
"Kita lagi teriak-teriak tadi," kata Rita yang puas dengan hasilnya.
"Hah? Tentang apa?" Tanya Arnila.
"Dia akhirnya jujur sejak dulu kenal aku dia itu menahan rasa kesalnya. Yah intinya terpaksa juga dia berteman sama aku," kata Rita akhirnya tahu juga.
Intinya mereka berdua berteman sama-sama karena kasihan. Kalau Rita memang punya banyak teman sejak kenal Ney, tidak ada satupun orang yang mau dekat dengannya sedangkan Ney mengira Rita lah yang tidak punya teman tapi setelah tahu ternyata Rita lebih banyak temannya. Makin kesini ternyata dugaannya selama ini dialah yang tidak punya teman, melihat Rita bisa akrab dengan siapapun, membuat Ney semakin iri.
Mengira dia dan Rita satu jalur, satu aliran dan satu tempat kemampuan ternyata saat keluar SMP itu, Rita tidak memilih jalan yang sama dengannya. Ney memilih jalur lurus karena yakin Rita juga akan memilih itu namun ternyata, Rita memilih belok-belok. Dan itu membuatnya kaget hanya bisa memandangi Rita yang terus berjalan sesuai jalan yang dia mau dan membuatnya bertemu banyak orang.
Saat dia berjalan lurus, orang yang dia temui tidak sesuai kriteria dan dengan mudah meninggalkannya. Lalu dia penasaran bagaimana dengan jalan yang Rita pilih. Ternyata Rita bersenang-senang dia menemukan banyak teman, banyak orang dan pengalaman beragam. Di saat itu juga Ney menyalahkannya yang sudah menjauh darinya.
Beranggapan Rita sebagai pengkhianat karena melewati jalurnya. Berkhianat kepada Ney karena dia ditinggalkan, jadi tidak salah baginya untuk menghancurkan gunung yang Rita buat secara perlahan. Berhasil dia hancurkan tapi sebagian, sisanya itu sama sekali tidak hancur yaitu teman dan sahabat murni yang mendukung Rita.
Bukannya hancur gunung itu berubah menjadi emas membuat Ney semakin merajalela, tidak ikhlas melihat kebahagiaan yang Rita dapatkan. Apalagi ditambah Alex sekarang. Gunung yang hancur perlahan menumpuk lagi dengan gunung yang baru. Dan Rita bangga hasil pencapaiannya selama ini membuahkan hasil.
"Lalu apa katanya selama ini kenapa masih mau saja berteman dengan kamu?" Tanya Arnila. Dia juga sama masalahnya kasusnya dengan Rita jadi yah ingin tahu kira-kira apa jawabannya.
"Ya dia mau temenan sama siapa lagi? Waktu SMP juga kan terlihat sekali tidak ada yang mau dekat sama dia," kata Rita.
"Oh iya ya di Jakarta juga kebanyakan yang jadi teman dia ya laki-laki sih. Kalau aku mah campur semua ada karena tidak pilih-pilih," kata Arnila.
"Tapi dia bisa masuk ke kamu pasti menghancurkan semuanya kan. Aku juga sama tapi malah kebalik menyerang dia," kata Rita.
"Iya sehancurnya aku dibenci semua orang, begonya malah membela dia. Hancur juga kan aku, ya kamu bersyukur teman-temannya tahu Ney seperti apa. Lagipula teman kamu banyak lho yang khodamnya hebat-hebat, jadi dia mana berani macam-macam," kata Arnila yang bisa melihatnya.
"Ah masa sih?" Tanya Rita tidak percaya.
"Serius. Apalagi teman kamu semuanya galak jadi ya tenang saja dia tidak akan berani deh. Ney cemburu karena kamu punya banyak teman yang khodamnya hebat-hebat. Kamu tidak tahu? Perasaan kamu dengan mereka bagaimana?" Tanya Arnila.
"Hahaha senang terus, ya nyaman lah. Mereka semua dewasa sih kepribadiannya jadi aku yaa enak saja. Sejelek apapun aku, mereka tidak masalah," kata Rita menggambarkan soal mereka semua.
"Ya itu efeknya dan memang mereka dewasa, mereka berubah kalau kamu berubah, Rita jadi dijaga terus mereka dan juga kamu. Kalau jadi sama Alex jangan lupa teman dan sahabat kamu, dan lupakan aku supaya hidup kamu aman," kata Arnila. Sedih karena menurutnya Rita memiliki kemampuan yang selalu membuatnya semangat.
