ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(109)


__ADS_3

"Kalau sisi lain orang itu bersatu sama sifat aslinya, Saya tidak bisa lihat kecuali kalau memang ada sisi yang terpisah teh," kata Rita sambil melihat Teh Kris di depannya. Mendengar penjelasan Rita, Teh Kris tampak kecewa. Memangnya apa yang dia cari sih?


"Oh, jadi kalau sudah bersatu, kamu tidak bisa mengeluarkannya?" Tanyanya sambil lemas. Kedua temannya hanya saling memandang.


"Tidak bisa. Seperti sekarang saja teteh dan sisi lainnya ya memang sudah jadi satu. Jadi mau dikeluarkan yang mana juga ya ini teteh yang asli berbeda dengan yang teteh dengar tadi," Rita memberi tanda ke arah Ney. Kasir itu lalu mengangguk dan agak kecewa.


"Temannya yang belakang bisa juga?" Tanyanya sambil melihat ke belakang Rita. Oalaaah kalau Rita bilang bisa mereka pasti di tanya macam - macam juga dan urusannya akan jadi panjang. Bahkan mereka bisa lama disana.


"Rita memandangi mereka berdua, Arnila langsung tahu maksudnya karena wajah Rita yang memelas "Jangan" dan Arnila melambaikan tangannya. Karena akan sangat lama sekali mereka bertiga di toko buku itu padahal mereka berencana untuk jalan - jalan dan masih banyak yang harus dibicarakan.


"Saya tidak bisa Hanya teman saya ini saja yang bisa. Yang sebelah juga tidak," kata Arnila, Ney yang kebingungan hanya melihatnya dengan canggung dan tanda tanya besar.


"Apaan sih, Nil?" Tanya Ney.


"Rita dimintai tolong buat melihat sesuatu dari mbak itu. Tapi Rita sepertinya tidak bisa secara instan dan kalaupun aku bisa, kita bakalan lebih lama lagi disini. Rita sih pastinya ingin bilang 'tidak' tapi mbak itu mungkin menangkap apa yang tadi kita lakukan,"


Ney memandangi Arnila dengan wajah shock. "Maksud kamu, aku tadi mengatakan sesuatu?"


"Iya. Tapi kita lihat kamu benar - benar tidak tahu. Yakin kamu tidak tahu atau pura - pura?" Tanya Arnila yang masih penasaran.


"Mana gue tahu! Orang serius lagi baca buku," kata Ney yang masih kaget dan dia memijat - mijat dahinya, tidak percaya dengan apa yang baru saja Arnila katakan. Wah bahaya ini! Pikir Ney. Arnila memandangi Ney yang pastinya mungkin tahu apa yang ada di benaknya Ney.


"Pokoknya kita jangan sampai ikut campur deh. Lu penasaran juga kan kemampuan Rita seperti apa. Tuh dia lagi mencoba," Ney memandangi Rita dengan wajah yang jengkel atau lebih ke.... iri?


"Tapi kalau teman mbak yang dua itu, saya merasakan ada sesuatu yang berbeda," kata Rita menatap kedua temannya yang sekarang tampak tegang. Teh Tania menunjuk ke dirinya sendiri lalu kebingungan meski orangnya tomboy tapi ada sekelebat cemas. Dalam hati Rita, Rita mengucapkan 'Tunjukkan dengan tanda panah siapa yang bermasalah agar aku tidak salah menyebutkan.'

__ADS_1


Kemudian Rita seperti diarahkan oleh sesuatu yang tak kasat mata bukan Jin ya tapi sesuatu yang lain. Yang Rita sendiri tidak bisa mengetahuinya apakah itu tapi 'itu' memberitahukan siapa yang penampakan ini atau penampakan itu.


"Mona dan Tania?" Teh Kris lalu memandangi mereka. "Aku yang nanya kenapa kalian yang kena sih?"


"Jangan lihat kita dong. Kita hanya penasaran saja," jawab Mona gugup.


"Aku juga ingin tahu karena belum pernah mengalami dan apa benar ada yang seperti itu?" Tanya Tania pada Kris.


"Memangnya ada apa dengan mereka?" Tanya Teh Kris yang mulai penasaran.


"Yang kanan yaitu Teh Tania, kalau pulang malam berdoa dulu sebaiknya soalnya ada yang ngikutin," kata Rita yang memang benar dia merasa ada sosok hitam yang terus mengikutinya. Agak aneh sih tapi menurut perasaannya itu bukan manusia tapi makhluk astral yang berbahaya.


Semua temannya memandangi Tania yang berwajah pucat. "Bener?" Tanya mereka berdua. Langsung Teh Tania pucat lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Arnila dan Ney yang melihatnya terpaku di tempat mereka. Untungnya saat itu Gramedia sedang sepi pengunjung jadi tidak akan ada yang memperhatikan.


"Kejadian apa?" Tanya Mona yang ikut pucat, ternyata apa yang diucapkan Rita benar.


Rita jadi merasa tidak enak mengatakan sebenarnya itu apa lalu menatap Arnila dan Ney yang mereka pun bingung. Rita memutar otak harus berkata apa agar Teh Tania tidak terlalu histeris atau ketakutan.


"Ya ada orang jahat yang mau jahatin teteh. Sebelum pulang baca doa saja yang pendek - pendek seperti An Nas, Al Ikhlas sama ayat Kursi biar aman. Teteh juga tomboy ya tiap hari pakai motor gede, sekarang juga sama ya?" Rita mengatakan semuanya tanpa ada yang ditutupi membuat teh Tania kaget dan kedua temannya menggenggam bahunya.


