
"Kalau Alex sama perempuan itu, mati pun saya tidak akan tenang. Dia akan kuras habis harta kami dan sangat angkuh tapi kalau dengan kamu... Kamu lebih memikirkan keadaan Alex, tapi karena adik saya super bodoh dan otak es, sering salah paham menghadapi sikap kamu.
Ibu dan Ayah sangat bersyukur bisa bertemu langsung dengan perempuan yang selalu dia sembunyikan. Ayo kemari lagi ya nanti kita belanja, Kakak akan ajak kamu ke butik milik Kakak.
Kamu bebas memilih baju apapun, karena kamu berjilbab bisa dipadu padankan bila mengenakan baju pendek sekalipun. Kakak yakin kamu memiliki kemampuan dalam Style. Kakak tunggu kehadiran kamu beserta keluarga ya.
PS. Untuk yang sedang mendengarkan rekaman ini, awas ya kalau kamu berani datang hanya untuk kepo dan menyakiti Rita lagi!"
Rekaman itu akhirnya selesai, Ney tidak dapat berkata apapun lagi sampai kakak perempuan Alex mengetahui semuanya. Ney menggigit kuku jari-jarinya dengan gelisah. Insting kakak Alex sangat tajam dan kali ini dia tidak berani berkutik.
Rita menunggu waktu sambil mengobrol dan menghabiskan makanannya, sedangkan para guru bercanda. Dirasa rekaman itu sudah selesai, Rita membalas dalam chat.
"Bagaimana? Tidak sesuai dugaan kamu bukaaan? Kasihan. Kepribadian aku jelek kata kamu? Hmm sepertinya itu karena kamu iri ya ckckck makanya rawat diri sedari kamu belum menikah. Cemburu ya karena pribadi aku baik? Ckckckck banyak sedekah, banyak mengaji, pelajari ilmu Islam bukan Jinjun," ketik Rita sambil tersenyum.
"Aku memang begini ya orangnya kalau kamu tidak suka, ya pergi saja," balas Ney.
"Pergi? Aku memang sudah pergi siapa ya yang terus mengejar, minus ya tidak punya malu kepo pula. Pasang "antena" segala ke aku sama teman kamu, sebegitu sulitnya ya kebiasaan kamu untuk menghilangkan K E P O?" Tanya Rita lebih dalam.
Ney kaget, kok bisa Rita sampai tahu dia memasang "Antena?" Ney mulai semakin gelisah, dia panik! Maksudnya bukan antena semacam lalat atau kupu-kupu. Tapi lebih ke mengandung hal ghaib.
Rita menunggu, tidak ada balasan artinya memang benar dan dia yakin Ney pasti kaget. "Ney, kamu itu menyedihkan sekali. Punya teman yang tulus dan baik, tapi kamu buat hubungan mereka hancur dan ada yang sudah terluka sampai ulu hati. That's really bad. Seharusnya kamu sadar kalau perundungan itu selalu berakhir tidak baik," ketik Rita dengan tenang.
Masih tidak ada balasan dari Ney, dia sudah kehabisan kata-kata dan hanya terus menggigiti kuku telunjuknya yang memendek.
"Kamu tidak bahagia bila ada orang yang berada di atas kamu, kamu buat orang itu jatuh dengan menggunakan kelemahan mereka. That's why you always alone, Ney. Berteman tulus bukan begitu caranya. Harusnya kamu lebih banyak bersyukur bukan lebih banyak iri. Kamu dan Arnila sudah menikah, kalian sudah bahagia punya anak dan suami yang bertanggung jawab," jelas Rita.
Ney hanya terus membaca yah, loncat-loncat dia terlalu malas untuk mencerna isi chat dari Rita. Selalu panjang.
"Apalagi sih yang kurang? Aku masih jomblo masih jadi sasaran ejekan orang-orang. Kalau aku jadi kamu, aku akan menjadi istri yang baik dan teman yang mendukung untuk memperbaiki sikap aku yang toxic dahulu," kata Rita.
"Aku tidak toxic kok. Kamu aja yang baperan! Sensitif. Aku kan..." kata Ney yang tidak bisa meneruskan kalimatnya.
"Apa? Kamu bicara seperti itu, itu tanda orang toxic lho," kata Rita.
