ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(113)


__ADS_3

"Kenapa ya kamu jadi lebih berani kalau bertemu dengan Rita?" Tanya Ney sambil memainkan brosur makanan.


"Berani bagaimana?" Tanya Arnila tidak mengerti. Dia memang seperti itu biasanya lalu apanya yang berbeda?


"Ya jadi tidak seperti biasanya. Kalian suka ngobrol apa sih? Sepertinya kalian banyak bicarakan soal aku ya," Ney merasa curiga akhir - akhir ini ada suatu perubahan pada Arnila dan itu pasti karena pengaruh Rita.


"Kalau iya kenapa?" Tanya Arnila menantang. Yupz giliran Rita yang menyimak.


"Ya kalau ada masalah, ceritain saja ke aku kok kamu malah cerita ke Rita? Dia kan tidak tahu apa - apa," balas Ney yang menatap Arnila, mungkin dia takut kali ya Arnila berpaling ke Rita. Sudah kena tendang eeeh butuh juga dia?


"Kamu yakin? Setidaknya Rita cukup tahu kamu orangnya seperti apa. Aku sudah sering cerita soal apa yang aku sampaikan keberatan soal kamu pun, terus ada perubahan atau kamu beri penjelasan?" Ney terdiam tapi dia menatap ke arah Arnila dengan wajah yang mungkin mengintimidasi ya.


"Aku dengar kok tapi kan tidak perlu dijelaskan juga supaya kamu mengerti," Ney mempertahankan dirinya sendiri. Dengar tapi tidak membalas, buat apalah kalau begitu Arnila curhat? Orang curhat memang ada yang hanya ingin didengar, ada juga yang ingin diberi saran.


"Ya tidak bisa kalau ada orang yang memberi saran kritik ya kamu harus mau menerima. Kamu hanya mendengar tapi tidak kamu simpan di hati. Sudah sampai berapa kali coba sampai berulang - ulang? Makanya aku cerita sama Rita, setidaknya dia selalu mau mendengar dan memberi solusi," Ney diam seribu bahasa dan lagi - lagi keluar air matanya.


"Bisa tidak sih kamu berhenti menangis bohongan atau sedih bohongan? Kalau aku atau Arnila kasih saran jangan pura - pura deh kamu sedih. Kamu bukan tipe cengeng lho yang aku lihat, kamu super cuek dengan semua orang. Dan tangisan kamu sama sekali tidak membuat aku terharu, karena kamu menangis tanpa pakai hati," kata Rita yang kesal setiap ada masalah apapun nangis saja padahal dia sendiri suka ejek Rita atau Arnila. Yang memang mereka karakternya masuk ke kategori Perempuan Cengeng.


"Kamu sering lho ejek Rita cengeng, kamu tahu tidak itu mengganggu sekali aku yang mendengarnya. Aku pernah bilang, kamu jawab apa? 'Ah lu terlalu baper!' Sekarang kamu sendiri, setiap Rita bicara soal apa kamu sok - Sokan keluarin air mata. Hapus deh air mata buaya kamu," kata Arnila yang juga kesal. Akhirnya Ney menghapus air matanya dan menatap kesal ke arah mereka karena mereka sama sekali tidak ikut terharu.


"Tatap kita berdua seperti biasanya tidak perlu deh kamu seperti yang merasa tersakiti, toh banyak orang di luar sana yang sering kamu sakiti. Kita untungnya tahu diri saja."


Setelah itu makanan pun datang, mereka bertiga rehat. Rita kadang kesal juga sama dengan Arnila, dia bisa dengan mudahnya mengatur - atur orang tapi dia sendiri tidak mau atau sudah diatur. Orang harus nurut sama apa yang dia suruh atau misalkan punya ide, memaksa untuk mengikutinya tapi kalau orang lain punya ide, wih dia tidak mau banget untuk mengikuti. Padahal bisa saja lebih bagus idenya.


Rita dan Arnila pun dengan siapa saja pasti ada kesan seperti itu tapi mereka tidak memaksa dan mereka melakukan itu kalau dirasa, ada yang salah. Jadi membantu memperbaiki juga tidak dengan pemaksaan secara perlahan tentunya. Tapi kalau Ney parah total banget! Akhirnya mereka makan tanpa bicara karena memang sangat kelaparan dan tumben Ney tidak mengambil makanan mereka berdua.

__ADS_1


"Tumben kamu tidak ambil makanan kita," celetuk Rita. Ney tidak menjawab dan terus makan sambil mulutnya cemberut.


Oke, tadi kalian membaca ya ruqyah yang dialami oleh Arnila dengan cara menggunduli habis rambutnya. Edan? Tepat sekali tapi itu ada lho di tata cara ruqyah hanya memang tidak terlalu banyak juga orang yang rela menghabiskan semua rambutnya di kepala. Karena buat menumbuhkan nya itu lho pasti memerlukan waktu entah berapa bulan. Masalahnya Arnila melakukannya setiap bulan, apa tidak sayang ya? Ternyata menggunduli rambut bisa untuk membuang sial, dulu mendengar ceritanya ayahnya Arnila yang pernah dikirim Jin, untuk menghancurkan usaha bisnis ayahnya mungkin memang harus digunduli ya.


