
"Hah!? Serius gue bukan sama Dins?" Tanya Ney dengan kaget.
"Iya. Dia bilang ke aku, dia mau mulai hubungan baru dengan serius yang namanya Mona itu soalnya keluarganya menerima banget," kata Arnila.
Ney menangis saat itu juga dalam kamarnya di Jakarta. Dia kini benar sendirian tidak ada lagi yang akan membantunya dalam keuangan dan lain - lain.
"Sudah deh, buat apa kamu sedih segala? Kamu sudah banyak menyiakan kehadirannya. Kalau menurut aku sih Dins masih punya kesempatan lain untuk berubah. Kamu sekarang berhenti plagiat kerjain skripsi sesuai kapasitas otak kamu," kata Rita.
"Lu tidak tahu Rita, lu kan tidak pernah pacaran! Tahu apa lu!" Kata Ney.
"NEY! TIDAK BAIK KAMU BILANG BEGITU! Orang Rita kasih saran baik kamu memang sudah keterlaluan! Sudah Rita, kita pergi saja terus ini grup lebih baik kita bubar saja deh! Kamu lebih baik fokus sama kuliah dan lulus! Setuju Rita?" Tanya Arnila yang sudah muak juga.
"Ya aku sih setuju banget. Dari awal juga sudah malas satu grup sama nih orang," kata Rita.
"Kok kalian ninggalin gue sih?" Tanya Ney yang panik.
"Ya lu kan mau fokus kuliah susulan daripada lita ganggu," jawab Arnila.
"Nggak nggak ganggu kok dengar kamu bilang alu tidak mungkin sama Dins masa sih? Dia mau balik lagi kok sama aku, Nil," kata Ney yang mulai agak bucin.
"Kamu sudah terlalu sering mengabaikan dia. Tahu kan sakitnya seperti apa? Dia sudah setia sama lu, bela - belain kerja nimbun uang buat nikah lah lu masih saja lirik orang lain," jelas Arnila.
Ney sekarang benar - benar kena batunya akan kelakuannya yang menganggap dirinya bisa mendapatkan lelaki manapun yang dia inginkan tapi memang benar apa kata Rita. Orang yang jarang sholat wajib tapi rajin sholat tahajud, meskipun semua permintaannya terwujud tidak akan bertahan lama.
"Coba deh lu sekarang sekali - kali menerapkan sholat wajibnya. Kalau kamu benar - benar inginnya sama Dins," kata Rita yang saat itu juga punya masalah.
"Iya, aku setuju dengan pendapat Rita. Sekarang lu lebih baik fokus sama kuliah dan skripsi masalah Dins lu banyak berdoa saja terus niatkan jangan sampai jelalatan lagi," dukung Arnila kali saja sekarang benar.
"Ya kalian jangan kemana - mana dong aku kan punya masalah masa kalian tinggal?" Tanya Ney.
"Beuh mikir cuma kamu saja yang punya? Semua orang punya masalah tapi kalau kamu cuma bisa mengeluh tanpa cari jalan, buat apa?" Tanya Rita yang bete sama kelakuannya.
"Hahaha yah maklumlah Rita, dia hanya bisa memikirkan dirinya sendiri kan. Oh iya bagaimana kabar kamu nih? Jadi 3 hari kemana saja?"
Rita lalu mulai menceritakan perihal masalahnya sekarang. Dan akhirnya dia harus keluar dari tempatnya mengajar karena kepala sekolahnya pun tampaknya lebih mementingkan soal harga diri sekolahnya.
"Wah, pengangguran dong sekarang sama seperti aku," kata Ney yang bangga. Akhirnya ada hari dimana dia bisa membalas Rita.
"Yah, istirahat dulu deh. Kapan lagi aku bisa sesantai ini. Terus ada cerita lain juga," kata Rita.
Arnila dan Ney tertarik lalu diceritakan soal rekan gurunya yang mengambil nomor Alex. Ney kaget berani sekali guru itu mengambil nomornya begitu saja.
