
"Halah! Dia bisa duduk di mana saja tidak akan keberatan kalau aku ambil tempatnya. Tenang saja," kata Rita dengan santainya duduk meski tahu pasti Ney tidak mau Rita duduk dekatnya.
"Ya tapi tidak begitu juga kan lagi mengobrol seru sama aku. Dia nyaman lho sama aku," katanya membanggakan diri.
"Tumben ada yang nyaman sama kamu, kebanyakan pertama kenal lebih milih langsung pergi. Senang banget kelihatannya dapat teman baru," kata Rita menatap Ney.
"Kenapa? Iri ya sekarang teman dekat kamu malah sukanya sama aku tuh," kata Ney dengan mulut berbisanya.
"Kalau senang kok yang aku lihat Diana seperti bete ya dengar kamu bicara. Kamu bilang apa sih sama dia agak marah soalnya," kata Rita penasaran.
Ney diam mendengarnya, dia tetap saja mengira kalau itu adalah akalan Diana saja untuk memperlihatkan ketidaksukaannya pada Rita. "Ya dia bilang tidak nyaman sama kamu, sepertinya kamu harus berhenti deh memaksakan kehendak jadi teman dekatnya. Orang dia sukanya sama aku," kata Ney.
Rita bete juga mendengar jawabannya, dia yang datang dengan niat tidak baik toh. "Kenapa kamu tidak mau duduk dekat aku? Bukannya selama ini kamu selalu duduk dimanapun dekat aku bukannya Arnila. Sekarang baru kenal Diana, kamu seperti sudah jadi sahabatnya dia. Oh seperti ini ya kamu aslinya, hmmmm..." kata Rita menganggukkan kepalanya yang mengerti kalau Ney adalah orang yang memilih teman.
"Kamu orangnya pemilih ya temannya Rita tapi setelah kenal dengan Mbak Diana, Rita malah kamu buang. Itu tidak baik lho, kamu ada disini juga karena ajakan Rita," kata Siti yang dari tadi mendengar obrolan mereka. Kesannya bukan gemas hanya menurutnya Ney sangat tidak sopan.
Rita setuju, "Dia memang begitu Teh, bilangnya aku yang jahat suka buang teman. Nih baru juga teteh kenal kan sama dia, sudah ketahuan sifatnya bagaimana. Sudah dari baheula kalau dia kenal orang baru, yang lama dilupakan. Kembali lagi kalau ternyata orang baru itu tidak suka dia atau bermasalah. Sudah bukan hal yang luar biasalah," kata Rita melirik Ney yang membuang muka.
Siti menggelengkan kepalanya tapi herannya tuh orang benar secara gamblang menunjukkan ketidaksukaannya pada orang terutama Rita. Apalagi sampai berani menyuruh mereka untuk menjauhi Rita. "Hmmm oh iya ini aku bawakan yoghurt buat kamu Ri, kamu kan suka banget," katanya sambil mengeluarkan sebotol yoghurt rasa Anggur.
Rita senang melihatnya, dia memang sangat suka yoghurt! "Wow! Lah, kapan aku pernah bawa yoghurt ya?" Tanya Rita sambil melihat yoghurt itu dengan pandangan mata yang lezat. Ney melihat apa yang diberikan Siti kepada Rita, matanya menyiratkan kecemburuan yang jelas banget dan itu hanya disadari oleh Tamada. Ada semacam aura berapi dari Ney mungkin itu yang membuatnya tidak suka pada Rita, sebenarnya.
Komariah bermuka datar begitu juga Siti membuat Rita aneh. "Pohoan ieu budak. Pan kamu sering kalau kuliah bawa yoghurt sedot - sedot. Sudah begitu pernah juga waktu kita kuliah sampai sore pas pada haus, kamu sengaja katanya beli sejumlah mahasiswi dalam kelas, aya 20 botol mah. Eta teh resep lain?" Tanya Komariah yang langsung tertawa.
Rita menepuk dahinya lalu teringat, "Oh iya ya. Hehehe.. makasih ya Teh Siti! Kalau begitu tukeran saja ya, Kom buka dong tasnya," kata Rita menepuk bahu Komariah. Lalu Komariah membuka tasnya yang memang penuh makanan sambil cengengesan. Ternyata saat ijin ke toilet Rita sempatkan diri ke toko sebelah buat beli keripik kentang 2 bungkus besar, tadinya buat dimakan bersama tapi tidak terduga, Teh Siti membawakan Rita yoghurt kesukaannya.
"Wah! Benar nih? Asyik! Tukar dengan ini?" Tanya Siti dengan kedua mata yang berbinar - binar.
