ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(275)


__ADS_3

"Tidak mau! Aku bukan orang gila!" Teriak Ney sambil menangis.


"Kamu bisa - bisanya suruh Rita ke psikiater yang sakit itu sebenarnya kamu bukan Rita! Sekarang giliran kamu yang harus diperiksa, masa kamu maunya menang sendiri? Kalau bicara itu pikir pakai otak! Orang baik - baik malah kamu jadi jahat, kamu yang error!" Kata Dins berteriak pada Ney.


Ney hanya menangis dan menangis mendengar apa kata Dins, Arnila? Dia mendengarkan setiap kalimat Dins yang dimuntahkan pada Ney, sikapnya memang sudah kelewat batas. Dia yang memaksa menyuruh Rita buat periksa ke psikiater dia sendiri yang paling ogah periksa kejiwaannya ke sana.


"Psikiater itu bukan untuk orang yang memang gila saja tapi yang punya gangguan mental seperti kamu juga bisa! Aku juga gila entah kenapa aku terus menuruti saja keinginan kamu. Sekarang apa bisa kamu lebih menghargai kehadiranku?!" Tanya Dins dengan emosi, dia juga lelah menghadapi Ney yang di belakangnya selalu main mata dengan siapapun. Karena itulah Dins selalu protektif kepada Ney karena Ney sendiri orangnya plin plan.


"Iya aku sadar sudah salah memaksa Rita ke psikiater aku kira dia sakit sama dengan aku. Karena dia juga bisa mendengar dan melihat hal - hal mistis tapi nyatanya ternyata dia normal. Berarti memang aku saja yang sakit," kata Ney yang tersedu - sedu. Dia tidak mau menerima kenyataan bahwa dirinya lah yang tidak normal selama bertahun - tahun. Dan kenapa juga harus Rita? Arnila dan masih banyak orang lain yang kemampuannya melebihi Rita bagaimana?


"Lu tuh dari awal sudah salah. Terus kamu sudah bilang minta maaf sama Rita? Hmmm?? Jangan hanya beraninya saja membuat dia jatuh tapi kamu yang berbuat kesalahan sama sekali tidak pernah meminta maaf. Kamu itu gila pujian! Semua orang menganggap merekalah yang salah sama kamu salahnya aku tahu kamu itu sangat egois! Kamu salah tapi kamu malah melemparkan kesalahan kamu sendiri pada semua orang termasuk Rita dan Arnila!" Kata Dins sambil menunjuk pada Ney.


Ney mengguncang - guncang kan badannya dan terus menangis untung saja Rita sudah tidak ada di sekitaran Ney kalau masih ada, Ney pasti memohon untuk membelanya. Dia mati kutu kalau di hadapan Dins entah kenapa juga mungkin memang hanya Dins yang bisa menghentikan kegilaannya. Dengan kelelahan, Dins duduk dan menyandarkan dirinya ke dinding.


"Cobalah kamu lebih menghargai keberadaan orang yang rela mau dekat dengan kamu. Orang seperti itu sudah hampir punah di dunia. Apa salah Rita sama kamu begitu juga Arnila? Mereka berdua lho yang sampai saat ini rela banget ya jadi teman kamu kok bisa... kamu membuang mereka dengan mudah. Kurangnya apa sih? Rita cantik, langsing, dia ga pernah mandang negatif orang lain lalu Arnila dia tajir tapi pernah dia bicara menyakitkan sama kamu? Semua permasalahan itu hanya ada pada diri kamu sendiri. Pernah mereka menuntut kamu? Paling juga memberi nasihat, kamu dengarkan?" Tanya Dins yang melihat ke arah Ney yang masih menangis.


"Sudah... sudah... kamu juga senang kan mengejek aku..." kata Ney yang masih belum bisa berhenti.

__ADS_1


"Kamu senang sekali mengejek kekurangan orang, terus mengumbar keburukan juga tapi kamu tidak pernah berpikir itulah yang otomatis memperlihatkan sisi buruknya dirimu sendiri. Senang menyalahkan, memutarbalikkan fakta keadaan kamu dengan keadaan orang lain. Sebegitu besarnya kadar iri kamu pada orang lain?" Tanya Dins lagi pada Ney.


