ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
410


__ADS_3

"Lalu kamu sudah tahu Alex seperti apa wujudnya?" Tanya Ney penasaran. Toh dia sudah punya semua foto diri Alex.


"Sudah. Kenapa?" Tanya Rita merasa aneh.


"Ya kalau kamu belum tahu, Ney punya lho foto-fotonya," kata Ney.


"Hmph! Masih saja merasa kamu Arnila. Biarlah kita lihat sampai mana kamu bisa bertahan," pikir Rita. "Kom tumben ya kamu ungkit soal foto Alex?" Tanya Rita.


"Tidak apa-apa," kata Ney.


"Tumben juga kamu penasaran sampai segitunya seperti bukan kamu saja, Nil," kata Rita.


"Dia pernah kirim foto ya," kata Ney mencari info lagi.


"Kenapa sih? Kalau pernah kenapa, kalau tidak kenapa? Tidak biasanya kamu mau tahuuu saja yang bukan urusan. Ini Ney ya?" Tanya Rita langsung.


Tidak ada jawaban tentunya Ney kaget setelah membacanya Rita dapat langsung mengetahui maksud dari Ney.


"Kok Rita bisa tahu sih kalau ini tuh nomor aku?" Tanya Ney bertanya sendirian.


Karena sudah kepalang tanggung, Rita juga mengisi ponselnya dengan nomor yang lain lalu menelepon nomor itu. 3x nada telepon berbunyi lalu...


"Halo? Halo?" Tanya Ney dalam ponselnya.


Rita sengaja tidak menjawabnya dia ingin memastikan apakah nomor itu memang punya Ney ataulah...


"Siapa Ney? Ada yang menelepon aku?" Tanya Arnila di kejauhan.


"Tidak tahu, ini aku tanya siapa tidak ada jawaban. Kamu tahu nomor ini?" Tanya Ney menyerahkannya pada temannya.


Rita mendengus pelan benar saja itu memang Ney, dia meminjam ponselnya Arnila agar disangkanya dia yang meneleponnya. Rita menunggu sampai Arnila yang mengangkatnya.


"Hah? Masa? Coba sini sama aku lagipula kenapa juga kamu yang angkat? Diamkan saja," kata Arnila agak senewen.


"Ya aku sebagai teman kamu mencoba menjawab telepon kalau memang butuhnya ke kamu, ya aku berikan," kata Ney masih penasaran.


"Kamu tidak berbuat sesuatu kan dengan memakai nomor aku makanya nomor aneh ini menelepon ke ponsel," tebak Arnila pada Ney.


Ney terdiam mana mungkin dia menjawab kalau takutnya itu dari Rita. Arnila lalu kesal dan harus menjawabnya kalau orang itu tidak mau dijawab oleh Ney, bisa jadi teman gengnya.


"Halo? Dengan siapa ya ini?" Tanya Arnila.


"Ini Rita, Arnila. Diam jangan ditutup. Ney chat aku dengan nomor kamu, lengkapnya aku kirimkan isi chat itu. Apa kamu yang memberi ijin?" Tanya Rita.


Arnila terdiam. "Tidak ada mana iya," jawabnya memandangi Ney dengan geram.


"Tadinya aku kira memang kamu tapi anehnya kenapa juga kamu bertanya soal foto yang Alex kasih ke aku. Dia minta aku buka nomor kamu yang sudah aku blokir. Kamu tidak tahu ya?" Tanya Rita lagi.


"Iya begitu," kata Arnila berpura-pura itu dari temannya.


Ney diam agak penasaran dengan siapa dia berbicara. "Siapa sih?" Tanya Ney. Arnila hanya memberikan pandangan tajam padanya sehingga Ney tidak berani bertanya lagi


"Oh iya Bu, kirimkan saja nanti untuk lihat jadwal wawancaranya," kata Arnila lalu menutup ponselnya.


"Siapa tuh?" Tanya Ney yang agak lega mendengarnya.


