
"Aku nih sebenarnya capek ya sama kamu Rita, di mata kamu, aku ini sepertinya terlihat jelek sekali ya," kata Ney langsung.
"Ya memang kamu jelek kok sedari dulu juga. Anehnya saat semua orang tahu kamu seperti apa, mereka yang mencoba mengatakannya tapi kamu tahu, aku tidak memperdulikan apa kata mereka soal kamu. Tapi kamu sendiri malah sekarang ya sok tidak menerima jeleknya aku," kata Rita membuat Ney diam.
"Iya sih Ney, kalau kamu memang tidak suka ya kan pilihannya cari yang lain tapi aku kira kamu bertahan itu apa kamu berharap Rita berubah? Coba deh kamu sering bercermin dan tanya pada diri kamu sendiri, kenapa daripada Rita kamulah yang paling sering dijauhi," kata Arnila.
"....... aku pikir......" kata Ney yang tidak bisa berkata lagi.
"Jelek bukan dalam artian fisik atau apapun yang kita lihat ya hanya sikap kamu, Ney. Kalau kamu menerima aku seperti aku menerima kamu. Tidak akan ada episode perundungan. Harusnya saat Alex mengajak begitu, ya kamu menolak keras. Bukannya malah ajak Arnila buat ngikutin kamu. Yang playing victim disini siapa? Aku ada ajak orang buat menghadapi kamu?" Tanya Rita.
"Tidak ada. Kamu selalu sendiri nah, kan aku sudah bilang ke Ney hadapi kamu sendiri eh malah dia ajak aku. Aku tidak ada hubungannya sejak awal," kata Arnila meski yah sebenarnya ingin masuk juga tapi masalahnya Rita dan Ney sama-sama keras.
"Tapi kamu sampai cerita soal Alex ke Arnila," kata Ney mengalihkan topik.
"Cuma cerita memang tidak boleh. Kamu juga aku yakin ada cerita ke dia atau teman grup kamu yang lain kan. Ngaku lo!" Kata Rita.
"Iya Rita, memang ada. Sudah deh sekarang buka-buka saja semuanya supaya kelar," kata Arnila yang juga agak sebel.
"Iya aku sadar mungkin memang kurang menghargai bantuan kalian tapi coba pikir ya mana ada manusia di dunia yang menyukai cara kalian membuat mereka mengerti dengan jalan perundungan. Kenapa? Itu secara tidak sadar ya rasa kepercayaan yang ada sama kamu, secara otomatis rontok sejadinya," jelas Rita.
"Bukannya kamu menganggap Arnila sahabat?" Tanya Ney agak cemberut.
"Aku ya cerita itu bukan hanya ke kamu, Arnila tapi banyak orang. Arnila pasti mengerti, biasanya orang yang punya banyak teman lebih lebat pikirannya beda sama orang yang tukang pilih-pilih," kata Rita.
"Rita itu bisa dikategorikan teman umum ya. Kalau sahabat pasti punya yang lebih spesifik lagi biasanya arah bicaranya kan. Kamu dan aku hanya teman biasa yang yah... mengobrol ringan. Jadi jangan mikir jauh-jauh deh, orang kamu saja jarang aku lihat bantu Rita di waktu dulu," kata Arnila membuka kedoknya.
"Ney, nih aku kasih tahu ya kalau baru sekarang kamu mengklaim sebagai Sahabat saat aku kenal anak Borjuis, itu tidak terhitung. Kenapa? Karena kamu hanya ada saat aku senang, saat aku sedih susah dimana kamu? Pernah menopang? Tidak ada! Yang menopang aku, itu bukan kamu. Sadar dong!" Kata Rita langsung emosi.
"Iya sih, masalahnya akar kamu sama Ney sudah terlalu lama. Terus ya yang aku lihat juga kamu cuek sekali sama Rita. Aku kan sudah bilang berkali-kali setiap orang itu berbeda tapi kamu selalu menganggap semuanya sama dengan diri kamu. Ya kalau sekarang kamu menganggap teman yang baik, belum tentu juga," kata Arnila menjelaskan.
"Sudah deh. Yang aku lihat justru Arnila itu sahabat paling baik untuk kamu, jangan lihat aku lagi deh. Dia yang lebih lama ya kan? Kita kenal dari SMP sampai sekarang. Sedangkan dengan Arnila jauh kan," kata Rita.
"Iya Rita, sejak SD kita kepisah terus ketemu lagi pas SMP ya sampai sekarang," kata Arnila mengakui.
