ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(221)


__ADS_3

"Teman kamu juga pasti akan mengatakan sesuatu yang jelek soal kamu kalau mereka tahu, kamu mendapatkan kenalan ganteng," kata Ney membela diri.


"HAH? Mana ada. Mereka tuh bukan tipe perempuan gampangan apalagi yang matre. Teman - teman aku lebih baik sih dari kamu, aku tidak perlu menceritakan soal Alex saja mereka langsung tahu kalau aku sedang proses," jelas Rita membuat Ney diam.


"Teman - teman kamu sepertinya sefrekuensi ya? Seperti apa sih mereka?" Tanya Arnila yang penasaran tapi dia memang sudah tahu.


"Sama seperti kamu tapi mereka lebih sulit intinya mereka bukan orang yang gampang dimanipulasi, mereka juga bukan tipe teman yang licik. Kalau bertemu Ney sudah pasti Cut!" Kata Rita yang sudah paham dengan mereka semua.


"Ya pastilah kamu kan kuliah di area komplek pesantren kan pastilah teman kamu juga latarnya tidak jauh dari agama kan. Tidak ada yang iri-an orangnya?" Tanya Arnila.


"Pastilah ada tapi berbeda dengan yang kamu tahu. Irinya hanya kalau aku kan kuliah pulang sore, ibu pasti kontak. Kalau mereka kan kebanyakan pejuang rumah asli dimana, kuliah di mana jadi memang jauh. Pulang sore atau malam juga ya tidak ada yang mengontak," kata Rita.


"Jadi irinya umumlah ya," kata Arnila mengangguk mengerti.


"Iya. Soal siapa - siapa dapat kenalan ganteng ya aku sudah tahu mereka pasti cuma bilang, 'Alhamdulillah semoga terus ya sampai jenjang nikah.' Begitu sama saja dengan kamu daripada berbuat licik atau iri teu puguh lebih baik mendoakan," jelas Rita.


"Ya sudah deh terus ini bagaimana? Aku kan datang kesini buat jual perhiasan bukan dengerin kamu bicara soal teman - teman kamu!" Kata Ney mulai bete.


"Menyimpang lagi deh," kata Arnila dengan heran juga sambil menggarukkan kepalanya.


"Ya kamu lebih baik cari toko lain saja deh. Itu kan perkiraan ya kalau pegawai itu mungkin menelepon Syakieb takutnya ternyata bukan," kata Rita yang pegal.


"Ya sudah kita cari toko emas lain saja. Kita lihat apa memang harus ada suratnya?" Tanya Ney sambil cemberut hangus sudah niatnya yang mau menjual perhiasan itu.


Selagi mereka berdua di depan, Rita mengontak Alex sekiranya emosinya pada Alex sudah menguap. Alex pun mengetahui itu.


"Ney berusaha menjual perhiasannya," ketik Rita lalu dikirim pada Alex. Alex seperti biasa dia membalasnya dengan cepat


"WHAT!?!? Apa dia tahu ada syarat supaya barang itu bisa dijual?" Tanyanya. Wah gawat banget ini tapi untungnya surat perhiasan itu masih disimpan oleh Syakieb.


"Mana mungkin tahu, tadi habis ditolak tapi memaksa harus bisa," kata Rita membalas sambil memperhatikan mereka berdua di depan.


"Dia masih belum mau mengembalikan?" Tanya Alex yang sudah berkeringat dingin masih ada cara untuk menjualnya tanpa harus memberikan surat.


"Belum. Biarkan sajalah dia akan berhenti kalau semua toko menolak emasnya, kalau memang dikasih Syakieb harusnya kan sudah sekalian dengan suratnya ya. Seharusnya sih dia sadar kalau hanya diberi barangnya saja bisa dipastikan paman kamu hanya menguji. Benar tidak sih?" Tanya Rita merasa tidak yakin.


"Iya laa itu kan perhiasannya bukan punya pamanku hehehe aku meminta ijin pada teman ayah untuk meminjamkan beberapa perhiasan," jelas Alex tapi kini dia agak cemas takutnya Ney buta dan benar - benar menjualnya.


