ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
441


__ADS_3

"Wohhh gila sekali Teh mengaku sahabat tapi merundung kok bisa sih? Sudah deh Teh jangan diladeni. Dia minta maaf tidak?" Tanya Wean melongo.


"Mana ada, Wean dia orangnya anti maaf mau dia yang salah juga ya lurus saja," kata Rita.


"Iya dia egois sekali padahal semua manusia itu egois. Sudah tahu salah malah diteruskan, asli itu otaknya kenapa sih?" Tanya Tyas yang kesal sekali.


Koko lalu berpikir dan melihat sesuatu. "Teman dekat dan sahabat banyak ya tapi ada 2 orang yang paliiiing dekat ya. Sampai sekarang juga masih komunikasi, sudah saja mereka untuk apa sih nambah yang bermasalah?" Tanya Koko.


"Dih, Koko mana tahu aku kalau dia suka berbuat onar. Waktu SMP juga dia lebih sibuk sama pacaran," kata Rita.


Iya sih, masa SMP memang tidak dekat kenapa dia ngaku dekat karena ingin dapat pamor kalau Teteh jadi sama Alex. Menurut Tyas begitu," kata Tyas.


"Memang begitu. Sahabat kamu yang paling dekat tuh banyak tapi yang paling dekat, paling mengerti kamu mau jelek atau bagusnya mereka paling tahu. Lebih dari orang tua Teteh sendiri, makanya kelakuan Teteh sekarang seperti mencerminkan mereka. Jadi memang bagus sekali, Koko iri sahabat seperti itu sudah terhapus jaman sekarang," kata Koko.


Komariah dan Diana merekalah yang paling dekat dengan Rita, memang lebih dari sahabat karena tanpa menjelaskan apapun, mereka yang paling tahu. Teman dekat banyak begitu juga sahabat. Dari masa SMP ( bukan Ney) ada 5 orang teman dekat, SMA ada 2 orang, kuliah ya 2 orang itu sampai kerja juga ada.


Koko melihat semuanya memiliki aura positif ke arah Teteh membuatnya sangat nyaman bisa mengobrol bebas menjadi diri sendiri. Karena dari Rita nya pun tidak pernah bertingkah tinggi tapi menyetarakan.


"Kalau soal yang toxic itu bagaimana, ko?" Tanya Rita ingin tahu pendapat Koko.


Laly Koko memejamkan kedua matanya dan agak kesal. "Dia mah aneh sendiri Teh. Tidak masuk ke lingkaran pertemanan Teteh mau maksa juga jadi kesannya aneh. Seperti Teteh lebih suka ke grup pengajian, kalau dia dugem. Kan aneh kecuali kalau dia tobat nasuha," jelas Koko.


Rita tertawa. "Teteh sudah bilang yang sejujurnya sama si Malaysia ini tapi malah dibilang aku yang jahat," katanya.


"Ya pasti karena selama ini di sekitarnya orang yang murni baik itu mungkin hanya bisa dihitung jari Teh. Karena lingkungannya hmmm nanti juga Teteh akan lihat sendiri kalau orang jahat yang pura-pura baik dan penjilat itu bersatu. Orang yang benar-benar baik di lihat ya jahat makanya sering sekali kena tipu terutama perempuan. Ya rada begolah kalau di kalangan kita orang biasa mah," kata Koko membuat semua orang tertawa keras.


"HAHAHAHAHA!!" Tawa semuanya termasuk para Ua-ua.


"Jadi kalau kata saya sih dia minusnya kurang bisa melihat kesungguhan orang yang benar-benar baik. Dia akan banyak berulah untuk menguji Teteh. Kalau tidak sanggup tendang saja nanti juga dia sadar sendiri," kata Koko.


"Kasihan ya Ko," kata Rita kalau memang begitu.


Alex sudah tentu ada dia memainkan jemari tangannya dan melihat Rita.


"Iyaaa memang kasihan tapi orangnya juga rumit. Dia punya sahabat juga nah mereka juga sama kena kerumitannya, tapi mereka berdua yang bersabar dan tahan sama dia. Ya kalau dia begitu maklumi saja atau marahi saja. Dia takut sama Teteh sih," kata Koko tertawa keras.


"Keluarga kita memang galak-galak sih anak-anaknya," kata Tante Nina tertawa.


Yang ada di pikiran Ratih dan orang tuanya hanyalah kok bisa sih Rita sampai berkenalan dengan orang luar negeri? Lalu bukan anak sembarangan juga, selama ini mereka beranggapan kalau Rita anak yang sangat pendiam.