__ADS_1
"Kita masih punya satu lagi kok buat nanti sambil kita kerjain tugas biar tidak bosan," kata Komariah memperlihatkan satu lagi. Mereka semua tertawa. Ney pun ikut melihatnya ukuran keripik kentang itu cukup dimasukkan ke dalam tasnya Komariah tentu saja dia juga menantikan.
"Yang itu dimasukkan ke tas saja Teh," kata Rita. Ney membuat bibirnya tampak marah karena menurut dia Rita tidak pernah memberikan makanan enak kepadanya. Lah selama mereka piknik, Rita bukannya memberi masakannya ya? Jadi maunya dia tuh Tita tidak beri apapun sama orang lain kecuali dia? Tapi kalau Rita tidak suka beri makanan juga, ya salah juga di mata Ney malah bisa jadi bahan gunjingan. Jadi?
"Kamu suka kasih orang makanan tapi kok aku jarang ya? Kamu pilih - pilih teman ya berarti tidak jauh beda dong sama aku," kata Ney dengan nada yang memang sengaja, entah apa maksudnya.
Mereka semua memandangi Ney dengan rasa heran. Cemburu? Iri? "Hah? Aku kan sering kasih makanan juga ke kamu. Lupa? Soal piknik, kamu aku kasih makanan buatan aku, lalu minggu kemarin cokelat yang dari Alex aku juga bagi buat kamu sama Arnila, sampai kamu mengemis lagi minta - minta terus sampai pulang untuk dikasih banyak cokelat lagi. Kamu lupa? Kamu sendiri pernah kasih aku makanan? Sumpah! Nyesel aku ajak kamu ke sini, eh tahunya kamu sebar fitnah. Heran kamu bisa hidup!" Kata Rita yang mulai meninggi.
Komariah menahan Rita yang bergerak maju menerjang Ney, Siti juga menengahi mereka. Wah, ini sudah tidak beres! "Sudah sudah tolong ya Teh Ney, tahu diri. Kita disini bukan untuk mendengar fitnahan omongannya Teh Ney, tapi kita untuk belajar kelompok bersama kalau teteh tidak bisa berdamai bisa pergi jalan - jalan saja,"
Ney yang mundur karena tidak menduga Rita juga bisa langsung menghantam di depan temannya. "Ya maaf, aku lupa kok kamu emosi sih? Aku kan biasa saja," katanya sambil mengibaskan rambutnya.
"Kamu tuh..." lalu di stop oleh Komariah.
"Kamu bisa kan nadanya dikontrol ya kalau bicara sama Rita atau orang lain. Kita disini tidak ada yang berusaha mengancam kamu tapi kamu dari awal sudah buat kita bete!" Katanya sambil terus pegangin Rita yang hampir meledak.
"Iya iya," Ney pun enggan menghadapi Rita yang bisa kapan saja menerkamnya. Bahkan Rita yang bisa menerjang siapapun kapan saja tidak membuat teman - temannya membencinya. Sepertinya Rita pernah berbuat sesuatu yang membuat semua temannya malah menenangkannya. Ney sebenarnya takut sekali pada Rita apalagi kalau sudah meledak karena dia ingat apa yang selalu Arnila katakan, jangan sampai dirinya membuat Rita mengeluarkan amarahnya. Meskipun Rita tidak memiliki khodam, tapi apa yang ada di dalam dirinya lebih berbahaya dan itu juga bukan Jin.
"Usir weh kitu?" Tanya Annisa yang memang dia juga tidak suka.
"Jangan dulu tapi kalau situasinya sudah diluar batas, kita bisa kasih peringatan. Heran banget baru kali ini lihat orang seperti itu. Hayulah! Ajak Linda. "Hei! Curang! Teh Siti suka kasih yoghurt terus ke Rita ari kita tidak pernah,"
"Hahaha tidak sengaja. Keingat saja ya sudah nanti aku beliin juga deh buat Linda, Annisa mau?" Tanya Siti. Mereka semua mengangguk lalu duduk bersama. Lalu Ney melihat Diana yang baru kembali juga dan senang namun Diana malah mendorong duduk duluan diantara Siti dan Komariah dan mereka sisanya menahan tawa.
"Eh, Diana duduk disini saja jangan di sana," ajak Ney kepadanya.
"Tidak usah, di situ pegal aku mau selonjoran," tolak Diana. Ney langsung merapihkan bajunya dan pindah tempat duduk, mereka semua hanya memperhatikannya.
