
"Siapa tuh yang berani kurang ajar sama kamu? Kalau butuh bantuan hubungi aku saja," kata Sadam menepuk dadanya.
"Urusan berantem nomor satu, urusan tugas sekolah nomor sepuluh. Untung juga ya bisa lulus," kata Rita menggelengkan kepalanya. Sadam tertawa rambutnya diacak-acak oleh teman dekatnya.
Ney yang melihatnya juga ikut tertawa. "Kalau aku dekat Rita pasti senang terus, ketawa terus tapi kenapa Rita sering merasa tertekan sama aku ya? Apa aku tidak bisa membuatnya tertawa juga? Bagaimana cara agar Rita merasa nyaman dengan aku ya?" Pikir Ney dalam otaknya.
"Bukunya pasti ada nama Rita kan kok bisa lolos?" Tanya Ney.
"Tidak ada namanya kayaknya kamu lupa ya memberikan nama, jadi ya sudah aku tulis namaku sesudahnya aku pakai TipX," kata Sadam.
"Oh iya! Itu kan bukunya baru beli, Dam. Terus kamu tahu lah bagaimana Bu Dikta kalau sedang membacakan tugas ya. Boro-boro bisa tulis nama, untungnya si Ibu tahu itu buku punya siapa. Aku sudah 4x lupa tulis nama," kata Rita tertawa.
"Hahaha untung kamu lupa ya waktu itu jadi aku terselamatkan. Masalahnya sudah kesempatan terakhir kalau kejadian lagi, aku dikeluarkan dari kelas," kata Sadam cengengesan.
"Oh begitu, menurut aku sih Rita tidak sekedar hanya membantu ya," kata Ney logatnya ya sudah mulai masuk ke ranah kemiringan otaknya nih.
"Maksudnya Rita ada hati sama aku?" Tanya Sadam lalu memandangi Rita.
Ney lalu mengangguk sambil senyum bagaimanaaaa begitu. "Mengaku sajalah Rita mumpung orangnya ada disini, kalau kamu tolak kasihan kan Alex. Aku dukung kok," kata Ney dengan ucapan yang... mengmaleskan sekali.
Rita dan Sadam lalu tertawa bersamaan membuat Ney bengong. Sedangkan Sadam melihat Rita dengan gerakan alisnya, "Kenapa sih dia?" dan Rita menjawab dengan pandangan datar, "Tidak usah dipikirkan."
"Kalau rasa suka sepertinya jauh ya karena kan yah berbeda lingkungan itu lho. Mengobrol sama Rita juga tidak selalu setiap hari," kata Sadam.
"Apa urusannya juga sama si Alex? Orang bukan pacaran juga," kata Rita ke arah Ney.
"Kenalan kamu Alex tuh? Apa hubungan sama kita. Aneh," kata Sadam. "Oh iya aku kesana dulu ya ada sesuatu sama teman yang lain," katanya lalu pergi.
"Wah, tidak disangkanya ya dulu kamu bisa juga mengobrol sama lelaki, aku pikir hanya perempuan saja ternyata kamu lebih dari yang aku pikirkan," kata Ney.
Rita tidak menjawab, dia makan kue yang dibawa oleh adiknya dan meresapi rasa yang enak.
"Ngapain sih ngikutin kita terus? Dia yang sumbar bilang bukan temannya tapi kerjaannya ngekorin," kata Prita berbisik.
"Ya karena tidak ada teman lain yang mau mengobrol sama dia. Biarkan sajalah, kasihan," kata Rita.
Ney mendengarkan, tapi tidak bisa membantah sedari tadi memang dia menyapa semua orang yang dia kenal tapi perlahan mereka beralasan harus pindah. Akhirnya ya sendirian lagi. Dan melihatnya dalam pikirannya Rita ditinggal pergi oleh adiknya jadi pasti sama-sama kesepian. Padahal sebenarnya Prita pergi mengembara untuk mengantri makanan dan Rita menikmati semua makanan.
"Orang lain kamu tolong kok soal aku tidak pernah sih? Padahal aku juga banyak lho mengalami kesusahan apa kamu pilih-pilih teman. Jelek sekali ya tabiat kamu," kata Ney yang yah... begitulah. Sambil dia seperti bertingkah sebagai korban atau semacamnya berharap semua orang mengasihaninya.
