ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
The Last Rita & Alex


__ADS_3

"Aduh, punten nya Teh. Putra Tante memang begajulan," kata Ibunya yang mengagetkan semua orang termasuk Alex. Sang Ibu lalu menjewer anaknya sampai menangis. Asli!


Sebelum masuk, Ibunya Alex berpesan bahwa tidak perlu dengan pengawalan, mereka harus menjauh 7 meter dari kehadirannya.


"Lho? Lho? Lho?" Tanya Rita kebingungan. Lalu menatap Alex yang tengah meringis sedikitnya meneteskan air mata.


"I don't know about this," kata Alex dengan nada miris.


"Kamu benar-benar sudah meminta maaf kan dengan orang tuanya," kata Ibunya agak mengancam.


"OWWWW! Sudaaah sudaaaah," kata Alex dengan suara mencicit seperti anak kecil.


Rita agak iba melihatnya, Alex dihajar sama dia lalu sekarang dicubit telinganya.


"Saha nya punten?" Tanya Bapakku yang kaget ternyata Ibunya Alex bisa bahasa Sunda.


Ibu Alex dengan sopan bersalaman dengan orang tua Rita. "Nepangkeun Pak, abdi ibuna Alex. Hapunten tina kalakuan putra abdi ka putri anjeun. Lantaran dimanjakeun teuing jadi kalakuanana siga budak SD. Abdi oge kabeneran gaduh urusan di dieu. ( Perkenalkan, Pak, saya ibunya Alex. Saya minta maaf atas kelakuan putra saya ke putri Bapak. Karena dia terlalu dimanjakan jadi kelakuannya seperti anal SD. Kebetulan Saya juga ada urusan di sini ). Oh, jadi ini Rita. Kenalkan ya," katanya dengan suara yang ramah sekali.


Sekali lihat, Rita tahu Ibunya ini sangat baik hati dan tangannya hangat. Mereka bersalaman dengan tradisi Sunda. Alex terdiam menundukkan kepalanya, malu iya karena hanya dia yang tidak mengerti.


"Ohhh nepangkeun oge. Kami orang tuanya Rita, ah sudah biasa namanya juga anak-anak salah paham sedikit yah mau bagaimana lagi," kata Ibunya yang bersalaman juga.


"Huh, apanya yang sedikit. Banyak," gerutu Rita mendengar apa kata Ibunya.


Alex tahu karena Ibunya Rita tidak pernah membelanya dalam hal apapun. Bagi Ibunya semua masalah ini salah Rita, tidak dengan Bapaknya.


Rita dan Alex tidak bertengkar lagi. Alex meminta maaf dengan sangat dalam dan juga menyesal setelah bertemu Rita aslinya, semua pikirannya selama ini tidak tepat. Apalagi soal Rita memang memakai kerudung.


Mereka bertiga lalu mengobrol di saung dengan disediakan berbagai macam makanan. Ibunya banyak cerita mengenai Alex dan perubahan drastis yang dialami oleh Alex.


"Saya sangat bersyukur anak saya bertemu dengan anak Bapak Ibu. Hanya memang kelakuannya seperti preman karena selama ini selalu kena tipu perempuan," kata Ibunya Alex tertawa.


"Kelihatannya mereka sering diam-diam berkomunikasi ya. Rita sama sekali tidak pernah menceritakan soal putra Ibu," kata Ibu Rita.


Ibu Alex memindai Ibu Rita dan mengerti kenapa Rita tampaknya tidak bisa jauh atau pergi dari Alex. Rita juga tampak kekurangan kasih sayang dan sikap peduli dari Ibu dan Bapaknya.


Rita kala itu menepuk punggung besar Alex yang tersedu-sedu kesakitan akan kedua pipinya lalu sekarang telinganya. Rita menatap Alex dan menahan tawa karena memang seperti anak kecil.


"Tidak kuduga ya Ibu kamu bisa Sunda," kata Rita menatap kedua orang tuanya yang akrab mengobrol.


"Iyalah, keluarga Mom itu sebenarnya orang Sunda. Aku tidak ceritakan karena kamu dan Mom pasti akan banyak mengobrol Sunda," kata Alex.


Rita menatapnya dengan wajah datar tapi tidak kuasa untuk mencubitnya. Badan beruang tapi dijewer bisa juga menangis.


"Oh iya. Prita, Tyas kenalkan ini Alex yang Teteh pernah cerita itu. Ini adik aku, Prita," kata Rita memperkenalkan.


Alex memerah, dia malu sekali sudah agak menangis. Prita menahan tawa dan berkenalan. "Hai, adiknya Rita. Kalian kembar?" Tanyanya.


"Hahaha adik kakak saja nama hampir sama ya," kata Prita.


"Ini Tyas. Anaknya adik ibu aku," kata Rita.


