ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
364


__ADS_3

"Kalau mereka didiamkan nanti malah hancur jadi aku harus selalu ada," kata Ney menganggap Rita akan menghancurkan kehidupan Alex.


"Itu bukan urusan kamu atau kita. Hidup Rita nanti mau jungkir balik, mau jongkok atau rebahan ya bukan urusan kamu. Pernah Rita minta kamu mengurusi dia dari sejak kecil? Tidak kan. Alex juga sama, yang Rita butuhkan soal kamu itu untuk menerjemahkan Inggrisnya saja. Tapi kamu malah keluar batas ya heran jadinya justru hancur," kata Arnila yang sudah lelah.


"Rita itu tidak peka dia akan membuat Alex kecewa jadi sebelum itu terjadi, aku harus bertindak," kata Ney.


"Kamu meremehkan Rita ya Ney disini. Mau peka atau tidak peka mulai sekarang jangan ikut campur lagi deh kecuali kalau Rita butuh saran. Usahakan kamu jangan terlalu mau tahu urusan dia sama Alex. Sekarang kamu lihat deh dari isi chat Alex saja dia selalu menggunakan Bahasa kan. Karena dia tahu bagaimana kemampuan Rita mengolah Inggrisnya," kata Arnila menjelaskan mengirimkan beberapa chat yang dia juga lihat.


Ney juga diam membaca yang sebelumnya, sudah sangat jarang sekali melihat tampilan pesannya berbahasa Inggris. Alex memang sudah lebih banyak menggunakan Melayu atau Indonesia. Dengan Ney pun juga bahasanya Melayu tapi Ney selalu menjawabnya dengan Inggris.


Terlihat jelas kalau Alex mengetahui soal Rita menceritakannya pada Ney karena Ney memaksa tapi sekarang kesempatan itu sudah tidak ada lagi. Ney ingin membuktikan bahwa Inggrisnya lebih bagus dari siapapun.


"Iya sih dia memang tidak pernah memakai Inggrisnya lagi. Kok aku merasa tidak berguna lagi ya," kata Ney agak lemas.


"Karena kamu sebenarnya bukan maksud membantunya saja tapi juga kepo kan dengan Alex nya bukan Rita. Makanya kamu merasa kesepian, sudahlah untuk apa sih kepo?" Tanya Arnila yang sudah bete dengan Rita juga.


Ney terdiam, dia selalu penasaran dengan apa yang dialami oleh Rita. Menurutnya super keajaiban sekali Rita bisa berkenalan dengan Alex yang super tajir. Kalau dia ada di posisi Rita, akan sangat menyenangkan sekali, bergelimang harta sudah terjamin.


"Dan aku juga sudah pusing ya sama Rita. Terus kamu juga yang benar-benar tidak mungkin bisa akrab seperti adik kakak. Kalian juga beda sekali karena sifat kalian pun bertolak belakang," kata Arnila menjelaskan.


"Padahal aku hanya sekedar membantu toh ingin tahu soal langkah dia seharusnya dia beritahu kan," kata Ney yang belum menerima harus meninggalkan segalanya.


"Sudah sudah kalau kamu mau membantu Rita jangan minta ada imbalannya, Ney itu sama saja kamu tidak ikhlas. Aku yakin Rita nanti tidak memerlukan kita lagi kesananya dia akan tahu sendiri cara mengatasi Alex bagaimana, kamu percaya saja pada Rita," kata Arnila dengan keputusannya yang tidak mau lagi mendengar apapun soal hubungan Rita dengan Alex.


"Apa salah kalau aku meminta sedikit balasan? Kan dia bisa dengan Alex juga karena aku ikut masuk di dalamnya, Arnila. Tidak mungkin dia bisa sampai sejauh ini," kata Ney memaksa dirinya lebih penting.


Arnila memegang kepalanya yang sudah pusing. "Dari awal ya kalau kamu tidak terlalu kepo atau penasaran, mereka akan baik-baik saja. Kamu masuk semua langsung hancur sekarang malah Alex percaya sama kamu lalu Rita? Kasihan dia kamu hajar terus," kata Arnila.

__ADS_1


"Karena..." kata Ney yang tidak bisa meneruskan kalimatnya.


"Aku katakan ya kalian itu sama sekali tidak ada chemistry yang cocok itulah kenapa kalian akan selalu saling bertabrakan. Soal Rita tidak mau berteman aku juga, bukan urusanku. Toh tidak kenal dia juga aku masih bisa hidup, jadi kamu juga berhenti mengatakan hal jelek. Apa sih masalahnya sama kamu, urusan sepele kamu besarkan," kata Arnila yang sudah tidak bisa menahan amarahnya juga.


"Aku hanya ingin Rita lebih memperhatikan aku saja. Selama ini siapa yang mau berteman sama dia selain aku?" Tanya Ney mentang-mentang dirinya paling penting di dunia.


"Yang mau berteman dengan dia itu banyak, Ney. Aku setuju sebagian apa yang Rita katakan, jangan menganggap diri kamu terlalu tinggi. Karena dia punya banyak lebih teman yang tidak kamu tahu. Menurutku kamulah yang butuh dia tapi bukan untuk seorang teman," tebak Arnila.


".........." balas Ney yang tidak bisa berkata apapun.


"Selama ini dia kenal kamu, berapa banyak perhatian yang dia beri? Aku juga ke kamu, tapi apa hasilnya? Kamu sendiri menginjak kami berdua. Kamu juga pernah menendang aku begitu saja bahkan Rita juga. Saat kamu bahagia, sedih, duka batu datang ke kita. Pikir dong Ney yang salah siapa?" Tanya Arnila. Dalam kepalanya dia sudah tidak mau tahu lagi soal Rita, dirinya apalagi Alex.


