
Happy Reading.
Jimmy dan Keill duduk berdua di kantin rumah sakit, Keill memesan kopi hitam panas agar tidak mengantuk. Jujur sebenarnya dia merasa lelah dan mengantuk, mungkin dengan meminum kafein bisa membuatnya sedikit lebih segar.
"Jadi lo dengan Vera sudah menjalin komitmen?" Tanya Keill yang kini tidak memakai bahasa formal.
"Ya, gue benar-benar jatuh cinta sama Vera," jawab Jimmy dengan senyum tulus. "Dan gue juga baru tahu kalau ternyata lo dan Vera itu sepupuan, jadi gue mau minta restu sama lo," Jimmy membasahinya bibirnya menghalau rasa gugup yang tiba-tiba mendera menghalau rasa gugup yang tiba-tiba mendera, "seharusnya boleh donk, karena lo juga udah gue restuin sama Fara," Jimmy terkekeh.
Keill menatap pria di depannya ini dengan lekat, mencari kebohongan di mata hitam legam milik pria itu, tapi tidak ada kebohongan di sana, melainkan hanya kejujuran dan tatapan yang memuja kala Jimmy menceritakan tentang perasaannya terhadap Vera.
Berarti dia ini memang benar-benar tulus mencintai sepupunya.
"Apa lo udah minta restu sama kembaran nya Vera?" tanya Keill.
"Oh kalau itu tentu saja udah, kalau Vero katanya asalkan kembarannya bahagia sama gue dia pasti langsung ngerestuin," jawab gini yang sejak tadi tidak melunturkan senyuman dari wajahnya.
"Oke, kalau emang Vero udah ngerestuin kalian, gue sebagai abang sepupu juga nggak seharusnya ngelarang kalian 'kan?"
Jimmy langsung menjabat tangan Keill, "thanks bro, gue bahagia banget, gue nggak akan nunda lama-lama untuk melamar Vera dan segera meminangnya!"
"Iya, itu bagus! nggak usah pacaran lama-lama mending cepetan menikah, meskipun pertunangan lo dan Lidia belum lama bubar tapi menurut gue nggak masalah, karena pertunangan lo kemarin emang yang bermasalah sih calon lo!"
"Sekali lagi makasih ya, udah dukung gue, jujur gue awalnya nggak tahu kalau lo dan Vera itu saudara sepupu, tapi dengan begini kita semua bisa jadi saudara," ujar Jimmy yang diangguki oleh Keill.
__ADS_1
"Ya udah kalau gitu gue balik ke ruangan Ibu Lia, pengen lihat kondisinya sekarang," Keill beranjak dari duduknya dengan menggeser kursi itu.
"Sepertinya kondisi beliau semakin membaik," jawan Jimmy.
"Oke bro, gue pergi dulu .... oh, dan selamat berjuang ya!"
"Makasih," Senyum Jimmy nampak berkembang membayangkan peristiwa tadi malam.
Flashback.
Vera berjalan mendekati Jimmy, sungguh dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dikatakan pria ini, pria yang sudah sejak dulu dicintainya, ternyata juga memiliki perasaan yang sama.
"Bagaimana? Apakah kamu mau memberiku kesempatan untuk bisa berjalan denganmu, menjadi pendamping mu dan juga menjadi sandal di kala kamu butuh?"
"Gue, mau mencoba jalan sama elo!" jawab Vera akhirnya.
Jimmy langsung berbinar dan memeluk Vera erat, sungguh hatinya begitu bahagia mendengar jawaban dari Vera.
"Makasih ya, kamu sudah memberiku kesempatan!" Jimmy mencium rambut Vera berkali-kali, mengungkapkan perasaan bahagia yang kini memenuhi dadanya.
"Ternyata lo tinggi banget, ya?" ucap Vera mendongak menatap pria yang sudah resmi menjadi kekasihnya yang kini juga tengah menatap ke arahnya.
"Sekarang jangan manggil gue-elo donk, kan udah jadian!"
__ADS_1
"Hehe, iya sih... Tapi belum terbiasa," jawab Vera.
Tiba-tiba Jimmy mendekatkan wajahnya, memandang ke arah bibir Vera yang sejak tadi begitu menggoda. Apakah kali ini dia boleh merasakannya? Seharusnya 'kan boleh, karena sekarang mereka kan udah jadian.
Vera sendiri hanya bisa mematung dengan jantung yang berdegup sangat kencang saat wajah Jimmy semakin mendekat.
Entah reflek atau terbawa suasana, Vera tiba-tiba memejamkan mata dan dengan bersamaan dia merasakan sebuah benda kenyal lembut dan basah menempel di atas bibirnya.
Jimmy memagut bibir mungil itu dengan penuh perasaan dan lembut, dia merasakan bahwa kakinya bergetar dan jantungnya juga ikut berdetak kencang.
Otomatis Vera menekan dada Jimmy saat dia merasakan kehabisan oksigen. Kemudian cuman itu terlepas dan keduanya sama-sama saling menghirup nafas dalam-dalam untuk mengisi rongga paru-paru mereka.
Wajah Vera bersemu merah dia pun merasa sangat malu karena ketahuan kalau tidak bisa berciuman, sejujurnya memang Vera belum pernah berciuman dengan lelaki manapun.
Jimmy yang tahu kalau Vera tengah malu kemudian memegang dagunya dan mengarahkan wajah Vera ke arah depan.
"I love you, Vera Gabriela!" Jimmy kembali mencium bibir Vera sekilas kemudian mengusap bibi itu dengan ibu jarinya.
Tidak ada yang lebih bahagia dibandingkan dengan kejadian ini, sepertinya keduanya telah mantap untuk meresmikan hubungannya dan memberitahukan kepada keluarga mereka.
Bersambung
Hai semuanya aku mau promo novel temenku yg gak kalah keren.
__ADS_1