ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(347)


__ADS_3

Tanpa mereka sadari hari itu juga Ney mengundurkan diri karena merasa sangat tidak adil. Dia sengaja tanpa memberitahukan pada bosnya menyangka pasti dirinya akan dipanggil kembali karena mereka sangat membutuhkan Asisten Cafe. Malamnya, saat semua pegawai pulang begitu juga dengan bos dan Aura, Apollo mengantarkan Sona dengan mobilnya. Sebenarnya dalam lubuk hati Apollo sangat menyukai Sona hanya saja Apollo merasa kurang pantas. Dirinya meyakinkan kalau Sona tidak pantas untuknya namun siapa disangka Sona pun menyukainya juga.


"Aku antar kamu pulang." Kata Apollo dengan suara tegasnya.


"Tunggu sebentar. Duluan saja nanti aku menyusul," kata Sona yang berlari masuk ke dalam kamar mandi. Dia mengganti pakaiannya menjadi super mini. Tentunya untuk menarik perhatian Apollo.


Di garasi Apollo sudah menyiapkan mobilnya untuk meluncur kemudian terbuka pintu dan masuklah Sona, Apollo melirik dia dengan wajah yang terpukau. Kakinya yang jenjang terlihat mulus di mata Apollo, lelaki dengan badan besar itu tampak menelan ludah lalu melirik ke arah lain. Sona tersenyum dengan senang melihat gelagat Apollo.


"Kenapa?" Tanya Sona dengan suara yang lembut.


"EHEM! Super mini sekali bajunya kamu bisa diikuti oleh lelaki hidung belang," kata Apollo yang mulai menggas mobilnya.


"Tidak apa - apa kan sama kamu," kata Sona yang kemudian memegang tangan kekar Apollo.


"Kalau begitu sebelum kita pergi..." kata Apollo lalu menarik Sona dan mencium bibirnya. Dan tiba - tiba Apollo menuju leher Sona lalu mulai kebawah. Sona menahan geli ciuman Apollo di bawah perutnya.


Apollo memegang sebelah kaki Sona yang tiba - tiba mengangkat. Dalam sekejap mobil berguncang pelan, Apollo menyeringai iseng dan memegang buah Sona lalu masuk ke dalam bajunya. Dia sangat penasaran mengenai bagian tubuh Sona yang juga agak atletis.


"Ahhhh...!" Kata Sona yang merasakan tangan kekar Apollo menggenggam buahnya. Apollo lalu melepaskannya ciuman bawahnya lalu meremas buah Sona dan memeluknya.


"Hah hah... kamu sengaja membuat aku ketagihan ya?" Tanyanya sambil mulai meniduri Sona yang mulai berkeringat.


"Yuk." Ajak Sona yang mulai melepaskan baju bawah Apollo.


"Kamu yakin? Mau melepaskan itu sekarang?" Tanya Apollo yang dia menahan hasratnya namun Sona terlihat ingin memiliki bagian bawah Apollo.


Sona membuka bajunya dan mengajak Apollo ke jok belakang tentu saja namanya lelaki diajak begituan pasti mau kan apalagi Apollo terlihat sangat ingin sekali. "Di motel yuk jangan di sini." Kata Apollo menahan dirinya lalu menutup bajunya Sona.


"Hmmmm..." rengek Sona yang mulai kehilangan kendali. Alhasil mereka bergulat hanya sebentar sampai hasrat Sona bisa dikendalikan dan berteriak pelan saat Apollo menyusupkan kepalanya ke perut bawah lagi sambil memegang kedua kaki Sona.


Mobil mereka lalu meluncur keluar, untungnya malam ya dan jendela mobil Apollo juga berwarna hitam jadi tidak akan terlihat jelas kalau Sona sudah agak telanjang di dalamnya. Apollo pun dalam keadaan tidak berbusana bagian bawahnya karena sudah mulai basah. Karena keadaan yang tidak memungkinkan mereka mencari hotel atau motel, akhirnya Apollo tahu tempat dimana mereka bisa bebas bergulat.


"Sona. Kamu tidak apa - apa? Masih bisa tahan?" Tanya Apollo. Bagian belakang memang sengaja dia buat semacam tirai juga dirinya yang memakai selimut.

__ADS_1


"Mau lagi," katanya dengan lirih dan genit.


"Sebentar lagi kita sampai di tempat yang bisa sebebasnya kamu berteriak. Malam ini kamu jangan minta pulang cepat ya," kata Apollo yang menjilat bibirnya. Dengan aksen kulitnya yang berwarna hitam kecoklatan, memang menambah poin keren bingit. Tapi untungnya meski Apollo termasuk tipe Rita, tapi Rita tampak agak kurang sreg kalau berada di sisi Apollo.


"Aku siap kok. Cepat dong," kata Sona dengan suara yang seperti sedang mabuk.


10 menit sampailah mereka di sebuah bangunan kosong tepatnya garasi besar dalam bangunan itu dan memilih ke pojokan gelap. Dan mereka berdua melanjutkan gulat mereka yang tertunda sampai 3 ronde. 🙄🙄🙄 Kita lewat mereka berdua yang sedang memadu kasih entah apa yang akan terjadi nanti, apakah Sona hamil atau tidak.


Beberapa hari lewatlah sudah Rita pun mulai menyiapkan bahan untuk praktek mengajarnya nanti. Dia dan semua teman kelompoknya berbagi tugas. Saat Rita bekerja, dia tidak melihat kedatangan Ney agak aneh juga biasanya jam 10 pagi dia sudah datang sambil cuek. Mungkin terlambat akhirnya Rita bekerja dan melihat jam pukul 1 siang, Ney masih juga belum nampak batang hidungnya. Bukan hanya Rita tapi pegawai lain pun juga sama.


