ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(254)


__ADS_3

"Sepertinya baru deh ini tehnya. Namanya juga baru dengar," kata Annisa memperhatikan nama tehnya itu.


"Segaaaaaarrrr! Pemuda tadi juga segar banget," kata Siti sambil tertawa.


"Wah, serius?" Tanya Diana.


"Iya lho ganteng banget! Sepertinya bekerja di sekitar sini," kata Rita yang semangat meminum lagi tehnya tapi langsung batuk.


"Gelo edan! Bening pisan eta lalaki, keur nu jomblo tah! ( Gila banget! Bening banget itu lelaki, buat yang jomblo tuh! )" Kata Linda sambil menggoda semuanya.


"Rita sih lagi berproses, Lin," kata Komariah dengan lantang.


"Wah, serius, Ri! Asyik semoga jodoh ya!" Sambut Siti antusias.


"Hahahaha ya doanya saja jodoh mah tidak tahu sih," kata Rita menyambut.


"Yahh... saha atuh nya? ( Siapa lagi ya? ) Oh, Ney kali saja kamu mau tapi tidak juga sih orangnya," kata Linda cekikikan.


Mendengar namanya dipanggil, Ney langsung konek apalagi dia ditawari dengan pemuda tampan tadi. Siapa yang akan menolak? Mungkin saja kan ...


"Oh ya? Nanti ..." kata Ney.


"Dia mau nikah wey!" Kata Rita langsung memotongnya. Sudah jelas pasti Ney mau begitu lagi, kapan kapoknya dia?


"Wah! Selamat ya semoga SAMAWA!" Kata semuanya bersamaan. Tapi di dalam pikiran mereka kalau kelakuannya seperti itu dan membicarakan Rita yang jelek, akan seperti apa ya nanti dia jadi seorang istri dan ibu? Hanya Allah SWT yang tahu.


Antara senang tapi tidak bahagia, Ney tersenyum mendengarnya namun memandangi Rita yang menyengir padanya. Kali ini Rita tidak akan menyemangatinya untuk merespon orang lain tapi dia hanya akan menyoraki Ney untuk nikah saja dengan dins. Ney heran apa maksud Rita dengan memberitahukan temannya bahwa dia akan menikah itu.


"Ya sudah berarti disini semuanya sudah punya ya. Kalau pemuda tadi berencana cari pacar atau istri, mau aku coba kenalkan sama orang lain deh, saudara aku saja hohohoho!" kata Linda dengan penuh semangat.


Ney pastilah lemas dia cemberut tadinya dia mau mencoba tapi setelah Rita berkata begitu, luluh lantak sudah. The End!

__ADS_1


"Kan belum tentu juga jadi sama dia nikahnya," kata Ney yang merajuk pada mereka. Sebagian teman Rita mengobrol dengan seru tidak mendengar jelas apa yang Ney dan Rita bicarakan kemudian.


"Terus? Kamu mau tidak setia lagi? Ingat ya sudah berapa kali orang yang membuat kamu kecewa dan yang selalu datang siapa? Selingkuh lagi selingkuh lagi, kamu tidak kasihan sama Dins? Kamu mau menikah tapi pernah tidak sih berpikir akan seperti apa pernikahan kamu nanti kalau sekarang saja masih suka curang? Aku hafal kamu banget meski kami tidak pernah hafal aku siapa," kata Rita dengan suara yang cukup pelan.


Diana, Komariah dan Siti pura - pura sibuk dengan tugas mereka masing - masing meskipun grup sebelah histeris bercerita tapi suara Rita dan Ney jelas! 😝😂😂 padahal pelan dan Rita tidak peduli kalau mereka mendengar juga. Mereka sama sekali tidak bisa tidak peduli soal Ney kalau Siti sih karena dekat dengan zona Rita jadinya pasti terbawa juga.


"Tapi masalahnya aku ragu - ragu," kata Ney menjelaskan situasinya.


"Alah! Kamu terus saja bilang begitu waktu itu juga ujung - ujungnya kecewa, kejar Dins lagi eh dianya malah punya yang lain, kamu maksa. Ragu - ragu atau hanya alasan? Waktu ada Syakieb begitu, sekarang? Giliran lelaki itu? Jangan deh!" Saran Rita saat itu sambil memakan permen.


