
"Aku pernah kok membantu dia!" Kata Ney. Kita kembali ke masa yang sekarang.
"Yakin? Apa itu hanya karangan kamu saja? Karena selama kita berteman pun, kamu sama sekali tidak pernah membantu aku kalau aku sedang kesulitan, ingat tidak sewaktu ayah aku bangkrut apa yang kamu lakukan? Di hadapan teman - temanku, kamu bilang kalau aku mengekori kamu karena kesepian? Kamu menginjak - injak aku!" Kata Arnila yang mengingatkan Ney kembali.
Ney melongo, dari mana Arnila bisa tahu soal itu? Waktu itu bukankah Arnila sedang menghadap dosennya soal nilai tugas? Lalu kok bisa tahu, Ney menghentikan ketikannya dan memijat kepalanya dia kebingungan sampai Arnila tahu kalau dia memang menginjak - injak dirinya.
"Aku hanya kasih saran apa yang pernah kamu lakukan dengan jahat ke aku dan Rita, suatu hari nanti itu akan menjadi bumerang buat kamu! Dan tidak akan ada yang bisa menolong kamu. Yang sekarang hanya karena Rita diberi cokelat mewah kamu iri? That's the stupid things l've ever heard ( Itu adalah hal terbodoh yang pernah aku dengar ). Jangan pernah iri terhadap rejeki orang, Ney kamu akan merugi. Terus kamu masih disana?" Tanya Arnila sambil bete. Pastinya semua chat atau omongan Arnila tidak akan pernah didengar oleh Ney.
Ney membacanya dengan mulut mengomel sendirian, lalu bicara sendirian. Dia tidak sadar orang yang melewatinya bergidik melihatnya. Mereka mencoba menghindari Ney dan lebih memilih berjalan di belakangnya. Ney terus komat kamit sendirian kadang mengumpat keras. Freak ya...
"Iyalah. Aku senang sama salah satu teman dekatnya Rita. Siapa tahu aku sama dia bisa jadi Sahabat super dekat kan," kata Ney sambil tersenyum kesenangan.
Arnila tertawa membacanya sambil menggelengkan kepalanya. Tidak yakin sahabatnya Rita mau dekat dengannya juga. "Hahaha lu yakin dia mau dekat sama lu? Sahabat Rita gitu lho. Kamu pasti menjelekkan Rita ya di depannya saat Rita tidak ada," tebak Arnila yang membuat Ney kaget lagi.
'Wah, ini pasti si Arnila baru ruqyah lagi nih makanya bisa tebak semuanya dengan benar. Sudah aku juga jadi tidak bisa membaca pikirannya eh, tiba - tiba dia nebak ini itu,' Pikir Ney yang kebingungan mencari alasan.
"Tidak kok. Biasa saja, ya sahabatnya itu bilang aku ternyata orangnya enak diajak bicara jadi dia lebih nyaman sama aku. Begitu! Jadi sekarang aku sama dia sudah jadi teman dekat lho," kata Ney dalam chat WAnya.
Arnila senyum kecut membacanya. Dia lalu men-screenshot kan chatnya itu dan mengirimkannya pada Rita. Karena sedang mengaji, jadi Rita akan baca nanti setelah selesai.
"Jadi gue bukan sahabat lu? Gue selama ini selalu ada buat lu," kata Arnila yang sudah terbiasa hanya ingin tahu saja jawabannya apa.
"Ya kamu memang bukan sahabat aku, Nil. Yang aku cari itu sahabat bukan teman biasa jadi maaf ya selama ini aku tidak pernah menganggap kamu istimewa tuh," kata Ney dengan senyum sinisnya. Merasa kalau Diana pasti akan menjadi sahabatnya yang berharga lebih dari Arnila.
Arnila yang membacanya mengusap dadanya dan beristigfar lalu membaca berbagai macam surat bacaan pendek. Imron melihatnya dan menghampirinya, memeluknya karena tahu masalahnya adalah Ney.
"Sabar ya, kamu kan sudah tahu banget dia itu seperti bagaimana. In sha allah, nanti kamu akan diberi penggantinya. Kita nanti menjadi suami istri saat itu, kamu jangan terlalu dekat dengannya. Dia bilang begitu tandanya kamu sudah harus menyelesaikannya sekarang." Kata Imron sambil mengusap - usap punggung Arnila. Tanpa terasa Arnila meneteskan air matanya, meski sudah terbiasa tetap saja sedih kan apalagi langsung dibilang seperti itu.
__ADS_1
"Dia tidak akan pernah bahagia selama hidupnya. Lihat saja!" Kata Arnila dengan suaranya yang tersedu - sedu.
"Iya sudah sudah. Lho mau balas lagi? Kamu yakin?" Tanya Imron melihat Arnila mengetik lagi.
