
Apa yang Rita pernah sarankan benar-benar terjadi bahkan sangat cepat daripada dirinya berdoa hanya saat Tahajud saja. Bukan dalam kurun waktu 5 hari tapi SEHARI! Dia menceritakan semuanya pada Arnila saat itu, Arnila terdiam mendengarkannya. Benarlah menurutnya kalau perkataan Rita bertuah apalagi kalau Rita mengatakan hal positif, pasti kejadian.
"Gila kan. Padahal aku ya niat hanya 3 hari mau sholat wajib selama itu eh tahu tidak aku meminta suami, si Dins langsung melamar! Kok gue ngeri ya?" Tanya Ney agak merinding.
"Ya bagus dong. Nah sekarang kamu seharusnya mulai berbenah apa yang Rita katakan terjadi kan. Makanya aku selalu bilang hati-hati bicara sama Rita," kata Arnila dalam teleponnya.
"Tapi kok bisa sih? Apa dia punya kemampuan meramal juga?" Tanya Ney dia bahagia akhirnya dengan Dins tapi di lain sisi, merasa lagi-lagi tersaingi oleh Rita.
"Hmmm ya bisa saja kalau dia mau tapi kan orangnya saja tidak minat dengan hal begituan," kata Arnila berpikir.
"Serius? Lebih tepat?" Tanya Ney tidak percaya.
"1000% tepat kalau dia mau ya meskipun orangnya tidak sadar dengan kemampuannya. Aku lihat apapun yang dia katakan akan menjadi kenyataan. Itulah sebabnya aku cerewet sama kamu sejak dulu kalau bicara dengan Rita hati-hati. Tapi kamu sama sekali tidak peduli kan dan terus memaksa kehendak kamu ke dia," kata Arnila membuat Ney menunduk.
"Ya aku pikir itu yang terbaik," kata Ney.
"Itu salah untung saja ya kejadian kamu memaksa dia dulu dan merundung dia, tidak sampai membuatnya menyumpahi kamu. Segitu dia masih baik lho menahan rasa gendoknya sama kamu, jadi satu-satunya jalan ya memblokir kamu," kata Arnila.
"Jadi blokir aku adalah jalan lain supaya dia tidak menyumpahi aku?" Tanya Ney bengong.
"Iya. Dan bukannya kamu MIKIR malah terus mendatanginya dan terus berkata yang macam-macam. Ney, rasa sayang, prihatin, ikhlas ke kamu itu mulai menipis lho kamu harus cepat sadar kalau tidak, nanti kamu sendiri yang rugi," kata Arnila dengan nada buru-buru.
"Lah, kenapa aku yang rugi? Bukannya dia? Kalau aku yang menjauh dari dia, dia kan yang kesepian?" Tanya Ney merasa sebal.
"Rita sih tidak akan peduli sekalinya benar kamu jauh dari dia. Toh dia bisa mendapatkan teman baru dengan caranya. Nanti juga kamu akan tahu kerugian yang akan kamu dapatkan apa, kalau kamu sekarang masih tetap begitu," kata Arnila sudah tidak peduli.
Ney terdiam dia berpikir keras, sama sekali tidak mengerti kerugian apa yang akan dia dapatkan nantinya. Ney masih berpikir kalau Rita pasti akan menyesal sudah membuatnya jauh darinya.
"Ini bagaimana dong? Minggu depan mereka akan datang lagi untuk mendengar jawaban aku," kara Ney mengesampingkan masalah Rita.
"Ya bagaimana? Dins juga sudah cerita ke aku," kata Arnila membuat Ney kaget.
"Hah? Dia cerita apa?" Tanya Ney penasaran.
"Katanya kamu sudah berubah bisa fokus sama pekerjaan dan lain-lain. Jadi dia mantap mau menikahi kamu. Aku juga bilang kalau Alex itu hanya main-main saja karena aslinya suka sama Rita," jelas Arnila.
"APA!? Kamu bilang begitu segala," kata Ney kaget lagi.
"Lah memang iya kan. Alex tidak ada rasa ke kamu. Dari awal juga dia mah hanya tes ke kamu soalnya kan kamu memaksa untuk suka ke dia hanya untuk kejar hartanya kan," kata Arnila.
Ney bengong lalu menepuk dahinya. Pantas Dins maju apalagi dia juga kebingungan. Di sisi lain dirinya memang merindukan Dins tapi sisi lain, menunggu Alex dengan berusaha menghancurkan Rita.