"Iya kan suami aku buka lowongan, ini ada pelamar mau kirim surat lamarannya lalu dia nanya kapan di wawancaranya," kata Arnila mematikan ponselnya dan menaruhnya didekat tangannya.

__ADS_1


"Oh," kata Ney singkat dan pelan. Tapi sekarang dia tidak bisa lagi mengirimkan pesan lewat nomornya. Toh Rita sudah tertipu dengan nomor barunya Ney dan dia senang beranggapan Rita mudah ditipu.


Notif berbunyi di ponsel Arnila dan Arnila membukanya. Dia membaca dengan raut wajah kaget tapi mengerti. Kemudian Arnila menutup ponselnya dan memandangi Ney.


"Kamu ada chat lagi dengan Rita?" Tanya Arnila.


"Hah? Tidak ada," kata Ney serba salah.


"Yakin?" Tanya Arnila tidak percaya.


"Kamu kenapa sih tidak percaya sama aku," kata Ney.


"Ya kamu kan sudah biasa banyak bohong seperti sekarang. Terus kenapa si Rita malah chat aku? Kamu pasti awalnya chat dia pakai nomor lain kan," tebak Arnila memakan es krimnya.


Ney diam dia agak salah tingkah. "Ya itu... aku mau tahu saja kabarnya bagaimana," kata Ney.


"Kamu kan bisa lakukan itu sendiri pakai nomor lain kenapa harus aku," kata Arnila.


"Habis pasti tidak akan dibalas. Ternyata nomor kamu dia blokir haha," kata Ney senang.


"Ya memang di blokir aku juga kan blokir dia masa kamu baru tahu? Kalau kamu mau pamer soal blokir, lebih baik kalau nomor kamu tidak dia blokir. Periksa deh aku yakin nomor kamu juga di blokir dia," kata Arnila.


"Aku tahu kok. Aku juga di blokir," kata Ney menundukkan kepalanya.


"Ya cara mudah supaya dibuka, kamu minta maaf. Yang salah kita, kita tahu apa yang menempel di dia tapi caranya salah. Ternyata malah kita yang kena getahnya coba dulu kita bicara baik-baik tidak akan begini kejadiannya," kata Arnila.


Ney diam, dia tahu kalau mengeluarkannya mudah hanya tinggal berbicara itu pun dengan kesan yang baik. Pembullyan itu mereka lakukan sebagai jalan satu-satunya agar jin yang menempel di Rita lepas tapi ternyata jin memang pintar. Saat mereka hina, saat itu juga Rita tersadar dan jadinya dia memblokir semua orang sebagai tukang perundung.


Dan jin yang menempel masih bersemayam di diri Rita menertawai mereka semua. Tidak ada yang bisa mengusirnya toh Rita tidak percaya dengan hal ghaib.


"Itu merundung mau bagaimanapun caranya sebutannya, kita memang sudah bully dia secara kasar. Seharusnya Alex bisa mengambil jalan tengah tapi sama saja seperti kamu. Soal Alex juga kamu masih kepo?" Tanya Arnila menggelengkan kepalanya.


"Kata siapa?" Tanya Ney sebal.


"Nih baca kiriman dari Rita," kata Arnila memberikan ponselnya.


Ney membaca dan kaget semua yang dia tanyakan menggunakan nomor Arnila. Ney terdiam sangat malu sekali.


"Sudah bukan waktunya lagi deh ya kamu masih ikut campur soal mereka. Kalau kamu tahu Alex bagaimana mau kamu rebut lagi? Kamu sudah tunangan, Ney tolong ya sedikit saja ada perasaan," kata Arnila membuat Ney terdiam.


"Kamu juga mau menikah dengan Dins tega-teganya ya kalau kamu masih mengkhianati dia lagi," kata Arnila mengancam.


Ney hanya diam memegangi casing ponselnya, dia juga kesal penyamarannya sudah ketahuan secepat itu oleh Rita. "Ya wajarlah aku kepo Rita yang rakyat jelata dengan Alex yang anak milyuner. Perpaduan yang langka kan," kata Ney tertawa.


