ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
359


__ADS_3

"Anyway, kelihatan jelas kok mana yang benar-benar bisa bersosialisasi dengan yang hanya datang karena ada "Acara Kuliah" saja. Kalau kamu mengobrol dengan orang, kesannya pasti berbeda sekali," kata Tela memberitahukan.


"Ah, iya. Tepat sekali! Kita bisa membuka topik soal dunia apapun tidak hanya seputar mode kan," kata Arnila menambahkan.


"Nah benar kalau kamu ilmunya sekitar lelaki saja tanpa ada yang lain ya susah nantinya kalau orang lain mengobrol soal kue," kata Tela.


Arnila tertawa, mengetahui Rita menggemari makanan. "Soal makanan juga pasti berbeda ya ilmunya, kamu kan lebih suka dengan dunia makanan, Rit," kata Arnila.


"Hehehe apa saja sih yang bisa menarik minat. Contoh lainnya saat kamu bicara dengan aku dan Arnila nih. Ada kamu perhatikan atau mendengar apa yang kita bicarakan?" Tanyanya kepada Ney.


"Aku dengar kok," jawab Ney.


"Soal apa coba?" Tanya Rita ingin tahu.


"Ya aku lupa lagi yang kemarin aku dengar," kata Ney merasa dirinya diremehkan.


"Iya kamu dengar sok sebutkan. Mana ada orang yang langsung melupakan soal kemarin hari, Ney kecuali kamu memang tidak mendengarkan," kata Rita.


"Berkali-kali kita mengobrol kamu tidak pernah turut serta lho. Lagi-lagi hanya fokus dengan ponsel, beda kalau kita membicarakan soal lelaki. Aku juga tahu sekali kamu bagaimana, bukan hanya pada Rita tapi teman-teman di kampus juga lu mah enak sendiri," kata Arnila.


"Kalau yang suka bersosialisasi dia akan lebih cerewet ya apalagi paling heboh pasti kalau bicara," kata Rita.


Ney hanya membaca apa yang mereka komentari tentangnya, dia bete sekali. "Tapi aku kan selalu ada setiap kali kalian bicara," kata Ney.


"Iya memang ada tapi sekedar hadir saja tidak ada keikutsertaan dalam mengobrol serius. Justru kalau kamu yang ada masalah atau perlu, memaksa kita mendengarkan. Kalau tidak, dibicarakan terus coba enak tidak seperti itu? Kamu sendiri juga mengalami kan?" Tanya Rita yang jutek dalam bahasanya.


"Kamu itu tidak boleh begitu kalau ada maunya saja kumpul sama kita, kumpulin kita untuk hal yang kurang gunanya. Tapi saat kita butuh saran, kamu kabur," kata Arnila yang kesempatan sekali mengatakan segalanya berkali-kali.


"Seperti kamu yang orang paling penting saja atau memang sebenarnya kamu tidak butuh teman ya? Kamu hanya butuh orang yang bisa memberikan pujian soal apa yang kamu punya," kata Rita. Dia selalu merasa itulah yang dia rasakan soal Ney.


Ney tidak menjawab apa yang Rita katakan kepadanya. Dalam dunianya memang tidak memerlukan teman tepat seperti yang dia duga, dia hanya memerlukan pengakuan dari orang lain.


"Kamu merasa begitu, Rita? Selama kenal dia?" Tanya Arnila, dirinya juga sama.


"Iya itu yang sejak dulu aku rasakan ke dia, dulu aku tidak tahu kenapa tapi sekarang ya sudah jelas juga," kata Rita membeberkan segalanya.


"Oh, jadi kamu aslinya begini ya aku sangka kamu pendiam dan pemalu. Ternyata aslinya diluar dugaan ya. Jadi dengan sifat kamu yang begini kamu menipu banyak orang ya berarti lebih baik aku dong," kata Ney yang mulai panas.


"Sifat Rita pemalu pendiam itu hanya untuk orang yang baru kenal. Betul tidak?" Tanya Arnila yang mengerti kenapa.