Ney mengibaskan pikiran dalam kepalanya lalu tiba-tiba wajahnya terlihat senang, tampak seperti psikopat. "Kamu dengar kan ancaman tadi? Itu si rekaman. Kakaknya Alex ngancam aku dong,"
"Ya bagus dong malu atau merasa butuh rasa kasihan? Aku sudah tidak punya itu, susah habis!!" Jawab Rita.
"Ada! Ada ancaman lho itu kakak Alex ngancam ke kamu lhoo," kata Ney membuat Rita bingung.
"Lho, dia bilang tadi kan ancaman itu ditujukan ke dia kan kok sekarang bilangnya buat Bu Rita?" Tanya Bu Dian.
"Yah, orangnya memang agak-agak... Aneh dan Freak," kata Rita.
"Freak kan masuknya aneh juga. Jadi semakin aneh sepertinya ya," kata guru lain.
Rita hanya mengangguk, kenal sama Ney memang sering Rita lihat dia bicara sendiri sampai beberapa orang menjauhinya. Marah, marah sendiri.
"Terus Bu Rita bilang apa, dia tidak baca deh," kata Asmi.
"Memang begitu tapi kalau dia chat, kita dipaksa buat baca. Dia susah, kita dipaksa mengerti dan dengar dia. Orangnya super egois," kata Rita. Para guru manggut-manggut setuju.
"Kalau orang seperti itu memang susah masuk ke circle kita ya," kata guru lain.
Rita balas lagi toh dia juga mendengarkan suara kakak Alex yang jernih itu tapi tidak ada pesan ancaman. Apakah kakaknya memakai jurus ninja?
__ADS_1
"Sudah deh hentikan, kamu itu sudah sering halu Ney. Aku tidak dengar sesuatu yang aneh kok. Coba deh kamu dengarkan lagi dan lebih fokus," kata Rita.
Ney menghela nafas, dengarkan lagi??? Isi suara kakak Alex yang penuh ketegangan itu? Tapi akhirnya dia menurut mendengar lagi dan anehnya kalimat terakhir itu, memang tidak dia dengarkan.
Sudahnya Ney memeriksa telinganya, dia mencoba memijat. Tidak percaya kalau memang dia berhalusinasi, Ney hanya terdiam. Dia menelan ludahnya sendiri, terdiam membaca apa kata Rita.
"Tapi aku tidak halu," kata Ney bicara sendiri. Jantungnya berdebar lalu teringat sesuatu, rekaman itu harus dia simpan!
Sebelum bisa dia simpan tiba-tiba saja file rekaman itu menghilang tidak meninggalkan jejak, membuat Ney kebingungan. Dicari pun tidak ada sama sekali dia membanting ponselnya dan memijat kepalanya.
"Rita, kok rekamannya hilang?" Tanya Ney langsung bertanya.
"Iya dong aku kan tahu kebiasaan kamu suka simpan-simpan sesuatu entah untuk niat jelek. Aku sudah baca semua strategi kamu di tahun lalu, saat Alex sering menitip kamu pesan darinya. Bagus dong filenya hilang," balas Rita cekikikan.
Ney lemas lunglai, Rita memiliki salinan rekaman itu Ney tahu dia tidak akan bisa meminta copy-annya. Rita sangat rapi menyimpan rahasia-rahasia bukan untuk dirinya, tapi tidak mau membuat orang susah.
"Oh iya kasih aku nomor Alex dong. Kamu pasti punya kan," kata Ney seenak udelnya.
"Ada tapi maaf ya siapa kamu? Aku tidak akan sebar-sebar nomor dia ke orang macam kamu!!" Balas Rita.
"Lihat saja Alex pasti hubungi aku kok, aku kan sahabatnya dia," kata Ney sengaja memancing Rita.
"Hahahaha!! Kalau memang begitu, kok kamu ditinggalkan ya? Alex saja tidak suka kamu, pede banget!" Kata Rita balas ketus.
Ney meng geram kesal membacanya, ya lah sudah berapa tahun memang Alex tidak pernah lagi ada chat. Dia cari pun ternyata akun PB nya sudah dihilangkan permanen. Alhasil memang zero!
