
"HAH!? SUDAH BAB 2!?" Teriak Ney kaget. Memang jurusan beda tapi soal semester akhir memang sama. Hanya kalau Rita jurusan PGTK sedangkan Ney Design Grafis.
"Iya. Kamu baru cari judul? Lama banget sih?" Tanya Rita.
Lalu ibunya datang sambil membawa piring besar berisikan kentang goreng. Yang langsung disambut oleh Rita dan Ney.
"Wah! Cepat juga ya Rita sudah bab 2 lagi, tuh kamu nih padahal sama kan di semester akhir. Kamu terlalu santai sih Rita saja sudah masuk ke dalam," kata ibunya.
"Tapi memang beda jurusannya juga kan tante," jelas Rita yang mengambil kentang goreng.
"Tapi tetap saja Ney terlalu santai malah lebih sibuk pacaran sama siapa tuh yang baru? Dins. Padahal Dins sudah bantu kamu cari judul tapi masih saja belum bergerak. Mau sampai kapan? Jangan sampai kamu minta dibuatkan juga sama Dins. Malu!" Kata Ibunya lalu kembali ke dapur lagi.
"Kok bisa sih secepat itu? Kamu dapat judulnya dari mana?" Tanya Ney yang keheranan.
"Kalau aku sih dari kasus murid didikan. Dilihat mereka kesulitan apa, ya aku jadikan judul skripsi," kata Rita yang sibuk mengunyah.
Ney hanya melongo dia malah tidak terpikir cara yang paling gampang. "Kok gue ga kepikiran ya cara begitu? Padahal banyak kasus di jurusan Design. Beuh!"
"Ah kamu sih terlalu berpikiran sempit. Makanya cara simple saja tidak terpikirkan! Design malah lebih mudah cari judulnya, kamu kok bisa selama itu sih cari judul. Memangnya kamu yang seperti apa sih?" Tanya Rita penasaran.
"Yang jarang orang tahu dong," jawab Ney ngasal.
"Itu seimbang dengan cari sumbernya pasti susah juga. Judul itu meski ada yang sama tapi kan cara penanganannya berbeda tiap orang," jawab Rita.
"Tuh kan kata mama juga apa, sama dengan pemikirannya Rita. Kamu tuh susah banget kalau dikasih tahu, Ney. Dia ini Rita mana dia malah plagiat hasil karya orang. Oh iya kamu sudah tahu ya? Mama tuh malu banget, mama tidak pernah mengajarkan kamu sampai berbuat begitu. Mama datang ke kampus kamu tuh malu banget!" Kata ibunya memarahi Ney di depan Rita.
"Mah, jangan marah disinilah. Nanti saja Ney lagi cerita soal Dins nih," usir Ney.
Ibunya kesal lalu menghilang lagi. Ney kembali dengan cerita Dins, Rita sih sudah tahu soal hobi Plagiatnya Ney jadi yahhh sudahlah.
"Ya akhirnya kita jadian deh. Aku banyak lho dikasih barang bagus sama dia," kata Ney.
"Benar? Kamu yang minta kali. Coba setia deh sama Dins saja sampai kamu nanti menikah kali saja dia beneran jodoh kamu. Kan sudah komplit semua yang kamu mau kan,"
"Serius sekarang mah dia yang kasih bukan aku yang minta. Ya aku pasti hanya setia saja sama Dins buat apa cari lagi yang lain," kata Ney mengunyah dengan nyap nyap lagi.
"Aku sudah hafal betul sih kebiasaan kamu. Ada masalah dikit, cari pelampiasan. Selingkuh, kalau ketahuan kamu sendiri yang berkelit. Berantem, putus eh nyambung lagi ya begitu lagi. Masalahnya sih bukan di siapa - siapa tapi kamunya. Aku bosaaan lihat kamu dengan lingkaran setan yang sama seperti itu. Serius kamu benar - benar sedikitnya setia sama satu orang saja sih," kata Rita menatap tajam ke arah Ney.