"Hai," kata Tyas agak dingin. Menatap langsung ke arah Alex, membuatnya tidak mampu berkata apapun.


Rita dan Prita memandangi Tyas lalu Alex.


"Sudah sudah, yang lalu kan sudah berlalu,* kata Prita menenangkan Tyas.


Alex tahu bila Tyas bisa melihat masa yang telah lalu, dan tahu juga kalau dia sangat naik pitam dengan apa yang dilakukannya pada Rita.


"Hanya karena Teh Rita polos, tidak semestinya kamu berbuat seenaknya," kata Tyas lalu pergi dengan Prita.


"Ahhh kelihatannya dia tahu," kata Alex.


"Apanya?" Tanya Rita.


"Soal aku merundung kamu. Lalu Kakak kamu ikut?" Tanya Alex.


Saat itu Alex merapihkan rambutnya yang berantakan. Rita agak terpana melihat penampilannya, sangat keren dan... mleyot kan jiwaaaa. Astagfirullah!


"EHEM! Tidak, kakakku ada pekerjaan dan sibuk dengan anak-anaknya. Kamu sedang sibuk tidak?" Tanya Rita yang agak memerah wajahnya.


"Ya aku kan kesini untuk membantu tugas kamu," kata Alex yang menangkap wajah merah Rita dan tertawa kecil. "Ternyata bukan hanya aku saja yang gugup, Rita juga. Apalagi kelihatannya wajah kami sama-sama memerah dan salah tingkah. Thanks Mom," pikir Alex memandangi Ibunya.


"Kalau begitu, tugas kamu menyebutkan nama-nama ikan. Aku yang menulis," kata Rita menyerahkan lembaran pertanyaan.


Tyas dan Prita sudah tentu ikut dengan mereka membantu tugas Rita. Sambil mengerjakan tugas, mereka melakukan hal yang kocak. Mereka berfoto dengan pose yang konyol sambil Rita menandai tugas yang sudah selesai.


Syakieb dan Fernando juga ada dengan mengenakan baju bebas. Namun Fernando agak jauh karena takut di bombardir oleh Rita. Syakieb mengajaknya masuk dan memperkenalkan Rita pada keponakannya yang asli.


Tyas juga berkenalan dengan Fernando, sepertinya ada bulir-bulir jeruk di antara mereka eh butir-butir cinta. Cieeee.


Di tempat lain, Ney merasa waktu bergulir sudah cukup lama namun masih belum melihat Rita yang keluar dari tempat ikan itu. Gerakan Ney pun memasuki zona merah para pengawal yang menyamar dan menginformasikan hal itu pada Syakieb dan Fernando.


Kebetulan mereka semua berada di area kolam laut dan terdapat beberapa souvernir seperti topi, gantungan kunci, baju, bahkan tas. Tentu saja pegawai sana juga terdapat beberapa pengawal pribadi Alex. Rita sama sekali tidak sadar karena sibuk menulis nama ikan.


Syakieb memberikan kode dan Alex tahu ada bahaya yang mendekat. Dengan sigap, pengawalnya memberikan topi kupluk dengan telinga gurita.


"Ngapain kamu pakai topi begitu? Aku tidak suka gurita," kata Rita agak menjauh. Dia melihat seakan kepala Alex tengah dimakan oleh gurita.


Tyas dan Prita mengerti dan memberikan topi kupluk dengan telinga kelinci yang lunglai ke bawah. Prita membelinya untuk diberikan kepada tiga keponakannya nanti.


Rita heran tapi sadar kenapa Alex bertingkah begitu lalu dia memandangi sisi lain. Ney!


"Rita, kamu sudah selesai? Lama sekali sih jadi aku menyusul ke sini. Itu siapa?" Tanya Ney menatap Alex dengan pandangan aneh.


"Manusia," kata Alex yang matanya tersembunyi dalam topi tersebut.


Ney menyengir dengan wajah menyebalkan dan jutek, lalu bertingkah sangat sok dengan mengibaskan rambutnya. "Kamu masih lama? Mana bukti katanya mengerjakan tugas paling juga kamu keceng laki-laki," kata Ney menjulurkan tangannya.


"Nih, lihat! Aku bukan tipe pembohong seperti kamu ya," kata Rita memperlihatkan tugasnya.


Ney melihatnya dan bertingkah salting. Alex memandangi Rita, Rita sama sekali tidak mengubah perilakunya meskipun ada Alex. Tidak seperti kebanyakan perempuan yang terlihat baik di depannya.


Sambil memainkan ponselnya, Ney memandangi Tita yang kembali menulis. "Terus... hmmm kamu tidak ada janji gitu... sama Alex? Kan mumpung lagi di Malaysia," katanya memainkan sendalnya.


Rita berpikir menatap Alex yang berdiri di sebelahnya. Sorot matanya memberikan kode, 'Awas kalau kamu beritahu!' Rita mendengus.