"Terakhir, aku putuskan untuk menyelesaikannya sampai aku nanti menikah sama kamu. Saat itu waktunya untuk aku berhenti menjadi babysitternya. Kamu temani aku ya," kata Arnila yang tidak mau lepas dari pelukan Imron.
"Iya aku selalu disini kok," katanya yang terus memeluk Arnila. Tentunya ikut membaca apa yang calon istrinya itu balas pada Ney. "Stop memaksakan kehendak orang, Ney. Aku yakin semua teman Rita terganggu dengan kehadiran kamu. Kamu kan biang masalah, aku yakin mereka berdoa kamu segera pulang," balas Arnila.
Ney membacanya dan kesal! Setelah dikatai begitu masih punya muka saja Arnila membalas biarlah! Ney dengan sombong berpikiran kalau Arnila tidak ingin berpisah darinya๐๐.
"Idih, siapa juga yang memaksa. Orang dia memang senang sama aku kok! Kenapa kamu iri ya? Hanya kamu satu - satunya yang tidak punya sahabat, kasihan ya," kata Ney dengan wajah sok tahu.
Arnila terdiam lalu Imron ambil alih dan menyandarkan Arnila ke bahunya. "Baca ya Ney, Rita itu anak baik - baik kamu bukan termasuk ke dalam kategori pertemanannya juga teman - temannya. Tidak mungkin kamu bisa masuk ke dalamnya kalau kamu hanya mementingkan diri sendiri. Kalau soal makanan, mereka tidak kasih ya kamu beli saja punya buang banyak kan? Jangan iri segala deh sama Rita, jangan pernah kamu merusak hidupnya lagi,"
Ney membacanya merasa isinya lebih menyebalkan! Saat dirinya menjadi sahabat Diana, dia akan membuang jauh Arnila dan Rita dan menyombongkan bahwa dia punya sahabat baik.
"Kalau kamu merasa Rita tidak baik, please just go! You'll be sorry if you still want do something bad. I warning you! ( Lebih baik pergi saja! Kamu akan menyesal bila kamu ingin melakukan sesuatu yang buruk. Aku memperingati kamu! ). Oke, aku tidak akan menjadi teman kamu lagi aku juga lebih bersyukur kalau kamu tidak membutuhkan aku lagi. Hanya aku mau bilang kalau kamu bukan ranah mereka. Kamu pasti tahu kan temannya Rita berjilbab semua sedangkan kamu tidak. Memang mereka tidak keberatan dengan yang tidak memakai jilbab, tapi kelakuan? Pribadi lu? Kamu menganggap Rita bergantung sama kamu tapi sebenarnya dia mandiri lho," kata Imron sesuai dengan apa yang Arnila katakan.
Ney lelah membaca perkataan Arnila, mulai lagi dia berceramah tapi mulai lagi pula Ney tidak mau mendengarkannya. Karena Arnila tidak ada disini, jadi buat apa dia bertingkah seperti tahu apa yang dia lakukan. Dia tahu zona pertemanan Rita berbeda tapi dia yakin dia bisa merebut Diana dari Rita sana halnya dengan Alex. Meski akhirnya Alex merasa jijik kepadanya. Sepertinya Alex tahu sesuatu mengenai dirinya yang tidak orang lain tahu, kadang Ney juga khawatir kalau Alex akan memberitahu itu pada Rita. Tapi tidak jadi dia merasa masih aman.
"Rita itu sama dengan aku, penyakit kita itu sama," kata Ney.
"Beda. Dia tidak sakit, dia normal banget. Yang sama itu hanya kesukaan kalian pada komik selebihnya totalitas berbeda banget!" Jelas Arnila pada Ney.
"Apa bedanya?" Tanya Ney yang penasaran kalau memang benar berbeda. Kalau berbeda lalu bagaimana? Apa dia sendiri yang sakit? Rita tidak? Dia tidak menerima kalau hanya dirinya sendiri yang sakit.
"Rita lebih suka dengan hal mendekatkan diri dengan Penciptanya, Kamu sama setan, jin, dan iblis kelihatan banget kalian gap.nya jadi agak aneh kalau kamu merasa penyakit Rita sama dengan kamu. Kamu suka soal pembicaraan soal mistis, klenik, per-khodam-an, santet, takhayul. Rita sama kamu itu memang tidak ada kecocokan. Dari yang aku lihat awal kamu ikut menyelam soal Alex, kamu lebih memaksakan Rita untuk selalu mengikuti arahan kamu. Kalau Rita menolak, kamu marah sejadi - jadinya, kamu sadar tidak sih?" Tanya Arnila yang sudah baikan tapi Imron tetap ada di sebelahnya.
