ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(196)


__ADS_3

Dia melihat dirinya sendiri secara diam - diam, kedua tangannya yang memang jauh dari kata 'Terawat' dengan penampakan beberapa bentol yang mengeluarkan darah segar, tapi memang menjijikkan. Meski tempat bentol itu tidak terlihat tapi bekas hitamnya dan bekas darahnya terlihat. Lalu kuku tangannya yang agak kotor entah dia baru mencangkul tanah atau apapun di halamannya. Atau mungkin mencongkel sesuatu lalu lupa membersihkannya, pikir istrinya Syakieb.


Ney memperhatikan perempuan di sebelahnya yang benar - benar berpenampilan kinclong, kulitnya putih mulus dan kukunya yang terpotong rapih, dengan sedikit manicure benar - benar membuat Ney sangat insecure. Ney berusaha menutupi segalanya namun dia mau menutupinya dengan apa? Dia baru sadar kalau bekas cacar itu memang membuat orang - orang menghindarinya.


"Sadar dirilah mau sampai kapan lagi kamu mengecewakan banyak orang dan memilih yang bukan pilihan kamu. Berhentilah memainkan perasaan orang lain kamu pasti sudah punya seseorang yang yakin, kamu nyaman sama dia. Kamu terlalu dibutakan oleh hal bersifat keduniawian, aku yakin kamu belum mengenal baik suami saya," kata istrinya dengan yakin.


"Oh, saya kenal betul Bapak Syakieb kok," kata Ney sekedarnya dengan nada yang sopan namun seperti sengaja menyepet.


Istrinya sama sekali tidak suka dengan nada bicara Ney yang seperti lebih mengenal. "Kamu tahu semua soal dia?" Tanyanya dengan heran.


"Tentu saja," jawab Ney sekenanya. Dia tidak mau sampai kalah gaya dengan istrinya meskipun lebih lebih dari dirinya.


"Kalau begitu apa kamu tahu apa pekerjaannya? Kesukaannya apa? Apa visi misi hidupnya?" Tanya istrinya memandang Ney.


Ney diam, selama ini dia tidak pernah bertanya pada Syakieb apa pekerjaannya atau apa yang dia suka. Dia hanya fokus pada kebutuhannya saja dan Syakieb selalu membelikannya, tanpa menceritakan apapun soal dirinya sendiri. Kebanyakannya Ney menceritakan soal dirinya yang dia sukai apa, tanpa bertanya kebalikannya pada Syakieb.


"Hahahaha jadi apa yang kamu tahu soal suami saya? Yang kamu tahu mungkin hanya kulit suami saya ya. Saya yakin kamu tertarik pada suami saya hanya karena wajahnya ganteng kan, semua wanita yang memandangnya memang hanya bagian itu. Perawakan badannya dan suara ya. Pekerjaan suami saya itu sebagainsalah satu pengawal keluarga Alfarizki. Mungkin kamu tahu seperti apa keluarga itu," jelas istri Syakieb yang sepertinya tidak suka.


Mendengar kata pekerjaan Syakieb, Ney ternganga tidak percaya. "Jadi Syakieb itu...pengawal Alex?"


"Aduh, kamu ini kurang dengar ya? Saya kan sudah bilang tadi. Coba kamu pikir gaji dia berapa selama bekerja dengan mereka setiap bulannya?" Tanya istrinya penasaran melihat respon wajah Ney. Dia yakin Ney hanya ingin materi suaminya saja kalau benar - benar menyukai suaminya luar dalam pasti akan lebih sopan kepadanya.


"Sebesar rumah ini," tebak Ney. Dia sudah mulai merasa malas dan kesal dengan istrinya tapi dia masih belum bisa pergi dari rumah itu.


"Ini rumah saya sendiri bukan hasil dari gaji suami. Semua barang yang kamu terima saat itu, itu adalah hasil peminjaman. Kalau kamu menerima adopsi kami, menurut kamu suami saya harus membayar berapa pada banyak orang?" Tanyanya membuat Ney semakin terkejut.


Ney pastinya beranggapan kalau Syakieb itu adalah orang dari keluarga yang tajir seperti Alex bahkan dia juga sadar pernah bilang kalau Syakieb lebih kaya dari Alex. Hanya karena bisa membelikan banyak perhiasan emas dan mewah ternyata...


"Ckckckck kamu ini ya perempuan masa sih bisa tidak punya harga diri sama lelaki yang baru kamu kenal? Jadi orang itu jangan terlalu gampangan, ada mahalnya dong. Adopsi anak merupakan pertaruhan besar dengan banyak orang yang bersedia mengeluarkan banyak dolar," kata istrinya sambil menggesekkan jari jempol dan jari telunjuk. Semua kalimat yang dikeluarkan oleh istri Syakieb sangat tajam setajam belati mengarah pada Ney.


'Gila nih orang. Bicara seenaknya dari tadi! Dia tidak tahu apa ya sampai membicarakan hal yang sangat vital sama gue!' Pikir Ney yang memainkan jemarinya.

