
"Orang tua Alex itu ya keduanya orang hebat semua lho apa bisa keluarga kamu setara sama mereka. Mana mungkin kan jadinya aku ingin merubah semua kepribadian kamu supaya kamu keterima di mereka, begitu lho. Kalau nanti misalkan kami sama dia dengan perilaku kamu seperti ini bisa malu ke akunya, Rita," kata Ney yang membuat Rita muak.
"Idiiih lu siapa coba berasa orang penting. Orang tua aku saja bukan, saudara aku bukan. Teman macam apa coba yang memaksa plus sok tahu soal begituan. Mau aku jadi sama Alex atau tidak, sepertinya bukan urusan kamu deh. Aku sih tidak masalah mau tidak diterima juga sama orang tuanya, memangnya cuma mereka doang yang hidup?" Tanya Rita tidak jelas dengan apa yang dipikirkan oleh Ney kok bisa ya ngaku teman tapi orangnya seperti begitu.
"Lu yakin tidak masalah ditolak sama orang tuanya?" Tanya Ney yang agak kecewa usahanya tidak dihargai oleh Rita. Teman seperti dia sih mana ada juga yang mau kali. Dekat tapi seperti itu toh niatnya selama ini. Dulu Rita tidak pernah dianggap ada, sekarang dia menilai Rita hanya dari kulitnya saja.
"Yakinlah biarkan saja, mereka punya kriteria sendiri dari orang ya silakan. Memangnya kenapa? Kalau kamu malu ya pergi saja orang yang seperti kamu untung cuma kamu sendiri, yang lain tidak ada tuh yang rada error kaya kamu. Aku sudah punya banyak teman yang lebih baik mereka juga tidak masalah kok aku mau se-bloon apa juga," kata Rita yang menghela nafas. Untung cuma satu tipe orang kaya Ney kebanyakan ya bisa menerima apapun yang dia punya.
"Serius mereka menerima kamu? Jangan - jangan mereka malah memendam soal kejelekan kamu," kata Ney.
"Jelek, kurang apapun itu wajar namanya manusia, Ney. Yang sempurna itu hanya Tuhan kita, lu berasa sempurna? Manusia sombong. Malaikat saja tidak sempurna, egoisnya ada inginnya manusia tidak diciptakan kata mereka buat apa? Kalau manusia lebih banyak berbuat dosa, lebih baik mereka saja yang sudah terbukti taat kepadaNya. Ya kalau kamu merasa malu dengan kelakuan aku, terbukti kalau kamu palsu orangnya. Mungkin kamu dekati orang karena bukan kebutuhan sih tapi kamu kesepian atau... memanfaatkan mereka," kata Rita menebak lagi. Mbok yaaa sudah bertahun - tahun lama nya Rita bersama Ney, tidak pernah protes soal bagaimana Ney, eh sekarang malah dia yang protes.
"........" balas Ney. Wajahnya memerah sudah mulai mau menangis lagi. 🙄🙄🙄 dia sendiri yang bicara kasar, dia juga yang menangis. Aneh kan.
"Apa urusan kamu juga ngatur hidup gue. Teman yang asli itu ya tidak akan pernah malu sama sekali kalau teman sendirinya konyol. Kan kamu sendiri yang bilang kalau aku seru dan kocak banget ya sudah biarkan saja. Kalau kamu tidak percaya aku bisa lebih, tinggalkan. Teman kamu kan punya banyak buat apa sih mikirin gue? Pemikiran kamu tuh garing banget, asli deh. Anehnya juga aku masih mau temenan sama kamu," kata Rita lalu dia menatap jam ke dinding. Sudah pukul 10 malam, Rita merenggangkan badannya dan membereskan buku untuk kuliahnya besok.
"Aku hanya ingin yang terbaik buat kamu saja," kata Ney yang masih rebahan.
"Terbaik buat aku atau terbaik buat kamu? Kamu orangnya tidak ikhlas kalau bantu orang, Ney. Terlihat kok maunya orang - orang yang bantu kamu dengan Ikhlas. Tapi kamu tidak bisa sebaliknya," kata Rita lalu meninggalkan kamarnya untuk makan malam.
