ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(62)


__ADS_3

"Anggara cuma meminta aku untuk mendatangkannya lho ya kalau soal kenalan itu bukan ide aku," kata Rita membuat semuanya jelas.


"Iya Rita tenang saja. Aku sudah tahu kok mana mungkin kamu berniat mengenalkan Anggara toh kamu kan yang mengenalkan Gara ke aku," kata Merlin dia tahu pasti Rita akan merasa bersalah saat tahu Ney beranggapan pacarnya ingin lebih kebal. Dan benar juga Ritalah yang mengenalkan Anggara pada Merlin. Sewaktu lomba model, tidak sengaja Anggara bertemu pandangan dengan Merlin dan Merlin membalasnya dengan senyuman sejak saat itu, Anggara menjadi bucin dan selalu galau.


Akhirnya Rita menariknya untuk berkenalan dengan Merlin yang ternyata Merlin pun sedang bucin pada teman dekatnya. Akhirnya mereka langsung jadian karena sudah kasmaran, itulah bagaimana juga Rita bisa kenal dengan teman - teman mereka.


"Sekarang mau kemana?" Tanya Rita.


"Kita ke cafe cheesecake yang super enak. Aku traktir kalian semua hari ini sekalian mau ada pengumuman juga," kata Merlin penuh dengan misteri. Di sisi lain dalam mobil milik teman Anggara, Ney berusaha berdempetan dengan Anggara tapi sayangnya Anggara yang menyetir dan sangat fokus untuk mengikuti mobil yang ada di depannya. Teman yang lain tidak ada yang mempedulikan Ney, mereka sibuk bercanda dengan satu sama lainnya. Pertanyaan Ney sama sekali tidak dijawab oleh Anggara dan salah satu temannya menawari diri untuk berkenalan dengannya saja.


"Maaf ya, kamu bukan tipe aku. Tipe aku tuh yang seperti Anggara," lirik Ney yang memperhatikan Anggara.


"Menakutkan. Belum tahu saja tentang Anggara," yang langsung ditutupi mulutnya oleh temannya yang lain. Anggara tersenyum geli melihat kelakuan salah satu temannya di belakang. Sampailah mereka di tempat tujuan, Anggara langsung keheranan kenapa cafenya terlihat agak berubah penampilannya dan langsung mengontak Merlin sambil diperhatikan oleh Ney.


"Kamu sms siapa sih?" Tanya Ney ingin tahu karena dia tidak bisa melihat dari sisi manapun.


"Seseorang," jawab Anggara tersenyum senang pada Ney yang membuatnya semakin jatuh cinta.


"Siapa? Lebih penting dari aku?" Kata Ney yang merasa berharga bagi Anggara.


"Kamu akan tahu nanti," jawabnya tanpa berhenti melihat isi hpnya


"Pasti Rita," tebak Ney sambil cemberut.


"Kalau iya kenapa? Masalah buat lo?" Tanya Anggara yang keheranan baru juga kenal sehari masa iya sudah punya perasaan lain?


"Ya jangan aku kan jadi mau cemburu," katanya sambil sedikit bertingkah manja.


"Cieee ada yang nyatain, serius bro lu mau terima orang lain?" Anggara hanya tersenyum kecut mendengarnya. Kemudian memerintahkan semuanya turun dan Ney agak cemberut karena Anggara tidak membuatnya puas dengan jawabannya. Melihat Merlin dan Rita turun, mereka bergegas mengikuti dan masuk kedalam cafe tersebut. Terpampanglah banyak cheesecake yang sangat lezat, Merlin memandangi Rita yang takjub dan tertawa.


"Kamu mau yang mana? Pilih saja sekalian dibungkus untuk orang dirumah," kata Merlin.

__ADS_1


"Serius nih? Asyik!" Teriak Rita yang langsung memilih kue.


"Mbak, tolong dibantu ya teman saya. Bungkus saja kue mana yang dia mau. Rita, bungkus 2 cake dengan ukuran normal ya," kata Merlin sambil mengedipkan kedua matanya.


Ney yang melihatnya langsung cemberut dan mendekati Rita. "Kenapa sih lo?"


"Anggara tidak menjawab pernyataanku dengan jelas," kata Ney ketus.


"Hah? Pernyataan? Kamu memangnya nanya apa?" Tanya Rita yang sudah curiga banget. Nih anak jangan - jangan kebablasan pastinya. Ya Allah....


"Ya aku nembak dia," katanya dengan santai.


"HAH?! Sudah gila kamu! Kemana janji kamu? Mau aku laporin ke Dins soal kelakuan kamu?!" Kata Rita yang kesalnya sudah kelewat batas.


"Ya laporkan saja! Orang pasti aku diterima Anggara kok," balas Ney yang sudah yakin. 'Tampang lu sama Merlin jauh banget sadar dong!' Pikir Rita.


"Eh? Kamu tidak tahu apa - apa soal Anggara sih ya. Nanti kalau sudah tahu jangan kecewa ya. Mbak, aku mau yang ini sama yang ini ya. Kamu mau tidak? Buat oleh - oleh orang dirumah," tawar Rita meski tidak harus.