__ADS_1


'Nih anak memang kurang ajar ya, aku bicara sepertinya dianggap sama dia itu hanya angin ribut. Tapi biarlah, biar dia tahu seperti apa tajamnya perkataanku! Hah... kasihan sekali suamiku harus bertemu dengan perempuan gila seperti ini. Kamu pasti stres!' Pikir Istrinya.


"Kamu terlalu bernafsu sampai kedua mata kamu buta karena uang dan hal dunia lainnya. Harusnya sebagai perempuan, kamu bisa menahan semua hasrat dunia. Saya bersyukur masih bisa memilih keluarga kamu," kata Istri Syakieb.


"Tapi ayah saya tidak bisa membelikan saya barang bagus seperti yang Syakieb lakukan," tanpa sadar Ney mengatakan itu di depan istri Syakieb. Sontak dia kaget mendengarnya dan memandangi Ney yang tampak tidak sadar apa yang dia ucapkan.


'Ini anak sepertinya tidak sadar apa yang baru dia katakan. Kok aku merasa merinding ya? Semoga suamiku tidak berhubungan lagi dengan orang aneh ini!' Pikirnya yang kemudian menjaga jarak.


"Kamu ini anak yang sama sekali tidak bersyukur ya. Seberapa kurangnya ayah kamu, dia tetap keluarga kamu, suri teladan bagi anak - anaknya. Kamu jangan bandingkan ayah kamu sendiri dengan suami saya! Hargai semua usaha keras yang ayah kamu kerjakan, jangan mengecewakannya juga. Kalau kamu kecewa, keluar dari rumah lalu bekerja keras. Kamu akan merasakan apa yang ayah kamu rasakan saat berusaha membuat dapur rumah tetap mengepul. Suami saya cerita, kamu punya dua teman tapi sayangnya kamu sama sekali tidak mau kenal dekat dengan mereka. Kecuali kalau mereka memiliki sesuatu yang bisa menguntungkan kamu, baru kamu anggap mereka selevel. Yang saya nilai, mereka sepertinya tidak keberatan ya kamu seperti apapun, lalu kenapa kamu membuang mereka? Tapi salah satunya kenal Alex, kamu seperti yang memajukan diri sendiri lalu buat pengumuman bahwa kamu Sahabatnya? Kamu serius? HAHAHAHA!! Suatu saat nanti kamu akan merasakan sendiri seperti apa penderitaan mereka saat kamu seenaknya pada mereka," kata Istrinya tertawa dengan keras.


Ney sudah kesal banget dan kemudian beranjak pergi saat itu juga dari rumah yang dia anggap sebagai kesialan. Lalu melewati Syakieb yang selesai menurunkan semua barangnya, Ney sudah tidak peduli lagi dia sudah cukup banyak mendengarkan banyak penjelasan dari orang yang tidak dia kenal. Sedikitnya ada juga rasa penyesalan dia yang terlalu sompral berkata sampai benar kehilangan dua teman yang tak pernah dia anggap ada. Semua yang dikatakan istrinya Syakieb, dia akui semuanya benar. Malu, kesal, menyesal, merasa bodoh sekali kenapa daei awal bisa - bisanya dia terpikat pada penampilan Syakieb. Terlalu banyak kenapa yang berputar - putar pada kepalanya.


Dia menyelonong begitu saja keluar gerbang tanpa mengucapkan salam perpisahan atau apapun. Syakieb melihatnya pergi begitu saja sambil memandang istrinya yang santai. Kedua tangannya berkacak pinggang dan menggelengkan kepalanya tapi dia senang.


"Sudah, biarkan saja! Ternyata orangnya kurang sopan syukurlah kamu tidak akan kontak lagi sama dia. Aku sudah katakan semuanya, biar dia yang menghadapi tuan kamu yang kurang ajar itu! Saya pun tidak mau kamu sampai adopsi anak seperti itu! Bisa malu aku dengan keluarga," kata istrinya yang kemudian masuk ke dalam rumah.


Mobil online sudah pergi lalu Syakieb menyusul istrinya masuk ke dalam rumah. Barang - barangnya disimpan dalam garasi mobil yang isinya kebetulan tidak ada, karena dipakai oleh salah satu anaknya. Syakieb lalu memeluk istrinya dengan gemas, "Kamu tidak apa - apa?"


"Aku baik - baik saja. Aku akanmemarahi tuan kamu, aku tidak setuju kalau kamu dimasukkan dalam permainannya lagi!" Kata istrinya membalas pelukan suaminya.


"Biarkan saja. Anak itu tipe yang tidak sadar kalau tidak digembleng dengan kasar. Aku aneh sama teman - temannya kok bisa sih mereka bertahan lama sama dia? Kelakuannya kan..."