__ADS_1
"Pemaksa banget ya ingin orang nyaman tapi orangnya sama sekali tidak nyaman. Tidak peka ya," kata Annisa sambil duduk bersila.
Ney tidak menggubris apa yang dikatakan Annisa dan lalu duduk di samping Diana, Diana tentu saja sebal melihatnya. Setelahnya Ney banyak mengobrol tapi Diana hanya menjawab singkat seperti, "Hmmm", "Oh," "Ya," kasihan sih melihatnya. Setelahnya Rita menghampiri Diana dan duduk didepannya lalu membagikan kertas tugas kelompok. Formasi pun berubah mereka menyadari kalau mereka harus memblok Ney yang terus berbicara tanpa henti.
"Lho kok pada duduk disini sih?" Tanya Ney yang kebingungan. Serentak mereka semua malah membuat lingkaran yang mengacak.
"Ya terserah kitalah memangnya ini taman punya kamu. Yok, Di!" Ajak Linda yang juga mulai mengeluarkan kertas tugasnya. Diana lalu selesai selonjoran dan menerima kertas dari Rita setelah meluruskan pergelangan tangannya.
"Eh, ini makanannya! Supaya lebih semangat," kata Komariah mengeluarkan beberapa makanan ke depan mereka.
Tampak Ney seperti melihat celah untuk bisa mengambil makanannya. Siti dengan sikap sopan tentu saja menawarkan pada Ney, dan Ney mengambilnya dengan senang hati. Makan dengan suara nyap nyap berisik. Tapi beberapa saat Siti yang mau mengambil lagi makanan, ternyata bungkusannya sudah habis duluan.
"Lho, perasaan yang makan ini belum semuanya kedapatan," katanya dengan suara kebingungan.
"Eh? Oh iya. Gila ada yang kelaparan sepertinya," kata Annisa melirik orang yang ada di belakang Rita yang dekat samping Diana alias Ney. Dia membawa banyak isi makanan itu ke dalam tasnya dan memakannya tanpa mendengar sindiran Annisa.
"Ya Allah," kata Siti sambil mengusapkan dadanya sendiri.
"Ini saja Teh Siti," kata Tamada mengeluarkan makanan yang dia bawa dari rumahnya juga.
Mereka semua lalu fokus dengan tugas mereka yang menumpuk dan sisa waktu yang mereka miliki hanya seminggu lagi. Ney sibuk memakan semua makanan sikapnya yang tadi manis, sekarang terbukti nyata aslinya. Dia dengan sikap 'Gue Tamu' tanpa rasa malu menghabiskan sebagian makanan yang mereka bawa tanpa menawari makanan mereka sendiri. Hanya suara kunyahan lah yang terdengar oleh mereka, terganggu? banget! Sudah suara kunyahan yang rakus lalu suara plastik makanan yang srek srek srek. Dalam hati mereka menyesal menawarinya makanan tapi memang mau bagaimana lagi ya.
Ney melihat Rita yang sedang fokus dan semangat menulis isi jawaban dari pertanyaan, membuatnya memiliki kesempatan berbisik pada Diana. Semuanya juga sangat fokus karena waktunya mepet!
"Eh, tahu tidak Diana, ada teman aku ya dia peliiit banget! Kalau punya makanan, sama sekali tidak pernah bagi ke aku. Padahal aku ini kan Sahabatnya dia heran kok bisa ya dia..." bla bla bla berusaha mengajak ngobrol Diana.
"Maaf ya aku sedang fokus mengerjakan tugas." Katanya lalu pindah tempat duduk pindah ke samping Rita kemudian menyenggol Rita dengan keras, Rita baru sadar kalau Diana pindah duduk. Diana menarik Rita untuk memadatkannya agar tidak ada celah setelah itu yang lain pun ikut sadar dan akhirnya saling bergeseran. Ney yang melihat Diana pindah tiba - tiba sama sekali tidak bisa bereaksi setelah tahu kemana Diana pindah. Kini dia tengah sendirian di belakang dan mengeluh tapi tidak ada satupun yang menggubrisnya.
__ADS_1
Hanya ada satu celah tempat duduk yaitu di sebelahnya Siti dan mereka tahu Siti sengaja menyisakan satu untuk memisahkan Ney dari yang lain. Ney menghembuskan nafas tidak suka tapi terpaksa daripada dia sendirian di belakang dan sulit menjangkau makanan. Dia duduk di sana dan melihat makanan di depannya lalu diam - diam memperhatikan semuanya. Tanpa malu dia membuka makanan itu dengan cara menggesernya ke tempat dia.
BERSAMBUNG ...