"Jangan didengarkan kak," beberapa orang menasehati Rita. Rita angkat tangannya.
__ADS_1
"Dengar ya jelas sama kamu yang selalu berusaha membuat aku malu," kata Rita dengan suara yang mulai keras.
Ney berusaha tidak menghiraukan menurutnya dia senang membuat Rita terpancing dan perkiraannya pasti Rita akan membuatnya terlihat sebagai korban.
"Bilang saja toh kamu yang akan malu," kata Ney menantang.
'Baiklah.' Pikir Rita. "Kamu dan aku kuliah di tempat yang berbeda, jurusan berbeda, lingkungan berbeda. Aku keguruan kamu Design Grafis, coba pikir sama kamu. Aku mau bantu kamu bagaimana? Mending kalau kamu keguruan jadi nyambung kan. Menggambar? Aku tidak bisa menggambar sedetil itu. Pikir dulu ya pakai otak kamu sebelum niat mempermalukan orang. Kita berdua sangat berbeda dan lu untuk apa sih ngikutin aku terus? Kesepian ya. Kasihan!" Seru Rita dengan suara lumayan membuat Ney malu pada kalimat terakhirnya.
Beberapa tamu bertepuk tangan dan Rita meninggalkannya sendirian. Ney kemudian pergi ke arah lain dan mengipasi dirinya sendiri. Hahaha dia sendiri yang panas, Rita ikut antri es krim untuk meredakan amarahnya dan kekesalan.
Orang yang mendengarnya saling berbisik. Tempat itu jadi ajang adu bacot tidak mungkin tidak terlihat oleh Arnila. Dia menghela nafas tahulah pasti Ney berkata macam-macam. Untungnya Rita cepat melupakannya tatkala sedang memakan makanan enak.
"Si Ney sering mancing emosi Rita ya? Lihat saja dia malah sengaja ikutin Rita lagi," kata suaminya.
"Capek deh gue padahal aku tuh ya sudah jauh hari kasih tahu dia jangan suka memancing Rita lagi. Lalu ada yang meresahkan," kata Arnila.
"Apa?" Tanya suaminya.
"Aku kok seperti melihat gengnya si Ney ya?" Tanya Arnila ke suaminya.
"Kamu undang?" Tanyanya.
"Ogah sekali. Tunggu, aku suruh adikku saja unyuk memantau aku takut mereka akan menghancurkan acara sakral kita," kata Arnila.
Adiknya Arnila disuruh mengawasi keadaan dan menceritakan semuanya, adiknya bengong lalu mengerti dan mulai membagikan tugas.
"Rita, kok aku ditinggal sendirian sih!?" Tanya Ney yang sudah biasa lagi. Muka badak itulah dia sama sekali tidak tahu malu dan tidak pernah sadar akan kelakuannya yang minus.
Rita memandanginya dengan jutek meski Ney tidak peduli. "Ogah sekali aku makan ditemani orang picik seperti kamu lebih baik aku cari tempat lain," kata Rita berjalan menjauhi Ney yang membeku di tempat. Dia berusaha menyusul Rita namun terhalang oleh keserawutan para tamu yang akhirnya kehilangan Rita.
Terlihatlah Prita dan teman Jakartanya sedang mengobrol dan mereka menyalami Rita dan mengobrol. Ney kesal ternyata dugaannya meleset, Rita sama sekali tidak pernah memikirkannya dan hanya makanan. Dengan terpaksa dia berdiri di sudut lain menghabiskan makanannya setelah selesai kembali dia mencari Rita.
Rita berada di dalam kelompok beberapa lelaki tentu saja ada Sadam dan beberapa teman perempuan juga. Ney meyakinkan diri kalau Rita ternyata lebih aktif orangnya dan mungkin sama saja dengan dirinya, lalu dia berjalan kesana dengan niat tertentu. AGAIN.
Dengan wajah yang agak sedih, dia menepuk bahu Rita dan bertingkah seperti ditinggalkan. "Ish, kamu meninggalkan aku sih? Kenapa aku tidak dikenalkan? Ajak kek aku mengobrol sama teman-teman kamu," kata Ney dengan senyum yang katanya tulus.