__ADS_1
"Salah lu sih menurut gue Rita, kenapa juga kamu percaya sama rekan kamu sendiri? See yang baru kenal kamu saja sudah bisa berkhianat," kata Ney, dia juga tahu sih nomor Alex karena Alex tiba - tiba pernah chat dia tapi sekarang sudah jarang.
"Iya ya baru kenal sudah begitu apalagi yang sudah lama kenal ya," kata Rita yang menahan kesal.
"Terus Alex bagaimana?" Tanya Arnila. Dia takut Alex pasti menyalahkan Rita.
"Ya pasti marah dong kamu seenaknya kasih lihat itu guru begitu saja. Ke aku saja kamu tidak mau kan!" Kata Ney yang anehnya malah dia yang marah.
"NEY! KAMU BISA DIAM TIDAK SIH? Yang mengalami Rita kenapa juga kamu yang mencak - mencak?" Tanya Arnila yang kesal dengannya.
"Ya aku cuma kasih saran saja," katanya.
"Itu bukan saran ya bedakan dong! Lu diem deh, kalau lu ikut bicara semuanya kacau! Terus bagaimana?" Tanya Arnila.
Akhirnya Ney hanya menyimak saja kali ini Arnila seperti mulai bangkit tidak mau diremehkan lagi makanya bisa mulai memarahi kelakuan Ney. Ney juga terkejut memang ya aura mau menikah jadi beda.
"Lalu Alex bilang kalau dia percaya bukan aku yang memberikan nomornya, dia yakin rekan aku yang berani buka ponsel dan menemukan akunnya dia," kata Rita dengan bangga.
"Tuh kan apa kata gue. Lu diem kelar kan masalahnya. Alex pasti tahu lah Rita, dia kan punya kemampuan sebagai anak IT," kata Arnila terkekeh - kekeh.
"Iya aku sudah takut juga sih. Tapi untunglah oh iya soal denda itu sudah diterapkan hehehe," kata Rita sambil tertawa.
"Denda apaan?" Tanya Ney penasaran.
"Kita terapkan yuk buat kamu tuh kalau bicaranya negatif mulu kena denda," kata Rita.
"Hahahahaha bagus itu. Bagaimana?" Tanya Arnila.
Ney kesal banget membacanya. "Ogah! Ayah gue langsung marah lagi dong!"
"Aku jamin tidak akan, Ney justru akan setuju. Supaya kamu jadi pribadi yang baik kan kamu maksa nih Rita katanya sifatnya jelek nah lu sama saja. Justru lebih parah, tidak adil dong kalau Rita sendirian, ya kamu juga harus mau," Arnila cekikikan.
"Makanyaaa jadi orang jangan sok tahu, Sok banget ya sampai bilang sifatku minus lah kamu sendiri lebih parah. Nah terus kamu bilang aku egois, kamu tahu orang yang memaksakan pendapatnya ke orang lain itu biasanya...." kata Rita memotong.
"Orangnya sendiri kan yang lebih egois," sambung Arnila.
"Betul! Kenapa orang lain tidak ada yang bilang kamu ego sama orang lain karena dia sudah sadar. Manusia itu semuanya egois yang tidak hanya pencipta kita, mau dia disakiti soal ucapan kita yang marah - marah, apapun, masih saja tetap baik kan," kata Rita.
"Jadi sadar diri itu penting tapi bukan berarti lu kaya rusuh sendiri bilang Rita ini itu ke teman - temannya. Aku yakin mereka sudah tahu semua kok kalau lu sampai koar - koar memang biasanya karena pasti lu punya niat tidak baik," kata Arnila.
"Aku sama sekali tidak pernah tuh selama berteman sama semuanya bilang seperti yang kamu selalu tuduhkan. Kalau kamu seperti itu sih ya wajar kenapa kamu sampai sekarang teman dekatnya hanya punya Arnila," kata Rita yang mengambil permen dan makanan.
__ADS_1
"Soalnya kalian sudah saling menerima kelemahan kelebihan terus ya memang kita semua egois. Aku juga kok tapi memang kenapa? Ya kan," kata Arnila lagi yang saat itu sedang makan siang.