"Ney tuh apa tidak sadar ya kalau hidupnya sepi? Jujur juga tampaknya sudah keluar dari mulutnya. Ingin punya sahabat tapi milih," kata Rita agak aneh.
"Iya kita juga kan tidak mencari kekurangannya ya. Aku juga heran apa sih yang dia cari. Okelah, dia mau temenan sama aku karena kaya tapi masih saja aku juga dia gitu-in. Kan aneh," kata Arnila.
"Sangatlah. Sudah mendapatkan kamu tapi masih diberi aneh-aneh," kata Rita.
"Memang aneh. Dia menyulut api, kita balas gendog sendiri. Sebelum kamu ada, aku tidak berani melawannya soalnya dia suka bertindak aneh," kata Arnila.
"Biarkan sajalah aku juga malas memikirkannya," kata Rita.
"Soalnya dia pernah mengancam mau bunuh diri kalau aku tidak menurut," kata Arnila membeberkan.
"Dia itu depresi tingkat miring, Nila. Dia mengancam karena kalau kamu pergi, mau dengan siapa bisa pamer, bisa bicara tinggi-tinggi, bisa nakuti kamu. Memangnya kamu tidak lihat dia bagaimana sama aku? Makanya aku eneg sejuta rasa sama dia," kata Rita.
"Oh iya ya hahaha soal dia memaksa kamu cerita jeleknya Alex ke orang tua kan. Aku asli ngakak!" Kata Arnila.
"Makanya kalau dia ancam kamu lagi, sudah diamkan saja. Kalau berani nanti juga ada kabar heboh. Kalau nanti dia sangkut pautkan nama kamu, kasih bukti ke polisi biar sekalian dia dipenjara," kata Rita ekstrim.
Arnila tertawa jelas sekali Rita memang tidak mungkin bisa akrab dengan Ney. Begitu juga sebaliknya.
__ADS_1
"Ya tidak bisa segitu juga kali," kata Arnila menghela nafas.
"Ya bisa lah kamu berhenti deh jadi orang yang tidak enakkan. Rugi, kan aku juga begitu orangnya. Kalau kamu tidak suka dia sama sesuatu, jangan dibaca! Blokir kan kamu sendiri yang bilang ke aku juga. Kamu juga kan tidak suka aku, lalu blokir kan," kata Rita.
"Iya sih aku pikir kan blokir kamu karena kamu tidak suka aku juga. Tapi sekarang aku tahu kenapa, kalau aku bela kamu Ney pasti akan mengirimkan sesuatu ke kamu," kata Arnila.
"Terserah aku tidak takut. Ada Allah yang akan mengatasi semuanya. Kamu lupa? Jangan takut pada sesama manusia, takutlah hanya kepada Allah. Ingat bukan Ney yang memegang nyawa tapi Allah," kata Rita mengingatkan.
"Benar juga ya dulu aku pikirnya gara-gara dia selalu bilang kalau kekuatannya besar sih. Sekarang aku ketemu kamu lagi ternyata salah apalagi ada Alex. Aku yakin dia juga salah menilai kamu," kata Arnila.
"Aku sih tidak mengerti kekuatan apalah itu. Aku orang biasa, yang lebih senang berpikir positif. Itu mungkin kekuatan yang kamu maksudkan ya," kata Rita.
Arnila tahu Rita sama sekali tidak minat dengan hal itu. "Iya Rita itu maksudku. Rita," kata Arnila.
"Apa?" Tanya Rita.
"Kalau nanti Alex atau Ney mengatakan sesuatu tentang aku yang membuat kamu merasa "Down" jangan didengarkan ya. Kamu ingat saja langsung dari kata-kata aku," kata Arnila.
"Hmm? Contohnya?" Tanya Rita agak aneh juga.
"Seperti "Arnila itu memang tidak mau berteman sama kamu. Makanya dia memilih Ney," kalaaauuu Alex atau Ney bilang begini, kamu bilang iya iya saja. Jangan mengomentari," kata Arnila.
"Kamu lihat sesuatu ya?" Tanya Rita.