Syakieb menutup mulut istrinya dengan kecupan hangat yang membuat istrinya terhanyut. "Sudah. Aku juga bersyukur tidak perlu lagi bertemu dengannya. Aku sampai bermimpi buruk soal itu, semoga tuanku benar - benar menyudahinya,"


"Hanya heran saja. Sepertinya teman dia itu terlalu berhati lembut sampai tidak bisa melihat 'asli'nya dia itu sangat buruk. Seperti apa sih orang tuanya mendidik dia?" Tanya Istrinya.


"Mau sekarang?" Tanya Syakieb yang mengalihkan topik istrinya lalu menggendongnya membawanya ke ruangan bercinta.


Beralih pada saat Ney keluar dari rumah besar itu, dia berjalan dengan mulut yang penuh sumpahan. Kemudian berusaha menghapus air mata yang keluar karena perkataan istrinya Syakieb. Ada banyak orang yang sering memperingatkannya perihal kata - kata tajamnya itu akan berbalik mengenainya. Dan dia akan merasakan seperti apa sakitnya saat mereka menerimanya dari Ney. Kalau Ney memang benar - benar memiliki hati untuk merasakan semua yang dirasakan orang yang dia serang. Semua perilaku, kata - kata sampai kebiasaan yang kalau tidak mampu dia ubah akan menjadi bahan karmanya sendiri terutama dia yang sangat menyukai selingkuh.


Ney kemudian mengeluarkan ponselnya dan langsung memblokir nomor Syakieb tanpa dipikir kemudian menchat di grup meminta mereka datang.

__ADS_1


"Buat apa? Kalau urusannya sederhana, aku lewat deh," kata Rita yang saat itu memang sedang mengerjakan tugas kuliah.


"Aku lagi ada masalah pokoknya kita ketemuan!" Kata Ney yang menggerutu apa yang Rita katakan.


"Saat ada masalah saja kamu baru ingat kita. Dimana lu waktu aku ada masalah? Aku lewat!" Kata Rita yang kesal juga.


"Ya aku kira kamu bisa mengatasinya sendiri," jawab Ney.


"Ya sudah aku yakin kamu bisa atasi masalah kamu sekarang sendiri. Sori aku lewat. Bye." Selesai Rita tidak ingin terganggu lagi dengan keegoisan Ney. Memangnya dia merasa orang yang penting?


Ney kesal membacanya dan benar saja Rita tidak membalas lagi. "Nil, lu bisa kan ketemu gue?"


Arnila lalu mengirimkan foto ternyata di rumah bibinya sedang banyak orang terutama terdapat kedua orang tua Imron. Ney hari itu sangat kesepian, dia merasa inilah hukuman dari dirinya yang terlalu sok. Dia kemudian menangis sambil duduk di taman sendirian. Siapapun menolak untuk bertemu dengannya, setelah dia banyak membandingkan, banyak menjelekkan apalagi meremehkan. Sudah sepatutnya saat dia membutuhkan mereka, mereka menolak.


Arnila menjapri Rita. "Kamu tidak akan datang?"


"Duh, sepertinya beneran tidak bisa. Asli! Aku banyak tugas menuju S1 harus benar - benar belajar nih, mau ada tes juga. Kamu sendiri?" Tanya Rita.


"Tuh, bukti fotonya di grup. Pas banget ya mungkin ini hukuman langsung buat dia. Sudah meremehkan dan menjelekan kita sih," kata Arnila.


"Iya biar dia menerima akibat kelakuannya. Kalau kamu mau kesana, aku lewat ya. Malas juga sih waktu dia ada masalah saja baru ingat kita. Biarkan sajalah kalau dia benar - benar punya hati, pasti akan merasa bersalah dan meminta maaf," kata Rita membuka buku psikologi anak.


"Kalau tidak?" Tanya Arnila yang saat itu sedang duduk bersama ibunya.


"Ya memang tidak punya rasa malu dan kesadaran dirinya memang tidak ada," kata Rita.


"Kasihan sih tapi aku juga mulai berkurang rasa peduli sama dia. Kita memang korban ya hahahaha. Ya sudah aku sedang disuruh membuat minuman nih. Kita bicara lagi besok ya," kata Arnila.


"Kita kasih dia sehari atau dua hari agar dia bisa berpikir tentang kesalahannya. Tapi kalau kita bertemu dia terus dia biasa saja, sudahlah kamu jangan terlalu berharap dia akan sadar," kata Rita sambil menulis jawaban tugasnya.


"Oh iya, aku setuju deh. " Setelahnya mereka sibuk dengan kesibukan mereka masing - masing.

__ADS_1


Ney menunggu mereka berdua untuk mengajaknya berbicara tapi tidak ada satupun yang mengomentari dirinya dalam grup sosialita ataupun grup mereka bertiga. Dia pulang sambil terus menghapus air mata, beberapa orang melihatnya dan hanya bertanya - tanya sendiri. Di rumah Ney langsung menuju kamarnya dan terus menangis.


BERSAMBUNG ...


__ADS_2