Ney terdiam tapi dia masih tersedu - sedu. Dins kemudian memegangi kepala belakangnya dan berpikir keras. Apa yang membuat Ney sampai seperti itu?


"Sekarang, tolong kamu berhenti memperlakukan orang seenak jidat kamu ya. Karena saat waktunya yang tepat, orang - orang yang sudah kamu lukai mereka pasti akan membalas. Aku pun jadi mulai meragu apa pilihan aku yang terus menuruti kamu salah. Kamu ingin kita menikah tapi dengan kamu yang kapan setia sama aku, membuat aku memutuskan lebih baik kita saling merombak diri saja dulu ya. Setahun karena aku sudah sangat lelah sama kelakuan kamu!" Kata Dins yang memutuskan untuk rehat. Dirinya pantas untuk mendapatkan hidup yang lebih bahagia apalagi dalam keluarganya juga dia harus membiayai 2 orang adiknya yang sedang kuliah.


"Kok begitu? Aku benar - benar ingin banget menikah sama kamu," kata Ney yang berhenti menangis dan memandangi Dins dengan wajah memelas.


Dins memandangi wajah Ney yang tidak tampak menyesal dengan apa yang telah dia perbuat. Itulah juga yang membuat Dins terheran - heran, kenapa hanya Ney yang tidak memiliki ekspresi tulus? "Kita break saja ya. Kamu jalani hidup kamu sesukanya lalu nanti keputusannya pasti ada. Kalau jodoh ya tidak akan menghilang. Aku benar - benar sudah lelah! Tolonglah, kamu sudah dewasa jangan bersikap seperti anak - anak! Aku juga masih punya 2 adik yang harus aku biayai, kamu tahu kan orang tuaku tidak merestui hubungan kita. Setahun. Cukup untuk memberi mereka rehat ya," kata Dins sambil memegang wajah Ney.


Kedua mata Ney berkaca - kaca mendengarnya dan mulai menangis lagi. Kali ini memang sangat sedih, dia menyesal semuanya dari awal dia memanasi Rita sampai akhirnya mendapat tamparan keras dari Diana. Tapi memang sepertinya harus dipikir ulang lagi karena Ney terlalu egois dia sama sekali tidak kepikiran soal keluarganya Dins selama ini dia lupa kalau orang tuanya memang tidak merestui. Adiknya pun sama tidak suka dengannya karena yang tidak pandai merawat diri.


"Aku sudah cukup ya Dins, sudah capek! Aku juga sebentar lagi menikah jadi urusan Ney sekarang kamu saja yang atur. Sudah menikah nanti aku juga tidak mau terlalu dekat dengan calon kamu bisa - bisa rumah tanggaku hancur! Yang tabah saja ya." Kata Arnila yang kemudian menutup ponselnya. Dins kemudian mengembalikan ponsel Ney ke dalam tasnya dan lalu memukul dinding di belakangnya membuat Ney tersentak.


Dia hanya bisa terdiam mendengarnya, Dins sudah benar - benar lelah menghadapi permasalahan dengan Ney. Dins juga sadar mungkin itu akibat dari sifat posesifnya tapi tidak salah kalau Ney, karena Ney juga sering genit dengan lelaki lain. Kalau Alex? Dia sih beda kasus. Memang Dins juga merasa kalau Ney memiliki kemampuan lain tentunya Arnila menceritakannya semua mengenai Ney yang selama ini tidak dia ketahui. Pasangan selingkuh harus dilihat dulu dari pasangan lainnya, dan harus tahu juga alasannya apa kalau hanya karena bosan, jangan salah kalau pasangan akan membalasnya.