"Ih, eta teh anjeun huh? Abdi heran saha unggal dinten nyandak motor sapertos mobil sedan, tingali ka padamel lalaki dimana aya, letoy sadayana ( Ih, itu kamu ya. Pantas aku heran siapa yang setiap hari bawa motor sebesar mobil sedan, lihat ke pegawai lelaki mana ada, letoy semua )," kata Mona dan Teh Kris tertawa terbahak, begitu juga dengan Ney dan Arnila. Iya sih pegawai lelaki Gramedia yang bertugas sekitar buku pendek dan kurang otot. Rita tertawa juga karena ucapan teh Mona.


"Eta motor adi kuring, janten nginjem eta langkung sae tibatan henteu dianggo ( itu motor kakak saya, ya minjam kan lumayan daripada tidak dipakai ). Kenapa teteh bisa tahu? Lihat?" Tanyanya keheranan karena tepat semua.


"Ya mana mungkin saya tahu dan sengaja lewat dari lantai dasar ke sini. Saya juga kan baru tahu teteh ya hari ini. Hanya seperti ada kilatan saja. Terus teteh yang ini, ada yang menjaga teteh. Teteh punya khodam ya?" Tanya Rita yang merasa khodamnya itu ada disampingnya saat ini. Semuanya memandangi Rita termasuk Arnila dan Ney yang super kaget.

__ADS_1


"Kamu bisa tahu, Ri?" Tanya Ney yang masih kaget.


"Wah, jangan - jangan gegara Alex dan aku yang tes kamu jadi keluar semua ya," Arnila menghela nafas merasa bersalah. Ney masih yang tidak percaya dan hanya terus bengong.


"Terasa ya, Rita?" Tanya Arnila karena Rita tidak bergerak sama sekali. Mereka bertiga juga memandangi Rita yang masih fokus pada Teh Mona. Sedangkan Teh Mona sendiri jadi semakin tegang dan sepertinya berharap Rita tidak menyadari apa yang disembunyikannya.


Rita orangnya tidak segan - segan membeberkan sesuatu tapi dia juga melihat lawannya apakah dia seorang pemberani atau penakut. Arnila berpendapat kenapa bisa begitu karena Rita sangat polos dan apa yang dia lihat baik buruk ya dia katakan hanya kalau persoalannya yang dia lihat buruk, dia akan berusaha memutar otak agar lawannya tidak terlalu histeris. Itulah kenapa Arnila kagum pada Rita karena selalu bisa mengubah apa yang dia lihat ke orang lain. Tidak seperti orang yang di sebelahnya, entah apa yang dia lihat sampai dia buat sampai jadi jelek.


"Kerasalah orang 'itu' nya sekarang berdiri depan aku," tunjuk Rita dimana makhluk astral itu sekarang berada. Rita dengan polosnya menjawab begitu membuat 3 kasir berteriak histeris tapi tidak keras. Teman Rita memang mengakui ada dan sesuai yang dia bilang, berdiri di depannya juga memang iya.


Beberapa menit terdengar suara derap kaki yang sigap lalu Rita dan semuanya terdiam, muncul seorang laki - laki dengan baju kemeja dan celana panjang warna hitam. Dengan suara yang kelelahan karena dia berlari lalu bertanya, "Ada apa ini?" Tanyanya sambil memandangi tiga karyawatinya.


"Oh, ada kecoa, pak!" Jawab Teh Tania yang tiba - tiba, lalu muncul juga dua satpam yang menyusul dibelakang lelaki itu yang ternyata Manager. Mereka bertiga langsung mencari keberadaan kecoa palsu itu dan ketiga kasir itu masih berpelukan menatap Rita. Dalam benak mereka bertiga, Rita tidak seperti berpura - pura bisa 'Lihat' tapi memang bisa. Karena terbukti dengan Tania dan Mona, jadi Kris juga lebih percaya. Memang orang ini bisa tapi sepertinya agak tidak suka tampak ada perasaan bersalah berkumpul di hati Kris.


Rita hanya menatap manager dan satpamnya yang rusuh tapi kemudian karena tidak diketemukan, mereka menyerah.


"Nanti kalau ada pukul saja sampai terbalik. Hanya itu?" Tanya Manager mereka memandangi mereka bertiga yang masih berpelukan. Mereka lalu mengangguk sambil memiringkan kepalanya, sang Manager dan satpam bersiap untuk turun kembali.


"Baiklah. Kecoa saja kalian sampai teriak histeris," kata Manager itu yang menggelengkan kepala.


"Lebih histeris lagi kalau kecoa nya terbang, pak!" Ucap satpam. Mereka lalu tertawa keras dan kembali ke posisi semula. Setelah mereka melihat Manager dan satpam sudah jauh, Teh Mona melepaskan pelukan di temannya dan mendekati Rita.


"Teteh benar - benar bisa lihat khodam?" Tanya Teh Mona. Setiap Teh Mona bicara, Rita merasa khodamnya pun bergerak maju.


"Ada yang bisa tapi ada juga yang tidak. Tergantung khodamnya, saya tidak tahu punya kemampuan bisa melihat hanya bisa merasakan saja. Tapi Teh Mona jangan cemas khodamnya baik kok tapi buat batasan saja sama seperti Teh Tania, banyak berdoa. Kalau Teh Kris tidak ada yang aneh sih. Normal saja," kata Rita.

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2