ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
473


__ADS_3

Di pihak lain karena Ney sudah menghapus semua foto Alex, Dins yang tengah memeriksa pun tidak menemukan bukti. Cukup melegakan dirinya bebas dari ancaman tapi sisi lain, dia tidak memiliki foto-foto Alex lagi. Apa yang dia rencanakan untuk keuntungannya nanti alhasil hancur total.


Kembali ke grup, mereka berdua menertawai Ney dan ide Rita yang berhasil membuat Ney memangkas semua foto dan video Alex. "Hahaha alhamdulillah kan kamu sudah menolah jadi lebih baik isi galeri kamu dengan yang bermanfaat bukan foto laki-laki," kata Rita.


"Kamu lama sekali sih. Kemana saja?" Tanya Arnila.


"Suamiku periksa ponsel aku tahu," balas Ney agak kesal.


"WOW! Pas sekali ya nah coba deh kamu pikir dengan baik kalau Rita tidak menjebak kamu, keadaannya pasti dalam bahaya Ney. Kamu harus bilang terima kasih sama dia," kata Arnila.


Ney enggan sekali meski memang berkat permainannya dia jauh dari bahaya. "Kalau aku bilang terima kasih pasti dia akan bangga sekali," pikir Ney.


"Ah tidak usah. Aku hanya tidak mau kamu sampai memanfaatkan foto Alex nanti. Dengan mengatakan kamu teman dekatnya dia lah, atau bisa jadi kenal sama dia. Aku hanya tidak suka kalau kamu mulai punya niat jelek ke dia," balas Rita.


"Hahaha namanya juga Ney, Rita. Matanya akan hijau kalau melihat orang yang kira-kira bisa menguntungkan dia," kata Arnila tertawa.


"Oh begitu. Kalau aku bilang terima kasih pasti kamu merasa tinggi ya," kata Ney.


"Itu mah kamu kali. Orang lain tidak berterima kasih, kamu terus saja ekori dia sampai bilang. Tapi kalau kamu yang harus berterima kasih, tidak pernah mau kan mengakui? Itulah kamu, Ney. Aku kenal kamu sudah lama," kata Rita.


"Benar juga selama aku kenal kalian, kalau Rita berbuat sesuatu untuk kamu, tidak pernah aku dengar kamu terima kasih. Malu atau bagaimana sih?" Tanya Arnila penasaran.


"Ya..." kata Ney.


"Bukan malu tapi tidak punya rasa malu, Nil. Tidak bisa menghargai kebaikan orang. Bisa-bisanya dia bilang perilaku aku jelek, yang jelek siapa? Mbak, banyak berkaca ya siapa yang lebih jelek perilakunya," kata Rita memasukkan dompet dan menyiapkan hal lain.


Ney terdiam membacanya. Kedua matanya jutek dan menahan amarah, well, kena sasaran juga sih. Ney tidak merasa kalau Rita banyak membantunya, dia lupa kalau sedang bermasalah dengan keluarganya, Rita selalu ada.


Tapi bahkan saat Ney menikah, sama sekali tidak diundang. Ada yang salah dengan pemikirannya, tapi Rita bersyukur dirinya tidak diundang. Tidak mau kena kesialan.


"Apa kamu tahu yang akan terjadi pada Ney?" Tanya Arnila.


"Aku tidak ada urusan soal kehidupan dia. Aku juga tidak peduli kalau Dins nanti menemukan lebih banyak lagi foto laki-laki di ponselnya Ney. Aku hanya tidak suka kalau dia mulai berpikiran jelek soal Alex," kata Rita.


Arnila mengerti bukan karena Rita menyukainya tapi Rita menghargai siapapun yang jujur. Kalau memang tidak menyukai Alex, ya tidak perlu ikut campur segala. Sampai mengejek dan mengungkit masa lalunya lagi.


"Ya sudah, kita lupakan saja ya soal itu. Aku dapat info baru nih," kata Ney dengan gembira.


Semudah itu dia melupakan kesalahannya, perilaku noraknya, tapi terus berkisah soal Alex. Memang Ney masih memiliki perasaan kepada Alex namun ya tidak terbalas.


Arnila tahu begitu juga dengan Rita. Inilah salah satu penyakit Ney yang sulit di hilangkan. Dia selalu lari dari masalah yang dibuatnya sendiri. Rita juga salah sih karena masih belum bisa melupakan semuanya.


