ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
407


__ADS_3

Rita terus menertawakan pikirannya di tahun lalu terlalu lebay pastinya dan terlalu menuruti keinginan Alex juga. Yang ternyata Alex lakukan itu semua untuk menarik perhatiannya, untuk membuat Rita sadar bahwa Alex butuh perhatiannya saja. Makanya dia memang sengaja membuat masalah sayangnya Rita memang lamban menyadarinya.


"Lucu saja ternyata aku juga bodoh mau-maunya berbuat onar padahal kamu hanya meminta diperhatikan saja. Benar tidak?" Tanya Rita masih tertawa.


"😊😊😊😊meski kamu menyadarinya setelah setahun berlalu, yah aku hanya bisa bersabar," kata Alex dengan malu-malu.


"Apanya yang bersabar? Kamu caci maki aku, mengatakan hal yang kasar itu bukan sabar. Kamu totalitas stupid," kata Rita membuat Alex diam.


Kata sabar bagi Alex dan Rita sangatlah berbeda. Alex dengan kesabarannya kesal melihat Rita sama sekali tidak sadar lalu bertindak seenaknya. Sedangkan sabar menurut Rita ya menunggu sampai tersadar sendiri.


"Habis kamu mengikis kesabaranku sih," kata Alex sebal.


"Ya itu bukan sabar namanya. Sabar itu menunggu dengan yakin meski lama orangnya untuk ngeh lah kamu mah kejauhan. Ya sudah janji ya tidak akan ada lagi drama mesum. Aku juga capek cari bahan untuk membantu kamunya, kalau nanti kamu begitu lagi lebih baik cari saja solusinya sendiri. Kan tidak baik juga bilang begitu ke orang lain mana perempuan," kata Rita.


Alex merasa malu sekali Rita memang berbeda dari perempuan manapun. "Iya iya maaf ya, memang aku bodoh menganggap kamu sama saja dengan yang lain. Tapi jujur entah kenapa aku bisa sebebas ini bicara dengan kamu sampai yang mesumnya," kata Alex berpikir memang aneh sekali.


"Karena aku memang lebih suka mendengarkan cerita orang makanya kamu jadi ketagihan cerita semuanya meski belum tahu wajah," kata Rita.


"Ahhh benar mungkin begitu ya, aku bebas mau seperti apapun kamu tidak pernah protes. Lalu apa ada berita terbaru?" Tanya Alex yang senang setelah mengetahui kebenaran itu.


"Soal?" Tanya Rita yang sudah sibuk membaca komik.


"Ney dan Arnila pastinya, kalau soal kamu kan bukan berita biasa lagi. Kamu blokir mereka?" Tanya Alex karena kontak mereka berdua berubah warna.


"Iya. Kamu hack WA aku lagi ya!!" Seru Rita bete.


"Ops! Ya aku penasaran saja. Untuk apa laa kamu blokir mereka, mereka juga tidak pernah blokir nomor kamu," kata Alex yang kembali kesal kebiasaan Rita memblokir orang.


"Kata siapa? Orang mereka juga blokir aku kok. Nih buktinya ada tanggal kan," kata Rita mengirimkan bukti.


".........." jawab Alex terdiam. "Mereka terganggu sama kamu," kata Alex berpendapat.


"Aku juga terganggu sama mereka. Berharap Arnila bisa netral eh sama saja dengan temannya," kata Rita.

__ADS_1


"Makanya aku bilang jangan hubungkan lagi kisah kita ke mereka. Ya begini jadinya, kamu sudah sadar kan? Tahu aku ada beberapa sifat Ney yang pastinya tidak masuk ke kamu meski kalian berusaha bersatu. Kalau Arnila masuk semua tapi dia takut kamu kenapa-kenapa kan," tebak Alex.


"Lah tahu?" Tanya Rita.


"Iyalah. Arnila memang baik orangnya hanya... terlalu dekat dengan Ney kalau dia dukung kamu, Ney bisa bertindak diluar batas. Kamu tahu?" Tanya Alex.


"Iya. Arnila yang cerita tapi masa sih Ney sampai melakukan hal begitu? Kalau sadar Arnila berharga kenapa di sia-siakan?" Tanya Rita aneh.


"Nah aku juga sama dengan kamu, aslinya heran sekali dengan pemikiran Ney. Rudet! Dia buat hubungan kamu dengan dia lalu orang-orang, terus disambungkan lagi ke yang lain. Aneh! Kan aku tidak setuju kamu dekat dengan dia bukan karena aku cemburu dengan pertemanan kamu, tapi dia aneh!" Kata Alex mengakuinya.


"........" jawab Rita tidak bisa berkomentar apa-apa.


"Kamu juga pasti merasakan bukan, bagaimana dia menggembar gemborkan kemampuannya. Kalau orang yang memang punya, tidak akan seperti itu. Menyebarkan kemampuan ke setiap orang yang dia temui, itu menandakan fakta sebenarnya dia ingin diangkat dan ingin dilihat hebat," jelas Alex lagi agar Rita tidak salah paham.


"Soal kemanpuannya juga diragukan karena yang alu rasakan dia tidak punya kekuatan sebesar kamu, aku dan Arnila kan," kata Rita lagi.


"Iya. Tapi dia pasti membantah kan karena status dia memiliki kekuatan besar itu sudah terkesan sejak lama dia terus bilang begitu. Padahal nyatanya memang tidak sebesar itu apalagi setelah Arnila memberitahukan dia kalau kamu sebenarnya punya dan lebih besar dari mereka," kata Alex yang nyatanya juga lebih besar dari dia. Sedikit membuatnya cemberut tapi melihat Rita yang sebodoh amat, dia bisa bernafas lega.


