ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
490 RUQYAH DONE


__ADS_3

Rita lalu tersadar sangaaaat lelah begitu juga dengan Koko yang langsung tergeletak terkapar di atas lantai. Ua juga tiduran sesaat di lantai yang dingin.


Mereka semua ditutup dengan ucapan Alhamdulillah dan Rita menyadari sangat pegal.


"Pegaaalnyaaaa," kata Rita yang bergerak memulai senam di saat duduk.


"Akhirnyaaa kerja keras sekali yang kasus ini. Teteh bagaimana perasaannya? Sebentar ya kita berdua sama-sama habis energi," kata Ua yang masih rebahan.


Rita gerak dengan bebas dan rasa kantuknya hilang. "Wah enak sekali. Sudah tidak ada yang sakit atau berat di pundak," kata Rita memutarkan kedua tangannya.


Lalu kedua tangannya mulai gemetaran hebat dan Rita luruskan. "Tanganku gemetaran sekali,"


"Tangan gemetaran pertanda jin nya sudah keluar. Nanti juga kembali normal, sekarang jin peyot sudah pergi dan hilang. Ikhlaskan. Ingat dia bisa kembali lagi kalau Teteh suka menyendiri," kata Ua yang rebahan sambil menyandarkan tangannya.


"Hah!? Itu sih mananya yang pergi dong," kata Rita kecewa.


"Ya bagaimana ya. Setidaknya tidak akan ganggu lagi tapi Teteh jangan sampai meratap kalau sedih, senormalnya saja. Jangan lebay atau menangis sampai 3 hari, dia pasti kembali lagi. Karena memang aslinya sayang sama Teteh," jelas Ua Mori.


"Oh, begitu. Jadi sewajarnya saja apapun?" Tanya Rita.


Koko yang akhirnya selesai bab pertama, kembali duduk dan minum sampai habis 2 gelas. "Iya Teh, kan jin itu tertarik sama manusia kalau misal Teteh benci orang sangat dalam nah itu makanan mereka. Sedih sampai melow berhari-hari, itu juga sama," jelas Koko.


Rita mengangguk.


"Jadi harus tetap sadar, iman kuat," kata Koko mengacungkan jempolnya sambil makan makanan yang dibawa oleh kedua temannya.


"Nih, minum dulu pasti haus kan. Tolong bawakan kue yang ada di depan. Kalian pasti lapar juga kan," kata Ua.


"Iya, Ua," mereka lalu keluar dan kembali lagi dengan sepiring penuh makanan berat.


Lalu mereka makan sambil mengobrol yang ringan. Ua masih menatap Rita dengan keheranan.


"Kenapa, Ua?" Tanya salah satu temannya.


"Kok, Teteh tidak ada aura ya?" Tanya Ua Mori.


Koko menghela nafas. "Kita ke bagian sisi lainnya ya," kata Koko ke Rita.


"Hah!? Masih ada!?" Tanya Rita kaget.

__ADS_1


"Ini mah gampang kok," kata Ua mengedipkan matanya. "Teteh merasa ada yang kurang tidak semenjak jin itu pergi?" Tanyanya.


"Kurang? Agak... ada yang kosong. Ada sesuatu yang harusnya ada," kata Rita tidak mengerti.


Koko menjentikkan jarinya. "Yup! Inner Teteh tidak ada. Alias hati nurani Teteh kosong karena disembunyikan oleh jin itu," jelas Koko.


"Jadinya Teteh kalau bicara super sadis, galak dan pedas ke orang lain termasuk ke orang tua sendiri," kata Ua membuat Rita malu.


Setelah beberapa menit, Koko akhirnya bertugas sendirian menarik kembali inner Rita yang terperangkap oleh Jin kampret itu. 15 menit akhirnya selesai, Rita tidak perlu melakukan apapun dan perlahan, yang Ua cari akhirnya keluar.


"Ada Auranya?" Tanya Rita.


"Harus nunggu. Nanti juga keluar sendiri, sudah cukup lama. Kasihan si Teteh," kata Ua membelai tangan Rita.


