ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
482


__ADS_3

Kedua mata Koko memandangi sisi kiri Rita. Rita jadi parno sendiri.


"Lagi apa?" Tanya Rita.


"Mengancam saya. Sebelum mulai, Teteh sudah berapa kali ruqyah kalau boleh tahu," kata Koko penasaran.


"8x Dengan Koko sekarang ya 9," jawab Rita dengan polosnya.


"Eleuh... lalu ada yang berhasil?" Tanya Koko.


"Kalau ada yang berhasil tidak mungkin atuh aku ikut ginian lagi kan. Ada yang berhasil tapi ya balik lagi lalu semakin parah. Akhirnya ya jadi aneh," kata Rita mengingat semuanya.


Koko mengangguk sambil menyilang kan kedua tangannya. "Kenapa coba kira-kira?"


Rita menghela nafas. "Ya mana aku tahu juga sih makanya aku jadi pasien Koko," kata Rita.


"Okay. Lalu ceritanya yang ruqyah terakhir bagaimana? Saya mau tahu yang itu saja deh," kata Koko berusaha mengetahui.


"Saya itu dikenalkan sama pe ruqyah itu dari temannya yang toxic," kata Rita.


"Hah? Terus? Kok Teteh percaya sih?" Tanya Koko garuk kepala keheranan.


"Ya bagaimana ya aku kira ya bisa. Terus akhirnya kita buat janji, awalnya dia janji mau datang sendiri ke rumah eh ternyata malah serombongan kaya kosidahan begitu," kata Rita sebal mengingat yang dulu


"HAHAHAHAHA!!" Koko tertawa lepas, bebas dan keras. Rita menghela nafas saja melihat kelakuannya.


"Orang tua saya juga kaget banget. Kenapa bisa seramai ini?" Tanya Rita menggelengkan kepalanya.


Koko akhirnya kembali normal. "Tapi akhirnya Teteh di ruqyahnya,"


Rita mengangguk.


"Ada yang aneh tidak menurut Teteh?" Tanya Koko dengan yakin.


"Ya ada lah! Gila banget ya tuh orang," kata Rita kesal.


"Apa tuh?" Tanya Koko menahan tawa.


"Itu kan ruqyah ya tapi kok malah dipanggil jin nya untuk diwawancarai ya Ko? Heran sekali aku di situ," kata Rita aneh.


Koko kembali tertawa dengan keras sampai berderai air mata. Rita yang melihatnya hanya berwajah 😑.

__ADS_1


"Jadi menurut Teteh aneh itu bukannya diusir tapi disuruh menjawab pertanyaan?" Tanya Koko menahan tawa karena geli.


"Nah ituuu. Bapak saya sudah sangat kesal. Soalnya kok mereka malah jadi manggil? Saya juga bingung hanya bisa mengikuti," kata Rita.


"Lalu kamu percaya itu jin dari diri Teteh?" Tanya Koko berusaha tidak tertawa karena Rita mulai bete.


"Ya mana ku tahu juga Ko. Boro-boro mikir gituan kegiatan mereka manggil setan saja sudah aneh," kata Rita.


"Kamu lihat tidak yang setan itu tulis apa?" Tanya Koko.


Rita mengingat memang dia melihat tapi bahasanya sunda haluuuus seperti gula tepung. "Bahasa sunda tapi yang haluuus. Bapak saya yang lihatnya hanya bilang, 'Mereka pakai jin lagi.' Iya gitu?" Tanya Rita.


"Yes," jawab Koko dengan yakin.


Rita bengong mendengarnya. Kesan dalam matanya tidak ada kebohongan berbeda dengan seseorang.


"Berarti aku kena tipu dong? Tapi ustad itu ada efek ruqyah ke teman itu berhasil. Kok aku tidak ya?" Tanya Rita aneh.


"Beda spesialis deh sepertinya. Menurut saya temannya itu juga tidak terlalu bagus ilmu agamanya. Kalau dia tahu masalah Teteh seperti apa, tidak mungkin dia coba-coba menawari ustad itu," kata Koko.


"Iya juga ya Ko. Jadi menurut saya nih, dia juga agak... memainkan aku?" Tanya Rita berharap salah.


"Oalaah," kata Rita. Tepat sekali firasatnya mengatakan kalau Arnila memang ada sesuatunya.