"Iya. Alex itu rumit, rudet, rese dan senang membuat masalah mirip Ney tapi kalau Ney sih lebih parah kepo juga. Ingat ya Rita, kalau aku senang bisa ketemu kamu, bisa kenal tapi sayang untuk lebih dekat aku takut kamu dapat luka," kata Arnila sedih.
"Ohh iya tapi mungkin aku akan lupa tuh tapi aku akan selalu baik-baik saja kok. Maaf juga kalau nanti aku mungkiiin menghilangkan kamu permanen," kata Rita juga.
"Oke deh. Lalu soal kebiasaannya itu memang begitu? Memberi orang makanan tiba-tiba basi? Kasih barang besoknya rusak," kata Rita penasaran.
"Sudah tidak aneh sih Rita memang aneh sekali semua yang kepegang atau dipegang sama dia itu ya kalau tidak basi, rusak. Aku kaget juga dia kasih kamu tas selempang itu kan dari kain. Ya termasuk orangnya tidak serapih kita, kalau menghadiahkan sesuatu pasti adaaa saja yang sobek," kata Arnila.
"Itu sengaja?" Tanya Rita agak tidak percaya.
"Bisa jadi. Kamu sih tidak bisa membaca pikirannya, aku bisa. Alex juga makanya Alex bilang kamu jangan terlalu dekat juga. Masalahnya kamu tidak bisa jadi Ney masih aman dalam pikirannya," kata Arnila.
"Hmmm terus?" Tanya Rita yang tidak berminat deh baca pikiran orang.
"Waktu SMA ya sampai kuliah banyak memang yang tidak mau dekat sama dia sesuai yang kamu bilang, makanya dia bilang tidak mau berteman tendang kita seenaknya ya pasti datang lagi. Karena dia mau sama siapa? Orang yang dekat dia kalau ada yang tidak sesuai dia suka menyumpahi," kata Arnila menceritakan soal masa dulu.
"HAH!?" Kejut Rita.
"Tapi tidak ada yang terjadi kok malah dia yang kena adaaa saja musibah nya. Terus yang dekat dia juga mengalami kejadian aneh, sama dengan kamu yang kehilangan uang, makanan tiba-tiba membusuk padahal baru beli. Makanya kalau dia kasih makanan aku tidak pernah makan," kata Arnila sesuai pengalamannya.
"Iiiiihhh seyeeemmm untung sekali ya waktu dia belikan aku makanan cemilan Jakarta, sampai lupa dimakan," kata Rita langsung sujud syukur.
"Memang begitu, menurut aku sih tangannya karena tidak pernah peduli kebersihan ya jadinya begitu. Aku pernah ke rumahnya di Jakarta ya begitu, makan sendok belum dicuci dia pakai begitu saja. Piring masih kotor dipakai dong. Ihhh," kata Arnila merinding.
"Banyak setan nempel tidak diusir," kata Rita.
"Tepat. Makanya kita harus hidup bersih kan, untuk apa tempat sikat gigi ya supaya rapi. Kamar harum bersih dia kebalikan," kata Arnila.
"Memang sih aku juga berantakan tapi selalu aku bereskan, komik sudah dibuat lemarinya jadi tidak berantakan lagi, Seminggu sekali aku juga bereskan kamar, di lap basah cermin dan semuanya," kata Rita melihat sekelilingnya yang rapi.
__ADS_1
"Ya kalau perempuan kan bagusnya memang begitu, Rita bagaimana tidak banyak setan yang datang coba kalau kamar sudah bau, tidak diurus, makan dengan piring kotor. Kamu pernah kan makan di rumahnya?" Tanya Arnila.
"Pernah jadi tidak mau lagi hahaha diajak makan siang terus dia kasih piring dari wastafel. Aku kira sudah bersih ternyataaaa.. begitulah akhirnya aku cuci. Dia dimarahi sama ibunya karena lagi-lagi tidak mengerjakan tugas rumahnya," kata Rita mengingat sebagai kenangan terburuk.
"Wahahaha memang. Lebih baik makan di luar ya," kata Arnila ternyata Rita juga pernah merasakan hal itu.
~Author pun mengalaminya. Makan di rumah teman dengan piring yang masih kotor, sendok kotor masih ada cuilan nasi lalu gelas berisikan air dan kerikil. Saat diperiksa ibunya, ternyata semuanya masih dalam keadaan belum dicuci sedangkan dia makan dengan lahap. Kenangan memalukan yang dialaminya sehingga ogah datang lagi.~
"Benar soal santet itu?" Tanya Rita tidak percaya.