"Terus aku harus bagaimana supaya tidak meragu dalam pilihan aku?" Tanya Ney yang agak manja, itu pemandangan yang membuat mereka enek melihatnya. Namun tidak ada yang mau memberikan saran kepadanya karena yah seperti itu kelakuannya. Sudah tanggung pada bete dan kesal.


"Ada caranya supaya lebih cepat dapat jawaban. Kamu tahajud ya tapi dengan benar langkahnya dari menjelang Subuh sampai Isya, semua sholat wajib juga kamu kerjakan. Kenapa? Supaya doa kamu benar - benar permanen dan sebutkan saja contohnya, "Ya Allah takdir aku sebenarnya siapa? Kalau benar Dins datangkan dia kerumah dan lamar aku saat itu juga." sudah begitu saja," kata Rita menjelaskan.


"Aku rajin kok tahajud nya tidak perlu kamu ajarkan juga kali," kata Ney yang agak tidak menerima, dia pikir Rita beranggapan kalau Ney tidak pernah sholat.


"Rita kasih saran ya kamu dengarkan dulu keles!" Kata Annisa sambil menulis arab.


"Betul! Kamu suka begitu belum kelar aku menjelaskan sudah dipotong! Aku tahu kamu rajin tahajud tapi tidak rajin sholat 5 waktu makanya keinginan kamu tidak ada yang permanen. Sekarang coba deh selama 1 sampai 3 hari kamu lakukan itu yah kalau kamu memang niat menikah sama Dins sih. Daripada main sana main sini tapi hasilnya tidak becus?" Tanya Rita yang membuat Ney tampak agak sedikit kesal. Dari wajahnya jelas sekali dia tidak bisa menerima lebih banyak omongan dari Rita.


"Tuh dengar. Ahli ibadah mereka, aku mah masih bolong sholatnya hehehe tapi aku tahu bagaimana caranya mendapatkan keinginan yang permanen. Dins kan anak ITB itu sesuai impian kamu kan jadi kenapa kamu malah menyiakan dia sih? Kerja saja seperti yang kamu mau gajinya 10 juta kan? Jadi, apalagi yang kurang sih?" Tanya Rita keheranan.


Semua temannya melongo mendengar apa yang dikatakan Rita. Mereka jadinya tahu juga tipe ideal lelaki yang Ney sukai lalu berbisik - bisik.


"Iya ada yang kurang," katanya sambil mengelupaskan kulit jarinya yang Siti lihat agak merinding.


"Soal tampangnya? Dins beda jauh gantengnya sama Alex? Pleaslah Ney, kalau kamu mau yang sesempurna seperti Alex kamu harus bercermin dulu deh dari sekarang. Yang kaya saja akan berpikir ratusan kali kalau mau jadi teman kamu apalagi yang ganteng," kata Rita secara tidak sengaja itu menyindir dirinya yang fokus pada Diana juga.


"Pemuda tadi kelihatannya suka kamu ya. Lihatin kamu terus soalnya bagaimana dengan Alex? Kamu sendiri juga pasti selingkuh," katanya sambil menunjukkan jari telunjuknya pada Rita. Sambil mengerjapkan kedua matanya mungkin saraf ya ada yang kejepit.


Rita tertawa keras mendengar apa yang Ney katakan. Bukannya marah malah membuatnya tertawa dan benar - benar asli tertawa karena merasa geli. "Alex siapa? Aku siapa? Kita hubungannya berteman ya tidak ada lebih, yang dulu itu mencoba ya aku kan belum pernah pacaran tapi ternyata tidak enak hahaha! Lagipula kenapa sih kamu repot - repot mengurus urusan bukan punya kamu? Aku saja tidak mengurus urusan kamu sama Dins, terserah kamu mau bagaimana. Hanya saran jangan sering mempermainkan hati orang," kata Rita yang masih belum selesai tertawanya.

__ADS_1


"Oh begitu. Aku yakin dia pasti akan cari yang lebih dari kamu. Kamu kan lemot banget, sama sekali tidak cocok sama dia," kata Ney dengan pandangan juteknya.


"Ya tidak apa - apa silakan saja. Aku membebaskan dia buat pacaran sama siapa saja kok. Masalahnya kita belum pernah bertemu dan kontak di media sosial, aku kurang yakin dia bisa bertahan jadi jomblo hahahaha," kata Rita dengan santai.


Tapi tidak dengan Ney yang agaknya tidak puas dengan jawaban Rita. Dia panas sendiri, emosi sendiri, memancing Rita baginya gampang tapi kadang sudah karena Rita selalu berpikiran positif.


