ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(307)


__ADS_3

"Ihhh sebal banget! Yang bully kamu kelas berapa?" Tanya Rita yang kesal padahal dirinya sendiri pun mengalami pembullyan oleh Alex dan temanya.


"Kelas 4," kata Alex waktu itu dia sendiri pun kelas 4 dan dikenal sangat tertutup.


"Eh...." kata Rita ternyata teman sekelasnya sendiri.


"Hahahaha! Mereka sangat tidak suka karena di kelas itu, aku sangat pendiam. Yah, masuk sekolah pun kadang tidak rajin karena kondisi jantung aku yang bisa kapan saja terhenti. Jadi ya memang tidak punya teman," kata Alex.


"Kalau teman perempuan?" Tanya Rita dia tentu saja penasaran seperti apa Alex waktu kecilnya.


"Paling terkenal karena sejak kecil saja ketampanan ku sudah terlihat 🤣🤣🤣🤣," kata Alex bangga sekali.


"Yayaya," kata Rita yang berpikir ternyata tidak perlu dicemaskan. "Lalu setelah itu bagaimana?"


"Ya semuanya jadi tahu dan orang tuaku dihubungi langsung oleh pihak sekolah dan mereka cerita kalau aku bisa mengerjakan soal kelas 6 SD ditambah soal kelas SMP. Mereka berdua juga terkejut ternyata tidak menduga sama sekali akhirnya yah dengan ijin kepala sekolah, aku naik tingkat langsung. Dan mereka mengakui kalau otakku di luar rata - rata malah lebih Profesor," kata Alex sambil senyum.


"Asyik ya punya otak pintar," kata Rita mengingat dirinya sewaktu SMP saja peringkatnya paling bawah.


"Tidak juga kalau bisa aku ingin punya otak yang setara dengan kamu. Jadi pintar memang enak mengerjakan apapun juga mudah, tapi tentu saja ada efeknya. Saya tidak punya teman yang Real dan... yah pasti kamu tahulah suka nonton film kan. Film mengenai orang yang punya banyak uang itu aslinya memang kesepian," kata Alex menjelaskan. Dia teringat ingin sekali memiliki teman asli tapi sulit dengan apa yang dia punyai.


"Coba kita kenalnya waktu kita masih SMP ya," kata Rita.


"Eh, kenapa memangnya?" Tanya Alex penasaran.


"Jadi aku bisa meminta kamu ajarkan semua pelajaran SMP supaya aku bisa mendapatkan nilai bagus," kata Rita dengan wajah usil. Seandainya bisa begitu bisa kenal Alex dari lama...


"Tidak mau! Kamu ribet, pasti akunya yang jadi bodoh," kata Alex tertawa.


"Bagus kan gantian, jadi kamu bisa tahu rasanya jadi orang yang IQ-nya biasa," kata Rita tertawa. Mana ada juga Rita mau parah banget nih orang.


"Begitu banget sih Kamu tidak mengerti di bagian mananya?" Tanya Alex yang juga penasaran. Pelajaran apakah yang Rita sama sekali tidak bisa. Dia juga tiba - tiba saja sudah membuka mencari pembelajaran SMP di Indonesia.


"Lho, kamu kan katanya ingin punya otak yang biasa kan. Ya sudah sini bertukar," kata Rita.


"Iya tapi sampai berganti otak dengan kamu sih... bagaimana ya rasanya?" Tanya Alex penasaran.


"Santai saya mah," kata Rita yang rebahan sambil memakan beberapa cemilan. Prita datang dan mengambil sebagian, otomatis Rita ambil yang baru. Prita datang lagi dan meminta lagi yang lain, Rita tunjuk lemari.


Alex menghela nafas memang sih Rita santai orangnya tapi yah pasti ada yang membuatnya stres juga. "Memangnya Apa saja yang kamu tidak mengerti semasa SMP itu?"


"Semuanya," kata Rita.


Alex terdiam. "Kamu ini memang bodoh ya. Masa semuanya?" Alex menepuk dahinya lalu menatap jawaban Rita.


"Aku bagusnya di bahasa Indonesia dan Inggris," kata Rita membuat Alex merasa lumayan jugalah.

__ADS_1


"Good! Matematika bagaimana Nilainya berapa?" Tanya Alex penasaran. Tidak terlalu bodoh juga.. pikir Alex tersenyum.


"Semuanya dapat nilai 0," kata Rita. Memang iya kok tidak ada yang ber-angka.


Alex membaca tanpa bisa berkata apapun. "........." Alex memegang kepalanya tanpa ada suara. 'Apa dia sebodoh itu ya?' Pikir Alex.


"Hehehe aku tidak suka matematika sih," kata Rita. Dia memang sangat lemah dengan pelajaran tersebut dan jelas teringat bagaimana ibunya memarahinya.


"Tapi masa kamu sebodoh itu sih? Benar - benar tidak ada yang ber-angka?" Tanya Alex yang menarik nafas dan menghembuskannya. Lalu tertawa sendirian.