"Nah kan, see? Dia pasti paling tahu soal kamu. Kamu bisa terbuka sama dia, tertutup sama aku. Ya tidak masalah lama kita kenal, apapun kamu selalu menutup diri. Salah aku? Bukan, itu masalah kamu. Kamu tidak percaya sama aku, ya sudah," kata Rita.
Ney tidak mengatakan apapun dia hanya membaca apa yang Rita rasakan. Benar dirinya memang menutup diri dari Rita, karena rasa tidak percaya, minder padahal Rita nya juga cuek.
"Sebenarnya dia itu tidak percaya diri sama kamu, Rita. Ya banyak iri sama kamu. Padahal kamu juga punya banyak kecemasan ya," kata Arnila.
"Kamu buat apa sih bicara begitu sama dia," kata Ney menjapri Arnila.
"Hahahaha iri karena apa sih? Aku nih lama menjomblo jadinya kuper," kata Rita menertawai dirinya.
"Itu bagus, Rita. Kamu terjaga kan dari perbuatan maksiat. Yang mudah pacaran juga tidak enak lho, disebutnya malah gampangan," kata Arnila.
"Yang mudah pacaran salah, yang jarang pacaran salah. Maunya apa coba? Sekarang mah doakan sajalah aku mau seperti apa ujungnya. Doakan aku dengan takdir yang baik. Udah aku minta itu sama kamu, Ney. Toh kamu orangnya mudah iri an," kata Rita.
Ney sama sekali tidak membalas, bukan menangis tapi memang sudah tidak mampu membalas. Rita sekaligus menonjok nya saat itu juga apalagi Arnila kini yang terus terang.
"Aku selalu kok mendoakan kamu dan Ney juga aku dengan mendapat kehidupan yang baik. Soal hati kamu yang terluka memang butuh waktu yang lama untuk sembuh, ya anggap saja sebagai materi untuk nanti. Kalau jadi dengan Alex orang yang setipe dengan Ney lebih banyak," kata Arnila.
"Ya ampun, sepertinya energiku akan banyak habis terbuang ya. Satu saja sudah malas," kata Rita.
"Bisa kok. Jangan dipikirin dan cuek saja semuanya. Orang seperti itu akan menang kalau kamu terpancing emosi," kata Arnila.
"Ish, ketus sekali sih yang diajak satu grup lagi," balas Ney akhirnya.
__ADS_1
"Lah, memangnya siapa juga yang mau gabung lagi? Aku saja malas apalagi ada kamu," kata Tita.
"Itu aku. Maaf deh kalau ternyata sama saja seperti ini jadinya. Aku tahu hal buruk mengundang kalian berdua lagi dalam satu grup. Tapi aku ingin ya kalian bisa akur deh, jangan lihat aku. Dulu kalian akur juga kan?" Tanya Arnila.
"Iya sih," kata Ney.
"Tidak juga. Kalau memang akur seperti aku dan Putri dong, bertengkar hanya sekali. Lah sama dia berkali-kali," kata Rita membuat Arnila menghela nafas.
"Memang tidak cocok mereka. Yang satu tukang bohong, yang satu bicara seadanya," kata Arnila menepuk dahinya.
"Siapa Putri?" Tanya Ney penasaran. Dia tidak menduga benar Rita punya banyak teman.
"Sahabat SMA aku," jawab Rita puas sekali.
Ney diam. Ternyata itu bukan omong kosong semua yang Rita katakan memang benar. "Ah, masa? Ada fotonya?" Tanya Ney tidak percaya.
"Ada dooong," kata Rita.
"Mana aku juga mau lihat dong," kata Arnila penasaran.
"Yakin itu teman real? Jangan-jangan palsu juga," kata Ney.
"Dia tidak seperti seseorang yang sering banyak bohong apalagi tukang perundung," kata Rita mengirimkan fotonya yang sedang berpose di kandang ayam.
Ney dan Arnila melihat fotonya tampak jelas, cantik sekali. Ney langsung mundur melihatnya, jelas dari wajahnya memang orangnya tulus dan senang berteman dengan Rita. Membuat Ney semakin kesal.
"Orangnya dewasa ya?" Tanya Arnila.
"Wah, kok kesannya terbalik sama kamu ya?" Tanya Ney mencemooh.
"Memang dewasa. Aku suka sekali dengannya, memang aku ingin memiliki teman yang dewasa bukan yang sama saja. Dia yang selalu ada di saat aku susah, berduka atau apapun yang aku alami," kata Rita.
