
"Ya aku temenan sama Rita karena kasihan dia itu sama sekali tidak punya teman lho, jadi aku tuh ya terpaksa menerima dia," kata Ney dengan perilaku yang agak genit pura - pura menjadi orang yang manis. 🤮
Mendengar itu semua mereka tertawa, menertawakan Ney dikiranya semua informasi yang dia punya membuat temannya Rita pasti menjauhinya. Tanpa disangka - sangka...
"Kalau begitu kamu bukan teman dekatnya dong. Kamu serius deh harus banyak baca ya, masalahnya mungkin memang Rita tidak punya teman sewaktu SMP tapi kita yakin dengan kepribadiannya yang hangat sebenarnya kamu yang enggan tulus berteman sama dia. Makanya yang kamu lihat dari Rita itu semuanya jelek, padahal kalau kamu BUKA ya mata kamu lebar - lebar Rita itu menyenangkan. Kita tahu kok teman dia sewaktu SMP, waktu kuliah dia pernah mengobrol sama salah satu teman SMPnya," kata Diana yang menahan tawanya melihat Ney.
Ney melihat ke arah lain dan mencari jalan lain agar mereka enggan berteman dengan Rita, menurutnya justru dialah yang terbaik untuk Rita. Ternyata rintangannya banyak banget! Ney mengeluarkan semua kejelekan Rita yang dia ketahui tapi mereka bertiga malah menerima, mereka juga bukan manusia yang sempurna. 'Kenapa sih? Malah mereka sepertinya menerima banget. Apa aku salah mengatakannya?' Pikir Ney.
"Aku tahu kok Rita suka komik, suka main game, dia juga kadang malas mandi tapi kenapa selalu terawat ya? Kuku bersih, kulitnya juga kinclong padahal kadang tidak mandi. Kan aneh ya. Kamu tahu kalau Rita alergi udara? Panas dan dingin? Aku yakin kamu tidak tahu atau baru - baru ini tahu. Semua kejelekan yang kamu katakan, kalau kamu tahu ya, Rita sudah keluarkan semuanya. Kita jijik?" Tanya Diana pada Linda dan Tamada. Mereka menggelengkan kepala.
"Kita juga kadang begitu sih malas mandi cukup pakai parfum saja ke kampus hehehe jadi menurut kita sih itu bukan hal yang ruarrr biasa. Rita itu lebih suka menjadi dirinya sendiri kalau kamu ada hal yang tidak disukai dari Rita ya itu wajar asalkan jangan sampai kamu menyebarkan fitnah. Bukan berarti kamu bebas mengatai dia apalagi dengan kita yang baru kenal sama kamu. Kalau bukan untuk memfitnah Rita lalu agar kita semua benci dia? Itu sama sekali tidak baik justru nanti kesannya kamu yang mencari masalah dengan kita," jelas Linda dengan sikap dewasa dengan menahan gregetnya pada Ney.
"Kami juga jauh dari kesan dewasa ya, Rita memang kekanakkan tapi Rita tidak pernah mengatakan sesuatu jelek atau yang lain soal kamu," kata Tamada.
"Ih, pernah kata siapa tidak pernah. Dia menjudge aku jelek banget, aku juga kena fitnah sama dia," kata Ney dengan nada yang membuat mereka sebal.
"Oh iya? Masa sih soalnya Rita bukan orang yang suka judge cover orang sih. Contohnya apa?" Tanya Linda menantang Ney.
"Kalau dia sampai judge orang, aku sama Komariah atau mereka suka marahin dia langsung saat itu juga tapi sepengetahuan kita, jarang ya," kata Diana ke arah mereka, mereka mengiyakan.
"Jadi contohnya dia judge kamu soal apa?" Tanya Tamada kali ini.
Ney tampak berpikir lalu, "Rita pernah bilang sama aku kalau kulitku itu harusnya dirawat makanya orang lain selalu menghindari aku karena buat mereka jijik. Itu aku sakit hati banget!" Kata Ney pura - pura sedih. Ini sebenarnya bukan kata Rita tapi masih ingat dimana dia di bully sama istri Syakieb? Nah itu, tapi Ney mengatakan itu adalah perkataan Rita jadi apa teman - teman?? Yupz! Dia memutarbalikkan fakta apa yang orang lain katakan, dia bilang itu adalah perkataan Rita.