Kagetnya ternyata Alex memberikan nomor telepon pribadinya hanya pada Rita? "Oke Rita, tapi ya aku jelas mendengar kok kakaknya dia mengancam kamu. Kamu tahu tidak sih keluarganya itu berbahaya lhoo,"
"Aku? Diancam? Yang dengarkan rekaman itu siapa ya? Aku tidak pernah mendengar isinya karena aku dengar sendiri dari orang nya. Hayoo," kata Rita.
"Bahaya itu untuk kamu, bukan aku. Jadi jangan macam-macam," kata Rita.
"Oooh kamu senang sekarang mereka semua jadi back up kamu. Jadi sekarang kamu yang mau merundung aku? Dengar ya Rita, aku pastikan kamu dihukum sama Allah swt kalau kamu mulai merundung. Rasain!!" Kata Ney merasa sudah menang.
"Halaaah jangan sok bawa-bawa nama Allah swt deh. Kamu jarang mengaji, jarang sholat, menghina Al Qur'an bisa-bisanya sebut nama suci. Dasar Fake! Aku tidak akan seperti kamu membalas dengan merundung, buat apa? Norak!" Balas Rita yang membuat Ney semakin marah.
Ney kemudian menangis, iya tiba-tiba juga. Dia bersikap seakan ada yang menerornya. "Terus aku bagaimana dong? Mereka akan berbuat apa ke aku? Suami aku? Keluarga kecil aku,"
"Sudahlah Ney, air mata kamu itu fake, serius. Kamu tidak punya hati yang tulus, baiknya diri kamu itu memang ada tapi sedikit. Biasa sajalah," kata Rita.
Ney membaca dan tangisan berhenti, berubah lagi menjadi biasa. "Aku memang ingin bantu kamu kok sama Alex. Aku juga selalu mendukung kamu, aku ikut kamu saja," katanya air mata sedih itu sudah seperti air keran yang bisa dia tarik masuk.
"Tidak perlu, aku tidak butuh bantuan kamu. Justru adanya kamu yang masuk, kamu malah menghancurkan aku. Jauh-jauh saja deh, aku juga tidak minat berteman lagi sama kamu. Kamu mau dukung aku sudah terlambat semenjak kamu dukung pacar Alex, bilang aku harus ke psikiater karena gila, fatal sekali. Lalu kamu tuding aku kepribadian ganda dengan Alex sama-sama serang aku. Posisi kamu di aku sudah hilang. Aku sangat terluka," jelas Rita.
Ney menunduk membacanya. Seandainya ada jam yang bisa memutar balikkan waktu, Ney berniat untuk memperbaiki segalanya.
"Maaf, Rita. Aku benar-benar minta maaf, aku tidak bermaksud begitu," kata Ney.
"Semua itu keluarga aku baca dan mereka sampai novel ini dibuat tidak bisa memaafkan kamu begitu saja. Pikirkan ya seorang ibu harus melihat anaknya dikatai gila dan kepribadian ganda oleh orang, yang selalu dianggap teman baik oleh anaknya. Apalagi anaknya itu selaluuuu menutup telinga ke orang-orang yang mengejek temannya. Waras tidak sih otak itu orang? Tidak bersyukur kan punya teman yang tulus sama dia?" Tanya Rita menekan.
Ney diam. Keluarga Rita baca? Ya sudah masuk zona merah darah kalau begitu.
"Ya kamu juga sih yang salah kenapa ponsel kamu disimpan seenaknya," kata Ney yang enggan merasa bersalah.
Rita ditenangkan oleh para guru. Rita mengeluarkan nafas secara perlahan, dia kembali tenang.
__ADS_1
"Kalau kamu mau selamat dari keluarga Alex, lakukan janji kamu ke aku. Dan lakukan apa yang dikatakan kakaknya Alex. Ingat ya kamu sudah bersumpah juga," kata Rita sabaaaarrrr.
"Tapi apa? Dia tidak menyebutkan," kata Ney yang merasa Rita pasti sudah lupakan.
"STOP KE-PO," Balas Rita.
Ney menahan nafas well, tidak mudah baginya apalagi dia selalu ingkar janji. "Tapi kan kepo itu tidak haram Rita, belajar ilmu agama ternyata tidak membuat kita pintar ya," kata Ney.