"Apa akan terus seperti itu Ko? Kalau iya ah malas," kata Rita.


"Tidak kok tapi sadarnya lama harus berurutan nanti juga sadar kalau Teteh nya sudah tidak peduli," kata Koki dengan tenang.


Sayangnya kenapa bukan Koko saja ya habis ganteng juga sih. Rita ketawa cekikikan melihatnya, Alex kesal karena tahu Rita mengagumi Koko.


"Aku lebih ganteng dari dia!" Teriak Alex di depan Rita.


Sayang sekali Rita tidak bisa melihatnya jadi Alex marah-marah sambil sesekali melihat Koko yang cengengesan ke arahnya.


"Ratih, Koko kenapa ya? Seperti ketawa sendiri," bisik Rita.

__ADS_1


"Kayanya ada sesuatu di depan Teteh deh. Teteh tidak bisa lihat? Siluet atau bayangan," kata Ratih bisik lagi.


Rita menggelengkan kepala. "Kalau bayangan setan atau toyol sih kadang-kadang bisa. Tapi seringnya tidak bisa," kata Rita.


"Kok aneh ya," kata Ratih berpikir.


"Lalu Ko, kan toxic ini punya teman lagi kalau menurut aku mungkin teman dekatnya dia," kata Rita.


Koko berpikir lagi jangan ditanya kalau Ua Mori.


"Menurut Koko bagaimana?" Tanya Rita.


"Hmmm sebentar yang Koko lihat sih dia tidak punya teman dekat Teh. Sahabat juga nol," kata Koko aneh.


"Ada Ko. Kemana-mana sama dia terus," kata Rita mencari fotonya.


"Sebentar... rambutnya pendek?" Tanya Koko menebak.


"Iya," jawab Rita.


"Kulitnya sawo matang. Agak manis orangnya," kata Koko lagi sambil memejamkan kedua matanya.


"Iya iya itu dia. Dia bilang sih teman sejak Sekolah Dasar benar atau tidaknya tidak tahu. Benar tidak sih?" Tanya Rita.


"Iya memang tapi kepisah waktu SMP lalu ketemu lagi pas SMA sampai sekarang. Teteh kenapa bisa kenal dia?" Tanya Koko duduk dengan tegak. Ada kesan yang tidak enak.


"Dikenalin sama toxic ini," kata Rita.


Koko kaget. "Dikenalin? Kenapa ya? Memang orangnya baik banget. Tapi kalau kata Teteh kemana-mana toxic ini pergi dengan dia, saran saya Teteh jangan dekat juga," kata Koko menggelengkan kepalanya.


"Ya memang asyik kalau dia tidak sama toxic ini, anehnya kenapa harus dikenalin ke kamu gitu lho. Kalau dia sampai sekarang masih dekat, ya 11 12 sama toxic. Dia juga ikut ambil bagian merundung kan? Kalau memang baik dia pasti galak menolak," terang Koko.


"Iya benar Teh, kalau benar-benar orangnya tegas tidak akan mungkin terjerumus. Lah ini sama saja kok Teteh dikelilingi orang gila sihhhhh??" Tanya Tyas sangat heran.


"Orang gilanya juga hanya ada tiga," kata Rita.


"HAH!? ADA LAGI!?" Seru mereka semua termasuk Koko.


Ua Mori tertawa keras. "Teman kuliah ya Neng? Iya dia toxic juga tapi Teteh bisa atasi dia tidak separah yang ini, Ko jadi tenang saja," katanya tertawa.


"Hoooo serius Teh? Dia pernah merundung?" Tanya Tyas. Koko hanya bengong.


"Duluuuu bilang Teteh jelekkin dia tapi tidak ada bukti," kata Rita santuy.


"Terus teman Teteh yang lain percaya?" Tanya Tyas dan saudara lainnya.


"Tidak ada karena mereka lihat sendiri kelakuan Teteh bagaimana. Dia sampai menyebarkan fitnah itu ke dosen sama guru di kantor tapi tidak ada yang percaya. Kalau berantem juga paling sama Komariah dan Diana jarang ke dia mah," kata Rita.


"Ihhh... sebel!" Kata Tyas.


"Itu teh ada teman dia sendiri yang bicara jelek terus dia iri dan ada yang tidak disukai dari Teteh. Teteh orangnya terlalu baik, sama sih ingin mendapat pengakuan dari orang tapi memang tidak terlalu toxic. Orangnya masih bisa dewasa tapi untuk 2 toxic ini mah ya begitu," kata Koko.