"Ohh iya itu gara-gara Arnila juga yang cerita. Kenapa ya dia agak ember mulutnya? Apa karena kejiplak sama Ney?" Tanya Rita pada Alex.


"Tidak mau," kata Rita berpikir apa yang sudah dia lakukan padanya. "Enak saja saat dia dicap punya penyakit, aku harus terima? Maaf ya. Kekurangan aku saja tidak bisa dia terima buat apa aku terima penyakitnya dia?" Tanya Rita.


"Sudah kuduga. Benar juga ya kalau dia mau diterima, kenapa tidak bisa menerima kekurangan orang? Yah, aku tidak bisa memaksa kamu untuk terus berteman dengan dia sih, aku tidak akan menyalahkan lagi. Karena hak kamu mau berteman sama siapa juga hanya dia punya niat membantu kamu. Kamu tahu kan?" Tanya Alex dengan lembut.


"Iya tahu itu aku sudah tahu sejak lama sayangnya memang dia punya niatan lain. Seberapa banyak aku berterima kasih sama dia itu dinilai tidak cukup kan?" Tanya Rita.


"Iya memang. Sebelum memikirkan diri sendiri, pikirkan orang lain dulu kan memang dia tidak bisa menerima kekurangan orang lain padahal dirinya juga tidak sempurna," kata Alex.


"Sakitnya itu memang sejak kecil atau dia yang buat sendiri?" Tanya Rita penasaran.


"Hmmm bagaimana ya. Hidupnya juga rumit hanya Arnila pasti tahu dalamnya dia. Soal kekuatannya bisa dikatakan bukan dari sumber murni Allah," kata Alex.


"HAAAAH?? Salah satu orang tuanya berguru?" Tanya Rita kaget padahal Ney selalu menyombongkan diri bahwa dirinya punya kekuatan itu dari Allah. Tapi memang yang dirasa Rita berbeda sih apalagi kalau memang murni dari Allah, seharusnya dia mengatakan hal yang baik tapi ini kebalikannya.

__ADS_1


"Iya. Ibunya memang punya kekuatan murni tapi bapaknya tidak. Jadi ya begitu, kalau kamu mau tahu Ney dulunya sebelum bertemu kamu dan Arnila, orangnya lembut seperti kalian tapi karena yah, bapaknya memaksa dia memasukkan ilmu lain jadi seperti sekarang," kata Alex agak sedih. Tega sekali orang tuanya berbuat seperti itu.


"Haaaah?! Ya bagaimana ya meskipun yang salah bapaknya tapi seharusnya seiring waktu Ney besar, seharusnya dia bisa berpikir kalau perbuatan itu dilarang. Setidaknya ya beri pengertian sama bapaknya untuk berhenti. Usia 17 tahun kan sudah punya hak untuk berpendapat masa sih sama sekali tidak ada?" Tanya Rita penasaran.


"Ya mungkin dia juga menikmatinya. Kita tidak pernah tahu juga kan, saat dia berpikir dengan memiliki kemampuan itu maka mudah baginya mendapatkan apapun yang dia mau. Tapi dia tidak menyadari saat mendapatkan itu, maka sebagian darinya akan menjadi bayaran," kata Alex.


"Kamu juga begitu ya? Selama ini terawangan aku begini begitu, itu juga pasti ada bayarannya kan," kata Rita.


"😒😒😒Aku hanya menggunakannya untuk keperluan saja kok," kata Alex yang tidak bisa memungkiri.


"Aku yakin tidak murah, ya gantinya kamu jadi bodoh. Sudah jangan gunakan lagi meski untuk keperluan kamu, kamu kan sudah punya semuanya. Lalu apalagi yang kurang?" Tanya Rita tidak ingin Alex menggunakan lagi kemampuannya.


"Hati kamu," jawab Alex sambil tertawa.


"Eeee cie cieeeeee," kata Rita tertawa. "Serius aku mau kamu berhenti pakai itu," katanya.


"Kenapa?" Tanya Alex. Dia tahu semuanya juga melarang dia memakainya lagi.


"Nanti matinya susah lho bisa tidak di keterima di akhiratnya. Kamu mau? Kalau hanya untuk mengedepankan keperluan kamu. Kalau nanti Allah bertanya untuk dipakai apa, dan kamu jawabnya kepentingan sendiri, langsung ditenggelamkan di neraka. MAU!?" Teriak Rita akhirnya.


Alex tertawa keras membacanya ternyata Rita sangat mencemaskan dirinya. "Sedikiiiiit saja kok. Kamu tidak tahu seperti apa keadaan disini. Keluarga bisa saling sikut belum orang lain," kata Alex menjelaskan.


"Mau saya doain kamu matinya tidak tenang? Mau apa alasannya, Allah tidak akan neko-neko soal balasannya," kata Rita agak cemas.


"Iya iya aku akan berusaha tidak memakainya lagi. Ada yang cemas nih," kata Alex menggoda.


"Tidak tahu!" Kata Rita yang malu mengakuinya.


"Chatlah Ney masih ada waktu sebelum kamu benar-benar menutup kesempatan untuknya. Kalau dia nanti banyak membual kamu katakan saja yang ada di hati kamu. Tapi kalau dia masih membantah, jangan kamu masukkan ke dalam hati karena dia butuh pengakuan saja," kata Alex.


"Bagaimana nanti deh, aku kesel setiap chat sama dia," kata Rita membacanya.


"Oke deh, aku percaya kamu benar-benar orang yang hatinya baik jangan terlalu percaya sama perkataannya Ney. Apa yang pernah Arnila ucapkan sama kamu, itu sebuah peringatan soal Ney," kata Alex lagi yang sekarang sedang mengerjakan sesuatu.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2