"Yupz. Masa misal aku baru kenal Arnila sudah yang sok tahu, sok akrab, sok kenal sih, Ney?" Tanya Rita.


"Ya kalau aku sih seperti itu. Memangnya salah gitu?" Tanya Ney.


"Iyalah, lihat dulu lawan kita seperti apa jangan langsung nyerocos karena beberapa orang butuh waktu untuk bisa menerima kehadiran kamu. Kalau baru kenal seperti kamu ceritakan keluarga aku ke Alex, itu salah besar contoh ya. Kenal dulu, lihat orangnya bagaimana, apa baik bila dekat atau tidak. Jangan langsung tembus," kata Rita.


"Jadi menurut aku tuh Rita kesan ke orang lain memang begitu dia tidak bisa seperti kamu, Ney. Yang langsung koar-koar kan itu juga yang membuat semua teman di kampus menjauhi kamu. Kamu terlalu blak-blakan baru juga kenal," kata Arnila.


"Aku hanya jadi diri aku sendiri kok," kata Ney mulai bete. Apa salah lagi langkahnya?

__ADS_1


"Ya bagus jadi diri sendiri tapi awal perkenalan harusnya tahan dulu sifat kamu yang asli keluar. Kalau sudah agak kenal, keluarkan secara perlahan lihat dia mau menerima tidak diri kamu yang sebenarnya," kata Rita memberi saran entah mau dia ikuti atau tidak.


"Aku setuju berarti kita sama, Rita. Nah kita sekarang tahu nih aslinya Rita bagaimana, karena kamu sudah kenal lama baru deh. Dan selama ini apa pernah Rita protes soal kelakuan kamu?" Tanya Arnila.


"Tidak ada sih," jawab Ney mengingat-ingat.


"Lalu kenapa kamu memaksa ajak aku untuk merundung Rita waktu itu? Aku kira sih Rita memang orangnya keterlaluan tapi ternyata biasa saja," kata Arnila.


Ney diam membacanya, dia hanya tak ingin kepribadian dan perilaku Rita membuatnya malu kalau nanti dia diperkenalkan sebagai Sahabat dekatnya. Tapi ya boro-boro deh sebagai Sahabat, teman baik saja juga jauh sekali.


"Aku hanya merasa malu nanti," kata Ney.


"Malu karena apa?" Tanya Rita dan Arnila bersamaan.


"Kalau kamu jadi sama Alex pasti kan kamu kenalkan aku ke keluarganya Alex juga. Jadi aku itu malu banget kalau mereka tahu seperti apa perilaku kamu. Konyol-konyol begitu kan itu mempermalukan aku, Rita," kata Ney.


Jawabannya itu alhasil membuat mereka berdua gedubrak. "Hah? Kepedean sekali kamu. Siapa juga yang akan mengenalkan kamu ke orang tua Alex kalaupun aku jadi sama dia hahaha. Daripada kamu, aku lebih memilih Arnila. Justru aku yang malu mengenalkan kamu ke mereka. Serius," kata Rita langsung tertawa keras.


Ya Allah super pede sekali nih orang. Yang cari gara-gara, melemparkan kesalahan, manipulasi perbuatan. Ampun deh sampai berpikiran jauh soal dikenalkan? Please deh.


"Kok Arnila sih? Kan aku yang lama kenal sama kamu," kata Ney yang kesal.


"Wajarlah. Arnila tahu kok bagaimana cara menjadi teman yang baik, dia tidak pernah sekalipun ya menjatuhkan aku di depan Alex. Sayangnya dia juga sudah lama "dekat" dengan kamu, jadi yang aku lihat ada sifatnya yang sama dengan kamu," kata Rita membuat Arnila kaget.


"Kenal lama sampai bertahun-tahun tidak menjadikan alat ukur seberapa pengertiannya kamu, Ney. Tetap saja kenal lama tapi kamu hanya ada saat senang ya beda. Aku kan sudah berapa kali bilang sama kamu, jangan egois," kata Arnila memberikan peringatan lagi.


