
Beberapa hari kemudian Rita berbaring di kasurnya dia merasa sangat sepi biasanya selalu rusuh dengan Alex, tapi Rita pun tak ingin memaksa Alex untuk terus ada. Toh pastinya setiap orang memiliki pilihannya sendiri, jadi ya sudahlah kalau Alex kecewa dengan dirinya yang ternyata tidak bisa melakukan Muroja'ah. Rita lalu membereskan kertas lipat dan segala pernak pernik, sekarang dia hanya ingin istirahat saja dahulu. Saat dirinya sedang membereskan kamar, terdapat notif dari Bu Asma.
"Huhuhu aku dikeluarkan," isi chatnya.
"Yah kan kita memang sudah tahu tandanya bagaimana kok bisa - bisanya Bu Asma yakin masih diterima?" Tanya Rita yang sebal karena tidak setia kawan.
Bu Asma lalu tidak membalas dan Rita tidak peduli. juga. Ternyata Bu Asma chat dengan guru A, B dan C mereka membuat grup tapi tidak membawa serta Rita, kenapa tahu? Karena guru C menceritakannya.
"Dia heboh banget terus nangis - nangis hahaha!" Kata Guru C.
"Ya habis sudah tahu kalau bu kepala sekolah tampaknya memang ingin menyudahi masa kerja kita kan. Terus bagaimana ceritanya sih dia bisa dapat nilai tipis?" Tanya Rita merasa aneh.
"Ternyata dia memohon banget ke guru baru, Rita katanya dia butuh uang untuk kehidupannya sendiri disini. Makanya dia dibilang nilainya masih bagus kan, akhirnya waktu kemarin dia diterima, mulailah mengajar. Ternyata kepala sekolah mengevaluasi bagaimana Bu Asma mengajar dan yah soal Muroja'ah itu, Bu Asma banyak alasan hahahaha!" Kata Guru C tertawa senang.
"Waduh! Kenapa tidak jujur saja sih? Yalah makin curiga kan jangan - jangan guru baru itu bilang yang sebenarnya?" Tanya Rita.
"Iya karena setelah ditelusuri, Bu Asma kan dari keluarga yang sangat mampu. Merasa dibohongi, dia lapor ke kepala sekolah ya sudah hari ini tuh hari terakhir dia mengajar. Maaf ya Rita, kamu tidak kami ajak masuk grup soalnya si Asma menolak katanya kamu ejek dia?" Tanyanya. Rita lalu mengirimkan bukti.
"Biarlah, kita juga tahu kan dia seperti apa tabiatnya. Lalu ada rencana mau melamar lagi?" Tanya Rita.
"Kalau Bu Rita? Aku sih suami sebenarnya kurang setuju, jadi mungkin tidak kalau Guru A dan B masih mau. Mau gabung ke mereka?" Tanya Guru C.
Dipikir - pikir guru A dan B adalah tipe saingan, kalau ikut mereka bisa - bisa kalau Rita dapat pekerjaan, mereka pasti akan berusaha merebutnya. Sebenarnya Guru C juga sama sih.
"Tidak. Aku mau istirahat dulu lagipula kan aku kuliah," kata Rita beralasan. Dia malas banget kalau soal tiga guru ini, sewaktu masih mengajar pun saat pembagian konsumsi, mereka seperti saling duluan lalu memilih - milih kalau Rita diberi kue sisa, mereka juga sering kali membicarakan.
"Oh, begitu kalau nanti kamu melamar ke TK mana beri tahu ya nanti aku nitip lamaran juga," katanya yang membuat Rita dongkol.
"Kalau melamar ya," jawab Rita dengan malas.
"Ya pasti melamar kan," katanya memaksa. Rita tidak membalas lagi, dia masih memeriksa inbox dari Alex tapi tidak ada yang masuk.
"Prita, bulan depan temanku menikah. Ikut yuk!" Ajak Rita ke adiknya yang sedang menonton.
"Ayo ayo. Di mana?" Tanya Adiknya.
Saat itu baru saja Rita menerima paket dari Arnila yang berisikan kartu undangan. Prita melihatnya dan mencarinya lewat Gugel.
"Wah! Ini sih gedung mewah! Aku ikut!" Teriak Prita senang.
"Oh ya? Aku tidak tahu," kata Rita memperhatikan penampilan gedungnya, memang sangat mewah dan dari contoh yang lain makanannya pun sangat berkelas.
__ADS_1
"Wah suaminya pengusaha terkenal ya?" Tanya Prita.
"Tidak tahu. Mungkin, nanti kamu lihat saja pasti ada kartu namanya kalau memang pengusaha," kata Rita lalu menambahkan jadwal di kalendernya menandai tanggal pernikahan Arnila.
Lalu setelahnya, Rita melihat notif di WAnya daaaan... guru A dan B juga menitipkan lamaran. AAAAAAA!!! Menyebalkan sekali mereka ini!!! Seperti Ney nempel mulu seperti jamur!!! Lalu Bu Asma juga sama, 'MEMANGNYA AKU INI TUKANG POS APA!?' Teriak Rita dalam hatinya kelepasan. Lalu tidak mempedulikan chat mereka semua dan rebahan. Lalu dia teringat kalau punya masker wajah yang sama sekali belum pernah dia pakai.
"Haaaa... akhirnya bisa dipakai. Maskeran ah," katanya yang mengambil mangkuk kecil dari dapur lalu menumpahkan 1 sendok dan diberi air sedikit supaya mengental.
"Apa itu? Oh, masker? Mau dong!" Kata Prita yang ikut - ikutan.
