ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
380


__ADS_3

Dalam kelompok Rita, mereka membahas untuk kegiatan apa yang akan mereka lakukan. Sebenarnya dalam kelompok tersebut ketua kelas menjadi ketua juga. Hanya semua orang tahu kalau Siti ingin menjadi ketua kelompok, Siti Angraeni sangat berambisi. Tapi semuanya menolak keinginannya karena Ketua kelompok harus benar-benar bisa mencari solusi.


Pada akhirnya ketua kelas menjadi ketua lagi. Ketua Annisa membagikan beberapa tugas yang harus diselesaikan, membuat permainan, kurikulum mengajar selama sebulan dan juga tugas membuat bagannya. Rita, Komariah dan Tamada bertugas membuat kurikulum, karena kurang bahan mereka bertiga berencana mengunjungi beberapa perpustakaan.


Diana, Linda dan Ari bertugas membuat permainan sisanya Annisa, Andara dan Rifki membuat tugas yang lainnya.


"Kita kekurangan bahan nih mau cari ke perpustakaan mana?" Tanya Tamada.


"Cari saja dulu kira-kira perpustakaan mana yang terdapat materi soal PAUD atau Taman Kanak-Kanak," usul Rita.


"Ke UPI sudah pasti kan," kata Komariah tertawa.


"Unisba mau coba? Yah meski itu bukan Universitas keguruan. Tapi mungkin kita bisa menangkap beberapa bahan," kata Tamada mengusulkan.


"Mana saja okelah," kata Rita.


Akhirnya mereka menuliskan universitas mana saja yang akan dikunjungi. Ada 6 Perpustakaan yang akan mereka bertiga singgahi nantinya.


Kemudian lanjut dengan keadaan Ney yang sudah di skak mat oleh Tamada dan Melinda. Dia di tinggalkan oleh mereka semua karena memang sangat mengganggu dan mereka juga disana hanya untuk menghabiskan waktu sebelum kerja kelompok dimulai.


Setelah selesai menangis, dia melihat kanan kiri ternyata dirinya sudah ditinggalkan. Dia membuang cilok yang masih tersisa 5 biji dengan sangat marah dan kesal. Beberapa orang yang melihatnya ada yang mendendangkan lagu dangdut.


"Air mata palsu adalah air mata buaya," kata tukang bersih halaman. Dengan irama dan nada yang asal mungkin juga liriknya dia ciptakan sendiri.


Ney kesal mendengarnya, air matanya sudah berhenti mengalir meskipun wajahnya tersisa memerah. Lagu itu lalu disusul oleh supir angkut yang sedang rebahan di lantai.


"Hei hei berhati-hatilah dengan orang yang mudah mengeluarkan air mata. Air mata itu air nata buaya," katanya yang juga ikut menciptakan nada yang sama dengan pertama.


Mereka tertawa orang yang mendengarkan juga ikut tertawa. Ney menghapus wajahnya dengan kesal, tapi tidak membalas dengan mengumpat. Dia hanya diam entah apa yang dipikirkannya tentang teman-temannha Rita.


"Mudah keluar masih seperti saus botol. Hei hei! Bedanya air mata sejati dengan palsu terlihat dari hati dan perkataan dari kedua mata," kata tukang parkir.


Mereka bersama-sama bernyanyi. "Hei hei!" Lalu tertawa dengan beberapa pedagang.


"Daripada menangisi lebih baik berusaha berubah menjadi lebih baik. Kepo pada hidup orang menjadikan kamu susah maju dan terus berpikiran negatif," kata pedagang cilok sambil membuat adonan lagi.


Ney melirik semua orang disana menyangka mereka memandanginya namun tidak ada. Supir angkot sibuk memotong kuku, tukang parkir makan bakso lalu tukang cilok memang sedang membuat adonan lagi. Ney lalu bergegas pergi dari sana membuat dirinya merasa tidak enak.


"Bang, tadi ngapain nyanyi segala? Sindir saya ya," kata Ney dengan kesal dan suara yang ketus.


"Nyanyi? Saya memang nyanyi tapi lagu Piterpen meski suara saya tak sebagus Aril Piterpen tapi lumayan," kata tukang cilok.