Rita agak maluuu sekali. Seandainya Rita lebih cepat bertemu mereka. Tapi semuanya sudah harus melalui jalanan berbatu dulu.


Koko menyipitkan matanya dan kembali makan makanan dengan pose duduk yang seperti di warung.


Ua terus memperhatikan karena penasaran. Ua melihat bila Rita sering banyak mendoakan orang, melakukan beberapa kegiatan sunah. Beberapa menit, Ua dan Koko melihat sesuatu semacam asap keluar.


Mirip Saint Seiya yang auranya keluar saat berkonsentrasi memanggil baju Pegasus nya ya semacam itulah. Ua terdiam juga Koko setelah melihat aura Rita yang merambat saat Rita sibuk memeriksa chat dalam ponselnya.


"Ini mah," kata Koko menutup mulutnya lalu melihat Rita yang terus makan.


"Kenapa? Sudah ada?" Tanya Rita.


"Ya.. sudah. Keluar sih," kata Ua yang agak canggung.


"Uwow," kata Ua Mori menutup wajahnya. Lalu mengusap kedua matanya dan berucap sesuatu syukur.


"Kenapa? Aneh ya? Hitam?" Tanya Rita karena dia juga sadar sering banyak melakukan dosa.


Keduanya menggelengkan kepala, Koko menundukkan kepalanya semakin membuat Rita ketakutan. Apa sebegitu parahnya auranya?


"Ya terus kenapa? Ai Koko kenapa? Parah ya?" Tanya Rita mulai cemas.


"Tidak, bukan hitam kok. Hmmm bagaimana ya tidak aneh Teh, tenang. Hanya... sebentar, agak penasaran sih," kata Ua Mori kemudian menuju punggungnya Rita. Tidak ada yang panas lagi menyengat seperti waktu itu.


"Kerasa sesuatu?" Tanya Ua.

__ADS_1


Rita menggeleng membuat Ua Mori menghentikan gerakannya. Dan keheranan lalu membuat sesuatu.


Ibunya Ryan juga merasa aneh, tidak ada getaran aura. Aura Rita sangat tenang, hampir tidak ada getaran apapun.


"Bagaimana, Ko?" Tanya Ua yang agak heran.


Koko memandangnya dan terdiam.


"Kenapa sih Ko? Dari tadi," kata Rita semakin aneh.


"Eh? Sudah tidak ada sih, Teh. Koko mau tanya," Kata Koko.


"Ya?" Tanya Rita.


"Kamu melakukan amalan apa saja sih sampai bisa aura seperti itu?" Tanya Koko menyilang kan tangannya.


"Hah?? Apanya sih? Tidak mengerti," kata Rita kebingungan. Amalan?


Ua tertawa lalu kembali duduk lagi. "Aura Teteh keren lho, tidak terduga sama sekali ya, Ko. Kerjain amalan apa sih Teh sampai bisa dapat aura begitu," kata Ua.


Rita hanya garuk-garuk kepala.


"Yaa kalau Teteh sih mana bisa lihat tapi keren sekali lah," kata Koko tertawa menatap sesuatu pada Rita.


"Ada warnanya?" Tanya Rita.


"Ada," kata mereka bersamaan.


"Warna ya apa?" Tanya Rita.


"Hmmm pokoknya warna paling langka yang sedikiiiit sekali dimiliki orang deh," kata Ua agak sumringah.


"Koko bagaimana?" Tanya Rita.


Tapi Koko tengah menyebutkan beberapa kalimat tasbih yang membuat Rita keheranan. "Laa illaha illalah. Allahu Akbar. Astagfirullah. Maha Besar Engkau ya Allah yang telah menciptakan kami," seperti itulah terus sampai 15 menit. Begitu juga dengan Ua dan kedua teman Koko.


Koko yang tidak mengerti terus makan untuk keperluan energinya.


Alex yang tengah rehat pun bisa melihat aura Rita yang sekarang. Jelas dan bersih, warnanya pun dia tahu, dia menyeka wajahnya dan juga sadar bahwa aura Rita lebih dahsyat. Dia merasa insecure.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2