"Dengan alasan?" Tanya Rita. Dia mengikuti saat Ney menemukan toko emas lain dan Arnila menemaninya tapi Rita menunggu diluar seorang diri. Beberapa saat Ney memperhatikan Rita tapi sudah tahu kalau dia sedang chat dengan Alex.


"Rita chat apa sih dengan Alex? Bikin penasaran saja," kata Ney yang ingin menghampirinya kebetulan Rita bersandar di balik kaca. Saat dirinya mau diam - diam menghampiri Rita, Arnila menggelengkan kepala dan menarik Ney.


"Katanya mau nanya harga jualnya. Ayo deh jangan urusin urusan Rita, dia bisa sendiri kok! Nanti kita makannya lama lagi, Ney. Jangan suka sok ngurusin orang deh!" Kata Arnila sambil menarik tangan Ney.


"Sebentar saja kok!" Kata Ney yang lalu menghampiri Rita. Tapi pas sekali saat Rita menoleh ke belakang melihat Ney menghampirinya.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya Ney.


"Ya kamu kenapa? Sudah selesai?" Tanya Rita dengan polos.


Ney melihat ponsel Rita yang masih menyala dan Alex membalas sesuatu tapi Ney tidak bisa membacanya. "Belum sih, kamu bicara apa sama Alex?"


"Ada urusannya sama kamu?" Tanya Rita dengan nada jutek.


"Kamu kenapa sih? Kepo banget!" Kata Arnila yang menyusul.


"Ya mungkin saja kan kamu lagi bicarakan soal aku," kata Ney dengan cuek.


"Kalau iya juga bukan urusan kamu. Aku lagi bertanya soal perhiasan yang kamu bawa. Kata Alex itu sama dengan perhiasaan Syakieb yang ternyata hilang. Aku ke tempat Pizza Hut duluan ya mau pesan tempat," kara Rita yang mau beranjak pergi tapi ditahan oleh Ney. Dia merasa Rita sudah benar - benar kesal padanya karena dadi nadanya sudah cuek dan kesal.


"Eh, jangan! Bareng saja! Iya iya sebentar aku coba jual ini ke toko kali saja mereka mau beli," kara Ney yang lalu berlalu ke dalam diikuti oleh Arnila yang sudah lelah juga.


"Eh? Hehehe untuk menguji teman," kata Alex πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†.


"Diijinkan?" Tanya Rita yang merasa aneh. Dengan alasan begitu saja masa sih diijinkan?


"Ya itu kamu lihat juga kan. Makanya Ney sampai pamer ke kalian juga Kalau kamu yang di posisi dia bagaimana? Dikembalikan?" Tanya Alex yang penasaran. Dalam pikirannya perempuan hijab diberi perhiasan emas seperti apa ya responnya?


"Ya aku jual dong hehehe," jawab Rita dengan usil.


"Aku jualnya kan di pengepul emas. Tanpa surat pun bisa lancar jaya dong," kata Rita menyengir.


"πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘," balas Alex yang artinya dia tidak bisa berkata apapun. "Tapi harganya dikurangi pasti berapa persen,"


"Tidak apa yang penting bisa dapat uangnya saja hehehe," kata Rita tidak mau kalah. Dia tertawa kecil membacanya dan tahu Alex pasti panas dingin.


"Aaaaahhh nanti aku yang harus bayar pada teman ayahku! Ayah pasti marah besar!" Kata Alex yang lebay.


"πŸ™„πŸ™„kan bukan aku aslinya. Kamu kan berandai - andai kenapa malah jadi lebay sih?" Tanya Rita sambil tertawa. Untungnya di depan toko emas itu sepi tidak ada orang.


"😀😀😀," balas Alex. Rita masih tertawa membacanya dia sudah berhasil membuat Alex kalang kabut disana.


"Aku bercanda. Kalau benar ada yang memberi, pasti aku jaga yah, kalau memang sedang butuh uang untuk keperluan baru aku jual," kata Rita.