"Iya Rita! Dulu aku pernah ke rumahnya nah ada tukang cilok lewat tapi ternyata sudah habis. Lalu kata Ney, besok saja dibawakan sama dia dari rumah. Ya aku okelah, itu pertama kalinya ya aku titip makanan sama Ney," cerita Arnila.
Berarti sudah lama juga ya soal Ney ini jadi merinding. "Lalu?" Tanya Rita.
"Besok di sekolah, Ney berikan cilok itu sesuai yang aku pesan. Aku bawa kan rencananya mau dimakan saat istirahat, nah pas waktunya aku ke kanton bersama Ney. Dia nanya kapan dimakannya, aku bilang di kantin. Kita jalan, kebetulan aku disuruh membagikan kertas ke kelas," kata Arnila.
Rita terus menyimak ceritanya dirinya sama sekali tidak percaya kalau Ney bisa sampai seperti itu. Teman yang paling dekatnya sendiri pula.
"Akhirnya Ney duluan ke kantin, aku simpan ciloknya di rak sepatu takut dimakan balik sama Ney. Kebiasaan jeleknya begitu sudah bawa makanan tapi dia sendiri nanti yang makan paling banyak. Nah, tidak sampai 5 detik lah ya aku selesai dan ambil cilokku. Saat aku gigit satu, coba tebak apa isinya?" Tanya Arnila.
"Isi ayam atau keju, atau daging sapi?" Tanya Rita biasanya kan isiannya ya sekitar itu
"Salah. Silet yang dipotong kecil-kecil," kata Arnila masih mengingatnya untung alhamdulillah saat itu masih merasa aneh.
"WHAAAAAT!? Serius?!" Tanya Rita melongo.
"Serius Rita aku pikir mungkin dari penjualnya tapi kemarin aku lihat bersih kok. Saksinya satu teman geng aku, aku beritahu mereka untuk memastikan. Nah taku ada apa-apa, kita semua membedah ciloknya dan mereka menemukan pasir cokelat, kerikil, 4 irisan silet dengan potongan kecil," Terang Arnila yang membuatnya merinding saat itu.
"AH, GILAAAAA! Merinding. Serius itu perbuatan Ney?" Tanya Rita masih belum percaya.
"Ya siapa lagi lah tidak mungkin tukang penjual. Kalau dari tukangnya mana ada Rita jualannya habis," kata Arnila.
"Hahaha ih gila, aslinya merinding gue," kata Rita.
"Kamu belum pernah ya makan makanan yang diberi sama Ney," tebak Arnila.
"Sama sekali belum pernah eh tidak mau lah tahu kamu cerita seperti itu. Pantas alhamdulillah aku sama sekali belum pernah dikasih apapun lagi sama dia. Sepertinya kamu banyak ya," kata Rita seraaammm.
"Iya mana mau dia tidak berani sama yang kamu punya. Jangan deh makanan yang dia kasih itu joroknya minta ampun! Kita juga pernah ada tugas kelompok di kampus, aku juga satu kelompok sama dia. Nah dia tumben bawa makanan tapi karena semuanya sudah tahu dia sejorok apa, tidak ada yang berani sentuh," kata Arnila menceritakan lagi.
"Seperti apa sih kelihatannya? Aku kan tidak tahu," kata Rita dibuat penasaran.
"Dia bawa wafer waktu aku mau ambil, di buka itu isinya lalat semuaaaa! Ngeri aku lihatnya," kata Arnila.
"Banyak?" Tanya Rita.
"Seperti gorengan dikerubungi lalat hijau saja bagaimana. HIYAAA aku langsung lempar wafer itu semuanya terus anehnya dia marah 'Kenapa kamu lempar sih?' Itu dimakan sama dia dong," kata Arnila menutup mulutnya.
"HUEEEEEE kamu tidak beritahu dia? Iiihhh," kata Rita membayangkannya. Gila sekaleeee...
"Sudah! Semua orang juga lihat, tapi dia bilang masih enak kok. Selain lalat itu ada semut juga, dikerubungi. Asli Rita orangnya parah joroknya!" Kata Arnila dengan semangat.
Bersambung ...
__ADS_1