"Tidak usah kue yang seperti ini sih lebih enak yang dekat rumah aku," jawabnya seenak jidat. Rita mengangkat bahu dan menunggu karyawan sana membungkusnya. Datanglah Merlin dengan jalannya bak super model dan tersenyum pada mereka berdua, sebenarnya tiap Ney melihat Merlin, hatinya menjadi ciut tapi tetap PD.


"Memangnya kenapa?" Tanyanya dengan ketus yang membuat Rita menyikut dirinya.


"Jawab yang sopan dong!" Kata Rita marah.


"Tidak apa - apa, Ri hanya ingin tahu saja yang mana sih anak Administrasi Negara yang katanya terkenal itu. Oh, ternyata orangnya Biasa saja ya masih tidak sebanding dengan aku," kata Merlin yang mengangkat lehernya ke arah Ney. Rita hanya terdiam kalau soal fisik sama penampilan, Ney memang kalah banyak.


"Sombong banget ya. Memangnya kamu terkenal juga di Unpad? Sepertinya lebih terkenal aku ya," balas Ney sambil melihat hpnya yang membuat Merlin semakin menang.


"Aku satu jurusan dengan Gara, di jurusan Arsitektur," kata Merlin sambil memperhatikan tampilan Ney yang kurang menarik.


"Kamu kok berani ya manggil Anggara dengan nama kecilnya? Siapa lu?!" Kata Ney yang semakin membara.

__ADS_1


"Ya berani dong. Aku sangat dekat dengan Gara kok," Rita hanya bisa menyimak mereka berdua yang sedang adu argumentasi begitu juga dengan pegawai cafe disana.


"Sedekat apa?" Tanya Ney yang mulai penasaran.


"Sangaaat dekat. Kamu kan baru kenal Gara sehari tapi sudah merasa pasti memiliki dia kan, berbeda dengan aku. Oh iya kalau kamu mau, pilih saja kue mana yang kamu suka. Sudah selesai Rita?" Merlin beralih memandangi Rita yang membeku.


"Su-sudah! Ini," Rita menunjukkan kantong besar yang berisi 2 buah kue ukuran normal pada Merlin.


"Oh iya nanti saja diambilnya ya. Sekarang kita ke ruang tengah yuk!" Merlin berjalan kembali ke ruang sebelah meninggalkan Rita dan Ney. "Oh iya satu lagi, perilaku kamu yang sepertinya sudah menjadi kebiasaan. Saat seseorang berbicara sama kamu, kamu sering banget membalasnya dengan sibuk memeriksa handphone, itu artinya kamu meremehkan atau menghina orang lain. Dimana kamu sebenarnya memiliki kepercayaan diri yang rendah, kalau kamu merasa kalah kenapa tidak jujur saja? Itu lebih baik daripada kamu bersikap seolah sangat superior." Kata Merlin lalu melanjutkan menuju ruangan tengah.


"Ih! Sombong banget sih! Dia siapa sih, Ri? Tampilannya jauhlah sama aku!" Kata Ney yang marah - marah membuat pegawai cafe menahan tawa lalu pergi.


"Sadar diri napa? Tampangnya dia sama kamu tidak bisa dibilang kamu lebih bagus. Banyak berkaca deh," kata Rita yang berusaha menyadarkan Ney kalau dia bukan sekelas diatas dengan Merlin. Tanpa sepengetahuan mereka, Merlin, Anggara dan semua teman - temannya mencuri dengar soal obrolan Rita dan Ney dan menahan tawa.


"Kalau soal fisik sih iya berbeda tapi kalau kamu mau tahu ya aku itu lebih kaya dari perempuan itu! Genit banget!" Ney mendelik kesal.


"Yang genit sebenarnya kamu tahu! Kami sudah tanya Anggara dia masih single apa tidak, seganteng itu kamu yakin masih single? Dia banyak penggemarnya sama dengan Alex," kata Rita menerangkan keadaan.


"Ya nanti aku tanya deh," kata Ney sambil merapihkan bajunya.


"Soal kaya hartanya juga kamu tidak tahu apa - apa. Sudah deh kamu jangan kecewakan Dins, mendingan Dins daripada Anggara!"


"Kamu kenapa sih? Bilang saja kalau kamu jadi suka Anggara. Mau ganti Alex kan?" Tebak Ney.


"Aku suka Anggara sebagai teman tidak lebih. Siapa juga yang suka sama dia? Ada yang lebih suka dengan tipenya dan itu bukan aku,"


"Ya itu aku," kata Ney.


"Kamu sih memang suka dengan semua lelaki yang penting punya uang banyak. Aku yang paling sering lihat kelakuan kamu yang ganti - ganti pacar memangnya aku tidak tahu apa yang kamu suka? Tipe dia bukan kamu,"


"Hmmm maksud kamu apa?" Tanya Ney yang mulai berkacak pinggang.

__ADS_1


"Nanti juga kamu tahu. Pokoknya lupakan soal Anggara, kamu sudah tidak ada kesempatan banget sama dia. Mau seperti apapun cara kamu dekati dia, dia tidak akan melirik kamu," kata Rita berusaha membuatnya jatuh cinta pada Anggara. Memang ya cinta itu bisa membutakan mata dan hati maksudnya, dia tidak sadar atau sadar kalau Anggara tidak punya minat pada Ney.


BERSAMBUNG...


__ADS_2