__ADS_1
"Mereka mengaji kok lama ya. Mau sampai jam berapa sih?" Tanya Ney yang mengubah topik. Arnila sudah tahu soal ini juga kalau sampai mengubah topik, artinya dia tidak bisa berkata apa - apa lagi, intinya dia kalah!
"Kenapa kamu tidak ikut? Jarang mengaji ya pasti kamu tidak hafal huruf - hurufnya kan. Ikut sana! Mendengar juga lebih bagus supaya otak kamu yang kelebihan negatif bisa berkurang. Sumpah heran gua lu masih bisa hidup juga," kata Arnila yang sudah tidak bisa menahan amarahnya.
"Lu kok jadi marah - marah sama gue sih? Karena perihal gue tidak anggap lu sebagai sahabat? Kalau kamu mau aku anggap lu sahabat, lu harus lebih baik ke gue, nurut sama gue!" Kata Ney dengan sok, wajahnya tersenyum lebar melihat balasan kalimatnya.
"HAH?? Maaf ya aku sih syukur alhamdulillah bukan sahabat kamu. Soalnya kamu biang kerok masalah yang ada, kalau aku ajak kamu kemana selalu saja kamu berbuat masalah sepertinya membawa kamu kemana saja adalah hal yang paling buruk. Aku kesal aslinya sama kamu. Kamu sampai mengekor Rita setelah apa yang kamu perbuat tahun lalu ke dia, sama sekali tidak ada rasa bersalah atau penyesalan sama kamu. Kamu bully dia sampai memaksa kehendak supaya Rita nurut sama kamu? Serius kamulah yang butuh penanganan medis bukan Rita!" Balas Imron yang saat itu Arnila di tanya mau disimpan dimana bunga mawar putihnya.
Membaca kalimat panjang itu, tiba - tiba Ney terisak menangis. ๐๐dia yang melukai hati Arnila kok dia yang menangis ya? "Kok kamu bilang begitu sih aku kan jadi sedih memangnya aku salah apa?" Heh! Tampak seperti kepribadian ganda ya itu.
Imron membacanya menyeringai dengan emosi. "Kamu bisa - bisanya ya bilang Arnila menyakiti kamu. Kamu yang tadi menyakitinya dengan berkata tidak berminat berteman sama dia, siapa yang lebih jahat? Aku heran ya sama kamu, Rita sudah baiknya ikhlas dekat sama kamu tapi nyatanya kamu juga memanfaatkan dia sama halnya dengan yang kamu lakukan pada Arnila!"
Kedua mata Ney melotot tidak percaya jadi dari tadi yang membalas tuh Imron?
"Kalau kamu sebegitu bahagianya dapat sahabat baru, tolong jangan lagi kamu ganggu Arnila dengan cerita sepele kamu! Saya sama sekali tidak suka kamu dekat dengan Arnila sedari kita kuliah pun, omongan mulut kamu pun sama sekali tidak ada yang bermanfaat. Hanya caci maki, ghibah, pamer makanya aku sama sekali tidak minat dekat dengan kamu sejak kuliah. Sekarang, aku sudah bisa memiliki Arnila sepenuhnya tanpa kamu pun, Arnila tidak akan pernah kesepian!" Kata Imron dengan lantang.
Ney terdiam beberapa waktu sambil melirik ke arah kelompok belajar Rita yang sedari tadi masih mengaji. Air matanya sudah kering karena memang hanya hiasan saja, entahlah. Kemudian setelah dirasanya terlewati 5 menit, dia mencoba chat Arnila lagi.
"Arnila?" Tanyanya.
Saat itu Arnila sudah kembali dan duduk di sofa melihat isi ponselnya. Terkejut dengan apa yang Imron katakan pada Ney lalu menertawainya. Rasanya puas sekali melihat Imron sangat menyayanginya dan membelanya.
"Mau apa lagi?" Tanya Arnila sekarang perasaannya sudah kembali normal. Dia sudah memasang persiapan kalau Ney menyerangnya dengan kalimat yang kasar.
"Kamu tadi kemana? Yang chat sama aku ternyata Imron lho. Kamu pasti tidak tahu kan hati - hati jangan sampai lengah jangan sampai dia ada main di belakang kamu!" Kata Ney tertawa histeris sendirian. Lebih seram lagi.
Arnila lalu mengirimkan bukti chat yang sudah dia baca dan membuat Ney terdiam. "Imron bukan Dins dan aku bukan kamu, yang selalu menyembunyikan rahasia bahkan sampai kalian berdua mau menikah pun, kita sama - sama saling terbuka tadi kamu balas jahat pun, dia baca kok! Mau apa lagi sekarang?" Tanya Arnila yang tidak perduli.
__ADS_1
BERSAMBUNG ...