Namun Rita tidak membalas, wajahnya datar dan meneruskan perbincangan. Ney memegang tangan Rita dan Rita melepaskannya lalu menyekanya dengan gelas yang dingin. Dan menjauhkan tangannya dari jangkauan Ney, seperti yang jijik.
Tentu Sadam pun jutek kepadanya dan berbisik pada sahabatnya lalu tertawa. "Teman kamu, Rita?" Tanya sahabat Sadam. Yang ini berbeda lagi.
"Terpaksa," jawab Rita pelan seenaknya membuat Sadam dan Prita tertawa.
__ADS_1
"Kenalkan ya namaku Ney Grizelle. Kamu?" Tanya Ney yang langsung menyodorkan tangannya.
"Aril Heksa, sahabatnya Sadam," kata Aril menyambut tangannya Ney lalu melepaskan.
"Eh, kapan-kapan ketemuan yuk dengan yang lainnya," saran Sadam dengan semangat.
"Boleh," kata Ney menjawab dengan penuh percaya diri.
Mereka tertawa mendengarnya. "Hmmm maksudku ke Rita karena kan sekolah aku sama dia sama. Ini hanya untuk anak-anak SMA Daruma saja," jelas Sadam membuat Ney sangat malu.
"Weeeiii kepedeaaaan," kata Rita tertawa.
Ney memerah wajahnya dia terlalu yakin kalau Sadam ingin mengajaknya bertemu dengan yang lain ternyata sebuah reuni sekolah. Sambil merapihkan rambutnya dan pura-pura menyingkirkan rasa malu, Ney memakan makanannya.
"Bro, aku mau antri barbeque dulu ya," kata Aril lalu pergi.
"Kamu suka ya sama Aril?" Tanya Sadam pada Ney yang tidak lepas memandanginya.
Dengan malu-malu, Ney tersenyum. Rita dan Prita memandanginya dengan jutek. "Si Aril bukannya playboy ya. Masih dia?" Tanya Rita.
"Masihlah dari jaman SMA saja kamu kan pasti sering lihat kelakuannya," kata Sadam menghabiskan minumannya.
"Dia playboy?" Tanya Ney kaget tapi yah sudah pastilah seganteng begitu.
"Iya 11 12 sama kamu Ney. Dia lelaki playboy, kamu playgirl," kata Rita membuat Ney memandanginya dengan kesal. Tapi Rita tidak peduli.
"Oh, kamu playgirl? Wahahahaha tapi kalau Aril sudah insaf dia, sebulan lagi mau menikah. Nah kamu pasti aneh kan kenapa aku bisa diundang kesini padahal tidak kenal siapa-siapa. Nanti ada jawabannya," kata Sadam menjentikkan sebelah matanya.
"Ah, serius dia mau menikah? Sama siapa sih?" Tanya Rita penasaran apalagi Ney.
"Teman kamu juga dari sekolah kamu. Aku juga heran kok tuh cewek tahan ya sama si Aril. Super parah lemot!" Kata Sadam tertawa.
Rita bengong mendengarnya. "SI ANABEL!?" Teriak Rita tidak percaya. " Woh! Daebak!!" Seru Rita. Kemudian mereka berdua tertawa bersamaan.
"Calonnya lemot? Aku kira Rita sudah paling parah kelemotan nya," kata Ney dengan keras.
"Rita lemot? Mana ada!! Kamu salah lihat kali. Iya Anabel dari kelas kamu kan. Rita itu super peka kalau Anabel baru deh parah lagnya. Tapi aneh ya bisa membuat Aril jatuh hati," kata Sadam yang sudah berhenti tertawa.
"Soalnya Anabelnya sangat tulus kan memang suka sama Aril sejak awal kita upacara itu lho. Memang sih lemot tapi aku sering lihat gelagat Aril yang serba salah," jelas Rita.
"Iya ya orang tulus meski lemot pasti dapat yang tulus juga. Beda ya dengan teman yang pura-pura dekat isinya palsu," kata Sadam melihat ke arah Ney.
__ADS_1
"Banyak, Dam yang seperti itu mah. Di sekitaran aku juga kan ada," kata Rita memberi kode yang di sebelah. Sadam mengerti maksudnya karena memang yang dia tangkap itu soal Ney.
Bersambung ...