"Nih, kalau sudah tutup lagi. Terus pakainya 1 sendok kecil saja!" Kata Rita. Prita menganggukkan kepala dan membuat adonan juga.
Kemudian Rita rebahan di karpet kamarnya sambil menunggu maskernya mengering selama 15 menit. Begitu juga dengan Prita yang rebahan di sampingnya.
"Kak, tidak kerja lagi?" Tanyanya dengan mulut seminimalis mungkin.
"Dikeluarkan," kata Rita.
"Hah!? Aduh maskerku! Kok bisa?" Tanyanya.
"Yahh pakai sistem Muroja'ah sih.. yang pakai lagu itu lho," kata Rita memegang wajahnya memastikan maskernya mengering.
"Oooh ya ampun. Cuma Rita saja yang dikeluarkan?" Tanya Prita.
"Yah, tidak akan belanja makanan lagi dong," kata Prita.
"Aku kan punya tabungan yah paling dikurangi. Lagian yang paling sebel tuh, itu empat guru yang ikut dikeluarkan juga malah nitip surat lamaran coba, Pri. Kan sebel banget!" Kata Rita menggerutu.
"Hah!? Kenapa? Memangnya mereka waktu diterima di tempat mengajar juga ikutan?" Tanya Prita yang bengong setelah mencuci wajahnya.
"Ya tidaklah makanya aneh kenapa jadi pada nitip sih? Aku saja susah!" Kata Rita menggelengkan kepalanya.
"Hati - hati jangan sampai mereka yang dapat kerjaan nanti. Kalau mau lamar lagi lebih baik jangan bilang - bilang deh, biar mereka bisa cari sendiri," kata Prita.
"Iyalah. Enak saja! Waktu mengajar saja kadang mereka suka ambil jam mengajar aku di kelas. Kan bete banget! Untungnya kepala sekolah tahu siapa yang memang rajin, jadinya aku dapat bonus terus," kata Rita memperlihatkan hasil bonus itu lalu dia tabung.
"WOW! Ada 5 juta! Mau dipakai apa?" Tanya Prita yang lumayan tidak menyangka kalau kakaknya rajin menabung.
"Mau buat paspor hehehe ya siapa tahu nanti bisa keluar negeri main ke yang dekat gitu," kata Rita cengengesan.
"Aku mau. Aku juga mau mulai bekerja di tempat kursus nih," kata Prita sambil tertawa.
__ADS_1
Otak Prita berbeda dengan Rita, dia sangat pintar jadi andalan Bapaknya, sedangkan kakaknya andalan ibunya. Lalu Rita sendiri? Dia bertahan sendiri tanpa ada andalan jadi dia memang lebih mengandalkan teman - temannya. Bahasa Inggrisnya pun sangat bagus tapi Rita terlalu malu untuk memintanya mengartikan setiap kata Alex untungnya Alex selalu berbahasa Indonesia.
Setelah itu Rita mencium pipinya yang harum dan halus karena masker, dia membuka penyimpanan makanan yang masih banyak isinya. Tentu saja Prita juga mengikutinya dan meminta makanan yang lain. Lalu ....
"Hei! Maaf aku sibuk sekali kemarin tidak sempat menchat," kata Alex tiba - tiba.
Rita senang melihat Alex yang datang. "Apa iya kamu sibuk? Bukannya kecewa?" Tanya Rita.
"Yahhh tadinya aku agak... tapi setelah my mom ceramah, aku mengerti manusia tidak ada yang sempurna. So l'm back!" Kata Alex.
"Kalau kamu tidak akan kembali juga yaa tidak apa - apa. Wajar kok kalau kamu ingin dapat yang sama dengan kamu toh latar kita beda. Jangan memaksakan diri saja," jelas Rita.
Alex murung membacanya Rita memang tampaknya peka dalam beberapa hal. Di sisi lain Alex juga merasa ingin membandingkan tapi entah kenapa dalam hatinya seperti tidak setuju.
"Aku pikir kamu bisa Muroja'ah," kata Alex lagi.
"Tidak bisa setidaknya aku sudah mencoba ya tapi ternyata memang tidak ada kemampuan. Mungkin bisa tapi lama sedangkan pemilik sekolah ingin yang memang sudah bisa sejak awal," kata Rita menjelaskan.
"Oh... ya sudah mau bagaimana lagi. Oh iya kita lupakan saja ya, jadi kamu akan rehat dulu dari bekerja?" Tanya Alex kemudian.
"Ya sepertinya begitu sambil kuliah lagi kan," kata Rita.
"Lalu apa kamu menceritakan soal aku pada teman - temanmu?" Tanya Alex penasaran.
"Iya dong," jawab Rita senyum.
"Kenapa? Bagaimana kalau mereka sama seperti Ney? Kamu tidak takut?" Tanya Alex yang menguji Rita.
"Tidak. Mereka mah beda banget deh jadi aku tidak perlu cemas," kata Rita tenang.
"Oh... iya juga ya mereka semua tampaknya lebih memilih kamu yang paling tahu. Lalu apa kata mereka?" Tanya Alex.
"Kamu takut yaaa kalau nanti bertemu dengan mereka, kamu akan kena tabok?" Tanya Rita menggoda.
"Tabok? Apa itu?" Tanya Alex, dia memang tidak tahu.
"Oh iya kamu orang Malay. Tabok itu di slap pipinya," kata Rita.
"........" balas Alex, dia menuliskan kata itu di notesnya.
"Hahahaha mereka memang penasaran sih sama kamu tapi mereka tidak memaksa aku harus menjelaskan tentang kamu, yang penting aku baik - baik saja," kata Rita menenangkan Alex.
__ADS_1
BERSAMBUNG ...