau punya penjaga lalu apa aku bisa merasakan kehadirannya atau tidak," jadi Rita sangat lega. Kalau Alex baru deh full banget dia Seventh Sensenya, sepertinya juga bisa tahu apa yang Rita bicarakan. Rita lalu mengirimkan pesan pada Arnila, kalau rahasianya aman dan Arnila bernafas lega.


"Soal Alex kamu mau bagaimana?" Tanya Rita.


"Aku mau berhenti saja. Tadi aku bicarakan lagi mau diberi kesempatan tapi Alex menolak dengan tegas kalau sebenarnya aku sama dia tidak cocok. Menurut kalian bagaimana?"


"Lebih baik sudahi saja dari awal juga sepertinya Alex tidak berminat sama kamu. Kamu sudah minta maaf pada ibunya?" Tanya Arnila.


"Sudah kok meski tidak bisa langsung. Aku titip sama Alex saja,"


"Benar? Tidak bohong?" Kata Rita yang tahu kalau Ney terlalu sering berbohong. Dia tidak menjawab nanti pasti Rita bertanya.


"Ngomong - ngomong soal kemampuan indera ke-7, ternyata Rita juga bisa lho merasakan khodam aku!" Kata Arnila dengan antusias.


"Wah, serius? Kamu bisa merasakan punya aku? Dia ada disini disamping aku. Tapi apa bisa jarak jauh kamu merasakannya?" Tanya Ney.


"Jauh atau dekat bisa yang penting penjaga kamu memang ada. Aku tidak bisa merasakan penjaga punya kamu Ney tapi kalau punya Arnila ada. Sekarang malah ada di kamarku, ya,"


"Hahahaha tuh kan bisa tahu. Iya aku coba suruh dia ke kamar kamu. Yang Ney kenapa kamu tidak bisa merasakan kehadirannya?"


"Hmm aneh kalau punya Ney aku tidak bisa. Penjaga kamu sebutannya Daeng ya? Benar dari Makasar?" Tanya Rita mencoba membenarkan apa yang diberitahu oleh Alex.

__ADS_1


"Iya namanya Daeng dari Makasar. Alex kok bisa tahu?" Tanya Ney.


BERSAMBUNG ...


__ADS_2