"........." Ney membalas.


"Coba pikir kapan Rita pernah berharap balasan dari saat dia sering membantu kamu. Saran saja kamu sama sekali tidak pernah mendengarkan, aku tahu bagaimana perasaan Rita. Kamu tendang dia tapi saat tahu Rita dekat dengan Alex, kamu seenaknya mengatakan Sahabat dan menendang aku. Coba pikir apa kamu paham rasanya ditendang?" Tanya Arnila yang sedih mengingat semuanya.


"Setidaknya hargai aku kek soal aku ini kan sudah mencari informasi soal Alex," kata Ney kesal.


"Yang aku lihat sebenarnya Rita hargai usaha kamu tapi kamu ada sesuatu yang ingin dihargai lebih dan Rita tidak mengerti. Rita selalu bilang terimakasih sama kamu tapi kamu seakan bukan itu yang diinginkan. Apa sih yang kamu mau sebenarnya?" Tanya Arnila penasaran juga. Isi kepala Ney cukup rumit sama dengan Alex yang tidak mengerti isinya.


Yang paling sederhana isi kepala hanyalah Rita karena dia hanya berpikir inti saja. Selebihnya Rita selalu mengeluarkan pendapat yang dia pikirkan, makanya tidak heran kalau isi pikirannya hampir sama sekali tidak ada yang dia sembunyikan.


"Masa sih? Kenapa aku merasa dia tidak pernah mengerti ya?" Tanya Ney yang sadar sudah salah menduga.


"Karena isi pikiran kamu terlalu rumit, terlalu banyak hal yang negatif tidak perlu kamu pikirkan terlalu dalam. Rita simple orangnya coba deh kamu baca isi pikirannya, hampir tidak ada kan. Karena dia tipe yang mengeluarkan semuanya dan tidak terlalu memikirkan," kata Arnila.


Benar juga Ney berusaha membaca isi pikirannya sama sekali tidak ada yang penting. Rita memikirkan hal yang paling menurutnya menyenangkan, tidak ada hal yang sulit dia baca.

__ADS_1


"Anggap saja informasi itu hanya untuk kamu sendiri, Ney. Aku hafal sekali watak kamu seperti apa sayangnya Rita sama sekali tidak tertarik dengan info yang kamu punya. Kalau dia memutuskan Alex yang beritahu, ya sudah jangan kamu paksa Rita harus tahu segalanya dari kamu," kata Arnila.


Ney merasa usahanya sia-sia dia terduduk lemas di atas kasur, seharusnya dia hentikan saat Rita memang tidak tertarik. "Aku mungkin sudah salah ya Nil, terlalu memaksakan keinginan ke Rita," kata Ney yang mengusap wajahnya.


"Untuk apa kamu banyak berbuat ini itu kalau Rita tidak meminta tolong. Selama ini aku yakin kamu memang tertarik kan sama Alex, kamu kesal karena Alex hany menatap Rita yang tidak peka itu. Cinta itu misteri, Ney," kata Arnila yang sudah tenang kembali.


"Rita sepertinya lebih percaya yang terlihat oleh mata ya," kata Ney yang agak sebal.


"Iya makanya aku jauh hari bilang kan sama kamu biarkan saja jangan cari info segala. Dia inginnya Alex yang katakan siapa dia, ya kamu jangan melakukan hal sia-sia," kata Arnila.


Ney mengerti sekarang tapi dalam hatinya masih kesal. Informasi yang dia dapatkan memang untuk dirinya tapi juga untuk Rita agar dia bisa tahu kalau Alex bukan anak sembarangan. Ney kesal karena Rita sudah tahu sebelum dirinya memberi info. Ternyata soal kepekaan, Rita peka pada hal lain.


Berharap Alex dapat mempercayainya namun sepertinya tidak ada kesempatan jadi dia membuat Rita hanya bergantung kepadanya. Tapi malah membuatnya semakin jauh, apa yang dia takutkan? Toh Rita bukan tipe perempuan tukang pamer dalam akunnya pun tidak ada foto ke arah menyombongkan diri. Jadi kenapa Ney merasa Rita selalu pamer? Pikirannya memang terlalu suudzon pada semua hal, yang membuat kadang dirinya sendiri pusing kenapa yang dia duga ternyata salah semua soal Rita.


"Rita akan lupa sama kita tidak ya kalau hidupnya sukses nanti? Kenapa sih Allah tidak adil?" Tanya Ney dengan sedih.


"Dia tidak akan lupa karena masalah lalu saja dia masih ingat kan. Kenapa soal Alex, Rita yang dapat? Karena kalau kamu, sudah pasti melupakan kita, Ney.


"Idih, tidak akan kok," kata Ney.


"Yakin? Waktu kamu bahagia kamu hilang begitu saja. Tidak ada kabar aku tanya, Rita tanya, kamu kemana? Tidak ada. Rita? Mau senang, sedih duka selalu ada kabar. Mungkin itu sebabnya Allah memberikan tanggung jawab besar karena hanya Rita yang bisa menanggung dan mengatur semuanya," kata Arnila yang sudah hafal betul.


"Ya aku pikir kalau sudah bahagia ya sudah saja," kata Ney.


"Kalau begitu nanti Rita bahagia kamu tidak perlu mencari dia. Karena kalau sedih juga dia punya banyak teman bersandar," kata Arnila membuat Ney termenung.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2