
Disini akan dijelaskan kegelisahan Ney yang memutuskan berhenti kepo tapi ke kepo an itu kembali menggerogoti tubuhnya. Ada perasaan menggantung yang sebenarnya sudah jelas-jelas mengganggu kehidupan makhluk hidup.
Dia ceritakan pada teman-temannya bahwa akan mendatangi rumah salah satu anggota grup yang terkenal bisa meramal, Arfa. Mereka semua bengong dalam chat grup itu.
"Kamu kenapa sih sepertinya penasaran sekali sama orang ini?" Tanya Murni yang sudah lama gabung.
"Iya, lepasin saja kenapa sih? Levelnya juga berbeda sama kamu," kata Safa yang sudah lama tidak muncul.
Ney membaca komentar mereka dalam grup, masih ada yang belum puas dalam hatinya. Ya sok tahulah dia tuh, banyak alasan!
"Aku merasa dia kesepian deh dalam hidupnya jadi aku merasa harus mendatanginya. Memastikan saja kok apa dia baik-baik saja tanpa aku atau Arnila," balas Ney.
"Menurut aku sih dia baik-baik saja tanpa kehadiran kamu. Sudah deh lupakan saja, toh dia juga sudah menutup hatinya buat kamu kan," balas Feb.
"Iya, kasihan sama orang juga ada batasnya Ney. Kamu kan cerita ke kita kalau sudah berkorban banyak buat dia tapi akhirnya malah kamu ditinggalkan. Ya sudah untuk apa juga masih memikirkan," kata yang lainnya.
Ney merasa senang karena orang-orang itu sangat mengerti dirinya. Yalah, mereka semua sifatnya juga tidak jauh beda dengan Ney. Jadi memang cocoknya sama mereka bukan Rita. Namun karena dia melihat berita itu, membuatnya semakin harus dekat.
Ya lumayan kali bisa pamer ke mereka nantinya soal dia yang kenal Rita dan Alex.
"Aku tidak akan apa-apa kok, Rita tidak mungkin menyakiti aku. Aku sih sudah biasa kena fitnah dia, aku ikhlas saja sih," balas Ney tersenyum.
"Alasan kamu mau mendekati dia apa?" Tanya Laras agak curiga.
Yah meskipun mereka kelompok sosialita, tetap saja ada beberapa orang yang tidak merasa begitu. Kaya tapi masih sadar.
"Yaa dia itu kenalan dengan anak ningrat jadi aku wajib dong ada di sisinya memberikan pengarahan," balas Ney.
Mereka yang membacanya hanya terdiam, ada juga yang tengah bermain ke rumah sesamanya. Dan berpandangan agak norak.
"Ooh kamu cemas sama dia karena tahu punya kenalan anak orang kaya," kata Feb yang tidak aneh juga kalau Ney.
"Lalu kenapa kalau dia kenalan sama anak kelas atas? Apa urusan kamu?" Tanya Nas.
Ney tidak bisa membalas beberapa orang ada yang tidak menyukainya.
"Kamu mau coba masukkan dia lagi ke sini? Dia sudah tolak grup kita lho. Lagipula aku berpikir dia memang berbeda dengan kita semua," kata ketua dan yang lain setuju.
Teringat Rita yang memang membalas dengan sindiran keras sama semuanya. Semua anggota jadi takut dan membiarkan dia keluar grup.
"Aku akan tetap datang ke rumah Arfa dia kan bisa lebih membantu aku dengan ramalannya," balas Ney.
"Arfa memangnya mau terima kamu? Kita tahu dia terang-terangan tidak menyukai kamu," kata Safa mengingatkan.
Arfa memang memiliki bisnis peramal an dengan keluarganya dan teman grup gratis bila butuh bantuannya. Itulah rencana Ney.
Hari Minggu tanpa pemberitahuan, Ney datang ke rumahnya yang penuh dekorasi pernak pernik China. Ney mengetuk pintu kamarnya yang terpisah dari rumah utama.
"Permisi, Arfa kamu ada di..." kata Ney sebelum bisa bicara ada suara orang lain dari dalam.
"Iya aku ada dirumah. Aku tahu kamu akan datang, Ney. Masuklah," jawab Arfa.
Dalam grup Arfa lebih terkenal alim dan pendiam tapi kalau sekalinya bicara, nadanya keras tapi meskipun begitu semua itu tergantung dengan kliennya. Agamanya bukan Islam dia memilih meramal sebagai pekerjaannya membantu usaha keluarganya.
Di sini akan lebih dijelaskan dalam percakapan supaya lebih mudah dibaca.
Ney : "Kamu tahu juga kan maksud kedatangan
aku?"
Ney lalu dipersilakan duduk oleh Arfa, agak mendengus yang datang malah orang yang tidak dia sukai. Tapi dia harus profesional sebagai peramal.
Arfa : "Tahu. Tapi Ney, menurutku lupakan saja
buat apa juga sih kamu sering memaksa?
Hanya karena KEPO?"
Ney kaget Arfa memang orangnya langsung nyerocos agak lebih aktif dibandingkan Ney. Dan nadanya terbilang jutek.