"Pri, bantuin sebutin namanya dong. Lalu hitung ada berapa jumlahnya," kata Rita tidak memperdulikan apa kata Ney.


Ney kesal dia sama sekali tidak di pedulikan. Alex membaca Ney tanpa dia sadari. Topi itu sangat tepat membuatnya tidak dapat dikenal lalu Alex duduk di samping Rita.


Ney memandanginya dengan heran, Syakieb dan Fernando sudah lebih dulu menjauh sebagai tamu di tempat itu.


Lalu Ney menarik Rita seenaknya, untung sudah selesai. "Kamu kenal sama dia? Tampan tidak? Sepertinya orang Melayu ya," kata Ney menatap sambil menjilat bibirnya.


"Ingat ya kamu sudah menikah. Aku mau kenalan sama siapa juga bukan urusan kamu deh," kata Rita membalas.


Ney tidak peduli dia lalu membetulkan lipstiknya lalu menyemprotkan parfum. Alex sudah biasa juga melihat kelakuan perempuan genit seperti Ney.


"Kamu kan baru kenal biar aku yang uji dia deh. Eh, minggir deh aku mau bicara," kata Ney dengan nada angkuh.


"Sebelum kenalan sama dia lebih baik kamu ngaca deh. Make up saja belepotan begitu, yang ada kamu diketawain sama tuh bule," kata Rita menahan tawa lalu pergi.


Ney yang mendengarnya seakan tidak percaya lalu mengambil cermin. Ya benar saja make up-nya sama sekali tidak rapih. Apalagi lipstiknya karena bibirnya tipis, jadinya lipstik keluar garis. Padahal kan ada kuas ya?


Alex menganggukkan kepalanya mau ada dia atau tidak, memang Rita sangat berani berhadapan dengan siapapun termasuk orang yang menyebalkan. Alex melihat Rita, memang itulah Rita.


Setelah merapihkan semuanya Ney berusaha berada di dekat Alex tapi Alex selalu menghindar apalagi sering berada di antara Prita dan Tyas. Karena gagal terus, akhirnya Ney mengikuti Rita yang sedang membuat gambar ikan.


"Kenapa lu?" Tanya Rita tanpa menatapnya.


"Dia kelihatannya enggan aku dekati. Siapa sih namanya?" Tanya Ney masih memandangi Alex.


Rita kebingungan. Alex tahu lalu menghampirinya. Ney tersenyum padanya namun tidak dipedulikan oleh Alex. Dia sudah membenarkan baju dan lainnya.


"Hai, what's your name?" Tanya Ney menjulurkan tangannya.


"Gordon. Maaf bukan mahram," kata Alex menyilang kan tangannya membuat Ney menarik tangannya dan malu.


"Oh iya ya. Jadi kamu bisa Bahasa toh. Kamu kenal sama Rita pasti bersalaman kan," kata Ney yang memainkan rambut panjangnya dengan jutek.


"Terus kenapa?" Tanya Rita.

__ADS_1


"Ya kok dia mau sentuh kamu tapi aku tidak?" Tanya Ney.


"Ya suka-suka dia lah. Lagian kita kenal sudah lama jadi tidak perlu bersentuhan tangan kan," kata Rita menatap Alex tertawa jahil.


Alex membalas senyumnya hanya pada Rita, membuat Ney agak canggung. "Jadi sudah kenal lama? Dengan Alex lama siapa?" Tanya Ney sengaja memancing agar 'Gordon' menyesal.


"Alex?" Tanya "Gordon" kepada Rita.


"Nah lhooo kamu tidak cerita soal Alex? Wah wah sepertinya ada yang selingkuh ya. Apa bedanya coba dengan aku," kata Ney dengan sok menatap Rita dengan senyuman.


"Alex Haryaka Alfarizki? Saya kenal dekat dengannya, saya disini di utus sama dia untuk membantu Rita. Masalah buat kamu?" Tanya "Gordon" dengan tajam.


"Oh," jawab Ney yang salah tingkah. Dia agak aneh ternyata Alex tahu kalau Rita datang ke negaranya.


Setelah itu orang tua Rita dan Ibunya Alex selesai bicara dan beliau pamit untuk undur diri karena masih ada pekerjaan. Lalu mendatangi Rita, dan Rita agak panik juga pasti Ibunya tidak tahu soal ini.


Ibunya memandangi Alex dan Alex memberikan kode tidak saling kenal. "Teh, nanti siang kita makan bersama ya. Salam kenal ya semoga kamu memaklumi kelakuan anak Tante," katanya sambil tersenyum ramaaah sekali. Sambil memegangi kedua tangan Rita yang gemetaran.


