
Ney bukan tipe yang menyerah dia akan terus berusaha sampai targetnya terpenuhi, tidak peduli bagaimana orang-orang mencemoohnya yang penting apa yang dia inginkan terpenuhi.
Namun sayang berhadapan dengan Rita, bagaikan menghadapi tembok yang sangat keras dan tebal.
"Oke oke! Aku sadar memang aku tidak tahu kamu seperti apa saat kelas satu tapi kan memang aku teman kamu satu-satunya," maksa Ney. Yah berharap sudahlah mengalah saja.
"Bukan, aku punya 5 orang yang dekat kan. Kamu ingat ke siapa sih? Halu lagi ya, kamu yang kesepian bukan aku. Lagian semasa sekolah kamu juga tidak peduli deh soal teman perempuan," kata Rita tentulah dia ingat.
Ney ingin sekali teriak tapi saat itu hari sudah berganti agak sore. Dia sempat mencari anak dan menelepon suaminya, kena marah karena sampai lupa anak sendiri ada di rumah mertua.
Yah harus menghadapi omelan orang tua suaminya, sekaligus suami sendiri. Dia dengan wajah yang... datar hanya berjalan menuju rumah mertua. Ada rasa malas, suami telah menantu dan menggerutu, bertanya apa saja kegiatannya dari pagi sampai siang.
"Aku beres-beres rumah," kata Ney.
Pembantu masih ada dia pamit pulang setelah selesai membereskan rumah Ney. Dia hanya diam dan menggendong bayi dari suaminya.
"Simpan saja disini anak kamu, Ibu cemas ibu kandungnya menelantarkan anak kamu. Kami senang," kata ibu mertua menatap dengan sinis.
Ney hanya bisa diam semua yang dikatakan, tidak ada efek. Dia lupa kalau sekarang ada pembantu.
"Ney bisa merawat anak. Iya kan? Rumah ada pembantu, kamu urus anak kamu atau saya hancurkan ponsel," kata suaminya.
Ney mengangguk, sambil menatap anaknya yang tidur dengan tenang. Ney takut pada ancaman suaminya, kalau saja dia tidak mengurusi urusan orang, dia bisa lakukan semua. Dalam hati dia menyalahkan Rita.
Rita di sisi lain tengah bersiap-siap untuk pulang tapi teringat kalau kepala sekolah mengajak makan malam. Guru dan staf berkumpul di aula santai, tentu beberapa guru masih penasaran soal Ney.
Sampai di rumah, bayi dia taruh dan suami mandi. Ney memeriksa dengan cepat ponselnya, dia pergi ke ruang tengah.
"Jangan lupa undang aku. Harus! Kalau tidak lihat saja resikonya," ketik Ney.
"Sudah kesepian, tukang paksa, tukang perundung dan tukang KEPO. Hidup kamu kacau ya, buat apa juga aku undang? Toh kamu menikah tidak ada info," balas Rita yang berselonjo ran menunggu malam.
"Aku sudah undang kok. Kamu lupa ya," kata Ney membela diri.
"Kapan? Kamu kirim kemana?" Tanya Rita sambil memasang charger ponselnya.
__ADS_1
Ney mengingat-ingat sebenarnya memang tidak dia kirim sih, sekarang dia hanya harus membuat alibi agar Rita percaya.
"Tanggal 24! Aku sudah kirim ke alamat kamu, masa sih tidak ada?" Tanya Ney pura-pura toh ini dalam chat wajah dia tidak akan bisa Rita tahu.
Rita bengong lalu buka-buka akunnya di 4 bulan lalu. JRENG! Tanggal 24 adalah hari dimana Ney menikah, Rita mendengus.
"24 kan itu tanggal hari kamu menikah. Masa kamu pikun secepat ini sih? Anak kamu masih 1, masa sudah jadi nenek-nenek?" Tanya Rita yang tertawa keras.
"O-oh iya! Aku baru ingat, aku undang kamu lewat PB kok," kata Ney mencari alasan lagi.
"Aku cek," kata Rita.
Ney tidak membalas kecepatan tangan Rita dan Ney tidak bisa dibandingkan. Sebelum Ney buat, Rita sudah mengirimkan video dan dia membukanya. Ya lemas lagi karena memang tidak ada.
"Ih, parah ya kamu. Kamu memang cari masalah sama aku ya sejak tahun lalu. Aku sama sekali tidak menyangka ya kamu jahat! Hah, aslinya kamu seperti ini kalau Alex tidak ada, aku sampai mati mungkin habis kamu injak-injak. Alhamdulillah aku banyak ditolong orang," kata Rita.
Malu? Ya pastinya, Ney hanya bisa mengusap wajahnya kesal. "Rita kok kamu begitu sih? Aku itu tidak merundung, sumpah! Aku selama ini selalu anggap kamu teman dekat aku," kata Ney mulai mengiba.
"Iya, aku tahu. Kamu selalu anggap aku teman," kata Rita.
"Iya, selalu! Makanya jangan seenaknya bilang aku jahat dong," kata Ney tersenyum aneh.
"......"
"Teman dekat yang hanya saat aku punya uang, macam Jailangkung kamu selalu muncul tiba-tiba dan bagaikan Tuyul kamu pergi setelah aku tidak punya uang. Iya memang kamu adalah satu-satunya teman palsu pertama yang aku punya. Dan satu-satunya orang yang paling aku benci. Senang dong kamu posisinya peringkat satu lho," kata Rita senyum dingin.