"Sudah deh, kamu sendiri yang bilang Alex belum tentu ada kan. Nah lu sekarang dilamar Dins, dia lebih JELAS manusianya. Sekarang bukan waktunya lagi kami banyak memilih sesuai keinginan kamu yang dulu, Dins melamar," kata Arnila menekankan.
"Iya sih. Sudah dari dulu aku tanya dia kapan melamar, tapi katanya belum siap makanya kita putus nyambung juga," kata Ney berpikir lagi ke zaman dulu.
"Nah, ya sudah terima. Jangan menunggu rejeki yang bukan milik kami, Ney," kata Arnila.
"Habisnya aku merasa tidak adil deh. Rita yang cuek begitu bisa mendapatkan lelaki super tajir, aku saja yang lebih luwes malah dapatnya...." kata Ney agak merajuk.
"REJEKI SETIAP ORANG ITU BEDA! Kamu jangan seenaknya mikir semua hal tidak adil ya, Rita cuek sebanyak apapun uang yang dia punya tidak pernah pamer beda sama kamu. Luwes tapi playgirl mananya yang baik? Dins juga sama dengan kamu, jadi cocok. Ingat saja kamu sendiri yang dari awal berdoa banyak untuk Dins," kata Arnila dengan galak.
"Iya iya deh! Hanya pasti Rita akan super sombong ya dengan kita. Kamu juga pasti akan dilupakan dia deh," kata Ney.
"Aku sih tidak peduli! Mau dia anggap aku bukan temannya atau iya pun, aku tidak peduli! Ney, berhenti kepo dengan kehidupan orang lain, hidup kamu saja belum benar kan," kata Arnila mulai sebal.
"Kamu benci sama Rita? Tidak mau berteman sama dia lagi?" Tanya Ney ingin tahu.
"Aku tidak benci tapi aku ingin kita semua hidup bahagia dia jalan masing-masing. Rita juga sudah cukup stres dengan kehadiran aku dan kamu. Jadi kamu juga jangan sering menyusahkan nya, Ney," kata Arnila. Sejujurnya dia sangat ingin bisa berteman dengan Rita tapi masalahnya Ney masih ada disekitarnya.
Dia tahu betul bagaimana watak Ney bila dirinya berteman dengan dengan Rita. Takut dikirim santet pada Rita makanya dia terpaksa berkata begitu agar Rita aman.
"Ohh baguslah," kata Ney tersenyum. Ada ketakutan tersendiri baginya kalau Arnila menjawab dia menyukai Rita. Aneh kan?
"Memangnya kenapa kalau aku bilang suka berteman dengan Rita? Jangan bilang kalau kamu mau mengirimkan sesuatu jahat ya ke dia," kata Arnila menebak.
"Ya mungkin tapi kan kamu bilang tidak suka sama dia jadi ya biasa aja," kata Ney tanpa sadar.
Arnila kaget. Dia pun masih belum bisa lepas dari Ney tapi nanti akan ada saatnya. Dimana dia bisa bebas darinya dan kembali pada teman-temannya. Toh gengnya sudah bisa menerima kehadirannya sebagian.
__ADS_1
"Ya da kamu mah begitu makanya tidak ada yang mau lama menemani kamu. Sadar tidak sih?" Tanya Arnila membuat Ney diam. "Paling geng Sosialita kamu saja yang kamu punya sebagai grup pamer. Teman yang untuk ke arah baik sama sekali tidak ada kan. Kamu ini apa tidak bosan ya?" Tanya Arnila penasaran sekali.
"Kamu kok lama tidak ada kabar, Nil?" Tanya Ney mengubah topik.
"Ya kan aku sudah bilang sebelumnya kalau menikah nanti waktuku untuk chat apapun sama kamu atau orang lain, berkurang banyak," kata Arnila yang sudah terbiasa Ney mengubah arah.
"Oh, aku kira hanya aku saja. Aku pikir kamu mulai menghindari aku," kata Ney menebak dengan tebak.
"Iya. Nanti juga aku akan jauh dari kamu dan aliran kita akan berbeda. Kamu tidak akan butuh aku lagi," kata Arnila dengan jujur.
Ney terdiam mendengarnya. "Hah? Kenapa? Gue salah apa sama kamu?" Tanya Ney yang pura-pura cemas.
"Kamu akan mulai merasa bosan denganku lalu kamu mulai mengejar Rita dengan berbagai cara, kamu akan membuat beberapa temannya dan orang yang paling dekat hancur. Tapi semua itu gagal dan akhirnya kamu mendapatkan malu entah karena apa. Sudahnya ya kamu pergi dengan geng kamu," jelas Arnila.