Ney agak penasaran dia melihat penampilan Ibu Alex yang super glamor. Tas merk, sepatu, perhiasan dan lainnya. Lalu memandangi Rita, dia bertanya-tanya siapa.


"Iya Tante. Mau dimana?" Tanya Rita agak gugup.


"Ah, di tempat kamu menginap saja ya. Nanti Tante bawa dia kesini," kata Ibunya Alex memberikan kode.


"Siap, Tante," kata Rita.


Kemudian Ibu Alex pergi dengan beberapa orang. Ney mendekat agak kepo pastinya.


"Rita, itu siapa? Kok seperti kenal dekat sama kamu sih," kata Ney.


"Oh, teman Ibuku. Tadi bertemu di sini, ya akrab lah sudah kenal lama juga," kata Rita melirik Alex.


Ibunya Alex masih sempat mendengar dan tertawa. Tahu kalau Rita enggan menceritakan siapa dirinya kepada Ney.


Ney menganga. "Berkelas sekali ya bajunya itu kamu tahu tidak? Itu kan merk... lalu harganya ... ibu kamu bisa juga ya punya teman orang kaya," kata Ney dengan suara meremehkan. Macam kakaknya.


"Sudah! Aku tidak peduli dengan isi mulut kamu atau otak miring kamu ya. Soal merk, harga selangit atau yang mahal murah urusan kamu sekali sih? Orang seperi kamu itu yang tidak akan pernah jadi kaya tahu! Bete sekali dengar kamu bicara harta!" Kata Rita menarik kemeja Alex untuk pergi dari sana.


Ney diam mendengarnya jelas dia iri juga soal orang tuanya memiliki kenalan horang khayah.


Tyas dan Prita melewatinya dan mengibaskan rambut mereka. Ney kesal sekali dia menghentakkan kakinya di lantai.


"Sudah, jangan didengarkan. Genit sekali ya aku merinding saat dia terus berdiri di dekatku tadi. Sudaaah jangan kesal, aku beli jajanan ya. Ya? Ya?" Tanya Alex dengan senang.


"Benar? Kamu yang bayar ya," kata Rita.


Ibu dan Bapaknya mengerti saat Prita dan Tyas memberitahukan apa yang tengah terjadi. Alex benar-benar membayarkan semua cemilan yang dia beli. Ney tentu saja tidak bisa kemana-mana dan datang lagi, lagi-lagi berusaha di dekat Alex tapi dia duduk antara kedua orang tua Rita.


Ney yang melihatnya sebal tapi dia juga ikut makan. "Rita, kamu bisa genit juga ya sudah kenal sama Alex eh sekarang sama Gordon. Apa bedanya coba sama aku," katanya sambil makan secara nyaplak ( makan dengan suara ).


"Beda dong. Laki-laki yang kamu incar kebanyakan pas-pasan kan? Yang ganteng juga semuanya nolak karena kamu tidak berkualitas," kata Rita se bodo amat.


Ney mendengarnya dan ter batuk. "Ya itu kan mereka saja yang seleranya rendah," kata Ney.


"Rendah? Orang tampan itu pasti banyak berpikir lho daripada milih yang murah lebih baik yang mahal sekalian. Seperti ini, permen tanpa pembungkus kalau di taruh dikerubungi semut dan lalat kan," kata Rita menunjuk ke permen yang tergeletak di tanah.


Ney dengan agak marah enggan memperhatikannya. Alex geram sekali pada kelakuan Ney tapi dia enggan pindah karena akan menyusahkan Rita lagi.


"Coba lihat permen yang ada pembungkusnya. Banyak diminati kan," kata Rita memakan popcorn keju.


"Rita, ini enak lho. Coba deh. Jajanan negara saya tidak kalah enak dengan Negara kamu," kata Alex yang memberikan sekotak makanan.


Ney agak sebal melihatnya. "Sini aku juga mau," kata Ney dengan suara agak keras sambil berusaha mengambil makanan Rita.


"Ih, tidak malu ya siapa yang dikasih juga. Selama ini jadi begitu ya ke kakak saya seenaknya. Merundung juga seenaknya, alasan untuk kebaikan dia ternyata supaya kamu dilihat baik ya sama Alex," kata Prita berbalik.


"Katanya punya banyak uang kenapa tidak beli malah minta," kata Tyas dengan cueknya.


Ney tidak jadi lalu melemparkan garpu plastik dan dia berdiri pergi entah kemana. Sekembalinya dia membeli banyak makan dan pamer memakannya mereka semua mengacungkan jempol.


Alex memberikan makanan khas Malay kepada kedua orang tua Rita, sebagai penebusan. Mereka tampaknya menyukai Alex, Ney masih heran menatap Rita.


Setelah itu Tyas mengajak Rita menuju toilet lalu kedua orang tuanya duduk dekat kolam ikan sambil mengobrol. Ney melihat Rita yang menjauh dan dengan senyum mengembang melihat "Gordon" tengah duduk sendiri.