Ney : "Memaksa apa? Tidak kok aku hanya cemas
saja sama dia. Aku... hanya sedikit... kepo,"
Arfa : "Iya itu sama saja kamu memaksa dia untuk
bisa menerima kamu dan aku tidak yakin
deh kalau kamu ada kecemasan. Bukan
__ADS_1
karena kamu melihat suatu berita soal
laki-lakinya kan?"
Ney agak salah tingkah di situ. Arfa mendengus dan mulai mengambil setumpuk kartu yang memiliki cover indah dibelakangnya.
Arfa : "Coba ceritakan soal orang yang kamu
sedang pikirkan sekarang,"
Ney mulai bercerita soal Rita dan Alex serta hal lainnya. Arfa yang mengocok kartu agak kebingungan mendengarnya namun dia masih terus mendengarkan. Mengocok kartu dan melihat sesuatu.
Arfa : "Ada yang agak aneh soal cerita kamu,"
Ney : "Yang mana?"
Arfa : "Kamu yakin kalau dia kenal orang asing
ini lewat kamu sebagai perantara? Bukan
dia sendiri yang didatangi langsung sama
orang asing itu?"
Arfa menatap tajam pada Ney karena menurutnya Ney bermasalah pada kejujuran. Ada yang salah pada diri Ney.
Ney : "Hah? Kamu tahu dari mana? Iya, benar
dari aku tapi dia merasa bukan dan
keukeuh tahu Fa. Dia itu sama sekali tidak
menghargai aku kan Fa. Aku ini ya sudah
banyak membantu dia lhoo supaya dia jadi
sama orang asing itu,"
Arfa : "Ney Ney, kamu masih saja dengan
kebiasaan kamu ya. Kamu lupa ya tidak
akan bisa berbohong di depan aku. Kalau
kamu sembunyikan aku tahu. Memang
kamu tidak ada hubungan apa-apa sama
laki-laki itu,"
Ney : "Tapi kan aku dikenalin,"
Arfa : "Kamu yang memaksa. Iya kan?"
Ney : "Ya memang sih karena aku tahu Rita tidak
akan memperkenalkan. Orang itu... kenalan
sama teman aku. Aku... hanya dikenalkan,"
Arfa : "Itu kan hak dia mau kenalkan ke kamu atau
tidak. Jangan mentang-mentang kenal
teman kamu ini, lalu kamu seenaknya
memaksa dikenalkan. Lagipula..."
Ney : "Apa?"
Arfa : "Teman kamu sudah tahu kalau kamu genit
kepada semua laki-laki tidak ingat bahwa
kamu sudah menikah,"
Ney diam agak kaget. Dia memperhatikan kartu yang sekarang berbaris.
Arfa : "Susah ya kamu berbicara jujur? Terlalu
__ADS_1
banyak kebohongan,"
Ney : ( menarik nafas ) "Lalu kamu sendiri
bagaimana? Bisa aku percaya ramalan
kamu?"
Arfa : ( tanpa memandangi Ney ) Yah, aku
memiliki kemampuan meramal terikat
dengan tidak boleh menggunakannya
seenak hati. Tidak seperti seseorang yang
tidak punya kemampuan, tapi dengan
gamblang berusaha meramal,"
Ney diam, yang dia bicarakan sudah tentu dirinya yang berusaha tidak mau kalah dan mengatakan dirinya bisa meramal juga. Supaya lebih banyak yang memuji dan diperhatikan.
Tidak ada yang tepat makanya menjadi ajang tawa dalam grup lain. Yang akhirnya dia hentikan karena semakin banyak yang bertanya karena tidak terjadi apapun.
Ney : "Bagaimana?"
Raut wajah Arfa agak aneh, Arfa memandangi Ney penuh dengan wajah curiga. Membuat Ney agak ketar ketir.
Arfa : "Orangnya ramah sekali kok, baik, setia
kawan juga. Aku kira dia memang sesuai
cerita kamu di grup ternyata berbeda sekali
orangnya juga tulus sekali. Kok bisa sih
kamu selalu buat masalah sama dia? Aku
lihat disini dia orangnya menerima
kepribadian orang mau baik atau buruk,"
Arfa agak aneh memandangi Ney dengan wajah yang terkesan galak.
Ney : "O-oh ya? Dia tidak ada pikiran negatif ke
aku? Aku sulit lho membaca isi pikirannya,"
Arfa : "Ahh itu kemampuannya tapi tidak ada tuh
hanya dari kamunya saja yang bermasalah
sama dia. Hmmm sudah sejak dari SMP.
Ada kesan kamu sangat iri ke dia,"
Ney : "Idiiih, iri apaan coba? Aku itu ya lebih kaya
dari dia. Jadi buat apa iri segala?"
Arfa : "Iri fisik dia juga bisa. Iri sama kulitnya yang
putih, badannya juga proporsional, senang
perawatan kan dia. Apalagi berjilbab makin
terlihat auranya dan... wihh banyak yang
suka,"
Ney hanya diam mendengarkan dia menggenggam tangannya. Terkesan Arfa yang membacanya semacam mengejeknya.
Arfa : "Kenapa kamu iri sama keluarga dia?
Padahal kan kamu disayang sama Ayah
kamu. Kamu itu tidak percaya diri ya
karena paras dia banyak disukai banyak
__ADS_1
orang. Jadi kamu merasa risih,"
Bersambung ...