"Info apa? Bisa dipercaya ga?" Tanya Arnila.


"Bisa dong. Ini info dari teman aku yang kenal Alex dulu," balas Ney.


"WOW. Jadi teman kamu yang tahu semua soal Alex?" Tanya Rita.


"Iya, apapun! Jadi aku tinggal tanya saja ke dia," kata Ney keceplosan.


"Oh, jadi waktu kamu bilang tahu segalanya tentang Alex itu karena kamu korek dari teman kamu toh," kata Rita mengerti sekarang.


Ney kemudian memukul kepalanya dan berkata kalau dirinya sangat bodoh.


"Iya ya kan kamu keukeuh kalau tahu masa lalunya Alex lalu mulai menerawang teu puguh tea. Hmmm sekarang ketahuan ya," kata Arnila.

__ADS_1


"Kenapa sih todak bilang aja lu tahu dari teman lu? Malah ngaku-ngaku lu sendiri tahu? Ohh ini ya soal memutarbalikkan fakta itu. Sekarang paham aku," kata Rita manggut-manggut.


Kebongkar deh karena mulutnya sendiri dan otak yang tidak sinkron.


"Iya jadi itu semua infonya dari teman aku. Kalau aku bilang dari teman kamu pasti tidak percaya kan. Makanya aku..." kata Ney mengaku.


"Banyak alasan! Justru kita akan percaya kok teman kamu tidak mungkin berbohong hanya masalahnya ya sama kamu. Apa kamu bicaranya menggantikan posisi teman kamu atau memang asli," kata Rita.


"Aku kan sudah bilang kalau semua info itu fari teman aku. Iya kan Arnila?" Tanya Ney.


"Tidak ada, Ney. Kapan? Coba kamu SS deh chatnya takutnya aku lupa," balas Arnila.


Ney menepuk kepalanya lagi. Mulutnya terus saja mengeluarkan pembelaan, kalau begitu apa bedanya dengan Rita?


"Lalu infonya apa? Dia tidak akan mengaku, Nil. Sepertinya malu sendiri sama mulutnya," ketik Rita.


Lagi-lagi tepat sekali apa yang dilakukan oleh Ney. Ney jadi semakin waspada karena seringkali omongan Rita sesuai kenyataannya.


"Oke, jadi dulu Alex pernah buat sayembara," kata Ney lalu berhenti melihat reaksi mereka berdua terutama Rita.


Tapi selama dia menunggu, tidak ada reaksi apapun dari mereka berdua. Dimana Rita tahu Ney akan mengatakan info itu setengah-setengah.


"Hei! Kalian kemana sih?" Tanya Ney akhirnya sebal sendiri.


"Ya nunggu cerita kamulah. Lama banget," kata Rita.


"Nunggu tapi kok tidak ada komen lagi sih?" Tanya Ney.


"Sudah malas. Kebiasaan kamu kalau chat setengah-setengah jadi aku kerjakan pekerjaan rumah saja dulu," kara Arnila.


Ney kesaaaal sekali nyatanya mereka sudah hapal dengan kebiasaannya itu. "Iya iya aku tidak akan setengah deh habis aku kan mau lihat reaksi kalian. Apalagi Rita," katanya.


"Kamu senang sekali ya berantem sama aku. Lama-lama aku blokir juga kamu nih," kata Rita mengancam.


"Mulai deh kebiasaan jelek kamu," kata Ney berhasil.


"Mending gue blokir orang tidak akan mengganggu lagi kan. Nah daripada lu mancing esmosi orang, sampai merundung lebih parah mana?" Tanya Rita balas dengan nyelekit.


"Info soal apa iniiiii kalau kamu sengaja mau berantem sama Rita jangan disini deh. Ketemuan saja terus berantem. Berani?" Tanya Arnila.


"Aku sih oke. Tuh teman kamu berani?" Tanya Rita.


"Oke deh kita sudahi. Kenapa jadi melenceng sih? Jadi Alex itu pernah membuat sayembara tidak tahu dimana," kata Ney.


"Ada-ada saja dia," kata Rita.


"Isinya apa?" Tanya Arnila.


"Sayembaranya itu kalau ada perempuan yang bisa mengambil hatinya, akan dapat hadiah besar," kata Ney.


