ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(159)


__ADS_3

"Ya memang tidak tahu," Ney memperhatikan kukunya yang agak kotor entah kenapa.


"Bukan tidak tahu tapi kamu malas membaca orang yang dekat kamu. Jadi sebenarnya sih kamu punya teman atau tidak itu sama saja. Kalau kita sih pasti kesepian, kalau kamu tidak. Kita ada atau tidak, bagi kami ya flat," Kata Rita yang berusaha membuat Ney mendengarkannya tapi yah tidak ada gunanya.


"Rita hanya kurang peka. Dia pekanya sama sesama perempuan tapi tidak peka kalau berhadapan dengan lelaki. Kalau dia tidak peka dengan siapapun, dia tidak pernah memiliki intuisi tajam mengenai perilaku kamu. Aku lihat Rita itu terbuka lho sama kamu, Ney tapi kamunya yang justru tidak mau mendekatinya. Jadi bukan salah Rita. Soal Alex karena dia tidak nampak ya, makanya supaya mengetahui Rita peka atau tidak, Alex dan Rita harus saling bertemu. Aslinya Rita juga overprotektif ya," kata Arnila menatap Rita yang tertawa.


"Oh." jawab Ney pendek. Dia memang tidak tahu sebanyak siapapun soal Rita atau pun Arnila. Ney malu sebenarnya tapi dia terlalu gengsi untuk memperlihatkannya. "Kalau overprotektif kenapa aku merasa kamu tidak begitu ya ke aku?" Tanya Ney.


"Aku sih overnya bukan ke manusia tapi lebih ke binatang. Jadi kalau kamu merasa tidak adil karena sifat overku, ya jangan salah sangka. Karena aku kebanyakan over ke binatang peliharaan, kalau manusia sih buat apa juga?" Tanya Rita.


"Hmmm jadi bukan ke orang ya. Karena binatang lebih lucu ya?" Tanya Arnila dijawab dengan anggukan kepala Rita.


"Alex posesif, aku overprotektif. Menurut kamu jadinya akan seperti apa ya?" Tanya Rita kepada Arnila.


"Tapi kamu lebih sadar Rita. Jadi tidak terlalu terlihat karena memang aku setuju buat apa kita terlalu protektif terhadap sesuatu? Kita semua kan milik Allah SWT suatu saat juga akan diambil lagi apa yang kita punya bila tidak dijaga dengan baik. Kita saja pasti akan kembali lagi ke tempat semula," Arnila menjelaskan banyak terutama sama untuk Ney juga yang merasa dia seperti istimewa.


Ney tidak bereaksi banyak seperti yang mereka harapkan. LAGI! Dia hanya sibuk dengan kuku dan jari jemarinya, dan tiba - tiba hp Rita berdering membuat Ney langsung saja mencari hp siapa. Kemudian Rita melihat ternyata pamannya Alex yang mengontaknya menyarankan untuk bertemu di tempat Rita berada. Rita langsung menjawab Oke dan Arnila setuju memang lebih baik sekalian saja di tempat mereka saat itu juga.


Hanya Ney saja yang tertampak kecewa karena dia sangat ingin melihat kediaman pamannya itu. "Oke deh kita janjian bertemu di depan gedung parlemen depan saja ya, nanti sudahnya kita bisa jalan - jalan," kata Rita yang langsung memutuskan tanpa melihat Ney yang manyun.


"Ah, kenapa harus disini sih? Panas nih. Sudah deh di rumah pamannya saja. Kamu bilang gih!" Kata Ney memaksa tapi Rita tidak mendengarkan dan dia langsung membereskan barangnya begitu juga Arnila. Ney akhirnya ikut membereskan dengan sangat malas dia memasukkan tempat bekalnya tak lupa juga mereka membawa masing - masing makanan yang sudah dibagi.


Beberapa menit mereka sudah berdiri menunggu di depan gedung parlemen. Ney terus mengomel tentang panas dan terus meminta Rita untuk bertemu di rumah pamannya Alex.


"Sudah deh, yang punya janji itu kan Rita bukan kamu!" Kata Arnila yang mulai kesal dengan kelakuan Ney.


"Tapi ini panas! Aku tidak tahan!" Balas Ney yang menutupi kepalanya dengan tangannya.

__ADS_1


"Ya pulang saja!" Kata Rita yang sudah panas kupingnya mendengar keluhannya. Ney lalu terdiam dan terus berjalan. "Iya nih, aku yang punya janji kenapa kamu yang banyak keluhan sih?"


5 menit kemudian mereka melihat mobil mewah Ferrari tiba dengan warnanya yang hitam mengkilap, membuat mereka bertiga terpana apalagi Ney. Depan gedung parlemen memang sedikit sepi karena hari itu beberapa tempat sedang ada festival. Mobil itu berhenti di seberang lalu keluarlah paman Alex yang gagah dengan setelan jas.


"Gila! Cakep banget! Menurutku sih usianya masih puluhan tahun deh," kata Ney yang histeris tidak menentu dan berbalik rusuh. Membuat Rita dan Arnila merasa Ney sangat norak. Pamannya datang dengan tergesa - gesa dan menatap mereka bertiga.


"Oh, temannya Alex ya?" Tanya pamannya sambil tersenyum seadanya.


Suaranya kereeen beuh terlihat dewasa sekaleee. Dia melihat mereka bertiga dengan sopan dan memperkenalkan dirinya.