"Eh, kamu kok mau sih kenal sama Rita? Dia itu sudah ada yang punya kamu mana mungkin ada kesempatan. Lagipula orang biasa kan ya," kata Ney duduk di samping Alex.


Alex menggeser duduknya dari Ney, Ney sadar memang dia ditolak! "Tidak apa-apa berteman kan tidak perlu melihat dia sudah punya atau tidak. Atau kamu yang sebenarnya ingin kenal dekat dengan saya?" Tanya Alex.


Ney merapihkan rambutnya. Kini dandanannya sudah rapih. "Duh, jangan sama Rita deh. Ya aku memang ingin kenal sama kamu sih, kamu kenal Rita nanti menyesal lho," kata Ney.


Alex menyengir. "No thanks. Saya masih normal ternyata kamu genit ya orangnya kalau suami kamu tidak ada. Itu tidak baik, setidaknya kamu harus lebih memperhatikan gaya berpakaian kamu," kata Alex tanpa memandangi celana pendek Ney.


"Biarkan saja suami aku kan jauh mana tahu dia kalau aku disini. Oh iya Gordon, aku minta nomor kamu dong," kata Ney mengaktifkan ponselnya dan memberikan ponselnya pada Alex.


"Kamu temannya Rita?" Tanya Alex tanpa menyentuh ponselnya Ney.


Ney lalu memasukkan ponselnya memang "Gordon" tidak tertarik padanya. "Iya, aku sahabatnya dia," kata Ney senyum.


"Hahahaha kalau memang sahabat tidak mungkin kamu akan genit kepada teman kenalannya. Menurutku itu hanya asumsi kamu saja, kamu tidak cocok berteman dengan Rita. Orang biasa kan ya," kata Alex membalikkan lagi perkataan Ney.


Ney gugup. "A-aku tidak genit kok dan aku memang sahabatnya dia. Ya aku hanya sayang saja sama kamu lebih baik cari yang lain saja," kata Ney dengan pandangan iba palsu.


"Kenapa?" Tanya Alex.


"Aku hanya memberikan peringatan saja kalau nanti kamu akan dipermainkan sama dia lho. Dia punya kenalan yang lebih kaya kamu tidak ada apa-apanya deh dibanding dia," kata Ney.


"Yang namanya Alex? Kamu percaya dia kaya kalau ternyata sama dengan aku bagaimana?" Tanya Alex menyengir.


"Mana mungkin orang biasa aku tahu lho semua tentang dia. Keluarganya super tajir! Aku yakin Rita suka sama dia juga karena hartanya lalu dia kan penyakitan, pasti aku yakin Rita hanya iba saja ke dia. Kasihan ya," kata Ney.


Alex mengepal kedua tangannya mendengar Ney mengatakan itu. Ney menyaksikan itu dan tertawa senang, setelah ini pasti akan terjadi masalah pada Rita. "Gue gitu loh lu berani lawan," pikir Ney.


"Jadi menurut kamu, aku bukan tipe Rita?" Tanya Alex menahan amarah.


"Ya bukanlah. Kamu itu orang biasa, rakyat jelantah," kata Ney dengan nada meremehkan.


"Kamu juga rakyat biasa yang hanya bisa menjelekkan orang. Aku dengar dari dia, dia lebih suka orang biasa daripada yang sultan. Kamu tidak tahu ya?" Tanya Alex.


Ney menggigit bibirnya. "Serius Rita bilang begitu?" Pikirnya. "Masa sih? Ke aku tidak kok, dia suka orang kaya dan itu adalah Alex. Tuh dari situ sana memangnya kamu masih bisa percaya sama dia?" Tanya Ney memandangi tangannya.


"Jadi kamu lebih setuju kalau Rita dengan Alex daripada dia dengan aku? Kamu matre ya," tebak Alex.


"Kenapa memangnya? Aku tidak matre kok kamu salah dengar kali," kata Ney.


"Aku kan dengar kamu bicarakan Alex lalu soal barang yang dipakai Ibu glamor tadi. Lalu kamu terus bilang soal harta pada Rita. Kalau kamu memang temannya tidak akan ada pemaksaan dia harus bertemu Alex atau... membicarakan kekayaan orang lain terutama aku," kata Alex mulai naik kesalnya.


Ney jutek dan tertawa sambil mendengus. "Ya aku lebih setuju Rita dengan Alex. Alex itu punya kekuatan dan kekuasaan ya, harta BANYAAAKKK lebih dari kamu yang orang jelantah. Kalau Rita jadi sama dia, ya aku juga akan kena sorot dong. Jadi lebih baik kamu menjauh deh dari dia. Mundur!" Kata Ney berkata jujur.


