
"Oke, fine. Kalau kamu tidak mau jadi temanku lagi. Kalau begitu boleh kan hanya sekedar mengobrol lagi ya? Ya? Kita jalan-jalan, aku traktir kamu. Mau kan? Kan katanya kalau sudah dimaafkan berarti ikatan silaturahim jalan," kata Ney menggunakan kesempatan untuk menyerang.
Rita mendengus membacanya, sudah taktik norak begitulah yang pasti dilakukan oleh Ney. Tapi Rita masih terus baca sambil beberapa gurunya juga ikut.
"Sudah dimaafkan tapi tetap maksa jadi teman? Aneh," kata Asmi.
"Orangnya penanda kayanya sejak kecil seperti ini deh," kata Rita menduga.
"Hmm bisa jadi sih Bu kalau dari kecilnya selalu dituruti, sudah besar ya kebawa-bawa jadinya kita yang harus terus mengalah," kata Asmi.
"Dari sini kita bisa belajar banyak kan, Mi?" Tanya Rita tertawa. Asmi setuju.
"Oh iya aku ingat! Kamu masih punya hutang lho sama aku. Hayoooh jadi kita mau kemana?" Tanya Ney tertawa.
"Memang Bu Rita punya hutang apa?" Tanya Bu Dian baru selesai kerjanya.
"Nah aku juga bingung. Aku ada hutang 1000 rupiah ke warung sih," kata Rita.
"Dia cuma mengada-ada kalau begitu Bu supaya bisa ketemuan. Jelek sekali kebiasaannya," kata Asmi.
"Hah? You must fix your brain deh, Ney. Aku sama sekali tidak pernah menjanjikan apapun sama kamu. Sepertinya kamu banyak berhalu lagi ya. Penyakit kamu pasti kambuh kalau sudah menerka-nerka," tulis Rita.
Para guru lalu bersiap untuk sholat, kebetulan Rita sedang berhalangan jadi dia dengan tenangnya rebahan di aula sebelah, bersama dengan 4 guru lainnya.
"Penyakit? Aku tidak punya penyakit kok. Itu kamu kali. Enak saja," balas Ney sebal. Sebenarnya agak kaget juga kenapa tiba-tiba Rita chat begitu.
"Skizofrenia Paranoid. Betul tidak?" Tanya Rita langsung menuju sasarannya.
Ney sangat kaget. "Enak saja! Itu kamu! Aku tahu kok kamu yang punya penyakit Skizop itu. Bukan aku!" Katanya sambil memejamkan kedua matanya, kenapa... Rita bisa tahu? Ney agak cemas dia menggigit jarinya lagi.
"Kamu pernah cerita kalau sering mendengar suara-suara dalam kepala. Sejak kecil, sering berhalu melihat sesuatu yang hanya ada dalam kepala, dan ketakutan sendiri," kata Rita.
"TAHU APA KAMU! KAMU SAMA SEKALI TIDAK TAHU APA-APA!!" Balas Ney tiba-tiba.
"Wuidiiih.. kok marah? Kalau marah berarti benar dongs. Kan kamu sendiri yang bilang ke aku, aku sih hanya cari tahu saja ciri-ciri kamu begitu. Nih aku beritahu ya," kata Rita.
"Tidak perlu. Tidak usah!" Kata Ney yang gemetaran. "Kenapa...kenapa Rita bisa tahu? Apa dia benar-benar tidak bisa baca pikiran?" pikir Ney sambil menutup kedua telinganya.
Skizofrenia Paranoid Adalah jenis skizofrenia yang paling sering ditemukan di masyarakat. Merupakan penyakit gangguan otak yang menyebabkan pengidapnya berpikir tidak sesuai kenyataan yang mempengaruhi perilakunya.
Sementara Paranoid adalah salah satu gejala yang dapat muncul pada pengidap skizofrenia. Jadi, orang dengan skizofrenia paranoid memiliki kesulitan dalam menyesuaikan pikirannya dengan realita yang ada.
Mereka bergumul dengan gejala utama gangguan yaitu berupa halusinasi, dan delusi yang membuat penderitanya bingung. Rasa takut dan tidak percaya pada orang lain.
Sumber : Google.
"Sudah, Rita! Cukup!" Kata Ney yang memang marah sekali. Dia harus baca semuanya sambil menahan marah.
Hmmm! Cukup? Kurang. Rita membalas perlakuan Ney yang seenaknya selama ini. Bisa-bisanya dia banyak perintah namun enggan berhenti mengenai soal Ian atau siapapun yang Rita tidak suka.
__ADS_1
"Nih ada ya gejalanya kamu banget!!" Balas Rita gantian sangat senang.
"Sudah!! Kalau kamu tahu aku ada kelainan, ya jangan disebarkan. Tapi kamu jaga," kata Ney.
"Ooogah! Kamu saja senang kan menyebarkan aib yang aku jaga? Jadi jangan marah dong harus seri, harus fair ya. Makanya jangan main api kalau kamu tidak bisa meredakannya, karena aku juga bisa membalas," ketik Rita.
Ney kesal bukan main, penyakit itu dia sembunyikan dengan rapih tapi kenapa dia bisa keceplosan cerita? Dan dia lupa kalau memang dirinya senang membeberkan apa yang Rita sembunyikan. Dia menyesaaal seharusnya dia berpikir dulu kemungkinan Rita melawan balik.
Contoh halusinasi pendengaran ( suara ) dan penglihatan ( visual ) pada orang yang mengalami skizofrenia paranoid:
Mendengar suara yang berasal dari sumber luar, seperti speaker atau objek lain.
