
Happy Reading.
Di salah satu rumah sakit di Jakarta.
Vera menatap layar ponselnya dan melihat nama Jimmy menghubungi nya sedari tadi, mungkin karena merasa tidak enak hati akhirnya wanita itu mengangkat panggilan dari sahabatnya tersebut.
"Halo, Jim!"
"Halo, Vera! ya Tuhan ke mana saja, udah gue telepon sampai tiga kali, baru di dering yang ke-4 akhirnya lo angkat!"
"Gue baru ada pasien."
"Pasien? Lo di rumah sakit? Kemarin malam lo bilang libur 'kan?"
Vera menghela napas.
"Gue tukar jadwal sama Mia, emangnya ada apa, Jim?"
"Oh, kalau lo ada di rumah sakit berarti gue boleh ke ruangan lo 'kan?"
Vera melihat pergelangan tangannya.
"Sepertinya kalau sekarang gak bisa, gue mau ke rumah sepupu, tadi pagi dia minta ditemani nyari perlengkapannya buat honeymoon."
"Sepupu? Honeymoon?"
"Iya sepupu gue yang baru nikah kemarin, yang gue nggak bisa datang ke acara pernikahannya, rencananya lusa mereka akan ngadain honeymoon."
"Oh, oke deh, cuma ketemu bentar aja nggak boleh nih?"
Vera memutar bola matanya jengah mendengar ucapan Jimmy, kenapa sekarang pria itu seakan bergantung kepadanya.
Apa karena dia gagal bertunangan dan ditinggal oleh orang yang dicintainya menikah, jadi sekarang dia bergantung kepada Vera?
"Maaf Jim, gue nggak bisa."
"Tunggu-tunggu, 5 menit! lo jangan pergi kemana-mana."
"Eh, jim!"
Tut, tut, tut!
"Selalu saja seenaknya sendiri!" gumam Vera.
Wanita itu menanggalkan sneili-nya dan ia letakkan di kursi.
Seharusnya hari ini adalah jadwal liburnya, tapi karena salah satu sahabatnya sedang ada urusan maka dia meminta Vera untuk menggantikan shift paginya.
Tok, tok, tok!
Ceklek!
__ADS_1
"Ver, gue .... !" Vera menaikkan sebelah alisnya melihat Jimmy yang tidak melanjutkan ucapannya.
"Apa?"
Jimmy tiba-tiba menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "gue mau nagih jawaban lo," jawab pria itu salah tingkah.
"Jawaban apa? Kalau ngomong tuh yang jelas sekalian, biar gue nggak nanya yang kedua kalinya," ucap Vera.
Jimmy semakin kelihatan salah tingkah karena dia terus menggaruk tengkuknya. Entah kenapa sekarang dia merasa sangat gugup, padahal biasanya selama ini dia bisa bersikap normal.
"Itu, jawaban yang gue minta lo jadi pacar gue, gimana, lo mau nggak?"
Akhirnya Vera tertawa setelah mendengar apa yang diinginkan oleh pria di depannya ini.
"Kok malah tertawa sih? gue ini serius loh," ucap Jimmy.
Vera berusaha menghentikan tawanya, "ya lucu aja, tadi malam 'kan udah gue jawab," tiba-tiba wajah Vera menjadi serius "dan jawaban gue, nggak mau!" jawab Vera lantang.
Bahu Jimmy merosot dengan mulut yang menganga, "emangnya kenapa lo nggak mau nerima gue jadi pacar lo?"
Astaga naga! rasanya Vera ingin sekali meninju kepala cowok tampan di depannya ini.
"Sekarang gue mau tanya sama lo, kenapa lo mau jadiin gue pacar? kenapa lo nggak milih cewek lain?"
"Ya karena gue suka sama lo Vera, adik kembarnya Abang Vero!"
"Sejak kapan?"
"Rasa suka lo buat gue?"
Jimmy terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan dari Vera dan hal itu membuat Vera mendecih.
"Cih, lo nggak bisa jawab 'kan? karena gue itu cuman pelarian buat lo! Jadi sebaiknya lo cari cewek lain, banyak kok di sini dokter atau pun suster yang masih lajang dan cantik-cantik pula," ujar Vera.