"Akhirnya keluar juga yang aslinya," kata Alex bergumam. Inilah sebabnya Rita memang tidak mau lagi dekat dengan Ney terlihat dari kelakuannya sekarang.


Seharusnya sejak lama dia mengerti alasannya. Manalah ada yang bisa tahan bila orang terus mengungkit kekayaan orang lain? Alex menghembuskan nafas dari mulutnya, Rita banyak sekali masalah dengan Ney.


Tahu Rita keluar, Ney bergegas pindah tempat duduknya. Dan membuka ponselnya sambil tersenyum senang.


"Kenapa?" Tanya Rita melihat Alex yang tidak biasanya.


"Tidak apa-apa. Nih makan," kata Alex kehilangan nafsu semangatnya.


Rita kebingungan lalu menatap Ney yang duduk di depan Alex. "Kamu bicara apa sama dia?" Tanyanya curiga.


"Tidak ada kok. Kamu masih pilih Gordon? Tidak cocok lho," kata Ney berdiri di sisi Rita.


"Kamu juga selalu bilang begitu lho soal aku dan Alex. Lupa? Aku masih ada kok isi chat kamu. Kamu bilang tidak setuju sama Alex sampai bilang kalau aku sama dia, akan mengalami kecelakaan. Lu jahat ya," kata Rita membeberkan semuanya.


Ney gugup membaca chatnya. "Bu... ya memang begitu kok yang aku lihat," kata Ney membela diri.


"Itu doa kamu. Kenapa? Karena kamu iri hati sama kehidupan saya. Kamu ini tidak pandai mensyukuri apa yang sudah kamu dapatkan. Apa sih salahnya suami kamu? Kan kamu yang maksa menikah secepatnya. Terus sekarang sama dia?" Tanya Rita mulai marah.


"Kalau kamu sama Gordon, kehidupan kamu akan menderita. Aku ini peduli sama kamu," kata Ney yang memegang tangan Rita tapi dihempaskan.


"Kamu-tidak-pernah-peduli. Kamu hanya ada saat aku senang, Ney. Sakit? Ya aku sakit hati sama kamu. Mau aku pilih Alex kampret atau Gordon, itu bukan urusan kamu! Aku tidak pernah tanya pendapat kamu kok," kata Rita lalu duduk memakai kaos kakinya.


Alex lalu tertawa mendengarnya. Semuanya akhirnya terbuka karena Ney masih belum tahu bajwa Gordon adalah Alex. Alex bertepuk tangan.

__ADS_1


Tyas sudah pergi tidak mau ikut campur.


"Sudahlah Ney jangan bertindak kamu penting. Bagi aku, kamu sudah bukan orang spesial bagi aku," kata Rita menatap Ney.


Ney menangis. "Aku beri saran itu untuk kebaikan kamu, Ritaaa. Untuk kebaikan kita," kata Ney.


"Bulshit! Dengar ya aku pilih orang biasa atau kaya, tidak ada urusan sama hidup kamu. Aku tahu sangat tujuan kamu mendekati aku berusaha dekat lagi, tapi itu tidak akan terjadi lagi Ney. Maaf semenjak kamu merundung ami dan lebih membela orang asing, rasa respect aku ke kamu itu hilang. Akuuu yang kamu kenal sudah lama, tapi kamu bela orang asing yang punya banyak uaaang. Paham? KAMU-JUAL-AKU!! KAMU-JUAL-PERTEMANAN KITA," kata Rita dengan panjang.


Ney terdiam dia tersedu-sedu dengan air mata kebohongan. Dia salah besar sudah kepalang sangat dalam.


"Kamu bilang kebaikan kita?" Tanya Rita mendekati Ney.


Ney mengangguk menatap Rita. Rita tahu jelas air mata tulus karena kesakitan dengan palsu.


"Itu-tidak-pernah-ada. Untuk kebaikan kamu," kata Rita menekan bahu Ney dan mendorongnya ke belakang.


"Bukan begitu," kata Ney berusaha menjelaskan.


"Aku tahu kalau aku dekat Alex, pamor kamu akan naik. Itulah-tujuan-kamu, aku tidak pernah percaya ada kebaikan untuk kita," kata Rita.


Rita jadi lupa kalau Alex ada disana tengah berdiri dia menahan amarahnya. Rita telah mengatakan apa yang telah dia katakan juga.


"Berhentilah pura-pura menangis, Ney. Air mata kamu tidak pernah ada ketulusan seorang teman," kata Rita.


Ney lalu tertawa mendengarnya. Dengan keras membuat Alex menganga tapi Rita tidak berubah sedikitpun. Alex menutup mulutnya, dia meremehkan Rita.


"Iya kenapa? Masalah buat kamu? Hebat ya kamu bisa tahu kalau aku menangis pura-pura," kata Ney mengusap air mata palsunya.