"Denganku, kamu tidak akan pernah kesusahan atau kekurangan uangπŸ€—πŸ€—πŸ€—. Kamu akan selalu bahagia dan bisa pergi kemanapun kamu suka tanpa aku atau dengan aku," kata Alex dengan wajah yang merah.


"Hmmmm kamu mau nyogok aku ya? Pasti ada sesuatu," kata Rita yang membuat Alex berteriak dalam kamarnya karena frustasi.


"Iya memang ada," kata Alex yang gregetan.


"Tuh kan benar. Apa?" Tanya Rita curiga.

__ADS_1


"Coba tebak," kata Alex dengan senyuman jahil.


"One night ya," tebak Rita.


"........." jawab Alex. Dia aslinya bengong tanpa ekspresi tidak bisa jelas menangkap pemikiran Rita.


"Benar kaaaan," kata Rita semangat.


"One night apa maksudnya?! Semalaman ngapain," kata Alex yang kurang paham. Apa jangan - jangan Rita salah?


"Ituuuu yang orang lain bilang. Yang kenal seseorang lalu berhubungan intim terus besoknya biasa saja. Apa ya namanya?" Tanya Rita yang memang tidak ingat sebutannya.


'ASTAGAH! Kenapa dia bisa terpikirkan ke arah situ sih? Tapi lucu juga dia pikir aku mau menyogok dia. Ya Allah! Apa dia tidak tahu arti yang aku katakan tadi?' Pikir Alex.


"Bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu!?" Tanya Alex sambil tertawa keras.


"Aha! One Night Stand! Kok aku bisa lupa ya sebutannya? Ya pasti itu! Mengaku kamu! Sampai bilang aku bisa kemanapun aku mau, ya pasti itu kan. Kamu punya niat tidak baik, aku jadi takut kalau harus bertemu kamu!" Kata Rita sambil merinding.


"Astagahhh bukan!!! Aku tidak akan berani berbuat begitu sama kamu tapi kalau kamu mau, aku sih senang. Aku akan perlakukan kamu dengan lembut," kata Alex tertawa sambil menggigit bibir bawahnya karena saat itu meski hanya berbicara sedikit mengenai itu, 'adiknya' tiba - tiba merasa ingin keluar.


"Terus? Kamu lagi Horny ya? Ehehehehe," goda Rita.


Alex berhenti lalu terkejut. "Kamu sudah tahu ya kebiasaanku. Iya nih jujur ya kamu bahas itu sedikit saja 'adik'ku langsung ingin membesar," kata Alex yang menahan.


"Aku off ya. Mau makan Pizza nih," kata Rita tertawa kecil.


"Haaa untung aku tidak terlalu tertarik. Malam mau?" Tanya Alex tertawa.


"Mau apa? Goda kamu? Lagi ingin nakal ya?" Tanya Rita.


"Daripada aku 'jajan'. Lagipula kamu pengarang yang handal bisa buat bawah aku 'bangun'. So?" Tanya Alex dengan usil.


"Boleh. Aku akan buat kamu tegang sampai kecapean," kata Rita.


"Tapi jangan ditinggal tidur ya. Kamu suka begitu sih," kata Alex mengingat kejadian minggu lalu.


"HAHAHAHAHA!!!" Rita tertawa. Ney melihatnya malah lebih penasaran tapi tidak berani karena Arnila mengawasinya. "Sekarang saja yuk, mumpung Ney sepertinya masih lama di dalam tokonya. Bagaimana?"


"Seriously!? Tunggu aku siap - siap dulu," kata Alex yang kemudian bergegas mengganti celana panjangnya dengan celana pendek olahraga. Lalu meletakkan guling dan bantal agar kepalanya masih bisa membaca balasan Rita.


Rita sudah siap dengan beberapa referensi kalimat dari beberapa novel dewasa🀭🀭🀭 dalam bentuk notes jadi tinggal dia kembangkan saja menjadi cerita erotis. Yah terpikirkan juga sih membuat cerita seperti itu tapi dia terlalu takut karena belum punya pengalaman.


"Sudah? lama banget!" Kata Rita yang memang penasaran. Lagi apa dia nih?


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2