"Ya bagaimana lagi," kata Rita tanpa rasa bersalah.


"Next... ada... Fisika?" Tanyanya dia menyamakan dengan pelajaran yang ada di Malaysia.


Rita : "Ada,"


Alex : "Nilainya rata - rata kamu dapat berapa?"


Rita : "5,"


Alex : "..........." ( membeku membaca jawaban ).


"Kimia? Eh, tidak ada ya?"


Alex : "Tidak ada. Sebentar IPA ada kan? Berapa sebutkan nilainya mana mungkin kamu bodoh dalam semua pelajaran kan," ( agak sedikit cemas ).


Rita : ( Mengambil lembaran nilai semasa dia SMP )


"Tidak dooong nilaku 9,"


Alex : "Alhamdulillah kamu bagus dalam bidang IPA ya?" ( merasa lega sambil mengelus - elus dadanya )


Rita : "Iya dong tapi kelemahan ku kalau membedah binatang aku tidak bisa. Itu juga ada nilainya namanya Nilai Praktik Bedah,"


Alex : "Berapa?"


Rita : "Nol,"


Alex : ".........yah... bagaimana nanti kalau kamu harus membedah ikan atau daging?"


Rita : "Kan ada yang sudah jadi tinggal dagingnya dibeli. Ribet banget sih harus bedah segala. Apa gunanya Departemen Stroke kalau begitu?"


Alex berpikir memangnya ada Departemen Stroke? Kemudian dia menampar kepalanya kalau Rita salah menulis.


Alex : "Store bukan Stroke. Kalau stroke semua yang belanja di toko akan mengalami serangan jantung!"

__ADS_1


Rita terdiam, apa iya ya lalu mencari ke Gugel dan benar saja kalau dia salah menuliskan lalu tertawa garing. "Oh iya! Typo! Untung kamu perbaiki,"


"Yakin kamu typo?" Tanya Alex agak meragukan.


"Bahasa aku bagus tahu!" Kata Rita sebal. Salah sedikit saja langsung diragukan.


"Buddy saja salah artinya kan makanya buat aku salah paham juga," kata Alex.


"Ahahahaha ya kalau itu sih memang kesalahanku. Lah?" Kata Rita tertawa dia teringat pada kata Buddy itu dan membuat semuanya salah paham terutama Ney. Nah soal Ney ini, Rita jelas saja dia merasa sangat aneh orang salah paham tapi dia seperti melihat itu nyata padahal aslinya tidak begitu. Saat dia tahu kalau Buddy itu salah arti, Ney hanya percaya kalau dia memang sahabatnya Rita.


"Buddy menutup kamu teman biasa, padahal artinya teman dekat😤😤😤," kata Alex yang sudan sama salah paham. Pantas saja dia melihat Ney sama sekali bukan teman dekatnya.


"Hahaha maaf maaf itu aku lihat dari lirik lagu sih," kata Rita yang memang dia lihat begitu adanya.


"Penyanyinya bodoh atau dia hanya asal saja membuat lagu!" Kata Alex sebal. "Tapi tak apalah kalau kamu tidak bisa membedah, aku bisa,"


"Oh ya? Serius. Nilai kamu pasti bagus juga ya. Bedah apa?" Tanya Rita penasaran. Dia membayangkan Alex membedah binatang.


"Membedah bagian perempuan dari kaki sampai ke bibir. Kamu nanti akan aku bedah kalau...." kata Alex saat mau melanjutkan.


"Next!" Kata Rita tidak mau memperpanjang masalah. Dia tahu pasti mesum ujungnya.


Alex tertawa dia tahu kalau Rita sudah tidak mau mendengar persoalan mesum, dia hanya terkekeh - kekeh membacanya tapi dalam hasratnya dia memang ingin membuat Rita jadi miliknya.


"Seni budaya ada?" Tanya Alex pasti ada sih Indonesia kan terkenal dengan banyak budaya. Pantas saja negaranya sangat iri pada negara Rita karena punya banyak alat tradisional.


"Ada. Itu 8 nilainya," kata Rita senang.


"Wooh! Kamu bagus juga di bidang seni suka memainkan alat musik juga?" Tanya Alex antusias akhirnya Rita ada satu yang diminati.


"Ada beberapa," kata Rita tersenyum.


"Bagus!!! Piano bisa?" Tanya Alex sangat senang. Meskipun semua pelajaran Rita tidak mampu setidaknya masih ada beberapa yang dia bisa lakukan.


"Bisa kalau mainnya per balok," kata Rita membuat Alex membeku. Per balok bagaimana sih?


"Maksudnya?" Tanya Alex kurang paham. Memangnya bisa?


"1 balok mainnya kalau orang lain kan bisa semuanya seperti Mozart," kata Rita.


"............" Alex menghela nafas lalu tertawa entah harus seperti apa responnya. Tapi sudahlah.


"Hehehehe," kata Rita harap maklumlah ya Alex.


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2