"Tahulah, 10 tahun kan kita kenal dan aku tahu hanya aku yang bisa mengenali kamu. Sedangkan kamu menolak kenal aku," kata Rita. "Kamu yang asli sangat jauh dari kata cengeng, itu hanya masalah pada kepribadian kamu," katanya.


"Masalah kepribadian?" Tanya Alex.


"Dia pernah menyuruh aku datang ke psikiater. Tapi ya aku normal, dokter itu bingung justru kata dokter orang yang menyuruh aku datang itulah yang gila. Dialah yang punya kepribadian ganda tapi minus sisinya. Sama saja dengan aslinya," kata Rita dengan santai.


Ney mengangkat rambutnya dan tertawa. "Alex itu tahu tidak dia tidak pernah percaya sama kamu! Kamu pasti baca kan dia selalu membela aku, mau kamu bilang apapun dia akan tetap membela aku. Miris ya kamu yang ken dia tapi aku juga yang dia anggap sebagai sahabatnya. Hahaha kamu mau suka dia seperi apapun, akulah sahabatnya dia HAHAHAHA!!" Kata Ney tertawa dengan keras dan bangga.


Rita ingin membalasnya namun, dicegah oleh Alex. "Lah, aku lupa kamu masih di sini, Alex," kata Rita dengan keras.


Ney lalu berhenti tertawa saat mendengar Rita menyebut nama Alex ke arah Gordon. "Tunggu.. Alex? Dia Alex?" Tanya Ney berhenti bicara. "Kamu bohong kan,"


Rita lalu dibekap mulutnya oleh Alex sendiri. Bagian ini adalah miliknya dan tidak akan membiarkan Rita mengambil.


"Ppffft!" Kata Rita marah tapi tidak mencakar Alex.


"Aku percaya Rita daripada kamu, Ney. Sekarang sudah jelas semuanya kalau memang benar kamu bukan sahabat Rita. Dan dengan tingkah kamu yang seperti orang gila, secara tidak sengaja aku mendengarkan hal yang ingin alu ketahui dari kamu sendiri," kata Alex membuka topinya dan merapihkan rambutnya yang membuat Rita mleyot.


Ney lalu membuka akun Alex yang terkunci kali ini. Benar! Gordon itu... ALEX!?!? Ney mematung di tempatnya, dia tidak percaya dan wajahnya memang sangaaat terkejut.


"Ka-Kamu... tidak mungkin..." kata Ney tidak percaya.


"Iffi Ale'," ucap Rita yang dibekap mulutnya.


"Aku sangat kecewa, aku pikir kamu tidak mungkin seperti yang aku duga. Kenalkan, Aku Alex Haryaka Alfarizki dan aku memang hanya rakyat jelantah yang miskin dan biasa. Ney, kamu mengecewakan aku, aku pikir bisa suatu hari nanti menitipkan Rita pada kamu tapi kalau begini... memang benar aku yang salah, salah menganggap kamu sebagai sahabatnya," kata Alex menaruh topi itu ke atas meja.


Ney tidak bisa berkata apapun, dia membeku di tempatnya. Semua yang dia katakan dengan jujur telah dimuntahkan, membuat Alex dan Rita well, Alex ya kini kecewa juga dan enggan menerima lagi perkataan Ney mengenai Rita.


"Alex, yang tadi itu bercanda kok aku hanya mau menguji kamu saja," kata Ney membenarkan rambutnya yang berantakan dan wajahnya.


"Sudah yuk. Kita ke tempat berikutnya, waktu kumpul nanti sore sih," kata Rita yang tangannya digenggam oleh Alex. Wajah Rita memerah padam untungnya Alex masih menatap tajam ke arah Ney.


"Ayo. Yang toxic sudah pasti akan tetap toxic," kata Alex memasukkan satu tangannya dengan keren.


Menjelang malam Bapak dan Ibunya sudah ada di hotel dan istirahat. Rita membelikan kue kesukaan Alex yang langsung disambutnya.


"Maaf ya karena kehadiran aku, malah membuat kamu susah sejak tahun lalu," kata Alex menggenggam tangannya sendiri. Alex mengingat bagaimana perihnya Rita yang telah dikhianati oleh Ney secara sadar atau tidak. Tampaknya itu adalah batasnya.


"Dari awal kenal kamu juga sudah susah. Bodoh!" Kata Rita menjitak kepala Alex.


Semenjak itu Ney tidak lagi mengganggu mereka, dirinya melewati mereka berdua pun sama sekali tidak dilirik. Akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke Indonesia seorang diri.


Pukul 8 malam, dia sudah bersiap pergi tapi penasaran lagi melihat keadaan Rita. Ney melihat penampakan yang membuatnya sangat kaget namun tersenyum miris. Entah iba atau senang. Rita dan Alex berpegangan tangan sambil mengobrol.