Ney merasa aneh mendengarnya, yang dia dengar adalah alunan musik dangdut. Lalu ditanyainya tukang parkir yang sekarang sedang duduk santai. "Bang, tadi nyanyi dangdut buat sindir masalah saya ya?" Tanyanya.


Tapi tukang parkir itu hanya bengong lalu menunjukkan ke kedua telinganya berkali-kali. Kemudian supir angkot melihatnya.


"Neng, dia mah tuli. Kalau mau bicara jangan cepat harus agak dibuka lalu bicaranya per kata. Yang nyanyi hanya tukang cilok Neng siapa yang sindir Neng?" Tanya supir angkot keheranan.


"Masih muda sudah salah dengar. Kasihan," pikir mereka semua. Membuat Ney terdiam.


"Saya dengar kok kalian semua nyanyi lalu sindir saya," kata Ney memberitahu.


"Masalahnya buat apa kita nyanyi sindir Neng? Memangnya ada masalah ya? Kenapa tidak curhat ke temannya?" Tanya supir angkot.


"Meni karunya musabab teu boga Baturan (Kasihan sekali karena tidak punya teman) berakhir mengenaskan. Menjadi depresi," kata tukang cilok memperhatikan Ney.


Karena memang tidak ada yang menyindir dia dengan lagu, Ney bergegas pergi sambil menundukkan kepalanya. Saat Ney pergi pun mereka bertiga tidak memandanginya dengan aneh karena sibuk dengan urusan masing-masing. Lalu suara apa yang dia dengar tadi? HIIIIIII....

__ADS_1


Suara mistis yang sering kali dia dengar kembali keluar jadi dia harus mencari tempat untuk menghempaskan rasa kesalnya itu. Suara itu sudah ada sejak dia berusia 10 tahun kadang menyuruhnya untuk membunuh, menendang, bahkan menusuk kakaknya sendiri.


Kedua orang tuanya tahu kelainan yang dimilikinya itulah kenapa mereka kadang diam-diam mencampurkan obat cair ke dalam makanannya agar Ney moodnya seimbang. Seiring bertambahnya usia, obat itu mereka hentikan karena takut mengganggu stimulus perkembangan Ney dan menganggapnya sebagai ujian yang harus Ney hadapi sendiri.


Harapan ibunya kandas ternyata perilakunya sama sekali tidak berubah apalagi Ney sering menolak mengikuti kegiatan ibadah. Berulang kali ibunya menyusuruh sholat lima waktu pun selalu tidak dikerjakan.


"Rita juga suka kadang-kadang tidak sholat jadi kenapa aku harus?" Tanya Ney pada ibunya.


"Ya jangan kamu ikuti dong kalau tahu Rita begitu, coba kamu sama-sama kasih tahu. Supaya bisa bersama sholatnya," kata ibunya marah.


Tapi Ney semakin jauh apalagi kebiasaannya yang senang menghabiskan uang untuk dugem. Makanya kini ayahnya tidak mau lagi memberikan uang jajan tambahan. Adik dan kakaknya lah yang mendapatkan tambahan karena sudah berhenti dari kebiasaan itu.


Kebiasaannya mengumpat pada orang yang tidak sependapat, menganggap omongannya selalu benar membuat semakin sedikit orang yang mau kenal dengannya. Akhirnya membuat dirinya bertemu dengan kelompok Sosialita meski pernah ditolak karena tidak memenuhi syarat.


Hanya dengan merekalah dirinya diklaim sebagai orang hebat yang memiliki kemampuan mistik dan paling dicari. Dia nyaman dengan mereka meskipun Arnila selalu menyarankan kalau temannya itu hanya menginginkan sesuatu darinya.


Soal kemampuan meramalnya pun mereka semua percaya dan sering melakukan penerawangan dengan mereka. Tidak ada yang melawan apa yang dia ucapkan dan tentu saja dia merasa di atas awan. Isi grup itu memang tidak ada manfaatnya toh sesuai kriteria yang dia mau. Meski terkadang dia merasa ada sesuatu yang kosong, bagian besar kosong begitu saja.


Saat dirinya berusaha menghindari orang, ponselnya berbunyi dengan berisik. Ternyata ada 20 panggilan dari nomor yang berbeda dan juga pesan. Akhirnya dia menerima telepon yang datangnya dari ketua kelompok.