"Masihlah. Sama dia agak jarang bertengkar soalnya dia paling mengerti aku. Beda dengan seseorang apapun harus nanya-nanya. Kalau dia dari pengamatan saja sudah tahu semua yang aku suka dan tidak suka apa saja," jelas Rita.
"Teman-teman kamu semuanya cantik-cantik. Kamu juga sudah pernah ketemu mereka kan, Ney? Kata Ney ada yang paling parah cantiknya. Siapa tuh?" Tanya Arnila.
"Ohhhh itu Melinda dan Linda, mereka kan primadona kampus. Tapi lucu sebenarnya kalau sudah bergabung sama mereka," kata Rita membayangkan.
"Mereka sombong sekali ya kalau bicara nadanya seperti ditinggikan," kata Ney.
"Iya?" Tanya Arnila.
"Tidak kok, biasa saja. Itu mah kamu saja awal bertemu mereka, bukannya kamu yang pamer? Terus bicara merendahkan. Mereka kan cerita," kata Rita membuat Ney diam kesal.
"Wah, mereka semua dekat ya sama kamu. Kamu banyak dikasih wejangan dari mereka, sikap kamu ini sebenarnya hasil dari tumpukan ucapan mereka sih. Baguslah. Jadi memang kamu mah tidak akan sama sih dengan yang lain. Tuh, Ney cari teman itu yang bisa membuat kamu ke arah yang baik," kata Arnila.
Saat itu Ney sedang di dapur membuat roti isi. Dia sebal sekali setelah membaca pesan Arnila dan Rita. Apalagi setelah tahu ternyata Putri itu memang True BestFriend nya Rita semakin keki dia. Karena dirinya tidak bisa mendapatkan teman yang sehati dengannya. Arnila? Hmmmm...
"Coba aku hubungi dia deh mau tahu juga," kata Ney dengan senyum mengembang. Dia akan membuat Putri jijik pada Rita dan meninggalkannya. Ney mencari nama akunnya dari akun Rita lalu men chatnya.
"Hai, kamu dengan temannya Rita ya?" Tanya Ney langsung.
Putri saat itu sedang belajar piano bersama keluarganya menatap ponselnya. "Siapa nih? Rita?" Tanya Putri keheranan.
Daripada bertanya pada Rita, Putri mencari tahu sendiri. Rita pernah cerita soal kesakitan nya yang dirundung. "Ini siapa?" Tanya Putri lalu duduk.
"Aku Ney, teman dekatnya Rita. Kamu sedekat apa sih sama dia?" Tanya Ney. Senang ternyata Putri langsung membalasnya.
__ADS_1
"Woh sepertinya dia sedang mencari info soal Rita. Kalau Rita tahu pasti langsung dibentak," kata Putri yang sudah tahu sifat Rita.
"Siapa Kak?" Tanya adiknya.
"Musuhnya sahabat kakak menghubungi kakak. Dia mau cari tahu soal kak Rita," kata Putri.
"Haaaa? Musuh? Wah, sepertinya dia mau menghancurkan persahabatan kakak. Hati-hatilah," kata adiknya yang juga tahu.
"Sedekat Kuaci dan bunganya," jawab Putri sambil tertawa.
Ney yang membacanya semakin keki. Itu artinya sangat dekat sekali dan mereka memang sahabatan. "Yakin kamu dianggap sahabat oleh Rita? Sepertinya Rita hanya anggap kamu teman biasa deh soalnya dia tidak ada pembicaraan soal kamu tuh," kata Ney memancing emosi.
"Lah buat apa dia cerita segala soal aku ke kamu? Ke semua orang? Wajib? Hanya sholat lima waktu yang wajib dikerjakan. Dia hanya ceritakan soal aku ke teman terpercayanya, kalau Rita tidak pernah cerita soal aku dan sahabatnya yang lain, berarti kamu tidak bisa dipercaya orangnya," balas Putri langsung menonjok.
Ney juga berpikir sama sekali tidak ada efek memancing emosinya malahan dia kini yang emosian. "Aku cuma heran saja kok bisa ya kamu menerima dia sebagai sahabatnya? Padahal kamu bisa dapatkan yang lebih baik," kata Ney.
"Aku juga heran," kata Putri dengan tenang.
"Ya kan?" Tanya Ney yang merasa Putri sudah setuju dengannya. Dia mempersiapkan balasan untuk menyerang Rita
"Heran kenapa ya Rita masih bisa menerima orang seperti kamu? Dia terlalu baik sih, Menerima orang yang sudah merundung dengan kurang ajar ke dia. Heran sih aku nih, orang sebaik Rita masih ada saja yang bersikap jahat," kata Putri tersenyum sinis.