Rita tidak mengerti apa yang mereka katakan tapi pasti ada hubungannya dengan bagaimana Ney berteman dengan kebanyakan orang.


"Iya tapi bukan hanya soal Rita saja tapi semua orang ya. Ney, kita hidup di dunia ini sementara lho apa kamu mau terus seperti ini? Tidak peduli keadaan siapapun dan lebih mementingkan urusan kamu? Manusia itu makhluk sosial lho," jelas Arnila.


Sekarang giliran Rita yang menyimak obrolan mereka di grup, kalau ikut nimbrung bisa-bisa mereka chat pribadi hehehe.


""Aku selalu mendengar Rita kok kalau cerita," kata Ney.


"Pernah kamu memberikan saran yang baik? Yang aku lihat, kamu kalau beri saran selalu membuat Rita naik pitam. Cara menyampaikannya salah, kita tahu Rita seperti apa orangnya nah kamu, beri pengertian dengan memilih kalimat yang halus. Dia itu beda dengan kamu, aku saja kadang sakit sama ucapan kamu," kata Arnila.


Merasa Rita sepertinya tidak ada di tempat mereka melanjutkan obrolan. Arnila memancing Kejujuran Ney dalam grup agar Rita membaca langsung apa yang dia sampaikan.


"Tapi aku malu sekali kalau dengan Rita itu," kata Ney mengungkapkan.


"Kalau kamu malu, kenapa kamu masih terus mengajak dia ketemuan? Kenapa kamu sering mengajak dia jalan? Biarkan saja," kata Arnila.


"Ya aku kasihan dia kan pasti tidak punya teman untuk bermain kemanapun makanya aku yang inisiatif ajak dia," kata Ney sambil menggigiti kuku jari tangannya.


"Kata siapa dia tidak punya teman? Banyak sekali, Rita temannya itu menyebar tidak seperti kamu. Aku juga banyak kalau aku mau, aku bisa saja meninggalkan kamu," kata Arnila membuat Ney kaget.


"Kamu kok sama sekali tidak pernah cerita? Rita juga," kata Ney marah.


"Untuk apa? Mau cari masalah baru? Aku tidak mau mengenalkan kamu ke teman aku yang masih ada. Rita juga pasti mikirnya sama, kamu aku masukkan dalam grup, apa yang terjadi? Kamu menjelekkan mereka secara langsung, kamu juga menghina aku depan mereka. Benar kata Rita, mana ada yang mau dekat sama kamu," kata Arnila akhirnya mengeluarkan semuanya.

__ADS_1


Ney merasa terpojok sekarang, Arnila yang dia kenal sebagai orang yang selalu menurut padanya sekarang memberontak. Menyalahkan semua itu pada Rita kalau saja dulu dia tidak mengenalkan Arnila pada Rita, sekarang pasti Arnila akan lebih membelanya.


"Aku akan lebih memperhatikan Rita deh. Aku pasti akan bisa lebih dekat kepadanya," kata Ney.


Arnila meneteskan air mata pada kedua matanya saat membaca kalimat Ney. Hanya pada Rita dia ingin lebih dekat, padahal dirinya juga sukarela dekat dengannya tapi tidak dianggap.


"Tidak usah. Kamu cari saja deh teman yang lain, semuanya sudah jadi bubur ayam mana bisa berubah jadi nasi kuning," kata Rita yang ikut menimbrung.


"Eh, Rita kamu masih menyimak?" Tanya Ney. Dia kaget ternyata Rita membaca semuanya karena ceklis nya masih abu-abu.


"Aku ganti warna notifnya jadi tidak akan bisa diketahui sudah terkirim apa belum. Ney, daripada aku ya ada yang sudah ikhlas dekat sama kamu. Soal Arnila pun kamu lihat kan? Sama dengan aku ya, mana ada dia kamu hargai? Jangan hanya karena aku kenal Alex, kamu lebih memilih aku," kata Rita yang sudah sadar niat Ney.