"Ha..." kata Ney yang hanya setengah.


"Lu dimana? Kita semua menunggu keputusan kamu dari tadi. Kamu mau ikut gabung atau sendiri? Hanya kamu yang masih belum ada keputusan," kata ketua kelompok dengan agak sebal.


"Aku ikut kelompok deh, soalnya acaranya masih berlanjut. Aku menuju kesana mau beli bahan dulu," kata Ney yang senewen. Tadinya sih dia mau ikut Rita untuk membuatnya membantu tugasnya tapi rencananya hancur oleh ulahnya sendiri.


"Bahan apa? Memangnya kita suruh kamu cari bahan? Banyak alasan terus sih, dengar ya ini kesempatan terakhir anak-anak sudah bete menghadapi kebiasaan kamu. Kalau sampai jam 1 kamu belum datang juga, maaf kita tendang kamu dari kelompok." Kata ketua kelompok lalu memutuskan komunikasi.


Net mau menjawab lagi, telepon sudah diputus, dia melihat jam sudah pukul 11 langsung saja dia memutuskan ke toko buku dan membeli bahan agar dirinya bisa membuktikan. Lalu bergegas menuju tempat bengkel. Sesampainya disana, yang lain sudah sibuk menulis dan Ney memberikan bukti buku yang dia beli.


"Nih, bukti ya aku memang cari bahan," kata Ney melempar jatuh buku yang dia beli.


Karena tidak ada yang menanggapi, Ney mengeluarkan tugasnya dan mulai sibuk menulis juga. Teman kampusnya memberikan hasil tulisannya yang sudah jauh, Ney menulis dengan kecepatan. Buku yang Ney beli dibaca oleh temannya dan terheran-heran karena karena judul dan isinya sama sekali tidak berhubungan dengan kegiatan mereka. Memang banyak alasan!


Dia sudah langsung disibukkan dengan kepadatan kuliah susulan yang ternyata dalam 1 kelas terdapat 40 mahasiswa yang minim nilainya dan ada yang juga hampir terkena Drop Out. Tapi pihak Universitas memberikan 1 kesempatan kalau mereka benar-benar ingin lulus.


Arnila barang tentu tidak ada karena dia tak pernah bolos kuliah dan tugas selalu tepat dikumpulkan. Terlihatlah siapa yang sebenarnya sering mabal, Arnila juga punya taktik tertentu agar Ney tidak melihat hasil pekerjaannya. Saat berkumpul dengannya, Arnila tidak akan menampakkan mengejar tugas dia akan lebih pura-pura bersenang-senang. Dan memang terbukti berhasil.


Saat pelaporan nilai, Ney terkejut kalau Arnila sudah mengumpulkan semua tugas. Dan memohon dipinjamkan hasil jawabannya namun Arnila selalu menolak karena itu kerja kerasnya sendiri.


"Kamu coba deh jangan terlalu banyak bermain, Ney. Tugas kuliah dan datang kuliah dengan benar, main kan bisa kamu lakukan kalau ada libur," itulah kata Arnila kepadanya yang sekarang mati-matian sendiri. Berjuang untuk kuliahnya yang sekarat.


Ayah Ney meminta pihak universitas untuk memberikan keringanan kepada anaknya setelah mengumpulkan 30 permohonan dari pihak orang tua mahasiswa lainnya, akhirnya mereka memutuskan untuk membuka perkuliahan terakhir menyusul acara wisuda nanti. Tersisa 5 bulan sebelum wisuda datang.


Saat pertama Ney memasuki kelas kuliah susulan, beberapa orang sudah tidak ada karena ujian sudah selesai dan liburan panjang didepan mata. Ternyata dia kaget sebanyak 39 termasuk orang-orang yang pernah dia hina kini menjadi sekelas dengannya. Tentu saja saat mereka tahu Ney masuk ke kelas itu, semuanya heboh.


"Waaah ada yang masuk kelas susulan juga ternyata hahahaha," kata orang yang pernah dihina Ney.


"Malunya selangit pasti itu. Lihat saja wajahnya sampai disembunyikan," kata yang lainnya.