Dan katanya bisa memperlancar rejeki atau bisa dapat banyak keuntungan, benar atau tidaknya itu tergantung kepercayaan mereka. Rita sama sekali tidak mau mengatur seseorang berdasarkan ilmu yang dia sedikit miliki. Kenapa Rita memerlukan ruqyah tentunya karena dia sangat terganggu dengan kehadiran Jin Jun. Lalu Rita takut karena itu jodohnya terhalangi. Semoga saja ustadz yang kali ini kenalan Arnila, bisa membersihkan dirinya meski ada perasaan yang tidak mau menerimanya. Bukan dari jin ya hanya intuisinya berkata akan ada sesuatu yang salah.


Mereka selesai makan lalu melanjutkan jalan - jalannya dari toko ke toko tanpa banyak bicara mengenai Alex atau ruqyah. Arnila berjanji akan menghubungi ustadz kenalannya dan akan bertanya mau kapan Rita memanggilnya. Setelah itu sekitar pukul 4 sore, Ney membuka suara dan mengatakan sesuatu, "Aku jadi mau menikah dengan Dins tapi sepertinya sih kamu duluan,"


Langsung mereka berdua kaget dan bersyukur, akhirnyaaaaaaa. "Benar ya jangan sampai lirik yang lain lagi," kata Rita memberinya peringatan. Terus menerus Rita selalu mengingatkannya tapi terus menerus juga Ney tidak pernah bisa menepati janjinya.


"Iya, kamu harus mulai menghargai usaha kamu sendiri. Dins sudah tahu juga keputusan kamu?" Tanya Arnila.


"Sudah. Tadi aku chat sama dia, minggu depan orang tuanya datang ke rumah. Kalian hadir waktu aku resepsi saja deh," kata Ney dengan sedikit menghela nafas. Kenapaaaa dia tuh...?


"Ok!" Jawab mereka berdua bersamaan.


"4 bulan lagi, datang ya!" Katanya terlihat sedikit gembira tapi yah anggap sajalah dia gembira. Moga - moga dengan menikah, perilaku nakalnya sembuh ya.


"Coba Alex ada di Bandung ya jadi kita bisa lihat dia barengan siapa tahu Alex bisa diajak ke pernikahan Ney," Arnila tersenyum lebar.


"Iya juga. Tapi dia lagi sibuk kerja, kalau aku minta untuk bertemu entah apa yang akan dia katakan. aku tidak mau mengganggunya sekali diganggu, parah banget efeknya," Rita merinding membayangkannya. Seperti monster yang mengeluarkan uap panas dan menyemburkan ke berbagai arah. Mereka berdua juga membayangkan dan tertawa.


"Coba saja kamu suruh dia datang ke Bandung," ide Ney yang pastinya akan berusaha memaksa lagi.


"Nanti saja. Biar Allah SWT yang atur, aku tidak mau terlalu berharap dengan orang yang seperti dia," kata Rita santai.

__ADS_1


"Iya juga ya toh baru kenal juga," kata Arnila lalu mereka bertiga pun berpisah dengan arah jalan yang berbeda. Ah ya Arnila di Bandung dengan paman dan bibinya, jadi dia menginap sebentar.


Malamnya, Rita menceritakan soal pembicaraan dengan Arnila kepada kedua orang tuanya. "Kamu yakin mau coba?" Tanya ayahnya.


"Ya siapa tahu kali ini bisa," kata Rita sambil duduk.


"Kalau ibu sih sangsi. Sudah berapa kali kamu ruqyah tidak ada yang berhasil kan. Kamu pikirkan saja dulu," kata ibunya sambil memasak masakan untuk besok.


"Masalahnya sudah parah," kata Rita mengingat saat dia tengah bermimpi selalu seperti sedang Making Love dengan makhluk kampret itu. Itu adalah mimpi terburuk yang Rita pernah alami.


"Ya sudah Minggu depan saja waktu kamu libur. Nanti bapak juga ikut, mudah - mudahan benar bisa," kata ibunya yang mulai khawatir.


"Ibu mau ikut juga?" Tanya Rita supaya bisa dibersihkan juga. Tapi mengingat dulu pernah terjadi suatu bencana sepertinya tidak usah ya.


"Tidak ah, ibu takut, yang punya ibu pasti keluar. Takut terjadi apa - apa,"


Iya juga sih ibunya Rita memiliki khodam tapi semacam harimau putih dan galak. Jadi lebih baik menjauh saja ya.


"Terus ibu mau apa?" Tanya bapaknya.


"Tidur." Bapak dan Rita saling berpandangan, kalau soal khodam ibu sih memang lebih amannya jangan diusik. Apalagi khodam itu ternyata ditanam oleh kakeknya sendiri.


Prita sedang kuliah dan masih belum pulang tapi sepulangnya, Prita diberitahu oleh bapaknya dan setuju. Menurut adiknya, kakaknya memang selalu bercerita soal mimpi buruk dan sampai terjaga 3 hari. Jadi seperti ditemani kakaknya sendiri saat Prita mengerjakan tugas atau sedang belajar untuk ujian kuliahnya Syukurnya tidak ada efek jelek saat mengajar hanya kadang saat istirahat Rita memakai jam jedanya untuk tidur.


Kemudian Rita menghubungi Arnila untuk mengatakan kalau minggu depan saja dan Arnila mulai menghubungi Ustadznya. Untuk pengetahuan juga, Rita banyak membaca mengenai ruqyah Syar'i semoga Ustadznya tidak meminta yang aneh - aneh, jadi feeling buruknya tidak terjadi.

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2