"Wah, Rita dong! Asik tuh coba nanti kamu tanyakan sama Alex. Kali saja sayembaranya masih aktif," kata Arnila memberikan saran.


"Bahahahaha mana ada dia ingat," balas Rita.


"Yee coba saja dulu bisa kaya mendadak tuh," kata Ney yang mendukung juga meski bete sekali mengetiknya.

__ADS_1


"Ngapain sih dia buat sayembara norak?" Tanya Rita tertawa keras.


"Lalu tipenya apa tuh?" Tanya Arnila.


Beberapa menit tidak ada balasan dari Ney, membuat mereka berdua sudah tahu sih pasti tidak sesuai yang Ney inginkan.


"Ya perempuan yang baik hati, tidak matre, tulus hatinya buat dia kalau ada, akan dapat mobil mewah dan setumpuk uang," kata Ney yang ternyata mengkopi paste apa kata temannya itu.


"WAH! Itu mah Rita dong. Cieeee," kata Arnila.


"Apaan sih. Aku yakin sayembara itu hanya terjadi di masa lampau remajanya," kata Rita tertawa.


Ney tidak membalas dia senyum dengan garing, tidak ada kesenangan di dalamnya. Dia hanya menggigiti kuku jarinya.


"Iya aku setuju dengan Rita. Mana mungkinlah. Untung sekali ya waktu dia remaja belum ketemu sama Rita," kata Ney bernafas lega.


"Kalau sudah juga lebih bagus ya. Jadi sekarang kalian tinggal mengukuhkan janji saja. Cieeee kalau jodoh sayembaranya aktif tuuh," kata Arnila dengan gembira.


Ney menepuk dahinya. "Iya juga ya kalau Rita jadi sama Alex otomatis sayembaranya aktif dong. Ini tidak bisa aku biarkan!" Kata Ney mengepalkan tangan kirinya.


Ney mendapatkan ide untuk membuktikan pada Alex bahwa Rita sebenarnya sangat matre. Tentu saja dengan memancing Rita dengan pertanyaan menjebak.


"Eh Rita kalau misalkan sayembara itu aktif ya kan berarti kamu masuk nih ke sayembaranya. Nah kira-kira kamu mau minta mobil apa?" Tanya Ney yang bersiap dengan pose menyimpan ss.


Rita berpikir dengan serius. "Tidak ada," jawabnya enteng.


Ney lalu menyimpan buktinya tapi dia berpikir lagi dan melihat jawabannya. Ternyata tidak ada nama mobil lalu dia buang.


"Ih, kenapa? Dia banyak uang lho," kata Ney berusaha memancing lagi.


Arnila hanya menyimak, dia merasakan Ney punya jebakan untuk Rita. Tapi apakah Rita akan masuk jebakannya? Karena Arnila tahu instingnya selalu menyala kalau ada niat buruk.


"Aku tidak peduli dia punya uang sebanyak apa. Memang apa urusannya?" Tanya Rita.


Ney komat kamit sangat gemas dengan Rita. "Contohnya saja Rita, kamu suka mobil tipe apa. Sudah sekali sih," kata Ney.


"Oh," kata Rita.


"Jadi tipe apa?" Tanya Ney menahan kesalnya.


"Tidak tahu," jawab Rita yang memang pure sama sekali tidak tahu tipe mobil yang dia sukai atau merk mobil apa yang ingin dia punya.


Ney sampai jatuh dari kursinya karena menyimak dengan serius. "Kok tidak tahu sih? Kamu ini aneh ya kalau Alex benar MISALKAN ya mau kasih kamu mobil. Kamu maunya mobil apa? Asal saja deh kan ini imajinasi," jelas Ney membuat Arnila ngakak.


"Ya mana aku tahulah orang aku tidak bisa menyetir juga. Sia-sia saja kan dia kasih mobil, Ney. Kamu kenapa sih? Maksa banget," kata Rita agak curiga.


Ney dan Arnila akhirnya tertawa keras.


"Ya elah kan bisa pakai supir atuh, Rita," kata Arnila ikut masuk obrolan.


"Mahal bayarnya. Kalau benar diberi mobil ya aku jual saja," kata Rita berpikir serius.


Keduanya lantas ketawa ngakak dengan parah.


"Masih ada angkot sama gojek ini," kata Rita lagi.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2