Kemudian kita lanjut ke lantai bawah yang ternyata memang ada dijadikan sebagai sarana botram makan, semuanya mengeluarkan makanannya masing - masing. Tamada membawa makaroni panggang, Siti membawa onigiri berbentuk bulat yang terlihat menggiurkan, Linda membawa minuman susu, Annisa membawa Rainbow Cake tentu saja yang sudah di potong besar ukurannya, tempatnya dia titipkan pada pamannya yang kemudian disuruh datang saat itu juga. Ibunya Annisa pintar sekali membuat berbagai macam kue dan tentunya memiliki toko kue yang sangat laris. Komariah dan Diana mengeluarkan cemilan dari rumah Rita. Super banyak!!

__ADS_1


"Wah, hasil merampok di rumah Rita ya?" Tanya Annisa yang kaget melihatnya.


Semuanya tertawa mendengar lalu mereka saling memakan hasil bawaan sambil melanjutkan lagi tugas kelompok mereka. Tanpa mereka ketahui Ney dan Dins ternyata menuju lantai bawah mengarah ke mobil milik Dins yang terparkir jauh dari tempat Rita. Ney melihatnya dan dia bengong melihat mereka semua yang melanjutkan belajarnya juga banyak makanan yang tersedia di sana. Ide gilanya muncul lagi dan tanpa sadar, dia menuju ke tempatnya tapi Dins menahannya.


"Mau apa lagi kamu? Tidak cukup dengan yang tadi?" Tanya Dins yang menggeram kesal.


"Aku mau ada yang dibicarakan sama Rita dan juga teman - temannya!" Kata Ney yang berusaha melepaskan tangan Dins.


"Tidak bisa. Kita pulang. Kamu jangan mencoba - coba lagi berbuat keonaran ya," kata Dins yang kemudian menyeret Ney. Gampang sekali menyeret Ney karena bobot badannya seperti kekurangan gizi alias kurus sekali.


"Serius! Aku mau bilang minta maaf! Lepasin!" Kata Ney yang memberontak.


Dins tidak percaya dengan perkataan kekasihnya itu lalu membuka pintu mobil dan mendorongnya masuk lalu menguncinya. Dari luar, Dins berkata, "Aku yang akan temui mereka, kamu diam di mobil!"


Dins berjalan menuju Rita sedangkan Ney hanya bisa melihat sambil menggedorkan pintu mobil. "DINS! GUE YANG ADA PERLU BUKAN LU!"Teriak Ney dari dalam mobil tapi sia - sia saja, Dins sama sekali tidak menghiraukan teriakan Ney. Dia mengacak - acak wajah dan rambutnya sambil menggigiti jari kukunya, dia kesal tadinya dia dengar sendiri kalau mereka akan pulang ternyata....


Sambil berjalan, Dins pastinya ingin meminta maaf soal kelakuan Ney pada Rita kalau Ney yang lakukan sudah tentu semuanya bohong. Apa yang akan dikeluarkan dari otak dan mulutnya selalu berbeda dan entah dia akan mengatakan apa lagi nanti kalau memang Dins mengijinkannya menemui Rita.

__ADS_1


'SIAL! Ternyata mereka menipuku! Mereka masih belajar kelompok apalagi ternyata mereka semua membawa bekal makanan! SIAL! Dins mengunci semuanya, kenapa sih gue hari ini sial banget? Mana misi gue juga hancur total. RITA, GUE BENCI LO! Kalau saja Rita tidak ada, kalau saja Rita tidak bersama mereka mungkin gue...' Pikir Ney. Lalu dia terdiam kalau Rita tidak dilahirkan lalu dengan siapa dia sekarang? Orang yang mau dengannya hanya beberapa biji saja, Rita tidak ada apa hidupnya akan bahagia? Ney menggelengkan kepalanya keras - keras, "Diana sudah benci gue apalagi gue sudah ditampar keras sama dia. Mana ada kesempatan buat dekat dia lagi kenapa mulut gue sama sekali tidak bisa gue tahan sih!? Aku harus pikirkan jalan lain, harus! Aku selalu mendapatkan apa yang aku mau termasuk soal Diana! Gue harus menang!" Kata Ney berbicara sendirian dalam mobil.


BERSAMBUNG ...


__ADS_2