"Yang seperti itu mah sudah tidak jamannya lagi koar - koar kasih tahu aku ini aku itu, justru kamu seperti anak kecil banget. Seperti baru pertama kalinya ketemu orang terus sok iyeh banget kasih tahu segala," Rita tertawa.
"Aku bukan anak kecil," kata Ney membantah.
"Terus apa maksud kamu menjelekkan aku ke semua orang? Tahu tidak, mereka muak sama kamu terutama Diana. Mereka saja muak apalagi aku yang lama kenal kamu," kata Rita membuat Ney diaaaaaam seharian itu.
"Ada kemungkinan mereka bisa memaafkan Ney?" Tanya Arnila.
"Ya pasti ada," kata Rita.
"Syukur deh! Dengar tidak? Lebih baik lu cari yang lain deh," kata Arnila.
"Kalau memaafkan pasti dimaafkan tapi buat berteman sepertinya tidak mungkin. Mereka sudah kesal setengah mati sama omongan kamu jadi jangan banyak berharap deh. Ada kan ya awal perkataan saat bertemu orang lain itu harus bagaimana, kamu pelajari itu. Masa sudah sebesar ini harus diajarin cara berteman sih? Aneh banget!" Kata Rita.
"Sepertinya lu harus mulai jaga sikap dan omongan deh. Ya kalau kamu masih ingin punya banyak teman sih aku setuju dengan kata Rita," kata Arnila.
Ney meneteskan air matanya menangis tersedu - sedu. Dia juga ingin punya teman yang sangat bisa mengertinya tapi terlalu banyak syarat yang dia buat sendiri menyebabkannya sering kecewa. Berharap temannya Rita mengiba sama dia tetapi malah kena bumerang terus sekarang menangis?
"Terus Alex sekarang bagaimana setelah tahu kamu keluar jadinya?" Tanya Arnila karena tumben juga Rita ada di grup.
"Aku merasa dia seperti kecewa gitu, Nil. Terus seperti memaksa aku harus bisa Muroja'ah itu," kata Rita mengeluarkan semua uneknya.
"Kamu curiga sesuatu tidak sih sama Alex?" Tanya Arnila mencoba menguji Rita.
"Aku merasa dia seorang Hafidzh ya? Tapi ya itu hanya perasaan saja sih soalnya dia seperti tahu kalau aku sedang mengaji cukup menyebutkan angka saja dia tahu," kata Rita.
"HAH!? HAFIDZH!?" Teriak Ney yang kaget. Dia bengong banget soal itu.
"Biasa saja kali, kamu tidak tahu? Tumben," kata Rita.
"Soal itu mah sama sekali tidak tahu. Terus kamu bagaimana? Kalau hafidzh sih menurut gue berat banget," kata Ney.
"Lu mah apa - apa juga yang soal agama berat nanggepinnya makanya belajar. Ya tidak apa - apa kalau dia mau beralih juga karena kecewa aku tidak bisa Muroja'ah ya silakan. Memangnya kapan aku pernah paksa dia harus dengan aku?" Tanya Rita yang santai.
"Tidak apa - apa kalau ternyata dia merespon rekan kerja kamu? Kamu kok mudah banget ya menyiakan rasa suka seseorang? Yang jahat itu kamu lho," kata Ney kecewa.
"Yang jahat tuh orang yang suka memaksakan kehendak. Dia harus suka sama aku? Ya tidaklah.
Aku harus suka dia, enak saja! Menyia - nyiakan? Suruh siapa juga dia baru kenal sudah ada rasa suka. Hayooo! Kamu saja sudah kepedean yakin bisa sama dia justru orang yang mudah mempermainkan cinta seseorang itu baru jahat kaya kamu," kata Rita membalas dengan telak.
__ADS_1
"Sudah sudah hahahaha pokoknya kali ini kamu kalah, Ney. Sudah deh daripada ngobrol mulu mending kamu fokus deh sama kuliah. Biar Rita rehat dari kerjaannya," kata Arnila menengahi.
BERSAMBUNG ...