"Eh, siapa juga yang merundung dia," kata Ney tidak percaya kalau Putri ternyata diceritakan oleh Rita.
"Bahkan sekarang saja kamu yang masih dia anggap teman, masih bisa-bisanya cari musuh untuk serang dia. Kok tidak punya rasa malu ya? Rita masih bisa menerima kamu karena kasihan kalau aku sih amit-amit deh," kata Putri.
Ney menganga membacanya. Putri sudah langsung tahu apa niatnya. Ney merasa bahwa Putri seperti Rita, teman kuliahnya juga semuanya sama. Membuat Ney kesulitan mencari celah jelek mereka karena mereka semua sempurna.
"Dengar ya Ney, kalau kamu menyakiti Rita lagi saya yang akan menghampiri rumah kamu. Anak Jakarta ya, rumah kamu beda 1 blok dengan rumah nenekku. Saya akan mendatangi kamu dan membuat perhitungan, kalau saya mendengar Rita menangis karena kelakuan kamu. Jangan harap kamu bisa hidup dengan tenang!" Kata Putri yang mengirimkan acungan kepalan tangan. Setelah itu Putri memblok akunnya dan inbox nya, untuk bukti bila nanti ada masalah.
Ney yang membacanya kaget dan memijat dahinya. Dia yang memancing, dia juga yang kena getahnya. Apalagi sudah banyak orang yang mengancamnya juga, sebagian memang ada yang datang. Ibu dan adiknya yang menjelaskan situasi akhirnya harus mereka juga yang meminta maaf.
Setelahnya Putri chat Rita dan bertanya apa dirinya baik-baik saja.
"Ya aku baik, meski menghadapi hal yang sama dengan orang yang sama juga," kata Rita.
Putri tahu itu adalah Ney. "Tuh orang rese ya. Kalau memang tidak suka kamu kenapa sih tidak pergi saja? Datang lagi datang lagi, itu temannya juga kurang pengertian, Rita. Hati-hati, temannya juga sama saja sih kalau masih ada hubungan," kata Putri.
"Hahaha sama pemikiran kita. Iya aku bingung, kadang temannya seperti membeberkan segalanya terus menjelekkannya juga. Mungkin dia kesal," kata Rita.
"Kecewa juga sih sepertinya hubungan mereka juga tidak akur, Rita. Yang namanya Ney parah orangnya apa tidak sadar ya? Kelakuannya buat banyak orang susah?" Tanya Putri.
"Ya makanya dia masih seperti itu juga tidak tahu atau tahu tapi tidak peduli. Kalau kamu nanti di datangin dia, jangan dipedulikan agak sakit orangnya," kata Rita.
"Hmmm sebenarnya baru saja dia aku tendang dari chat," kata Putri.
"HAAAAAH!?" Teriak Rita. Kemudian Putri ceritakan dan kirim isi chatnya. "Wah, asli gila dia. Benar-benar siapapun orang yang aku sebutkan di datangin. Kenapa ya Put?" Tanya Rita masalah itu selalu menjadi pertanyaan.
"Simple.. Dia iri sama kamu karena kamu memang banyak teman dan sahabat bertebaran. Dia pasti tidak punya, kalaupun ada teman ya teman untuk rasa harga dirinya saja," kata Putri menjelaskan.
"Orang yang punya teman real dengan yang tidak terlihat jelas ya," kata Rita.
"Iyalah. Terlihat dari mereka memberikan nasehat, solusi masalah dan arah pembicaraan. Kalau yang memang tidak punya pasti hanya bisa satu arah dan banyaknya kalau ada yang curhat, otaknya beku kan dia tidak punya sumber lain jadi mentok," kata Putri lega Rita bisa tenang.
"Sebenarnya waktu kuliah juga dia begitu. Aku ditolak lelaki, eh dia add dong terus katanya biar jadi teman. Tapi ditolak pertemanannya sama mereka hahahaha," kata Rita.
"Ih, sudah tahu seperti itu harusnya kamu menjauh Rita. Dia tidak punya niat berteman sama kamu hanya mau sesuatu aneh juga sih menurutku. Jaga jarak ya kalau dia macam-macam lagi, aku akan hajar langsung," kata Putri.
__ADS_1
Mereka mengobrol lama sampai Rita lupa pada chat di WA nya. Arnila bertanya soal yang dilakukan Ney menghubungi temannya Rita. Rita ceritakan semuanya membuatnya tertawa.
Bersambung ...