__ADS_1
"Kamu yakin itu Rita bilang seperti itu?" Tanya Diana yang agak tidak percaya.
"Yakin dong. Kan aku sama dia ketemuan di sini juga. Lihat kan? Dia itu jahat banget!" Kata Ney dengan merapihkan rambutnya.
"Menurut aku sih tidak jahat," kata Tamada yang memperhatikan kulitnya. Yah, bekas tembakan cacar air memang jelas pantas saja sih kalau memang Rita bilang begitu. Kalau sudah sampai fisik berarti nih orang mengganggu dia banget.
"Kalau kata aku sih Rita tidak menyerang kalau lawannya kalem. Dia seperti itu kan tergantung lawan bicaranya mungkin kamu yang buat masalah makanya tanpa pikir panjang Rita berkata begitu," kata Tamada.
"Kok bisa?" Tanya Ney lagi - lagi mereka seperti tidak percaya dan masih tidak ada tanda.
"Ya maaf ya kamu perhatikan deh penampilan kamu. Kalau memang Rita bicara begitu, harusnya kamu lihat cermin. Bekas cacar ya itu, kenapa juga kamu merasa sakit hati? Rita bicara begitu kenapa kamu tidak berusaha memuluskan kulit sendiri? Bukan hanya Rita ya semua orang yang lihat kondisi kamu ya pasti jijik lah," kata Diana yang memang tabu banget bicara soal fisik tapi apalah, lawannya adalah orang yang tidak sadar diri.
"Rita punya teman seperti kamu sepertinya malah Rita yang banyak makan hati sama kamu bukan kebalikannya," kata Linda yang memperhatikan Ney dari ucapannya. Jelas sekali pertama bertemu dan kenal mereka langsung tidak menyukainya. Habisnya nadanya sombong banget terus awalnya klaim sebagai sahabat Rita ujungnya? Malah menjelekkan. Kan aneh...
"Rita itu sederhana banget ya, dia bukan judge kamu dengan niat negatif tapi dia perhatian sama kamu. Dia mau kamu lebih merawat diri kamu sendiri agar semua orang tidak memandang kamu dengan menutup mata. Apa selama ini kamu sadar selain Rita diluar sana orang - orang membicarakan kamu?" Tanya Diana yang memang iba juga melihat kondisi Ney tapi saat ingat bagaimana dia memperlakukan Rita, Diana pun memilih jauh.
"Jangan sampai ya yang kamu bilang soal Rita mengatai kulit kamu itu, aslinya perkataan orang lain bukan dia," kata Tamada mengagetkan Ney. Tamada bahaya banget nih seakan - akan dia lebih tahu banget padahal baru bertemu. Agak takut juga Ney agak sama seperti Arnila sih.
"Tidak kok, itu memang Rita bilang begitu," kata Ney yang secepatnya berkilah dengan suara yang pelan.
Mereka bertiga menggelengkan kepalanya, tahu kalau itu tidak benar. "Lebih baik jujur deh soalnya asal kamu tahu saja ya kita bisa tanya langsung ke Rita. Dan kalau kamu ketahuan bohong..." kata Tamada ingin banget dia menjitak nih orang.
Linda mencegahnya dengan tatapan, 'Ikuti saja permainan dia.' Seperti itu lalu Tamada terdiam. Kesel sekeselnya nih orang berani banget sih memutarbalikkan fakta. Kelihatan jelas kalau dia tidak menyukai Rita tapi kenapa masih terus ada bersama Rita? Dia saja cuek kalau tidak mau dekat, ya tinggal tolak saja ajakan Rita. Heraaaaaaaaan!
__ADS_1
"Kamu... sepertinya selalu salah menduga ya soal Rita menurut aku mah," kata Linda menyimpulkan.