"Serius itu? Kamu membebaskan dia pacaran dengan siapapun?" Tanya Ney tidak percaya. Melihat wajah Rita ya memang begitu, Rita tidak pernah mengekang Alex sedikit pun, dia mau berguling - guling atau berenang atau kemanapun, silakan saja kenapa juga dirinya harus mengekang?


"Iya tidak apa - apa sok saja. Kecengan bukan berarti harus memiliki kan, apalagi kita sama - sama tidak tahu kebenarannya kamu kan yakin dia palsu, jadi kenapa malah kamu yang ribut?" Tanya Rita keheranan.


"Iya aku setuju! Kalau jodoh tidak akan kemana kok. Kenapa sih kamu super kepo banget sama kehidupan orang? Kehidupan kamu saja belum tentu benar lho," kata Komariah menirukan gaya Ney. Semua menahan tawa melihat sindiran halus Komariah begitu juga Diana.


"Ya kali kamu akan marah kalau dia pacaran. Soalnya aku yakin banget kalau kamu bukan tipenya dia. Daripada kamu merasa sakit, lebih baik cut saja dari sekarang," kata Ney.


"Ah! Itu sih kamu saja yang pasti punya niat lain lagi sama dia. Temanan itu kan dengan siapa saja kalau kamu ingin aku cut Alex, berarti tidak salah ya kalau aku cut sama kamu juga," kata Rita dengan senang.


Ney kaget mendengar perkataan Rita. Dia meyakinkan kalau yang dia dengar itu salah tapi melihat wajah Rita yang serius, membuatnya terdiam. 'Gue salah dimananya sih? Sampai Rita mau cut gue? Wah, jangan sampai deh!' Pikir Ney. Rencana Ney pun alhasil berantakan kalau Rita benar akan memblok dirinya, dia berpikiran kalau benar Rita dengan Alex berarti dia tidak akan bisa meminta pamor atau balas budi pada Rita. Ney mengingat lagi kalau apa yang dia lakukan tadi adalah kesalahan besar yang tidak mungkin bisa di hapus.


"Cut weh lah lieur jelemana! ( Cut sajalah pusing orangnya! )" Kata Komariah.


"Kamu ya aku perhatikan sedari tadi isi omongan kamu sepertinya seperti menghina aku ya kalau kamu tidak suka sama aku, lebih bagus kamu minggat deh dari sini! Daripada kamu berharap mereka menjadi musuh aku, aku sarankan kamu yang pergi," kata Rita dengan datar.


Setelah beberapa menit mereka semua terdiam, Rita tentu saja mengerjakan tugas kelompoknya juga mereka semua. Mereka sama berpikir Rita sepertinya sudah lebih kesal duluan dan pastinya sakit makan hati soal omongan Ney. Ney juga terus diam dan dia tidak ikut memakan makanan cemilan mereka, kadang melirik melihat semuanya lalu Rita kemudian dia menundukkan kepalanya.


PLOK!! Tepukan tangan Siti membuat semuanya kaget lalu melihat ke arahnya.


"Astagfirullah!" Teriak Rita refleks.


"Kaget! Aku kira ada yang meletus!" Kata Diana.


"Hahaha maaf maaf! Tugasnya sudah selesai kita mengaji sebentar yuk untuk membuang energi negatif biar lebih lega. Kita semua pasti ada perasaan kesal banget ingin marah - marah bagaimana begitu. Teh Ney bisa ikutan baca juga atau mau mendengar juga boleh siapa tahu bisa mengusir sesuatu yang membuat Teh Ney sering emosi." Kata Siti sambil memegang Al Qur'an.

__ADS_1


Semuanya setuju dan sebentar merenggangkan otot - otot mereka semua. Tapi Ney menolak dan memutuskan untuk pergi keluar dari kelompok mereka dengan wajah yang marah sekali. Melihat itu Rita pun berucap syukur dia juga memang sudah hampir emosi. Mereka kemudian mengaji sekitar 4 lembar bergantian. Rita yang paling lamban karena dia membacanya dengan lantunan biasa tapi mereka tidak ada yang mengeluh karena lambannya Rita. Suara mengaji yang paling bagus tentu saja Siti dan Diana, Diana paling dinanti karena dia orang Palembang.


BERSAMBUNG ...


__ADS_2