"Arnila bukan teman dekat aku kok, Rita. Ya hanya teman kampus saja," kata Ney membuat Rita mengerti.


"Sudahlaaah dari perkataan kamu yang malu dengan kepribadianku itu, sudah dapat aku katakan. Kamu ini Palsu ya. Teman asli tidak akan keberatan mau aku konyol, mau aku tomboi baginya aku ya sama. Aslinya aku iyu cuek dan tomboi kalau kamu mau tahu," kata Rita menjelaskan.


Ney terdiam, dia mulai panik sendiri tapi tidak membaca mengenai perasaan Arnila seperti apa. Arnila masih sedih dan menangis diam-diam, ibunya tahu pasti Ney yang berulah. Lalu meninggalkan obrolan saat ibunya ke dalam kamarnya dan memeluk anaknya itu.


"Aku baru tahu," kata Ney bengong.


"Yalah kamu baru tahu. Masya Allah, Ney. Kamu berteman sama aku itu sudah lama, kamu ada di sisi aku untuk kepentingan kamu sendiri bukan bersama. Aku yakin kamu ceritakan soal karakter aku tuh berdasarkan imajinasi kamu," kata Rita.


Ney menggigit bibir bawahnya dan kesal Alex banyak menceritakan apa yang dia beritahukan. Kenapa?


"Dia itu memang tidak bisa menjaga privasi ya," kata Ney yang lalu disadarinya salah membalas begitu.


"Oh, Benar ya kamu memang menceritakannya. Alex bilang sama aku, "Karakter kamu kok berbeda ya dengan yang diceritakan oleh Ney?" Aku yakin kamu membumbuinya sesuai yang kamu inginkan. Tidak semudah itu mengubahku, Ferguso," kata Rita akhirnya.


"Eh,maksudku bukan seperti itu. Aku lakukan itu supaya kamu terangkat saja oleh keluarganya, Rita. Aku tahu kok mereka itu mencari pasangan untuk Alex seperti apa, nah aku bilang supaya kamu masuk. Aku kan baik," kata Ney mengangkat dirinya beranggapan kalau yang dia lakukan itu baik.


"Kamu itu teman yang brengsek," kata Rita sudah marah sekali.


Ney kaget membacanya, dia kelabakan lagi. Mananya yang salah.


"Kok kamu bilang begitu ke aku? Aku salah apa?" Tanya Ney pura-pura tidak mengerti.


"Kamu itu bukan ibu aku ya berhenti menganggap kamu itu lebih baik dari ibuku. Kamu berbuat begitu hanya untuk diri kamu sendiri, bukan buat aku. Astagfirullah untung sekali ya teman aku cuma kamu seorang yang error," kata Rita menggelengkan kepalanya.


Arnila sudah kembali dan membaca semuanya, dia juga terkejut dengan cacian Rita pada Ney. Tampak sekali Rita sudah memanas dan topiknya memang buat orang yang membacanya emosi sih.


"Lu tega ya buat karangan begitu untuk membohongi orang, Ney. Sebegitunya sekali kamu ingin dilihat bagus oleh Alex dan keluarga dengan mengorbankan pribadinya Rita? Jahat lu!" Seru Arnila menambahkan. Dia sudah agak tenang sekarang.


"Ya karena aku peduli, tidak apa kamu bilang aku brengsek tapi aku ini teman kamu yang terbaik. Sudah saatnya kamu punya pasangan masa mau terus single sih? Betah sekali," kata Ney berusaha menjelaskan.


Terang saja dia sebisa mungkin memperbaiki hubungannya dengan Rita. Dia tidak mau melewatkan kesempatan emas begitu saja, dengan jadinya Rita dan Alex maka harga dirinya juga akan meningkat sebagai temannya. Dan dia akan bisa mengalahkan grup Sosialitanya untuk iri kepadanya.


"HIDUP AKU BUKAN URUSAN KAMU! Aku mau single sampai 1000 tahun lamanya untuk apa kamu yang panik? Orang akunya juga santai," kata Rita yang otaknya sudah mengepulkan asap.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2