Mendengar suara-suara yang memerintah atau berbicara di dalam pikiran.
Mendengar suara atau alunan musik saat tidak ada suara apapun.
Melihat seseorang yang tidak ada.
Melihat gambar situasi atau peristiwa.
"Nih baca. Kalau ada gejala tersebut sebaiknya segera kunjungi ahli KESEHATAN MENTAL untuk mendapatkan pengobatan. Ya memang kamu yang harus ke psikiater bukan aku. Enak saja lempar penyakit sendiri," kata Rita menambahkan emoji 😝😝.
__ADS_1
Tentu Ney kesalnya setengah sadar bukan mati lagi, dia menerima karena salahnya sendiri juga yang tidak bisa menjaga baik aib temannya.
"Cukup! Puas kan kamu?!" Balas Ney.
"Belumlaaah nanti juga ada pembalikan keadaan apa yang kamu lakukan ke aku tapi tidak sekarang-sekarang. Itu akan berjalan seiring waktu," ketik Rita senang.
"Awas ya kamu Rita, kamu salah berhadapan sama aku," kata Ney memendam rasa kesal.
"Ooowh akyu takyuuuut. Coba jelaskan kenapa sih kamu sampai menukar kepribadian kamu sendiri ke aku?" Tanya Rita.
Ney tidak menjawab, dia hanya terdiam membeku kini Rita sudah sepenuhnya sadar. Apakah selama ini Rita masuk hipnotis? Tapi tidak juga sih karena banyak yang janggal termasuk Ney yang senang menakut-nakuti dengan sosok zurig.
"Anehnya kepribadian aku malah tidak masuk ke kamu. Padahal kamu sendiri membuang diri kamu ke aku lho. Kenapa sih? Sebegitu iri nya kamu sama pribadi aku? Yah, meski kamu tukar juga tidak mungkin bisa seperti aku," kata Rita.
Ney merasa bahwa Rita sedang menantangnya. "Kata siapa, pribadi kamu itu bisa aku tiru!" Kata Ney dengan emosi.
Benar saja kalau dia tahun lalu itu melemparkan kepribadiannya ke Rita karena merasa tidak suka. Tapi kenapa ya? Samapi begitu bukan alasan kepo semata.
Ya, ke-kepoannya pada Rita tentu tidak menghasilkan hal yang menguntungkan lebih lama karena keburu ketahuan. Semuanya mulai berantakan saat Rita benar-benar ruqyah.
"Kalau begitu aku tantang kamu sebulan mengaji Al Qur'an, sholat wajib penuh 5 waktu, dan tahajud serta wirid. Bisa?" Tanya Rita yang dia lakukan itu semua di waktu senggangnya.
Ney tidak membalas baginya buka Al Qur'an saja sudah sangat berat dan panas. Apalagi sampai mengerjakan yang lainnya. Ney tertegun duduk di sofa dia menatap botol-botol obat penenang dan untuk penyakitnya bila kambuh.
"Bagaimana Rita bisa tahu? Apa benar dia tidak bisa baca pikiran? Tapi selama ini kenapa dia tampak bisa? Apa aku dibodohi lagi?" Tanya Ney bicara sendirian.
Hening.
"Aku tahu kamu pasti berpikir bagaimana aku bisa tahu semuanya. Jujur aku bukan ahli pembaca pikiran orang Ney. Kalau kamu memang sangat kenal aku, seharusnya kamu sadar kalau aku senang mengamati. Apalagi waktu SMP kamu pernah mengatakan sesuatu yang tidak ada," ketik Rita.
"Kapan? Jangan bohong kamu!" Kata Ney membalas cepat. Ya Ney itu kebiasaannya kalau enggan menjawab pertanyaan atau pernyataan, dia sengaja menunggu sampai orang itu mengalihkan topik.
"Yang cerita kan mereka berlima, pasti lihat secara langsung dong. Apalagi kamu cerita ke aku kalau dengar suara dari kepala, "bunuh dia" atau "ejek dia" dari kecil kan?" Tanya Rita yang puas juga bisa membalas.
"Hentikan!! Aku mengaku, aku salah tahun lalu sebar aib kamu jadi jangan sebar soal ini ke siapapun!" Kata Ney agak cemas.
"Entahlah ya, aku minta kamu hentikan omongan kamu apa kamu dengar? Tidak kan sampai Arnila tahu. Aku masih baik ya, aku katakan ini di kamu saja tidak ada Arnila," kata Rita.
Ney menangis sambil menutupi wajahnya.
"Itu pertanda penyakit itu sudah ada sejak kamu kecil sampai sekarang, kok orang tua kamu tidak memeriksakan kamu sih? Apa kamu yang sembunyikan atau sebenarnya sudah ya?" Tanya Rita.
Tidak ada jawaban.
"Aku pikir itu dialami sama yang sudah tua ternyata sama yang muda juga bisa ya. Waktu masih kecil kepala kamu pernah terbentur keras ya? Atau pemukulan?" Tanya Rita lagi.
Suara notif ponsel Ney terus berbunyi, dengan rasa kesal dan marah dia baca.
"Sudah ya kamu jangan ikut campur urusan aku! JANGAN KEPO," Kata Ney.
__ADS_1
"Bagaimana? Tidak enak kan? Aku juga sama, Alex juga gara-gara kelakuan kamu, dia terus menyalahkan aku sampai sekarang soal info lainnya. Apa sih salah aku sama kamu, Ney? Karena aku punya banyak teman?" Tanya Rita keheranan.
Bersambung ...