"APA!? Kamu lihat sesuatu ya?" Tanya Ney tidak percaya. Dia tahu Arnila juga memiliki kemampuan lain dan memiliki Khodam. Tapi anehnya Ney sama sekali tidak bisa melihat khodam milik Arnila. Padahal Rita bisa jelas merasakan kalau setiap bicara dengan Arnila, "itu" pasti datang.
"Iya tapi tidak ada gunanya aku ceritakan. Nanti juga kamu mengalaminya. Oh iya ada kabar dari Rita?" Tanya Arnila mengubah topik.
Sesuai perkiraan Arnila, Ney sama sekali tidak mempercayainya. Karena ramalan dia lah yang lebih tepat, menyangka Arnila hanya bisa berkata omong kosong.
"Tidak ada. Kelihatannya dia masih sebal sama aku, aku di blok sama dia," kata Ney.
"Ya pastilah siapa sih yang bisa melupakan begitu saja kejadian waktu di acara aku? Semuanya jadi hancur gara-gara siapa coba," kata Arnila.
"Ya aku hanya bermaksud menguji saja kok eh malah jadinya kelewatan," kata Ney.
"Yang tidak aku pikirkan ya kok kamu bisa-bisanya ya mengundang geng kamu? Tahu tidak beberapa petugas WO, pernah bertemu si Sarah sebagai penghancur resepsi?" Tanya Arnila marah.
"Hah!? Ih, aku tidak tahu kok. Mereka nanya Arnila menikah di gedung mana, ya aku kasih tahu. Aku tidak ada ajakan mengundang mereka kok," kata Ney membela dirinya. Dia mengepalkan tangannya kesal sudah membongkar dirinya yang mengundang mereka semua.
"Aku sih tidak keberatan kalau kamu mau undang mereka tapi tolong dong Ney, itu acara pernikahan aku. Aku mau undang siapa, terserah aku meski aku undang musuh aku sekalipun. Mengetes Rita itu di tempat lain kek. Seenaknya sekali sih kamu itu mentang-mentang kenal gue!" Kata Arnila kesal. Untungnya acara sukses setelah gengnya pulang.
Ney hanya menggigiti kuku jarinya yang sudah memanjang. Dia sama sekali tidak terlihat merasa bersalah dan memang benar dia sengaja melakukannya. Begitulah dia cara menghadapi orang seenaknya, selalu kabur mengalihkan topik atau apapun agar dirinya tidak dipojokkan.
"Lalu bagaimana nih aku harus meminta maaf, nomor aku kan diblokir sama Rita. Kamu ya hubungi dia buka gembok begitu," kata Ney yang kelelahan menghadapi kebiasaan Rita.
"Masalah apa sih? Justru dia sendiri yang susah," kata Ney cemberut.
"Janji?" Tanya Arnila memaksa. "Dan kamu benar harus meminta maaf ke dia," katanya lagi.
"Iya deh," katanya menyerah.
"Tidak perlu lagi membicarakan sesuatu yang tidak ada manfaatnya buat dia. Kalau dia komentar apa, kamu tidak perlu pakai emosi segala. Janji?" Tanya Arnila meyakinkan karena Ney selalu bohong orangnya.
"Oke oke aku janji! Cerewet sekali sih," kata Ney kesal.
"Karena sekali ini terakhir aku bantu kamu baikan lagi dengan dia, seterusnya kalau ada masalah kamu harus pikirkan sendiri," kata Arnila.
"Duh, cerewet sekali sih. Aku tidak akan meminta bantuan kamu lagi deh kalau kejadian lagi dia blok aku, terserah dia!" Kata Ney kesal juga.
"Bagus. Toh dia juga sudah malas menghadapi Drama kamu," kata Arnila dengan cueknya. Semenjak sudah menikah, Imron banyak menasehatinya kalau lebih baik netral tidak memihak manapun. Supaya Ney bisa berpikir sendiri karena Arnila bukan ibunya.
Setelah itu Arnila mengirimkan pesan menggunakan nomor lain, melihat ternyata nomornya juga di blok oleh Rita. Setelah mengirimkan email, Arnila kembali lagi me chat WA dengan Ney. Sambil menunggu, Ney kembali mengobrol dengannya.
"Tapi kenapa bisa sih? Omongan Rita itu kenapa bisa sakral? Dia pakai ilmu khusus ya?" Tanya Ney kepo. Tidak menyangka kalau Rita kemampuannya dalam mulutnya.
"Dia tidak punya dan belajar ilmu khusus apalagi soal mistis. Kamu tahu cita-cita dia yang terdalam? Harusnya sih kalau kamu bisa membaca pikiran dia, soal misi dan visi pasti ketebak," kata Arnila dalam chatnya.