"Menurut aku tidak lucu dan itu wajar. Seperti Imron dan aku siapa yang paling kaya? Terlihat jelas kok kalau kamu itu iri tidak mau mengakui kalau Rita lebih beruntung dari kamu," kata Arnila menohok langsung Ney.


"Aku hanya berpikir agak tidak adil begitu lho. Selama ini aku yang hanya bisa menggaet orang berkelas sedangkan Rita yang kutu buku alias Nerd, mana bisa. Eh ternyata gila aku tidak nyangka," kata Ney.


"Allah itu Adil ya soal harta apalagi. Dia tidak pernah berharap bahkan keinginannya juga biasa. Jujur deh kamu iri kan sebenarnya makanya selalu menghujat, merendahkan apalagi berusaha memisahkan mereka kan," kata Arnila.


"Iya iya aku mengaku! Aku memang tidak suka kalau Rita berada di atas aku. Kalau dia bisa jadi dengan Alex, ya aku tandanya kalah!" Kata Ney mengaku.


"Kok kalah sih? Sejak kapan kamu berlomba dengan Rita? Yang aku lihat Rita itu cuek banget," kata Arnila.


"Jadi ya aku melakukan apa... yang bisa aku lakukan untuk... agar dia tidak bisa dengan Alex," kata Ney yang kedua matanya memerah.


"Gila ya kamu parah super parah!! Benar-benar tega sama Rita. Ingat bagaimana perlakuan kamu saat dia di bawah, kamu injak sama seperti aku, Ney. Kamu memanfaatkan dia, aku tahu isi hati kamu lho ya," kata Arnila geram sekali.

__ADS_1


Ney menunduk takut pada kemarahan Arnila. Ney takut kalau Rita akan membalasnya kelak apa yang dia lakukan pada Rita. tapi sebenarnya Rita sama sekali tidak memikirkan apapun, dia ya lurus saja.


"Aku tahu bagaimana sikap kamu saat keluargaku jatuh, apa yang kamu lakukan ke aku? Sebar kalau aku menyembah kamu agar menjadi teman aku terus? Ingat tidak! Bagaimana sakitnya aku saat geng aku memberitahu," kata Arnila.


"Itu... bukan begitu kok kejadiannya," kata Ney menjelaskan.


"Sekarang Rita. Wah kamu asli keterlaluan deh kalau anggap Rita sebagai musuh atau saingan. Saat keluargaku sekarang sukses, kamu mendekati aku beda ya saat aku jatuh. Semua orang yang lihat kamu, itu tahu kesannya seperti apa kamu itu. Dan jangan salah kalau Rita juga akan menghilang dari hadapan kamu, pantas dia merasa di khianati sama kamu," kata Arnila menunjukkan ke wajahnya.


Ney menangis. "Maksudku tidak begitu, Nila. Teman-teman kamu itu yang menambahkan," jelas Ney.


"Ah, sudahlah Ney. Cukup! Aku lelah dengan banyak alasan kamu selama ini. Soal Rita juga aku tidak mau banyak komen lagi, aku capek sama kalian berdua. Aku memang bukan teman dia tapi kalau kamu sampai menginjaknya lagi, kamu akan mengalami hal menakutkan. Lihat saja saat nanti dia jadi dengan Alex, aku yakin kamu akan mengemis dia untuk kembali," kata Arnila dengan tegas.


Ney mulai menangis tersyedu-syedu sambil menghapus air matanya, Arnila sudah muak dengan kebiasaannya. Untunglah mereka berada di saung di taman jauh dengan rumah utama.


"Sudah kubilang berapa kali manusia itu rejekinya berbeda. Oke kamu bisa gaet banyak orang kaya tapi masalahnya pernah tidak kamu pikir. Orang yang kamu gaet apa benar mencintai kamu tulus atau menganggap kamu sebagai pajangan?" Tanya Arnila membuat Ney berhenti menangis.


Selama ini setiap kali dia berpacaran hanya bertahan sampai 3 hari tidak lebih, dia tidak berpikir ke arah itu. Dirinya terlalu percaya diri kalau mereka akan bahagia.