Dia kaget sampai detil sekali Rita bisa menyimpulkan semua yang dia lakukan. Dalam balik ruangan lain, adik dan kakak serta ibunya mencuri dengar dan tertawa mendengarnya.
__ADS_1
"Aih lingkaran setan," kata kakaknya.
"Kok..." kata Ney yang terpotong.
"Kok aku tahu? Ya tahulah. Kalau ada Arnila juga pasti tahu, kamunya saja yang tidak sadar. Tahu tidak sih kebiasaan kamu itu sampai aku hitung dan hampir ke semua pacar kamu ya seperti itu. Nanti kalau bosan sama Dins aku yakiiin banget kamu cari selingkuhan. Jangan marah kalau Dins juga melakukan hal yang sama karena kamu duluan yang berulah," kata Rita. Sudah seperti jadwal rutin bagi Ney
"Iya aku tidak akan begitu lagi. Aku juga sudah lelah, ini yang terakhir sampai aku mungkin menikah. Lagipula, dia juga kemarin ketahuan jalan sama perempuan lain. Kenapa sih aku terus yang disalahkan?" Tanya Ney.
"Kebanyakan kamu duluan sih yang berbuat ulah. Sekarang doa kamu sudah terkabul semuanya jangan cari masalah lagi deh. Kalau ada masalah kan ada ibu kamu bisa tuh curhat," kata Rita. Ney tampaknya jarang banget cerita soal asmaranya pada ibunya atau kakaknya.
"Mama gue orangnya kepo malas gue ceritanya," kata Ney yang mengambil kentang lagi.
"Lu juga kepo. Wajarlah emaknya kepo anaknya biasanya jadi lebih kepo. Kalau tidak mau, ya jangan jadi anaknya tantelah," kata Rita.
Ibunya Ney tertawa mendengarnya. Memang ibunya kepo tapi kan wajar, kepo sama kehidupan anaknya sendiri kok malah malu ya?
"Terus? Sudah baikan?" Tanya Rita.
Saat mau dijawab, ada ketukan di pintu sebelah Rita. Ney lalu datang dan membuka ternyata Dins!
"Dins! Kok kesini? Kamu tidak kasih kabar dulu," kata Ney. Lalu Rita berdiri dan melihat.
"Oh! Ada teman kamu? Siapa?" Tanyanya sambil senyum memandang Rita.
"Saya Rita, temannya Ney. Dins ya?" Tanya Rita.
Ney dan Dins duduk bersebelahan. "Iya. Kok kamu tidak pernah cerita sih kalau punya teman perempuan secantik ini?"
'Wedannnn! Nih lelaki dari penampakannya juga sama seperti Ney, jodoh sih pasti' pikir Rita.
"Aku pernah cerita kok, hanya kamu kan sibuk kerja. Oh iya Ri, Dins ini sudah kerja jadi pas ketemu aku tuh dia lagi menyusun. Ya kan?" Tanya Ney dengan suara genit.
"Iya. Terus ya gitu deh. Jadi juga. Masa sih kamu pernah cerita soal teman kamu ini?" Tanya Dins tidak yakin. Rita yakin sih tidak pernah cerita, ya bodo amat sih.
"Sudah ih," kata Ney yang bingung terlihat sekaleeee.
"Semoga akur ya kalau ada masalah jangan sampai cari pelampiasan lain," kata Rita tersenyum penuh arti ke mereka berdua.
"Ohhh iya.. kamu cerita masalah kita?" Tanya Dins dari nadanya itu tampak tidak suka.
__ADS_1
"Masalah apa?" Tanya Rita yang pura - pura tidak tahu.
"Oh! Tidak apa - apa. Aku kira Ney suka cerita soal masalah kita. Kan malu nanti jadi seperti buka aib sendiri," kata Dins sambil memegang tangan Ney.