"Itu kan karena dia suka menyembunyikan pikirannya kadang aku tidak bisa menebak, meski kata dia sedang berpikir," jelas Ney.
"Hmmm iya sepertinya dia punya teknik khusus supaya orang yang bisa membaca pikirannya terhalang. Ya itu salah satu kemampuannya tapi aku yakin isi pikirannya hal sepele," kata Arnila sambil tertawa.
"Terus cita-cita yang kamu maksud memangnya berhubungan dengan kemampuannya?" Tanya Ney.
"Iya makanya sakral juga," kata Arnila.
"Wah bagaimana caranya mungkin aku bisa mendapatkannya juga. Jadi kan enak kalau aku bisa mendapatkannya, dia mau bicara apapun aku bisa lawan balik dan jadi kenyataan deh," kata Ney sangat senang. Membayangkan semua perkataannya jadi kenyataan untuk Rita dan dia aman bertekuk lutut kepadanya.
"Sepertinya mustahil kamu bisa deh," kata Arnila.
__ADS_1
"Kok begitu sih? Oh kamu menyepelekan aku ya," kata Ney tersungging eh tersinggung.
"Cita-cita dia itu adalah sangat dekat dengan Penciptanya. Kamu tidak tahu kan? Dia rajin lho meluruskan niat dalam hal apapun, menghaluskan ucapan dengan banyak berdzikir. Mendoakan banyak orang yang dia kenal dengan yang tidak. Kalau berkata itu dia lembut kan, jelaskan dengan detail jarang membuat orang menangis. Kamu bisa seperti itu?" Tanya Arnila.
Ney diam membacanya, dia berhenti berpikir soal menandinginya. Semacam itu bukanlah Ney, dia tidak mungkin mampu karena sudah sejak awal, mulutnya selalu mengeluarkan kalimat yang tajam. Membuat banyak orang merasa tersakiti bahkan tidak jarang membuat satu grup hancur seketika.
Ucapannya sangat nyablak meskipun isinya memang kejujuran tapi sayangnya dia tidak bisa mengontrol tata cara pengucapan. Sehingga yah seperti Rita, banyak yang memilih menghindarinya atau bahkan menjauhinya. Dia juga memang bukan orang yang senang dengan pencapaian orang lain, menurutnya hanya dia seorang yang pantas mencapai puncak, yang lain cukup di bawah dirinya.
Saat dirinya diajak masuk suatu kelompok yang berisikan orang-orang positif, dia akan menghantam semuanya sampai akhirnya bubar. Dia sangat senang menghancurkan padahal di sisi lain dari sikapnya, dia selalu bertanya-tanya kenapa semua orang tidak ada yang mau mengerti dirinya.
Apa yang dia lihat entah kenapa saat diucapkan atau menjelaskan, itu selalu terbalik jadi tidak sinkron dengan yang mau dia utarakan.
"Rita itu jarang sekali lho berpikiran negatif soal kamu, jadi kenapa kamu selalu berpikiran negatif soal dia?" tanya Arnila.
"Aku yakin dia banyak berpikir soal aku, Arnila. Aku tuh jauh dengan dia," kata Ney.
"Kalau soal penampilan, fisik, kan kamu bisa mengubahnya. Kalau kamu tidak percaya diri dengan tampilan kulitnya kenapa kamu tidak mulai melakukan perawatan? Bekas penyakit tampek bisa kamu hilangkan dengan obat yang cair itu eh malah kamu buang," kata Arnila yang pernah melihatnya.
Ney menyesal dia membuang semua obat penghapus bekas gatal dan mulai membeli lagi sesuai resep dokter. "Bukan soal itu saja sih," katanya.
"Soal harta? Ney, pernah tidak melihat dia membandingkan hidupnya? Tidak kan. Itu hanya ada dalam pikiran negatif kamu. Yang aku lihat sih kalau cerita soal Rita, kamu selalu suudzon terus," jelas Arnila.
"Bukan soal itu. Tapi kemampuan yang dia miliki aku kan tidak mau punya dia lebih besar," kata Ney.
"Ya Allah, Ney. Dia juga mana mau punya yang begituan. Iri boleh tapi sekedarnya saja jujur ya aku tahu Rita punya itu lebih besar dari aku, kamu atau pun alex sejak awal kamu kenalin dia ke aku. Kok bisa dia punya beban sebesar itu," jelas Arnila.
"Memangnya sebesar apa sih?" Tanya Ney penasaran.