"Dia itu sengaja menjauhkan Teteh dari musuhnya. Dia punya niat lain juga sama yang satunya tidak tahulah mereka berdua aneh," kata Koko menutup kedua matanya.


Rita mengangguk, dia juga merasakan itu makanya sering pusing dengan kelakuannya. "Jadi tidak baik dijadikan teman juga?" Tanya Rita.


"Teman kamu yang lain sudah oke sekali. Cukup mereka saja. Lalu lanjut ya apa ada ustad itu menyuruh Teteh untuk minum air atau apa gitu. Atau... ada suatu gerakan mencabut sesuatu?" Tanya Koko.


"Tidak ada sih hanya disuruh siapkan sajadah sama mukena saja. Lalu kertas dan pulpen, aku aneh sih ruqyah memangnya seperti itu?" Tanya Rita pada Koko.


"Sajadah dan mukena untuk apa?" Tanya Koko keheranan lagi.


"Untuk mengeluarkan jinnya kata dia," jawab Rita.


"HAHAHAHAHA!!" Koko kembali tertawa sambil sesekali memukul lantai. Saking gelinya.


"Hahhh," kata Rita.


"Lalu pulpen sama kertas agar jin nya menulis?" Tanya Koko yang menahan tawa.

__ADS_1


"Iya," kata Rita pelan.


"PUAHAHAHAHAHAHA!!"


Pintu kamar terbuka muncul Ratih dan suaminya yang keheranan. "Ada apa Teh? Suara tawa Koko kedengeran sampai bawah. Keras banget," kata Ratih.


Rita menghela nafas. "Teteh disuruh cerita ruqyah terakhir, Ratih. Jadinya Koko ketawa terus. Benar dia bisa ruqyah?" Tanya Rita.


"Ko, ihhh ketawa mulu. Iya bisa kok mungkin cerita ruqyah Teteh ada yang bodor kali. Ya sudah Ratih keluar lagi," kata Ratih menggelengkan kepalanya.


Menatap Koko lagi yang akhirnya bisa berhenti meski masih cekikikan.


"Maaf maaf Teh, habis lucu sih sampai sakit perut. Begini, kalau Teteh merasa ketipu memang iya," kata Koko berdehem.


"Hah!? Sia-sia dong uangnya," kata Rita.


"Memangnya Teteh kasih berapa?" Tanya Koko.


"Dua jeti," kata Rita.


"WOOOH!! Kalau itu mah saya bisa semuanya dari ruqyah, buka sukma, bersihkan aura, panggil khodam. Beuh! Sayang sekaliiii," kata Koko membayangkan uangnya.


"Matre lah Koko ini," kata Rita.


"Hahaha bukan begitu. Uang segitu maksudnya kamu bisa bayar untuk beberapa paket. Dia itu menurut Koko ya spesialis ruqyah rumah bukan badan. Makanya tidak nyambung sekarang sok coba sama Teteh ditanya ke dia. Nanyanya begini saja, "Ruqyah yang dulu itu biasanya dipanggil untuk ruqyah apa?" Sok tanya," kata Koko panjang lebar.


Rita menurut dan mencoba bertanya. Arnila tidak lama untuk membalasnya karena sedang berada di kolam renang bersama keponakannya.


"Nil, Ruqyah yang dulu dipanggil itu memangnya ruqyah apa?" Tanya Rita dalam chat.


"Biasanya aku panggil ustad itu untuk ruqyah rumah. Kenapa?" Tanya Arnila merasa Rita sedang disuruh sesuatu.


Rita lalu menepuk dahinya dan memandang datar ke arah Koko. Koko tertawa keras lagi sambil memeluk kedua kakinya.


"Sebel!" Kata Rita.


Pertanyaan Arnila tidak Rita balas. Dia simpan ponselnya ke tas. "Dasar Koko ketawa mulu!" Kata Rita keberatan.


"Ya habis haduuuh. Masya Allah sekali temannya, parah! 'Teman' yang itu juga salah, meski memang profesinya tukang ruqyah tapi kalau spesialisnya sudah beda ya sama saja bohong. Bukannya jin yang ganggu Teteh ke usir malah yang dirumah pada kabur," jelas Koko.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2