"Sekarang, kamu dapatkan lelaki yang sesuai dengan kriteria kamu tapi kamu tidak menghargai keberadaannya sampai sekarang ya. Urusan soal Alex mau soal foto atau apalah, itu urusan Rita bukan kamu. Terserah Rita song mau bagaimana," kata Arnila membuat Ney mengerti.


"Dia itu tidak akan bisa sendiri, Nila. Kamu kan tahu super lemot," kata Ney.


"Ya biarlah itu ujian untuk Alex dia bisa tahan atau tidak. Lemotnya Rita itu menurutku sengaja deh dan kamu sudah terjebak ke perangkap yang dia buat makanya dia kecewa," kata Arnila berpikir.


"Maksudnya kamu dia menguji aku?" Tanya Ney.


"Iya. Selama ini dia yang paling peka antara kita berdua tapi mungkin karena perkataan Alex. Dia mulai memasang jebakan menjadi lemot apa kamu bisa menerimanya atau mengejeknya," jelas Arnila.


Ney terdiam jadi selama ini Rita sengaja? "Jadi... aku ditipu! Selama ini..." kata Ney dengan kesal.


"Kamu yang menipu dia. Iya kan? Saat kamu tahu dia lemot, kamu ejek dia menghina. Itu hal terparah sedangkan Alex, dia sabaaaarrrr menjelaskan," kata Arnila yang memang sudah tahu perangkap Rita.


"Tapi kenapa? Buat apa? Ke aku?" Tanya Ney kebingungan.


"Untuk mengungkapkan warna asli kamu, Ney. Supaya dia bisa memilah-milah mana teman yang memang tulus menerima dia sejelek nya dengan yang hanya menipu. Sekarang ya mau bagaimana lagi? Dia jelas melihat aslinya kamu, aku pernah bilang kamu harus mulai mengkoreksi diri ya untuk ini, untuk sekarang. Tapi apa hasilnya?" Tanya Arnila.


"Tunggu kalau dia sudah tahu aku aslinya lalu bagaimana?" Tanya Ney memegang tangan Arnila.


"Ya terima saja hasilnya. Toh kamu sudah banyak bohong juga kan sama dia apalagi ternyata kamu anggap dia sebagai saingan. Itu parah asli Rita selalu menganggap kamu sebagai temannya," kata Arnila menyendok makanannya.


Ney bengong disana, es krimnya sampai mencair. Jadi Rita mengujinya? Sekarang apa yang tersisa darinya? Dirinya ternyata sama sekali tidak mengenal apapun mengenai Rita, bahkan apa yang Rita sukai sama sekali tidak tahu.


"Coba sekarang kamu ingat kembali saat dia dibawah kamu, ada usaha dia menjatuhkan mu? Dia di bawah kamu, siapa yang paling sering pamer barang? Kamu! Lalu kenapa sekarang kamu bertanya lagi soal Alex?" Tanya Arnila.


"Ya.. aku penasaran Alex itu memang ada atau tidak. Apa Rita percaya padanya? Pliiis sekali ini saja kamu tanyakan ke dia. Ya ya ya?" Tanya Ney yang tidak menggubris pernyataan tadi.


"Sudah ah aku lelah bantu kamu. Rita saja tidak menghargai usaha kita kan," kata Arnila senewen.


"Itu karena jinnya masih ada. Biarkan saja deh soal itu, tapi bantu aku terakhir kalinya tanyakan sama dia ya setelah itu aku berhenti kepo sama mereka berdua," kata Ney memohon.


"Tidak mau! Aku tidak suka ya kamu masih kepo seperti dulu sampai kamu membuat banyak orang sakit hati. Bersikap biasalah Ney, jangan terlalu mau tahu urusan orang," kata Arnila menolak.


"Ayolaaah sekali ini sajaaa. Aku janji ini yang terakhir," kata Ney.


"Terakhir? ini sudah sepuluh kalinya kamu bilang 'Terakhir'. Kamu lupa?" Tanya Arnila.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2