"Kamu tidak bisa lihat? Serius?" Tanya Arnila.
"Bisa kok," kata Ney.
"Kalau begitu kenapa bertanya. Coba jelaskan sebesar apa," kata Arnila menantang.
Lima menit tidak ada jawaban, Ney memang tidak bisa melihatnya karena memang tidak ada kemampuan untuk bisa melihat hal itu. "Iya iya aku tidak bisa melihatnya. Oke, tapi kenapa Alex bisa?" Tanya Ney kesal.
"Kalau Alex sih punya keturunan dari kakeknya. Besar sekali," kata Arnila yang tiba-tiba mual. Ya memikirkannya saja memang membuat perasaannya tidak enak.
"Seberapa besar sih? Memangnya ibu kamu kalah juga?" Tanya Ney.
"Tidak ada tandingannya. Siapapun tidak ada yang bisa menandinginya. Makanya kasihan," kata Arnila.
"SERIUS!? SEBESAR APA MAKANYAAAA," kata Ney tidak sabaran.
"Semesta. Itu lah ukurannya, guruku siapapun orang tua kamu, tidak ada akan ada yang bisa mengalahkannya. Kalau dia memang mengolah kemampuannya ya tapi syukurnya, justru Rita sama sekali tidak peduli," kata Arnila.
Ney diam. Semesta? Alam ini? Hah!? Sebesar itukah kekuatannya Rita? Yang dalam penglihatan Ney, Rita adalah teman yang polos, mudah dimanfaatkan, tapi kadang membuatnya tertawa. Memang tidak ada perilakunya yang membuat orang lain sebal, bete atau ingin menjauhinya. Dia iri pada Rita dari A sampai Z apalagi setelah tahu dicintai oleh Alex anak jenius.
Perilaku Rita yang kadang membuatnya sangat malu, terkesan tidak peduli sebenarnya mengganggunya tapi saat Rita membloknya, ada perasaan rindu. Setiap Rita berbicara entah kenapa dirinya selalu merasa geli mendengar ceritanya. Kadang juga dia merasa bersikap tidak kenal Rita saat kebodohannya membuat beberapa orang menatapnya geli. Saat Rita tidak tahu bagaimana menggunakan PlayStation dan bertanya kepadanya.
Bukannya menjelaskan tapi Ney pura-pura tidak kenal saat Rita heboh, permainannya berakhir kalah. Mereka pernah berlomba dalam game, karena tahu Rita tidak bisa memainkannya Ney memutuskan tidak menjelaskan caranya. Alih-alih menjelaskan, Ney hanya menertawakannya karena kalah melawannya. Beberapa orang lalu mengajarkannya karena kesal dengan Ney dan akhirnya Rita menang berturut-turut.
Kesal! Itulah yang dirasakan oleh Ney, karena beberapa orang mengajarkan Rita akhirnya dia malah kalah. Setelah itu dia mengajak Rita main yang lain seperti balap mobil. Rita menolak dan lebih memilih game memukul tikus, akhirnya mereka bermain sendirian. Ney merasa bosan dan melihat Rita asik memilih lawan untuk mendapatkan banyak tiket. Akhirnya Ney menantangnya untuk siapa yang paling banyak mendapatkan tiket.
Kemudian mereka bermain memukul tikus, sedikit curang Ney memukul bagian Rita dan dia mendapatkan banyak tiket. Rita sebal melihatnya lalu bila ada kesempatan, Rita menambahkan tiket yang didapat dari permainan sebelumnya. Akhirnya ya Rita yang menang dan Ney kesal tetap saja kalah meski sudah curang.
"Tidak bisa hilang?" Tanya Ney kembali bertanya.
"Mana bisa itu sudah tertanam dengan nyawanya. Ingin lebih aman?" Tanya Arnila.
"Bagaimana?" Tanya Ney.
"Jauhi Rita. Jangan mendatanginya lagi, lupakan dan jangan kepo," kata Arnila membuat Ney diam lagi. Berkali-kali banyak orang yang memberikan saran tapi lagi-lagi Ney beranggapan kalau Rita akan kesepian tanpa dirinya.
"Masa harus begitu? Memangnya salah kalau aku dekat sama Rita?" Tanya Ney.
"Kamu kalau dekat dengan Rita pasti selalu buat masalah. Adaaa saja yang kamu coba-coba ke dia, berharap semua hidupnya hancur kan. Jadi Rita aman bergantung sama kamu tapi itu tidak akan pernah terjadi. Ney, kamu tidak punya kesadaran diri ya?" Tanya Arnila membuat Ney kaget.
Bersambung ...
__ADS_1