__ADS_1


Rita setuju. "Kalau dia, Teteh bisa protes da karena teman kuliah kan sekarang juga masih komunikasi baik. Berantem juga sama dia hanya karena anehlah, taksiran dia suka sama Teteh. Apa karena itu Ko?" Tanya Rita.


Koko garuk kepala. "Iya Teh, tapi yang ditaksirnya tuh yaa sukanya sama perempuan yang seperti Teteh. Teman Teteh itu agak bulat kan ya terus pendek," kata Koko.


"Iya. Sekarang tidak ada komunikasi malas ah Ko. Plin plan orangnya, mau A besok B," kata Rita menyilangkan kakinya.


"Dia juga rumit tapi Teteh tidak curiga? Kalau Koko sih menduga dia gay," kata Koko menjurus.


Yang lainnya kaget lalu melirik Rita yang biasa saja.


"Iya sepertinya begitu," kata Rita tenang.


"HAAAAAH!? TETEH ADA FOTONYA?!" Tanya Wean, Tyas dan Ratih bersamaan.


Koko berekspresi datar melihat Rita yang kalem.


"Nih," kata Rita memperlihatkan foto Liam.


Mulut semuanya melongo sampai bawah. Liam sangat ganteeeeng tapi gay?? Mereka semua memandangi Rita yang kelihatan cuek dan santuy.


"Teh, ganteng banget! Sempat pacaran?" Tanya Ratih.


"Tidak. Boro-boro dia pendekatan juga ya gitu lah. Aneh! Memang seperti gay deh habis kalau laki-laki umumnya agak rese kan cerita ada taksiran perempuan. Atau kalau ada yang seksi mata melotot, dia mah tidak. Jadi rada-rada," kata Rita.


"Ih sayang sekali. Terus si toxic tahu dia naksir?" Tanya Tyas.


Kemudian Rita ceritakan semuanya. Yalah Ney tertarik sekali bahkan dia sampai mau bertanya apa yang membuatnya menyukai Rita.


Bagi Ney, Rita itu Nerd yang sama sekali tidak punya wawasan mengenai lelaki. Tapi sekalinya ada yang suka langsung yang super ganteng. Itulah yang membuatnya iri dengki karena ternyata Rita di sekitarnya disukai lelaki yang wajahnya gila ganteng.


Semua melongo. Liam laki-laki yang juga dikenali oleh temannya dan ternyata saat menyukai Rita, temannya itu juga sudah menyukainya sejak lama. Jadi yah segitiga tentu Rita juga menyukai liam tapi karena orangnya plin plan membuat Rita menjauh.


"Wah! Buat apa sampai mau bertanya begitu?" Tanya Ratih.


"Ya aneh menurut dia Ratih. Tidak menyangka laki-laki yang menyukai Teh Rita semuanya ganteng, dia super iri. Teteh nya mah cuek weh karena memang tidak tertarik dengan fisik. Itu lebih bagus. Teteh menjaga perasaan temannya itu tapi sayangnya temannya ya sama dengan toxic," jelas Koko.


"Diterima tidak sih?" Tanya Wean ingin tahu.


"Sempat ditanya Ini siapa, kamu siapa kenal Rita. Ya dia jawab bla bla pas nanya soal Teteh, langsung kena blok dari Liam. Teteh nanya ngapain sih kamu ikut campur urusan orang. Dia bilang penasaran saja kok bisa dia suka sama Teteh. Ya Teteh bilang aja karena aku bukan kamu, perempuan matre lihat laki-laki dari fisik sama dompet," kata Rita sambil minum.


Mereka semua ketawa. "Dia kaya gitu?" Tanya Ratih.


"Teh Rita sudah lebih dari 5 tahun kenal ya sudah pasti tahu. Dia ada niat begitu juga sama Malaysia tapi ya dia tidak akan bisa bertahan sama lelaki manapun. Kalau menikah pasti selingkuh, lihat saja," kara Koko agak jijik.


"Yang ajak merundung Teteh siapa sih?" Tanya Tyas.


"Yang Malaysia mulainya dia ajak mereka berdua. Kalau mau merundung kenapa dia harus ajak mereka ya? Hmmm..." kata Koko berpikir.


"Apa mungkin Ko, si Malaysia bermaksud membuka warna asli mereka berdua? Kan Teh Rita kurang peka karena mereka berdua pintar sembunyikan maksud," tebak Tyas.


Melihat Rita yang sedang membalas chat Ney atau Alex dengan wajah super bete.

__ADS_1


"Nah, bisa jadi sih," kata Koko menjawab lagi.


Bersambung ...


__ADS_2