Ternyata mereka sekeluarga tengah makan malam bersama Ibu yang Ney lihat. Dia juga kaget ternyata Ibu itu Ibunya Alex. Terlihat jelas Alex terus menatap Rita dengan lembut kadang Ney mendapati Alex agak menangis, tahulah dia banyak mengecewakan Rita.


Makan malam berakhir dengan suasana ceria.


"Alex," kata Rita.


"Hmm? Kangen?" Tanya Alex jahil.


Di cubitnya badan beruang Alex dan dia meringis.


"Besok aku pulang," kata Rita.


"APA!?!?" Teriak Alex membuat semuanya menatap dirinya.


"Aku tunggu kamu di Bandung ya," kata Rita mencubit dagunya dengan keras.


"Iyhaaah Syaaap," kata Alex menahan sakit.


"Teh Rita masih dendam ya," kata Tyas tertawa.


Mereka menggelengkan kepala keusilan Rita dan Alex memang tidak ada matinya. Para pengawal pun harus menahan tawa mereka supaya tidak meledak.


"Besok jangan pergi dulu ya pokoknya aku akan antar kamu ke bandara sampai pesawat," kata Alex bertingkah anak kecil.


"Oke!" Kata Rita melambaikan tangannya pada mobil Alex dan Ibunya.


Mereka lalu masuk kamar masing-masing dan saat Rita menuju kamarnya, Ney menarik tangannya.


"Rita, aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf!" Kata Ney dengan nada yang sebenarnya.


"Aku sudah memaafkan kamu sejak lama," kata Riya dengan malas berbalik lagi.


"Kalau begitu kita jadi teman lagi ya. Oh ya tadinya aku mau pulang malam ini tapi tidak jadi. Besok kita pergi main yuk ada cafe yang enak lho," kata Ney kembali ceria secara instan. Aneh? Sudah biasa. Ingat? Kepribadian ganda nya.


Rita memandanginya dengan wajah mengerikan. Dia menjaga jarak dengannya. "Besok aku pulang. Kamu pergi saja sendiri sudah biasa kan bermain sendirian," katanya.


Ney diam memandangi Rita dan menangis lagi. Lalu Rita melupakan sesuatu dan keluar lagi. "Hei,"


"Ya?" Tanya Ney dengan ceria lagi.


"Aku tidak mau berteman lagi sama kamu, lebih baik kamu cari teman lain saja. Dah," kata Rita menutup pintu kamar.


Ney diam di lorong lalu seketika itu menangis dengan keras. Benar-benar menangis yang aslinya. Dia berkata sesuatu yang aneh, beberapa orang mendekatinya namun dia usir dengan kalimat menyakitkan.


Besok paginya Rita dan para guru serta keluarga berada di bandara. Namun tempat itu sepiiii sekali, mereke keheranan. Saat mereka memasuki lorong menuju pesawat, mereka di sambut dengan pemandangan indah.


Pepohonan Sakura buatan yang bertebaran sepanjang jalan menuju pesawat. Mereka semua terpukau. Alex muncul dengan seragam resmi entah ke kantor sepertinya. Pokoknya sangat keren!


"Nih, oleh-oleh dari negara aku," kata Alex dengan wajah ceria. Tidak lupa atas perintah Alex juga menyuruh orang mengirimkan bingkisan sederhana untuk Ney.


Rita menerimanya juga para guru, meski tidak istimewa untuk Rita dan keluarga.


"Jangan lupa ya ke Bandung," kata Rita memandangi wajah cerah Alex.


"Iya, aku pasti datang ke sana. Tunggu ya," kata Alex berjalan mengantar Rita.


"Oh iya Alex, kenapa kamu mengirimkan kerudung?" Tanya Rita yang sedikit lagi mendekati pintu pesawat.


Alex senyum sedih dan merasa bersalah.


"I know hard to heal that pain but if I could makes you laugh, i wanna try little things that you deserve for happiness. Kamu tahu kan artinya?" Tanya Alex menatap wajah Rita.


Rita senyum malu. "Kamu aslinya romantis ya tapi aku bukan tipe romantis," katanya.


"I know, don't worry. I understand now," kata Alex. Ingin sekali dia memeluk Rita tapi ada satpam galak di dekatnya. "*Can I kiss you?"


"Wanna die*?" Tanya Rita memberikan tatapan setajam golok.


Setelah itu Rita dan lainnya pulang tanpa mengetahui bahwa Alex memegang beberapa tiket menuju Indonesia.


🤩🤩 Dan di sinilah kita berpisah sementara waktu. Terima kasih untuk para pembaca setia novel ini. Terima kasih atas dukungan kalian semuaaaa.. See you at next Season. Byeeee 🤩🤩🤩

__ADS_1


...TAMAT SEASON 1...


__ADS_2