Ney berpikir nampaknya Rita meski tidak bisa membaca pikiran, namun dapat menganalisa mengenainya dengan tepat. Tapi apa Rita hanya begitu kepadanya saja? Kalau benar berarti Rita sangat menyayanginya dong? Ney duduk dan mengingat segalanya, bagaimana Rita selalu memberikan saran dan kritik tapi tidak pernah dia dengarkan sekalipun. Arnila juga sama. Kemudian Ney menghubungi Arnila dan menceritakan segalanya.
"Nah, sudah tahu kan? Rita menurut aku tidak lemot deh aku setuju dengannya, dia hanya mau menguji kamu bagaimana reaksi kamu soal Alex juga. Ney, cobalah untuk lebih terbuka dan keluarkan masalah kamu sama Rita. Aku yakin Rita bisa bantu, jangan memutar balikkan fakta yang ada nanti kamu benar - benar ditinggal dia lho." Kata Arnila dalam teleponnya.
"Lalu bagaimana soal dia yang aku pikir bisa baca isi pikiran aku deh. Sepertinya dia bohong waktu bilang tidak bisa, Nil," kata Ney.
"Dia bilang tidak bisa kan kata aku sih memang tidak bisa. Kenapa bisa menebak dengan tepat itu karena dia sensitif, Ney. Rita kan selalu pakai hati kalau bicara, dia itu sering menyembunyikan perasaan tidak enaknya sama dengan aku. Sedangkan kamu yang terlalu nyablak kalau bicara jadi ya memang susah akur kalian berdua. Dia selalu mengalah sama lu waktu SMP - SMA tapi lu sendiri sama sekali tidak pernah begitu, kamu ingin Rita yang selalu membantu kamu. Ya siapa sih yang bisa tahan," kata Arnila.
"Aku kan berkata jujur soal dia bagaimana," kata Ney.
"Bisa tidak kamu pakai perasaan kamu? Ucapan diperhalus lagi ya, Bu. Karena Rita sensi kalau kamu ada yang keberatan soal Rita, hentikan tahan dan keluarkan dengan pilih kalimat yang bisa diterima dia, Ney. Pernah kamu dengar Rita bicara atau balas chat dengan kasar? Kalau tidak ada yang memancing ya dia tidak akan begitu, beda kalau kamu memancing kasar, ya dia balas," kata Arnila lagi sambil memakan buah mangga.
"Berarti memang benar ya kalau dia chat sama Alex jadi super galak," kata Ney tertawa.
__ADS_1
"Karena Alexnya yang selalu berbuat onar kan. Memang masalahnya sama Alex sih kalau menurut gue. Kasihan Rita itu, dia pasti depresi berat sama si Alex cari masalah mulu terus kamu juga mancing emosi dia. Kalau kata aku sih jangan terlalu sering interaksi sama Rita deh Ney, lu kan punya teman sendiri sama mereka saja," saran Arnila.
Ney berpikir dan menghela nafas toh dia sendiri juga sebenarnya lelah. Tapi lelah apa? Hobinya mancing esmosi, si Alex mancing masalah.
"Bagaimana ya. Soalnya aku lagi butuh sama Rita sih, dia kan lagi bermasalah dan aku setia menunggu dia curhat," kata Ney.
Arnila membaca dan sebal dengan kalimatnya. "Rita datang? Cerita?"
"Yaa sampai sekarang belum. Nanti pasti cerita," Ney sangat yakin.
"Mana ada. Dia juga mikir kali, Ney. Daripada sama lu lebih baik sama sahabatnya. Kamu butuh apa sama Rita?" Tanya Arnila penasaran. Tumben dia ada kebutuhan sama Rita paling juga kepo soal Alex.
"Selama ini kan dia selalu cerita di grup," kata Ney.
"Itu kan kamu yang maksa," kata Arnila mengingatkan.
"Wajar kan sesama teman gitu," kata Ney tidak mau kalah.