Mereka ber-Wuuu ria saat Ney masuk dan memilih duduk di pertengahan. Kini tidak ada lagi orang yang bisa membelanya karena mereka sudah menikmati masa lenggang. Arnila juga tidak ada.


"Wajarlah ya kita kan anak-anak nakal dulu kita dibilang begitu eh dia tidak berkaca, kalau dirinya lebih nakal banding kita," kata lelaki yang pernah Ney umpatkan.


Ney hanya diam, dia membuka buku kuliahnya yang baru dan bersiap mencatat. Dia tidak memperdulikan perkataan mereka semua apalagi kini dia harus berkelompok dengan orang yang tidak dia senangi. Untungnya ada teman kampusnya lelaki yang karena keseringan kerja sambilan, harus mengikuti kuliah susulan.


Senjata makan tuan sih jadinya, meskipun Ney merasa sangat malu sekali menghadapi orang yang pernah dia umpat. Kali ini dia berniat akan benar-benar serius menjalani kuliah susulannya, tugas juga ketat sekali karena selama dulu dia kuliah, semuanya dia tidak kerjakan.

__ADS_1


"Bapak akan memberikan tugas kalian harus kerjakan. Tidak boleh ada yang menyontek apalagi menjiplak hasil kerja orang ya," kata Dosen tersebut menekan kan pada kata "Jiplak" membuat semua mahasiswa saling bertanya-tanya tentang siapa.


"Memangnya ada Pak, orang yang senang menjiplak? Siapa tuh?" Tanya A.


"Ada. Orangnya di kelas ini juga saya tidak akan menyebutkan hanya kalau kamu memang ingin lulus dengan nilai tulus dari diri kamu sendiri, maka lakukan. Yak! Sekian materi dari saya, tugasnya saya tunggu 3 hari kemudian ya. Kumpulkan saat saya nanti memasuki kelas ini lagi," kata dosen itu menutup mata kuliahnya.


Ney agak tersentak namun tidak diperlihatkannya setidaknya semua dosen sudah baik untuk menutupi aibnya selama ini. Dia lemas apalagi semua dosen sudah tahu kelakuannya tapi sekarang dia harus melakukan semuanya sendirian tanpa ada bantuan.


Tugasnya selain tugas kelompok baru-baru ini, sangatlah banyak dalam seminggu dikumpulkan ada 12 tugas dari mata kuliah yang berbeda.


"Arnila, Bantuin aku dooong," kata Ney meneleponnya tiba-tiba. Kepalanya serasa mau meledak saat itu, dia stres sekali.


"Bantu apa?" Tanya Ney yang sedang men-ceklis persiapan pernikahannya nanti.


"Tugas kuliah susulanku banyak sekaliiii kepalaku sampai terasa mau meledak. Bantu minta lihat dong jawaban kamu yang lalu," kata Ney meminta.


"Itu kan tugas kamu yang sama Ney, dulu kamu lebih memilih gebetan lelaki gedung sebelah daripada mengerjakan tugas. Berapa kali juga aku ajak kamu kerja bareng kamu tolak kan. Maaf deh aku tidak bisa bantu kamu," tolak Arnila.


"Lho kok begitu? Teman kan seharusnya saling membantu bukannya ditinggalkan saat kesusahan. Kamu ini tidak setia kawan ternyata, aku menyesal!" Kata Ney cemberut.


Ney tahu kalau Arnila orangnya tidak tegaan sekali, sekalinya dia tahu Ney cemberut biasanya suka mengalah. Jadi dia yakin Arnila akan mengirimkan filenya dan dia menunggu dengan senang.


Tahulah Ney akan datang kepadanya untuk urusan. Arnila mengirimkan chat yang isinya Ney berkata bahwa Arnila bukanlah temannya dan menyesal kenal dengannya setelah itu, Arnila mematikan ponselnya.


Ney membacanya dan dia lupa pernah mengatakan itu. Saat mau memperbaiki kesalahannya, teleponnya sudah ditutup dan tinggallah dia sendirian. Dengan semua tugas menggunung yang harus dia taklukkan. Lalu dia teringat pada Rita, Rita juga setipe dengan Arnila lalu menghubunginya.