"Ney belum datang juga? Kemana dia?" Tanya pegawai A agak aneh.


"Tidak tahu aku kira dia akan datang terlambat tapi ternyata memang tidak datang," kata Rita menghentikan mengepel lantainya. Rita lalu menghubungi Ney namun nomornya tidak menyambung beberapa kali pun.


"Tampaknya Ney mengundurkan diri. Kamu sudah coba hubungi dia?" Tanya bosnya yang tiba - tiba datang.


"Dari tadi tidak menyambung terus, bos nanti sore aku coba menelepon lagi," kata Rita menaruh ponselnya di saku.


"Wah, tumben dia sakit. Badan gorila begitu manusia juga ternyata," celetuk Yen. Semuanya tertawa termasuk Bos.


"Sona juga katanya sakit, apa mereka jangan - jangan janjian kencan ya?" Tanya pegawai lain.


Bosnya hanya tertawa lalu pergi meninggalkan mereka semua.


"Wah, bagus deh! Kita bisa santai seharian ini semoga saja dia sakitnya sampai seminggu ya," kata Rita yang dibalas anggukan semuanya. Terasa beban sekali kalau Apollo masuk.


Pukul 1 siang, tiba - tiba Ney menelepon saat Rita sedang rehat bergantian. "Kamu kemana saja sih? Tidak akan masuk lagi?"


"Ada yang bertanya tidak?" Tanya Ney langsung tanpa memperdulikan apa yang Rita katakan.


"Ya ada lah. Tuh bos," kata Rita yang sudah biasa kalau dia bilang apa tidak pernah diperdulikan. Dia hanya mau menjawab kalau untuk kebutuhan dia saja.


"Oh, serius! Kok tidak ada menelepon kesini?" Tanya Ney penasaran.

__ADS_1


"Dia nanyanya ke aku soal kamu dan suruh aku juga yang menelepon kamu tapi sedari pagi, sama sekali tidak menyambung," kata Rita bete.


Ney termenung tapi dia sudah siap mau menuju ke sana. Sesuai dengan yang dipikirkannya, ternyata mereka memang butuh Asisten makanya Ney mau datang lagi mungkin saja dia akan diperpanjang lagi. Dengan penuh percaya diri, dia berjalan ke ruang tamu dengan gembira.


"Aku siap - siap," kata Ney dengan senang.


"Buat?" Tanya Rita.


"Ihh malah nanya buat apa. Ya buat kesanalah sesuai apa yang aku duga ya, sengaja kok aku hari ini tidak masuk mau tahu saja apa bos kamu itu akan memanggil aku lagi atau tidak. Ternyata benar kan? Hahahaha!" Kata Ney yang mulai memilih sepatu kerja.


"Idiiiih percaya diri banget asisten cafe sudah ditangani sama istri bos jadi kamu tidak perlu datang lagi. Cuma sayangnya istrinya itu super cemburu parah saat tahu pegawai cafe lebih banyak yang seumuran kuliahan termasuk aku," kata Rita yang diam - diam mengobrol.


Ney terhenti, dia baru saja mau memasukkan sepatu satunya lagi ke kakinya. Ney melongo pekerjaannya diganti orang lain secepat itu? "Asisten baru!? Lalu? Kerjaan aku bagaimana? Aku kan belum ada 3 bulan, Rita,"


"Iya sudah ada asisten baru istrinya si bos tapi mereka ternyata sudah pisah rumah. Karena kita butuh banget asisten, dan kamu tiba - tiba tidak masuk ya sudah bos menerima lamaran kerja istrinya itu. Makanya buat apa juga kamu tes tes segala lalu kamu sengaja pula. Bos tidak mau tahu dan tidak mau menunggu juga kamu mau balik atau tidak. Jadi buat apa kamu datang lagi? Untung aku menelepon ya," kata Rita mengusap wajahnya.


Ney terdiam dia menyesal karena malah menguji mereka yang ternyata bos tidak terlalu membutuhkan bantuannya Ney. "Aku tidak diberi uang pesangon?"


"HAAAH!? Mana ada hahahahaha! Kan janjinya hanya 3 bulan eh belum ada 3 bulan kamu sendiri yang keluar. Tidak tahu deh kalau kamu tidak menguji sembarangan soalnya bos Cafe ini super baik lho," kata Rita membuat Ney sangat menyesal.


"Kok begitu sih? Curang banget!" Kata Ney melemparkan sepatunya kembali ke rak dan dengan kesal menuju kamarnya.


"Curang apanya? Hahaha kamu yang aneh. Memangnya sewaktu kamu dulu dikontrak, bos ada janji mau kasih?" Tanya Rita tertawa keras.


"Ya tidak sih tapi kan seharusnya ada, Rita semua pekerjaan itu ada lho uang pesangon kalau pegawainya ada yang keluar," kata Ney menjelaskan. Dia lempar tasnya berantakan di lantai tanpa dia bereskan.


"Ohh iya itu kalau kamu bekerja seperti 1 tahun atau 6 bulan lah minimal. Kalau hanya 3 bulan apalagi kamu tiba - tiba hanya 2 bulan, ya jangan banyak berharap deh!" Kata Rita tertawa.


"Ya sudah gaji kamu saja bagi dua untuk bayar pesangon aku," kata Ney manyun, menurutnya gaji Rita meski dijadikan pesangon buat dia kan masih banyak juga.


"Enak saja! Enak banget! Maaf ya tidak ada urusannya!" Rita lalu langsung menutup ponselnya. Menyudahi obrolannya dengan orang yang tidak jelas. Sambil sedikit mengejek apa yang tadi dikatakan Ney kepadanya. "Pesangon? Mimpi!" Kalau memang ada, semua pegawai yang dulu keluar langsung sumringah kali bekerja hanya 3 bulan.


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2