Ney tidak menjawab tentunya sudah pasti memang masih suka, meski sekarang jadi kagum. Tapi Arnila bisa merasakan kalau Ney sangat cemburu dan iri sekali pada Rita. Kehidupannya jauh berbeda dengan Rita, dia tidak tahu seperti apa perjuangan Rita di dalamnya dalam keluarganya Rita tidak memiliki siapapun yang membela. Dia harus mandiri sendiri hanya teman dekat dan sahabat - sahabatnya lah yang dia anggap sebagai orang tua dan kakak. Ibunya sekalipun sama sekali tidak pernah berada untuk membela begitu juga dengan ayahnya. Tapi Rita bisa menerima semuanya dengan sikap Sabar.
Dia percaya Allah swt akan memberinya Door Prize bila dirinya bisa menerima semuanya dan bersikap sabar termasuk soal Ney. Meskipun sakitnya sudah lama semenjak kenal dengan Ney, dan dirinya tidak mendapatkan keadilan dalam mata manusia. Tapi Allah swt tidak pernah tidur, Dia memberikan bantuan dengan kemanapun Rita melamar pekerjaan, pasti dirinya selalu diterima tanpa berlama - lama menunggu. Rita kembali ke dalam kamarnya diikuti tentu saja dengan Prita dan kakak serta anaknya pun datang.
"Ate, ada makanan?" Tanya keponakan pertama diikuti oleh kedua dan ketiga. Setidaknya sekarang, ada 3 keponakan jail anak dari kakaknya yang selalu bisa diandalkan. Kalau kesepian, Rita tinggal bermain dengan mereka.
"Nih. Mau apa? Ambil sekalian supaya tidak bolak balik," Rita membuka lemari makanannya.
"WUAAAAAA!!!" Teriak mereka berempat.
"Sini yang kecil dulu," kata Prita mereka berbaris dan mengambil masing 4 macam makanan dan 2 minuman.
Keponakan paling kecil mengambil 4 cemilan dan 2 minuman : Inaco Mini Jelly 1 bungkus
Milo Cube 1 bungkus kecil ( isi 10 )
__ADS_1
Tricks Potato Baked Crisp
Kue Oreo 2 bungkus
Jus Buavita dan susu kotak
Dengan wajah yang berseri - seri dan malu - malu seperti memberikan ke kasir agar Rita melihat apa saja yang dia ambil. Rita tertawa lalu mempersilahkan keluar.
"AASYIIIIKKK!" Teriaknya.
"Ambil apa, dek?" Terdengar kata kakaknya bertanya pada anak terbungkus nya. Dan keponakan kecil memperlihatkannya.
"Kalian ambil yang berbeda jangan sama jadi nanti bisa saling tukar cicip," saran Prita pada 2 keponakan tersisa. Mereka mengacungkan jempolnya.
"SIAP!!" Jawab mereka. Lalu keponakan yang tengah. Dia mengambil 4 makanan dan 1 minuman saja : Glico Pocky 1 bungkus
Big Beng Beng 1 bungkus
Belum kelar, dia berhenti dan bilang sudah itu saja. "Kok sedikit? Sok saja mau apalagi bebas daripada nanti yang lain masih ada kamu sudah habis, memble. Jangan cokelat semua itu gigi kamu sudah rontok parah!" Kata Rita sambil tertawa keras.
"Huuuh! Ya sudah aku ambil ini deh kalau begitu. Dimsum isi 10. Boleh?" Tanyanya menatap Rita.
"Soook tapi habiskan ya sama yang lain juga boleh. Tuh ada roti juga kali kamu mau," kata Rita menunjuk ke rak bawah.
Prita dan keponakan pertama tercengang, rotinya ada sekitar macam. "Asli banyak banget! Tapi kok ateu tidak gemuk?" Tanya ponakan pertama.
"Cacingan kali ya hahahah!" Kata Rita semuanya lalu tertawa juga. "Ayo, Aa 3 lagi ya. Tenang bebas!"
"Aku bingung!!" Teriaknya acak - acak kepalanya.
"Ya sudah biar tidak bingung, nih ateu punya bingkisan kecil isinya macam - macam. Bagaimana? Ada 4 bingkisan. Sok kamu pilih isinya sama ada 6 macam," kata Rita membuka lemari sedang di sebelahnya.
BERSAMBUNG ...
__ADS_1