"Rita, bantuin tugas aku dong. Kamu kan baik ya ya ya? Kepala aku hampir pecah nih. Aku ini kan sedang kesusahan jadi seorang teman layaknya membantu kan. Aku sudah sering bantu kalau kamu ada masalah," kata Ney mencari alasan.


"Buat apa kamu menghubungi aku lagi? Sudah cukup ya aku kecewa besar sama kamu, semua kelakuan kamu sangat keterlaluan itu sudah diluar limit aku sebagai teman? Kamu anggap aku begitu saat kamu susah saja. Kapan kamu pernah membantu, soal Alex? Helloooo itu mah kamu sendiri yang kepo yang menyodorkan bantuan eh kamu mau dibalas dengan imbalan. Hei Ney, bangun! Siapa juga yang minta tolong sama kamu? Kalau soal Alex, aku hanya minta bantuan untuk terjemahkan Inggris dia, tapi apa hasilnya? Kamu ikut campur yang menyebabkan masalah menjadi kacau. Belum lagi kamu suruh aku menentang ibuku sendiri! Bacot lo bisanya," kata Rita yang masih mengerjakan tugas.


Ney kaget membaca isi balasannya yang panjang. Dia hanya membeku di lantai kamarnya, jelas sekali Rita sudah tidak bisa dia andalkan apalagi soal kejadian tadi.


"Ya tapi tugasku," kata Ney yang merasa dirinya diabaikan.


Rita kemudian memfoto tugas kuliah, kelompok dan untuk ujian kepada dirinya. "Aku lebih stres dari kamu ditambah kehadiran kamu yang mengganggu hidupku. Sudah, jangan hubungi aku lagi. Rasakan sendiri semua akibatnya dari yang pernah kamu lakukan!" Kata Rita lalu memblokir nomornya serta akun Pacebuknya.


Ney lebih terkejut karena pekerjaan Rita lebih banyak darinya apalagi setelah tahu nomornya Rita blokir. Lalu dia mengecek akunnya yang tidak ada foto Rita dengan latar perempuan Jepang tengah berdiri dalam balutan salju. Ney semakin lemas saat tahu dirinya diblokir oleh Rita dan marah kenapa selalu salah. Apalagi terbukti juga kalau Rita mengerjakan tugas kelompoknya dengan baik, dia memperbesar foto yang Rita berikan. Tertulis 6 daftar perpustakaan yang akan didatangi oleh Rita termasuk perpustakaan kampusnya.


"Wah, kampus aku termasuk! Huh lihat saja aku sudah bilang, kamu tidak akan bisa lari kemanapun! Aku akan selalu bisa datangi kamu lihat saja," kata Ney dengan senyum liciknya.


"Siapa? Si Ney? Tidak sadar dia sudah membuat banyak salah?" Tanya Tamada, Komariah menggelengkan kepalanya


"Dia itu bagus sih usahanya berjuang terus tapi kalau niatnya hanya supaya kamu membantu urusannya, tidak baiklah," kata Komariah.


"Iya," kata Rita kesal.


"Tunggu tadi kamu kirim penampakan ini kan. Aku lihat dong boleh hasil fotonya?" Tanya Tamada. Rita mengangguk dan memberikan ponselnya.


Tamada menyadari kalau list Universitas jelas terbaca dan yakin Ney akan membegal mereka bertiga nanti. Lalu dia ubah urutan kampus Ney.


"Rita, kamu tahu teman kamu itu kuliah dimana?" Tanya Tamada dengan serius.


"Unpas. Kena.... OH!! Ke foto ya daftarnya!?" Seru Rita sadar melihat Tamada sedang menulis.


"Yah nanti ketemu lagi dong. Setidaknya Diana tidak di kelompok kita," kata Komariah.


"Tapi tetap dia akan berusaha mengganggu konsentrasi kita, Kom. Tidak apa-apa aku akan ubah. Jadi dari urutan 5 aku taruh ke urutan pertama. Kalau bertemu juga, dia tidak akan punya kesempatan. Aku punya bibi yang bekerja disana nanti aku minta ruangan yang jauh dari jangkauan Ney," kata Tamada membagikan lembaran itu.

__ADS_1


"Boleh juga tuh. Aku lega," kata Rita senyum.


Bersambung ....


__ADS_2