Rita memang tidak suka dengan Dins tapi melihat Ney kelihatannya tertarik ya sudahlah. Wajahnya agak playboy senang perempuan tapi mungkin hanya perasaan Rita saja sih. Memang sih kulitnya gelap tapi ada perasaan tidak enak banget setiap melihat wajahnya. Ada seperti kalimat yang keluar dari benaknya tentang Dins tapi Rita tidak mengerti. Mereka kemudian mengobrol berdua tentang sesuatu dan Rita sibuk dengan ponselnya. Bukan Alex ya tapi teman - teman kuliahnya yang mengidekan untuk belajar bersama.
"Kamu chat sama siapa sih? Asyik banget," kata Ney.
"Oh, sama teman kuliah. Ajak belajar bersama supaya skripsinya cepat selesai," jawab Rita.
"Kok aku tidak ada ya yang ajak belajar bersama buat skripsi?" Tanya Ney.
"Kamu pernah mengajak tidak? Kamu tidak diajak mungkin karena banyak mengeluh?" Tanya pacarnya.
Ibunya datang membawakan lagi kentang goreng dan juga minuman untuk Dins.
"Kamu tuh ada tamu biasakan dong sudah suruh masuk, langsung bawa minum. Ayo dimakan juga ya Dins, sudah kenal dengan Rita?" Tanya ibunya.
"Sudah tante tapi Ney sama sekali tidak pernah cerita soal Rita. Kenapa ya?" Tanya Dins tanpa melirik pada Ney.
Ney langsung kaget masih saja soal itu. Ibunya langsung menatap Ney dengan sadis. "Lho kok bisa kamu tidak cerita?"
Ney terdiam mendengarnya. Rita melihat Dins agak aneh sih bagaimana ya, pokoknya sulit dijelaskan. mungkin ingin memancing kenapa bisa sampai bisa begitu. Kenapa Ney sampai tidak banyak cerita soal dirinya yang punya teman perempuan. Cemburu? Takut Dins menyukainya? Entah bagaimana dengan Arnila.
"Harap maklum saja ya. Tante ke belakang dulu," kata ibunya menghela nafas.
"Kalian sepertinya sudah dekat banget ya. Sudah berapa hari sih?" Tanya Rita mengalihkan topik.
"Ada seminggu ya," jawab Dins menyenggol pinggang Ney.
"Hmmm seminggu," kata Rita melirik Ney yang memainkan kancing bajunya.
"Kita sudah jauh ya hubungannya sampai ke... yang itu," kata Dins menunjukkan ke arah sesuatu yang saat itu Rita duduk berada jauh.
Ney kaget dan memukul Dins berbisik, ( bisa didengar sama Rita juga, entah kenapa sih ) "Jangan bilang keras. Dia sama sekali tidak tahu soal kita sudah begitu!"
Rita memandangi mereka dengan wajah yang aneh. Dia sama sekali tidak mengerti, "Kenapa sampai kemana?"
"Oh! Ya itu...sampai sudah mau serius begitu. Nih orang bicaranya memang begitu Ri, pakai kode. Bingung aku juga!" Kata Ney beralasan.
__ADS_1
Bau - baunya sih sudah sampai ke permainan berbahaya. Karena entah kenapa Rita kok bisa mendengar apa yang Ney bisikkan ya?? Aneh juga dia. Tapi setelahnya mereka berbicara dan Rita memilih pamit pulang daripada berlama - lama dengan pasangan aneh. Dan perasaannya sudah tidak enak karena kadang Dins berbicara sudah menjurus ke hal lain dan Ney menahannya. Ibunya? Entahlah, itu juga aneh banget. Tampak terlihat sekali kerenggangan hubungan ibu dan anak saat itu. Dan Rita sudah lumayan pusing jadi lebih baik mulai agak berjarak dengan Ney atau Dins.
BERSAMBUNG ....