"Aku tuh terganggu sama apa yang dia ucapkan ke aku. Kok jadi orang begitu banget hanya karena sekarang dia kenal dengan lelaki ganteng! Tidak memikirkan perasaan aku banget!" Kata Ney dengan suara yang manja membuat mereka merinding.
"Kalau begitu kenapa kamu masih mau berteman sama dia? Kalau aku sih sudah dari sekarang angkat kaki buat apa memaksa diri ujungnya hanya mengomel teu puguh, nyalahin ke Rita ini itu. Da kata aku sih kamu orangnya milih teman," kata Linda dengan tegas. Ternyata sia - sia dirinya melembut pada orang yang baru dikenalnya harus tegas atau tidak galak.
Ney tidak menjawab, dia tertahan dengan kalimat yang ingin dikeluarkannya. Jawaban temannya Rita memang sesuai dengan pernyataannya, ya kenapa tidak pergi saja? Malah membuat masalah terus? Menyalahkan Rita semuanya. Linda mulai bete dan mulai jutek pandangan kedua matanya. Masalahnya bukan ada pada lelaki kenalannya hanya justru pada Ney sendiri. Yang ribet dia, rusuh dia,ngomel dia, semuanya dia tapi menyalahkan keadaan pada Rita. Kurang asem!
"Iya aneh saja sampai saat ini kamu malah terus mengekori Rita. Rita sudah punya kita kok jadi kamu tidak perlu memaksa lagi untuk ada buat dia. Kecuali memang kamu ingin menumpuk semua info soal apapun lalu menyalahkan segalanya pada Rita. Begitu?" Tanya Diana yang menahan amarahnya.
"Iya aku setuju kamu kok repot banget sih, kok Tita mau ya punya teman seperti kamu. Rempong tampaknya sih," kata Tamada dengan nada juteknya.
"Jangan banyak menuntut deh, Ney apalagi kalau sampai kamu bully Rita hanya karena kamu berpikir sifatnya kurang baik. Kita bertiga juga kamu pikir manusia sempurna, kelakuan yang Rita lakukan ada kemungkinan kita juga pernah mengalami," jelas Diana dengan dialek Palembangnya.
"Mbak, memangnya Rita dibully siapa? Kurang asem banget yang melakukannya. Sama siapa?" Tanya Tamada dan Linda berbarengan. Mereka kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Diana.
Ney apalagi, dia menahan nafasnya Diana tahu soal kejadian dia yang membully Rita? Terus kalau begitu, ucapannya tadi itu peringatan dong. Ney langsung mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, pantas Diana tidak mau banget membicarakan soal Rita. Yah, dewasanya hal seperti dasar begitu bukan hal penting juga ya. Kalau mau disebut teman hal jelek, baik, yang negatif ya terima saja asalkan orangnya masih bisa berbicara dengan lisan yang baik. Rita kalau berbicara memang baik dan selalu menjaga perasaan orang, perilakunya pun baik kalau ada hal yang lain, itu adalah kekurangannya. Diterima atau tidak, ya silakan.
"Tidak. Ini aku cuma bilang saja siapa tahu kan ada orang yang salah paham sama Rita ya karena masalah dia mengaku teman dekat tapi ternyata diluar dari yang kita ketahui, orang itu malah bersikap kurang ajar sama Rita. Manusia kan berbeda, Lin, Tam," jelas Diana. Dia tidak mau mereka sampai tahu nanti sajalah kalau temannya Rita ini sudah pulang baru diceritakan. Kalau sekarang dibeberkan sama saja seperti posisi Ney nanti.
Ney memandang Diana dengan penuh harapan menyelamatkannya dan benar saja, dia tersenyum sekilas sambil memandang ke arah lain. Author pun gemas sekali! Ternyata Diana memang pilihan yang terbaik, sudah kaya dirinya bisa menghindarkannya ke masalah yang pelik. Kenyataan Rita menceritakannya ternyata tidak membuat Diana serta merta membela Rita, dia mengira Diana berada di pihaknya sebagai Korban. Tapi yang dia tidak ketahui, Diana menggenggam kepalan tangannya dalam tasnya menahan emosi.
BERSAMBUNG ...
__ADS_1