"Iya, kita semua!" Jawab Ney dengan nada lembut tapi manja genit. Mereka berdua yang melihat gelagat Ney sangat menjijikkan. Sepertinya pamannya tahu kalau itu pasti bukan Rita. Karena Rita melihat dia seperti mencari - cari sesuatu ya tentu saja mencari Rita.


"Ah, maaf, saya pamannya Alex. Apa paketnya sudah siap?" Tanya Pamannya dengan sopan.


"Oh, paketnya! Rita sini deh paketnya. Aku yang kasih saja," katanya sambil sok kenal.


"Ini isinya buatan kita bertiga. Jadi makanannya berbeda semua. Saya ingin menitip paketnya, Pak!" Kata Rita sambil menunduk setelah memberikan paketnya. Dia juga agak gugup saat berbicara karena berjas rapi dan berdiri tegak sekali.


Pamannya menerima paket itu dan tersenyum simpul. "Oh! Alex pasti sangat senang. Ini buatan sendiri? Wah, kalian pintar memasak,"


Mereka bertiga mengangguk, Ney tampak seperti akan meleleh melihat pamannya Alex yang ganteng, keren, tegak, dan gagah. Suara pamannya berbeda nampaknya juga bukan keturunan Indonesia asli tapi bahasanya lancar sekali meskipun ada logat ke-arab-an. Kedua matanya tampak ramah sekali, Rita merasa seperti pamannya memiliki intuisi yang tajam tanpa menanyakan nama mereka, pamannya sudah tahu yang mana akrab dengan Alex.


"Apa Anda tahu yang mana yang akrab dengan Alex? Apa Anda tidak mau tahu siapa nama kami?" Tanya Ney tiba - tiba dan membuat mereka bertiga kaget.


Pamannya hanya terkejut sebentar saja lalu tersenyum. "Tidak perlu. Sepertinya saya sudah tahu yang mana akrab dengan keponakan saya," pamannya lalu melirik ke arah Rita. Ney tampak sangat kaget karena ternyata orang itu sudah tahu.


"Tapi Anda tidak tahu namanya kan," kata Ney yang tetap memaksa ingin orang itu bertanya soal nama mereka. Intinya sih Ney yang ingin memberitahukan siapa namanya.

__ADS_1


"Saya sudah tahu Rita itu yang mana. Selebihnya kalian tidak perlu cemas, saya hanya kemari untuk mengantarkan kiriman paket dari Rita," orang itu tersenyum lembut pada mereka bertiga dan sedikit jahil yang membuat Rita agak berjaga jarak. Hanya Ney saja yang sepertinya tenggelam dalam senyumannya. Arnila juga terpana karena pamannya Alex bak pangeran Arab dan mirip dengan Shayne Ward



Jadi bagaimana tidak membuat banyak perempuan terpana ya beberapa perempuan yang ada disana juga tenggelam oleh perawakkan pamannya.


"Sir? Are you done? Alex say don't too much look at his special friend!" Teriak seorang pemuda yang tampaknya lebih muda dari usianya menampakkan kepalanya ke luar jendela mobil. Rambutnya berwarna keemasan, meski jauh tapi mereka tahu dia itu orang asing alias Bule! Rita dan Arnila langsung melirik Ney yang kedua tangannya menutupi mulutnya yang menganga. Melihat pemandangan itu Rita menyenggol pinggangnya yang membuatnya tersadar dan merapihkan bajunya.


Arnila tertawa garing ke arah pamannya Alex yang tertawa keras. "Oh, itu rekan saya selama di sini. Saya akan berikan paketnya. Berapa harga semuanya? Alex bilang dia harus membayar?"


Ney terkejut mendengar. "Ya ampun Rita, masa kamu hitungan sih? Nanti juga kan diganti dengan yang lebih sama Allah SWT," kata Ney yang berpura - pura manis di hadapan pamannya. Dia ingin dianggap sebagai perempuan yang baik - baik dan memperlihatkan bajwa Rita dan Arnila memiliki sifat yang jelek. "Maaf ya,"


Mereka berdua memandangi Ney dengan mata melotot. "Kita buat makanan ini kan bukan dengan daun," kata Rita membuat pamannya tertawa kecil.


"Tidak apa. Alex sangat suka makan pasti dia banyak merepotkan kalian kan terutama Rita," kata pamannya membuat Ney diam di tempatnya.


"Oh, itu hanya bercanda. Kalau dia ketagihan dan ingin nambah lagi, baru bayar," kata Rita.


Ney merasa takut Rita akan merebut lelaki yang dia sukai tanpa adanya pemberitahuan, Ney mendekati Rita dan menggerakkan sikut tangannya ke siku Rita. Rita tahu kenapa dia begitu dan mengerti soal kodenya lalu Rita bergeser ke samping, membuat pamannya keheranan. Namun akhirnya mengerti. Lalu tanpa adanya rasa malu, Ney meminta nomor telepon pamannya tanpa ada rasa canggung. Terlihat sekali kalau pamannya agak terkejut dengan sikapnya namun, tampak tenang.


"Saya boleh minta nomor teleponnya? Rita punya nomor Anda, tapi tidak mau memberikan," kata Ney yang menatap ke belakang. Dan Rita menarik satu kelopak matanya ke bawah. Pamannya mengangguk membuat Ney sangat senang.


"Untuk apa kamu mau tahu nomor saya?" Tanyanya.


"Hmmm... saya ingin mengirim paket buat Alex jadi supaya mudah bisa janji bertemu seperti sekarang," kata Ney membuat alasan. Selanjutnya Ney akan pikirkan jalan lain menuju hatinya.


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2