"Kamu yang bodoh! Kepo itu dilarang, Rasul juga melarang. Makanya belajar agama supaya kamu tidak terlihat bodoh! Mau sampai kapan kamu norak seperti ini, Ney? Ya terserah kalau tidak bisa, terima saja resikonya nanti," kata Rita.
"Sudah kamu tidak perlu urus hidup aku. Jangan lupa yaa kamu harus undang aku ke pernikahan kamu nanti sama Alex, aku pasti datang," kata Ney dengan gembira.
Rita dan yang lainnya tertawa.
"Memangnya aku bilang akan menikah sama dia? Kapan?" Tanya Rita tertawa.
"Lho? Kamu bilang lagi ta'aruf sama dia," kata Ney bingung.
"Hahaha terus kamu percaya? Kok bisa? Selama ini aku suka chat apapun sama kamu, kan tidak pernah kamu percaya. Oh kalau soal Alex pasti percaya ya," kata Rita.
"Ya kalau Alex kan dari keluarga kaya, kamu beruntung dari keluarga bawah bisa sama dia. Kalau soal berita Alex ya aku percaya," balas Ney.
Saat itu Rita masih merasa semakin terluka tapi kepala sekolah membelainya dan memeluk, semua guru bersimpati.
"Kamu kuat Bu Rita," kata kepsek.
"Aku kan hanya bertanya saja bagaimana kalau aku menikah sama dia. Bukan benar-benar akan menikah. Pede sekali sih kalau aku akan undang kamu," balas Rita tertawa.
Ney kembali lemas jadi dia hanya bertanya. Ney mencoba memeriksa ya benar saja Rita hanya bertanya, itu kan hanya angan-angan.
"Jadi kamu tidak akan menikah dengan Alex? Kenapaaa kalau menikah sama dia, kamu hidup enak lho kita nanti bisa jalan-jalan ke luar negeri. Tenang nanti aku yang jadi Tour Guide nyaaa," balas Ney yang enggan membaca chat sebelumnya.
"Hiiiii, ogaaaaah maaf ya tidak minat tuuch," balas Rita merinding disko.
"Terus, mau sama siapa? Adik kamu? Jangan nanti kamu ganggu pekerjaan dia, Rita. Masa kamu egois sih? Aku selalu ada waktu kok," kata Ney berusaha.
"Iya kamu memang selalu ada waktu buat aku," balas Rita geram.
"Iya dooong," balas Ney cekikikan akhirnyaaa.
"Kalau aku punya banyak uang saja kamu datang. Saat aku susah, miskin kamu tidak ada. Ya kan? Makasih lhooo kamu satu-satunya teman Fake yang aku miliki. Tapi maaf ya, adikku mau menemani aku kemanapun jadi kamu lebih baik cari lowongan di tempat lain saja. Aku gila kali ya mengajak pelaku perundung untuk jadi Tour Guide? Apa kata dunia?" Tanya Rita.
Ney diam lagi, dia frustasi semua usahanya gagal total. Iya, Rita memang semakin sulit apalagi sudah bilang sangat terluka. Beuh! Mimpi luu bisa dekat-dekat lagi.
"Kok kamu begitu sih sama aku? Lupa ya selama masa sekolah dulu, aku yang selalu menemani kamu tahu! Jadi seperti ini ya, kamu itu tidak sadar kalau selalu kesepian?" Tanya Ney mulai menyerang.
"Kamu? Bukannya terbalik? Masa sekolah memang ada yang dekat sama kamu selain lelaki? Hmmm mungkin kamu mengalami demensia kali ya. Aku sejak sekolah temanku ada kok, aku berteman dengan kelas lain," balas Rita.
"Masa sih kok aku sampai tidak tahu?" Tanya Ney tidak percaya.
"Makanya mikir dulu sebelum bicara. Kamu datang pindahan tahun berapa? Ada kamu kelas satu disana? Tidak ada. Aku kelas satu punya teman memang tidak dekat, tapi aku selalu sama dia. Aku tidak keberatan merasa kesepian, aku nikmati saja, itu sih kamu saja yang merasa," kata Rita tertawa.
Lebih baik sendiri daripada berteman dengan yang palsu apalagi datang saat hanya ada maunya. Lagi senang ditemani, lagi susah ditinggalkan.
Bersambung ...
__ADS_1