"Ya tapi aku memang... ingin kamu undang..." ketik Ney maaaasiiih tidak tahu malu! Hadoooh
"Ada syaratnya. Kamu bisa? Kalau kamu lakukan itu pasti jaminan kamu bisa datang ke pernikahan aku," kata Rita.
Ney semangat lagi. "Iya iya aku pasti mau lakukan. Jadi apa?" Tanyanya.
"Sujud minta maaf di kaki kedua orang tuaku dengan hati yang bersih dan tulus karena perundungan yang kamu lakukan. Kalau kamu lakukan itu, jaminannya kamu sudah tahu," kata Rita langsung tancap gas.
Ney kaget bukan main, bertemu saja dulu dia langsung kabur saat tahu ibunya Rita datang ke mall. Ini sampai sujud? Dia saja tidak pernah sujud ke orang tuanya, lah?
__ADS_1
Tidak ada jawaban.
"Iyalah mana mau kamu. Orang yang bukan pelaku perundung saja, minta maaf kamu ya yang sumbernya merasa tidak bersalah? Hina nya dirimu, Ney," kata Rita yang membuat Ney jatuh.
Ney kesaaaal sekali membacanya. Enak saja! "SUDAH CUKUP!! KAMU KETERLALUAN! POKOKNYA, aku sudah minta maaf ya baik-baik sama kamu! Aku tahu semua orang tidak ada yang tahan sama sifat aku, karena terlalu nyablak. Aku tahu! Seharusnya kamu mengerti dong jangan menyalahkan! Dan bukan memblokir tapi bicarakan sama aku!" Kata Ney yang sudah tidak tahan.
"Bicara sama kamu itu bulshit! Nyablak? Tahu nyablak kenapa tidak diubah? Mau menyakiti orang sampai kapan baru kamu sadar? Sampai semuanya menyumpahi kamu?" Tanya Rita.
Ney marah bukan main, suaminya selesai mandi dan menggelengkan kepala melihat kelakuan istrinya. Untungnya anak mereka masih tertidur, suaminya berharap anaknya tidak mewarisi sifat jelek ibunya.
"Tolong ya Ney, kamu memang pintar di bidang akademik tapi terlalu bego dalam circle pertemanan. Kamu bisa seenaknya merundung demi kebaikan, bully itu tidak ada yang baik. Kamu nyablak ada usaha menghilangkan? Tidak ada, itulah sebabnya kamu yang selalu sendiri," jelas Rita.
"Terserah apa kata kamu! Aku tidak peduli! Aku hanya mau minta maaf saja, dan aku hanya berharap kamu masih mau berteman sama aku. Kalau memang tidak mau ya bilang saja," kata Ney sebal.
"Sudah. Kamu paham? Tidak kan kamu terus memaksa aku jadi teman kamu. Sebegitu kesepiannya atau kamu cari pamor karena aku dengan Alex? Aku sudah malas ya menerima kamu, capek! Aku tidak sudi menerima perundung untuk jadi teman. Cari saja yang lain," kata Rita.
Ney gemas menginjak-injakkan kakinya dan menangis. Penyesalan datang terakhir dengan berbagai taktik untuk membuat Rita down malah dia yang down. Kesal seubun-ubun.
"Arnila juga tidak tahan sama sikap kamu! Kamu tahu kenapa? Masa tidak sadar? Kamu itu baperan! Kamu tahu tidak kalau dia tidak sudi lagi berteman sama kamu? Kasihan ya kamu sendirian!" Kata Ney mengejek.
"Hah? Bodo amat! Aku harus peduli? Mau Arnila tidak sudi jadi teman aku, apa urusan aku? Aku juga tidak minat jadi teman kamu setelah seperti ini. Orang aku bukan teman dia juga," balas Rita.
Ney kaget tapi jadi ladang makanannya dia. "Alu bilangin ke orangnya!"
"Ya silakan. Teman aku banyak kok, teman SMA kita masih kontak, teman kuliah juga, sekarang aku kerja banyak kok teman. Lagian orang aku sudah lama tidak ada kontak sama Alex. Mau menikah sama dia bagaimana?" Ketik Rita.
"Serius? Sudah putus sama Alex? Tapi kan dia kaya, dia pasti mau belikan kamu apa saja kalau mintaaa," kata Ney.
"Enak saja! Aku bukan tipe perempuan murahan seperti kamu. Dekat dan kenal laki-laki langsung dimanfaatkan ihhh, jijik! Ney, bercermin dong masa kamu sudah nikah badan masih loreng? Mandi kembang 100 rupa gih! Kamu tidak sadar? Waktu dulu aku jalan sama kamu, bau amis tahu," kata Rita membeberkan.
Ney menganga, dia kaget banget! Berpikir Rita sensitif karena sering menangis ternyata instingnya tajam juga. Apalagi soal bau amis.
"Kamu tuh ya sudah menikah harusnya perawatan diri jangan dengan stat, "Yang penting suami menerima aku apa adanya," itu bulshit tahu! Dimana-mana lelaki itu suka sama perempuan yang harum, suka mandi, skincare-an, maskeran! Nanti suami kamu tergoda perempuan lain lhooo," kata Rita meniru gaya Ney.
"Tidak dong suami aku mana berani. Lagian aku punya mata-mata," balas Ney yang agak sedikit hambar karena Rita bisa tahu.
__ADS_1
"Iya yang kamu pakai Jin kan alias ilmu hitam. Itu mata-mata kamu. Dasar dukun!" Kata Rita merinding.
Bersambung ...