Kemudian wanita itu mengambil tasnya di atas meja dan langsung pergi keluar dari ruangan itu.
Jimmy yang sempat diam saja terus sadar kalau Vera sudah pergi meninggalkannya.
"Aarrgggkk!!"
Pria itu hanya bisa meninju ruang kosong di hadapannya berkali-kali.
"Sebenarnya gue udah lama suka sama lo, Ver...!"
*****
Fara sedang menunggu kedatangan sepupunya karena tadi mereka sudah berjanji akan belanja bersama.
Bukannya Keill tidak mau mengantarkan sang istri, tetapi ini memang permintaan Fara yang ingin membeli beberapa pakaian yang nantinya akan dia pakai di saat bulan madu di Bali.
Fara ingin membuat kejutan untuk suaminya karena selama ini dia memang belum menyuguhkan versi sempurna dirinya.
__ADS_1
"Ayo Fara, lo udah siap?" Tanya Vera yang baru saja datang dan disambut oleh Fara di ruang tamu.
"Siap banget, udah aku tunggu dari tadi loh," jawab Fara berjalan ke arah Keill untuk berpamitan.
"Mas, aku pergi dulu sama Vera ya, assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam, hati-hati ya, sayang, awas jangan lirik kanan kiri, lihat depan aja dan nggak boleh terpesona sama model-model cowok-cowok cantik di mall!"
"Cowok-cowok cantik?" seloroh Fara.
"Itu, yang biasanya kamu sama Yuni selalu bicarain di kantor, cowok-cowok Korea yang berwajah cantik itu," jawab Keill.
Fara dan Vera kompak menepuk jidat.
"Udah deh, lo tenang aja Keill, Fara aman deh sama gue, gak akan ada yang berani deketin dia," ucap Vera.
Akhirnya Fara dan Vera pergi ke pusat perbelanjaan di salah satu mall di Jakarta.
"Memangnya lo mau beli apa aja buat bekal ke Bali besok?" Tanya Vera.
"Sebenarnya aku udah cari-cari di internet tadi bakal persiapan apa aja untuk pengantin baru yang akan berbulan madu, mungkin aku akan membeli beberapa lingeri dan juga parfum yang wanginya membuat pasangan kita bisa mabuk kepayang," Jawab Farah malu-malu.
"Wah lo keren banget sih, tahu gimana caranya nyenengin suami, kalau gitu ayo sekarang kita masuk ke dalam counter yang menjual lingeri yang bagus-bagus, kalau di mall ini sih sepertinya ada di lantai 3,"
"Eh kok kamu tahu?" Tanya Farah penasaran.
"Manggilnya gue lo aja, biar lebih enak gitu, kalau aku kamu kayaknya kurang tepat aja deh," ucap Vera.
"Nggak papa 'kan kalau aku manggil loh-gue gitu?"
"Ya nggak papa lah, kayaknya enak manggil nya gitu," jawab Vera.
"Oke deh, kalau gitu yuk kita ke lantai 3!"
Akhirnya berkat nyari ilmu di internet, Fara berhasil mengetahui bagaimana caranya menyenangkan suami di saat honeymoon.
Mereka berdua sudah sampai di depan counter yang menjual berbagai macam lingerie.
Fara dan Vera langsung antusias melihat warna dan bentuk lingerie yang dipajang di toko itu.
"Wah ini bagus sekali, yang ini juga bagus! wah gue bingung! ini kenapa lingerinya cantik-cantik semuanya!" Seru Vera.
Fara yang melihat tingkah laku Vera hanya melongo, "kok jadi elo yang antusias? 'kan yang mau beli lingeri itu gue," ucap Fara menepuk pundak wanita itu.
"Eh iya kok gue bisa ikutan antusias ya hehehe," Vera menggaruk ujung hidungnya karena merasa malu.
Tapi memang dia begitu mengagumi berbagai lingeri yang ada di toko ini.
"Kalau gitu gue minta pendapat lo, ya Ver? yang mana yang bagus dan cocok untuk tubuh gue," ucap Fara.
Vera manggut-manggut, "kayaknya di sana itu bagus deh dan cocok untuk elo," Tunjuk Vera ke salah satu lingeri berwarna pink muda berbahan satin dan ada jaring-jaring yang menutup bagian dadanya.
__ADS_1